The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 52: Sikap Ghaza



Aku membuka mataku, kemudian tanpa sadar aku meringis karena merasa nyeri pada pelipis dan juga kaki kiriku. Aku mencoba meraih pelipisku, dan melihat infus terpasang di tanganku. Aku melihat ke arah kakiku dan ada perban putih melilit sekitar pergelangan kakiku, dan akutak bisa menggerakkannya.


Aku mengedarkan pandanganku dan menyadari aku ada di sebuah kamar. Namun aku sedikit bingung apakah ini kamar hotel atau rumah sakit, karena kamar ini sangat mewah. Akhirnya aku yakin aku berada di rumah sakit saat aku menyadari berbaring di sebuah brangkar.


Pintu ruangan itu terbuka. Seorang pria dengan setelan jas sibuk memandang pada ponselnya. Aku terkejut saat menyadari pria itu adalah Tuan Ghaza.


Kenapa ada Tuan Ghaza disini?


Kemudian ia melihat ke arahku, senyum langsung terkembang di wajahnya, "Kamu udah siuman?" ia menghampiriku.


"Tu-tuan.. Kenapa Tuan ada disini? Eh, maksud saya, ini dimana? Kenapa saya ada disini?" Aku begitu gugup tiba-tiba saja bertemu lagi dengannya, dalam situasi yang tak terduga pula.


Ghaza duduk di sisi brangkar yang aku tiduri, "Tadi sore motor kamu nabrak mobil saya. Kamu jatuh dan kepala kamu, kena aspal," ia menyentuh pelipisku yang diperban, "dan pergelangan kaki kamu retak."


Sekelebat aku mengingat kejadian yang menimpaku itu. "Jadi mobil yang saya tabrak itu mobil Tuan? Terus Tuan gak apa-apa? Mobil Tuan gimana?" Seketika aku begitu khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ghaza dan juga mobilnya. Aku harus berhadapan dengan Tuan Musa dan Nyonya Natasha. Belum lagi aku harus mengganti rugi dengan kerusakan mobilnya.


"Saya gak apa-apa. Mobil saya juga baik-baik aja. Kamu gak usah khawatir. Diri kamu sendiri yang harus kamu khawatirkan."


Sial sekali sih. Kenapa aku harus mengalami kecelakaan seperti ini? Ceroboh banget. Lalu tiba-tiba saja aku teringat Ghiffa. "HP saya dimana ya Tuan? Ini jam berapa?"


Ghaza meraih ponselku yang terletak di nakas sebelah brangkar. "HP kamu hancur ketimpa sama motor kamu." Aku melihat ponselku sudah tak berbentuk. Layarnya pecah sangat parah.


Bagus sekali.


"Yang penting bukan kamunya yang hancur." Ghaza menyadari sikapku yang frustasi sambil menatap ponselku yang hancur.


"Iya, Tuan. Untung saja saya masih selamat. Terimakasih Tuan, karena Tuan udah bantu saya. Saya minta maaf juga karena sudah membuat Tuan repot."


Ghaza tersenyum. "Gak usah terimakasih dan bilang maaf segala. Saya gak repot, kok. Seneng malahan bisa bantu kamu."


Ternyata Ghaza cukup baik. Aku tidak mengatakan apapun lagi dan hanya balik tersenyum padanya.


"Kamu lapar? Beberapa menit yang lalu petugas gizi datang membawakan makanan." Ghaza membuka meja lipat yang berada di sisi brangkar itu, lalu membawakan nampan berisi makanan dan meletakkannya di meja yang kini berada di depanku.


"Tuan, tidak perlu membawakan untuk saya." Sungguh aku tidak nyaman Tuan Ghaza sampai seperti ini padaku.


"Gak apa-apa. Sekarang kamu makan, biar bisa minum obat." Ia menekan tombol di brangkar sehingga tubuhku berada di posisi duduk.


"Tapi Tuan.." Aku masih merasa tidak enak.


"Apa kamu perlu bantuan? Perlu saya suapi?" tanyanya kembali duduk di sisi brangkar.


Aku segera meraih sendok. "Gak usah, Tuan. Saya makan sendiri aja."


Dengan canggung aku mulai menyendokkan nasi di hadapanku ke dalam mulutku. Ghaza masih memandang ke arahku, membuatku tidak leluasa.


"Tuan, Maaf. Apa Tuan akan duduk disana? Maksud saya, Tuan bisa melakukan hal yang lain. Atau Tuan bisa pulang saja."


Ghaza mengerutkan dahinya. "Kamu ngusir saya?"


"Tidak Tuan!" ucapku segera, "Bukan gitu maksud saya. Saya khawatir Tuan Musa mencari Tuan. Sekarang sudah malam." Aku melihat ke arah jendela memang sudah gelap.


Ghaza malah tertawa mendengar ucapanku, "Kamu kira saya anak remaja yang akan dikhawatirkan jika pulang terlambat? Lagipula ini baru jam 7."


Aku tersenyum canggung mendengar jawaban Ghaza.


"Tadi Dokter bilang kamu menginap saja disini selama semalam. Kamu sudah diperiksa secara keseluruhan. Tidak ada yang serius dengan kepala kamu. Kaki kamu juga hanya sedikit retak. Besok kamu sudah bisa pulang."


