The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 60: Pelangi Setelah Badai



"Sekali lagi." Ghiffa bersandar pada headboard tempat tidurnya dengan aku berada diantara kedua kakinya, bersandar padanya. Kedua tangannya berada di perutku, dan jari kami saling tertaut.


"Ghiffa.." ucapku.


"Lagi..." pinta Ghiffa.


"Ghiffa..." ulangku.


"Lagi..." ucap Ghiffa untuk kesekian kali.


"Udah ih. Mau sampe berapa kali aku nyebutin nama kamu." protesku.


Ghiffa menyembunyikan wajahnya di pundakku. Aku bisa merasakan bahwa senyum tak pernah pupus dari wajah tampannya setelah pertengkaran kami berakhir beberapa menit lalu.


"Emang kenapa? Ini harus dirayain malah. Akhirnya setelah sekian lama kamu keras kepala, kamu bisa nyebutin nama aku juga." ucapnya sumringah, ia semakin mengeratkan pelukannya. "Ghiffa itu siapanya Aya?" tanyanya.


"Pacar.." ucapku tersipu malu.


"Apa? Gak kedengeran?" Ghiffa menggodaku.


Aku menoleh ke arahnya dan aku ucapkan dengan jelas. "Ayana Pitaloka pacarnya Alghiffari Airlangga."


Ghiffa terkekeh mendengar ucapanku. Iapun semakin menenggelamkan wajahnya di pundakku, merasa gemas.


"Kamu kenapa sih?" Tanyaku heran. "Seseneng itu emangnya?"


"Emang kamu gak seneng?" tanya Ghiffa, seketika tawa di wajahnya berubah menjadi cemberut.


"Biasa aja." ucapku. Ia malah menggelitik kedua pinggangku hingga tanpa sadar aku menggerakkan pergelangan kakiku yang terluka, "Auww!!" teriakku, merasa sakit sekali.


"Kamu gak apa-apa?" Ghiffa seketika khawatir. Ia beringsut dari belakangku dan kemudian menaruh bantal di belakang punggungku lalu ia duduk menghadap ke arahku, meraih kakiku, panik dan bingung tergambar di wajahnya.


Aku menarik nafas dan menghempuskannya melalui mulutku, "Sakit sih. Gara-gara kamu tadi." Aku memasang wajah cemberutku.


Seketika wajah Ghiffa merasa bersalah, "Maaf ya." wajahnya seperti anak kucing yang memelas, gemas sekali.


Tanpa sadar aku malah tersipu melihat wajah laki-laki yang sudah resmi menjadi pacarku itu. Kakiku memang terasa nyeri kembali, tapi perasaanku sama sekali tak terasa sakit.


"Kita ke dokter sekarang." tanpa menunggu ia segera membopong tubuhku keluar kamar.


"Ghif, gak usah ke dokter! Aku gak apa-apa kok." Aku berusaha meredakan panik dari wajah Ghiffa.


"Tapi tetep harus diperiksa buat jaga-jaga."


Akhirnya kami tiba di lift dan lift pun bergerak turun. Ia menatapku lagi dengan tatapan bersalahnya, "Maaf ya aku gak bisa nahan diri tadi."


"Jangan sekali-kali lagi. Kamu nyeremin banget tau." pintaku jujur.


"Jangan sekali-kali lagi?" tanya Ghiffa kecewa. "Boleh dong kayak tadi tapi nanti aku bakal lebih lembut."


"Ih! Gak boleh!" ucapku galak seraya menyilangkan lenganku pada pundak kiri dan kananku. "Kamu gak boleh ngelewatin batas lagi kayak tadi!"


"Tapi 'kan kita udah pacaran." ucapnya.


"Ya, terus? Kalau udah pacaran emang boleh kayak gitu?"


"Kenapa gak boleh?"


Dia ini pura-pura apa emang tidak tahu sih?


"Kamu kalau pelajaran agama kayaknya gak pernah ngedengerin ya?"


"Kamu takut dosa?"


"Ya iyalah! Ciuman aja itu harusnya gak boleh. Ini malah sampe kayak tadi." Gerutuku.


Aku memang tidak terlalu religius, tapi aku masih tahu batasan-batasan yang diperbolehkan dan yang tidak.


"Maksudnya?"


"Udah pacaran aja masih bikin jarak. Sebel." protesnya.


Aku malah tertawa gemas melihat wajahnya yang jengkel. "Ih udah dong, masa mau ngambek lagi. Baru aja baikan dan resmi pacaran. Masa udah berantem lagi?"


Akhirnya lift tiba di basement. Ghiffa membawaku keluar dan menghampiri sebuah mobil kecil berwarna hitam dengan logo huruf H, yang terparkir di garasinya. "Ini mobil siapa?"


"Mobil aku." Ia menurunkanku tepat di pintu untuk kursi penumpang. Ia membuka pintu dan mendudukkanku di kursi penumpang. Lalu ia mengitari mobilnya dan masuk ke kursi kemudi.


"Mobil kamu? Kok bisa? Bukannya mobil kamu lagi disita?" tanyaku heran.


Ghiffa menatap ke arahku, "Sekarang jadi bawel ya kamu? Nanya terus?" sepertinya ia masih kesal karena perdebatan di lift tadi.


Aku tersenyum gemas, "Kamu mah ngambekan."


"Ya udah cium dulu kalau gitu biar aku gak marah lagi." Ia mengajukan syarat.


"Kamu tuh cari kesempatan banget." dumelku mengalihkan pandanganku, berpura-pura marah.


Seketika Ghiffa meraih daguku, kemudian mencium bibirku dengan lembut. Membuatku terasa melayang. Aku suka saat ia memperlakukanku seperti ini. Kali ini rasanya menjadi berbeda, karena semuanya menjadi terjadi secara alami dan tanpa paksaan.


Ghiffa menjauhkan bibirnya dan tersenyum, "I love you."


Aku tersenyum dan berbisik padanya, "artinya apa?" godaku.


Seketika wajahnya berubah jengkel, aku tertawa gemas melihatnya.


"Kamu gak bisa diromantisin jadi cewek." Dumelnya seraya menyalakan mobil.


Aku malah semakin tidak bisa menghentikan tawaku. Perasaanku seringan kapas. Lega sekali rasanya bisa bercengkrama dan bersenda gurau dengan Ghiffa. Ternyata seperti ini rasanya jujur terhadap perasaanku sendiri. Hangat dan nyaman. Aku tidak menyangka bisa meruntuhkan semua pertahananku yang selama ini aku bangun.


Sekelebat terlintas rasa khawatir di dalam dadaku. Akan seperti apa hubungan kami ke depannya. Bagaimana tanggapan orang-orang? Aku tidak tahu dan jujur aku tidak peduli. Yang aku ingin lakukan sekarang adalah bahagia bersama Ghiffa. Membuat tawa selalu terkembang di bibirnya. Aku tidak ingin lagi mendengarnya bertanya mengenai pantaskah ia mendapatkan kasih sayang dan kebahagiaan. Karena dia lebih dari pantas untuk dicintai dan merasa bahagia, sama seperti orang lain.


Beberapa saat kemudian kami sampai di sebuah klinik. Ghiffa mengatakan klinik itu milik seorang dokter yang adalah ayah dari sahabatnya, Theo. Ghiffa sudah mengenalnya dengan sangat dekat karena ia memang sering menghabiskan waktu di rumah Theo selama ini. Ayah Theo ini seorang dokter spesialis ortopedi. Tanpa menunggu, dokter itu segera memeriksa kakiku.


Kakiku memang agak bengkak. Seharusnya aku tidak menggerakkan kakiku terlalu banyak, karena itu akan membuat retak di kakiku lama untuk pulih. Kata-kata dokter membuat Ghiffa semakin merasa bersalah. Di dalam perjalanan pulang, ia terlihat lebih pendiam dari sebelumnya.


"Ghif.."


"Hmmm?" jawabnya dengan gumaman.


"Kenapa?"


Ghiffa mengarahkan mobilnya ke sebelah kiri dan menghentikannya di bahu jalan. Ia menatap ke arahku dengan sendu, "Maaf ya. Gara-gara aku kaki kamu jadi bengkak."


Aku tersenyum mendengar permintaan maafnya yang terdengar tulus itu, "Apa ih kamu. Aku gak apa-apa, kok."


Ghiffa malah terlihat semakin bersalah.


Aku sungguh tidak apa-apa. Aku tidak merasa kesal atau marah padanya tentang kondisi kakiku. Kalau tidak ada kejadian tadi belum tentu kami bisa seperti ini sekarang.


"Aku pengen nanya deh. Kamu punya uang dari mana?" tanyaku. Saat akan membayar biaya pengobatan aku menyerahkan uang kepada Ghiffa tapi ia menolaknya dan membayar biaya itu dengan uang di dompetnya. Aku cukup terkejut karena Ghiffa masih memiliki uang setelah semua uang dan kartunya disita. "Kamu minjem?"


Ghiffa menggelengkan kepalanya, "Itu semua uang aku. Ini juga beneran mobil aku. Dan... " ia meraih jok belakang mobil dan megambil sebuah paperbag. "ini buat kamu. "


Aku menatapnya bingung seraya menerima kotak itu. Karena penasaran aku segera membukanya dan mendapati sebuah kotak ponsel yang sama dengan yang diberikan Ghaza. Sontak mulutku menganga saking terkejutnya.


"Ini apa?"


"Ponsel buat kamu. Aku udah masukin sim card kamu kesana."


Darimana Ghiffa punya uang untuk semua ini?