"Saya sudah menyewakan kamu kamar ini. Masa kamu akan pulang sekarang?" ucapnya.


Aku melihat ke sekeliling, kenapa Ghaza sampai membawaku ke kamar semewah ini?


"Ini ruang VVIP. Kamu nikmati saja waktu istirahat kamu. Besok pagi saya antarkan kamu pulang."


Aku menggelengkan kepalaku, "Tuan tidak perlu sampai mengantarkan saya. Saya juga tidak bisa menerima kebaikan Tuan ini. Saya juga tidak punya uang untuk mengganti uang sewa kamar VVIP ini. Tuan bisa menganggap saya berhutang pada Tuan. Saya akan membayarnya jika tuan butuh bantuan suatu hari nanti, tapi saya benar-benar harus pulang sekarang, Tuan."


Ghaza terlihat berpikir, kemudian menghela nafasnya. "Ya sudah. Kamu bisa pulang sekarang jika dokter mengizinkan. Tapi saya akan mengantarkan kamu. Apa kamu akan pulang ke apartemen Ghiffa?"


"Terimakasih banyak, Tuan. Iya, saya akan pulang ke apartemen." ucapku.


"Kamu tidak ada kerabat lain? Bagaimana jika kamu pulang ke tempat Belva?" Ghaza sepertinya kurang nyaman jika harus mengantarku ke apartemen Ghiffa karena itu artinya ia akan bertemu dengan sang adik.


"Gak bisa, Tuan. Saya harus pulang ke apartemen." ucapku menyesal. "Tuan, saya bisa kok pakai ojek online. Gak apa-apa, Tuan. Tuan gak perlu sampai mengantar saya."


Ghaza menatapku lekat. "Saya akan mengantarkan kamu pulang." tegasnya.


Tatapannya membuatku tak bisa membantahnya lagi, "Baik, Tuan."


"Sekarang kamu habiskan makanan kamu, minum obatnya, setelah itu saya antarkan kamu pulang."


Aku pun mengangguk, menuruti semua perkataannya.


Kemudian aku sudah berada di lobi rumah sakit dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. Ghaza di sampingku dan kami menuju ke pintu utama rumah sakit itu. Sebuah mobil sport berwarna abu berhenti di luar pintu utama.


Seketika Ghaza mendekat ke arahku dan mengangkat tubuhku, "Tuan...Saya bisa sendiri.." ucapku, seketika aku sudah berada di pangkuannya, dan kemudian aku sudah berada di kursi penumpang. Ia meraih sabuk pengaman dan membantuku untuk memasangkannya.


Sungguh kenapa dia terlihat berlebihan sekali? Tanganku baik-baik saja, dan aku bisa memasangkannya sendiri. Saat tadi di ruangan, dia juga membopong tubuhku padahal aku masih bisa berjalan untuk mencapai kursi roda itu.


Kini mobil Ghaza sudah mulai melaju. Dia tidak membuka pembicaraan saat di mobil. Aku juga tidak berusaha membuka obrolan. Aku mencoba mengalihkan rasa sakit yang masih lumayan terasa di pergelangan kakiku, dengan melihat ke dasbor mobil milik Ghaza.


Mobil Ghaza sangat berbeda dengan milik Ghiffa. Jika mobil Ghiffa berwarna merah menyala, juga interiornya yang didominasi merah marun membuatnya terlihat begitu elegan dan berani, sangat 'Ghiffa sekali'.


Berbeda dengan mobil Ghaza yang berwarna abu-abu silver, dengan interior didominasi warna hitam, membuatnya terkesan dingin dan misterius. Begitu pula mobil ini menggambarkan karakter Ghaza.


Ghaza dan Ghiffa, kakak beradik yang sangat bertolak belakang. Aku semakin penasaran dengan hubungan Ghiffa dengan sang kakak. Mengapa mereka begitu saling membenci. Apakah betul hanya karena masalah Olivia? Atau ada alasan lain? Padahal sepertinya Ghaza ini cukup baik.


Beberapa saat kemudian mobil Ghaza memasuki area apartemen. Ia menghentikan mobilnya di pintu utama. Ia keluar dari mobil dan mengitarinya untuk membukakan pintu penumpang. Aku membuka sabuk pengamanku.


"Tuan, tidak perlu menggendong saya lagi." tolakku saat ia sudah menyentuh punggungku.


"Saya akan bantu kamu sampai kamu sampai di depan apartemen." ucapnya. Tanpa persetujuanku ia kembali membopongku, membuat aku mau tak mau melingkarkan sebelah tanganku di sekeliling lehernya.


Ghaza mulai membawaku menuju lift. "Bisa kamu tekan tombolnya?"


"Baik, Tuan." Ghaza membawaku mendekat pada tombol lift dan aku menekannya. Sekilas aku dan Ghaza bersih tatap dengan canggung, kemudian aku mengalihkan pandanganku.


Aku tidak suka situasi semacam ini!


"AYA!"


Sontak aku melihat ke arah pintu utama apartemen, dan mendapati Ghiffa berdiri disana menatap ke arahku dengan nafas tersengal.