The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 36: Lari dari Kenyataan



Kuhempaskan tangan Ghiffa dari pipiku begitu saja. Ghiffa nampak terkejut dengan apa yang aku lakukan. Aku bangkit dari posisi dudukku, dan pergi meninggalkan Ghiffa yang kebingungan.


"Ay!" teriaknya.


Aku tidak menggubrisnya, terus aku berjalan ke arah pintu masuk gedung.


Tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar. Aku menghentikan langkahku, kurogoh saku celanaku dan saat aku lihat layar ponselku, nama Hyuga muncul disana.


Nama yang menghilang bak ditelan bumi itu kini tiba-tiba saja menghubungiku. Dengan ragu aku mengusap tanda hijau di layarku dan seketika panggilannya tersambung padaku.


"Liat ke belakang."


Nyawaku terasa lepas dari tubuhku mendengar Hyuga mengatakan itu. Dengan sangat perlahan aku membalikkan tubuhku. Aku melihat Ghiffa berdiri sekitar 10 meter dariku, dengan ponsel yang menempel di salah satu telinganya. Ia menatapku sendu dengan senyumnya yang manis.


"Maaf aku lama gak aktifin nomor aku." Nada bicara yang ramah itu kembali aku dengar.


Aku mendengar suara Hyuga, dan melihat Ghiffa berbicara disana dengan kata-kata dan gerak bibir yang sama.


Shock. Itulah yang aku rasakan sekarang. Saking shocknya, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Tanpa sadar aku menutup mulutku dengan tanganku. Ku jauhkan ponsel itu dari telingaku. Begitu juga Ghiffa. Ia mulai melangkah ke arahku.


"Stop!" teriakku spontan. Ghiffapun menghentikan langkahnya dengan bingung.


Pundakku turun naik, jantungku masih berdebar kencang sekali seakan aku baru saja selesai berlari berkilo-kilo meter jauhnya.


Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali. Terus berkata, "Nggak, ini mustahil, ini gak mungkin. Tuan bukan Hyuga!" Aku berucap lebih kepada diriku sendiri. Aku segera membalikkan badanku dan berlari meninggalkan Ghiffa.


"Aya!" teriak Ghiffa. Namun tidak ku gubris panggilannya dan terus memasuki lift. Beruntung lift langsung terbuka saat ku tekan tombolnya.


Tombol tutup kutekan berkali-kali, sampai akhirnya pintu lift tertutup sempurna sebelum Ghiffa menerobos masuk.


Kuletakkan tanganku tepat di jantungku, mencoba untuk menetralkannya.


Ini gila. Kebetulan yang sangat gila! Selama ini aku berpacaran dengan majikanku sendiri? Ku jambak rambutku yang tak bersalah dengan sekuat tenaga. Aku sangat frustasi. Bagaimana bisa?


Katakan, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya selama ini?!


Dari suaranya, kenapa aku tidak pernah merasa curiga dengan suara Hyuga yang jika ku telisik sekarang, memang terdengar sama dengan Ghiffa. Apa karena nada bicara mereka yang berbeda? Ghiffa selalu berbicara dengan nada yang angkuh dan otoriter. Sedangkan Hyuga, meskipun suaranya berat dan rendah, selalu ramah dan terdengar manis.


Lalu bagaimana bisa, aku tidak merasa curiga dengan tingkah Ghiffa yang sering kali manja padaku? Perhatian-perhatian kecil yang sering kali ia tujukan padaku?


Bahkan ciumannya, pelukannya?


Mana mungkin Ghiffa melakukannya jika tidak ada rasa di dalam hatinya terhadapku?


Kamu bodoh sekali Ayana! Cemoohan dari diriku sendiri terus bergema di kepalaku.


Tapi, sejak kapan Ghiffa mengetahui tentang semua ini? Lalu, mengapa ia menyembunyikan semuanya dariku?


Lift berhenti di lantai 2. Aku sengaja keluar dari lift di lantai 2 ini agar Ghiffa tidak menemukanku. Saat gagal mengejarku di lift tadi, ia pasti menggunakan tangga darurat untuk menyusulku ke lantai 1. Dengan nafas yang tersengal karena takut Ghiffa akan menemukanku aku turun menggunakan tangga utama.


Di anak tangga terakhir aku melihat Ghiffa memasuki tangga darurat, dia tidak melihatku sama sekali. Sontak aku segera berlari keluar gedung utama dan menuju ke perpustakaan.


Ku tengok jam di ponselku dan kini sudah menunjukkan pukul 14.00, waktunya perpustakaan tutup. Tiba di perpustakaan aku segera pamit pada Bu Sinta, dan menyambar tasku, lalu dengan langkah secepat kilat aku menuju motorku yang terparkir di parkiran karyawan.


"AYA! TUNGGU!" suara Ghiffa begitu menggelegar.


"Mampus!" umpatku.


Tanpa pikir panjang aku segera tancap gas dan meninggalkannya. Aku melihat Ghiffa di kaca spionku dan kini ia malah berjalan menuju ke parkiran siswa. Aku menoleh sekilas. Dia sedang menaiki motornya untuk mengejarku!


"Ghiffa beneran udah gila!" umpatku.


Akupun terus menarik pedal gas dan keluar dari gerbang utama SMA Centauri dan bergabung dengan mobil dan motor di jalanan yang ramai. Beberapa kali hampir aku menabrak dan menyerempet motor dan mobil yang aku lewati. Beberapa orang mengumpat dan memperingatkanku. Aku hanya berkata maaf dan terus melajukan motorku dengan kecepatan tinggi. Aku sendiri tercengang pada diriku sendiri karena bisa seberani ini.


Aku tidak peduli pada mereka semua yang berteriak memperingatkanku untuk memelankan laju motorku. Aku hanya ingin menjauh dari Ghiffa!


Sampai beberapa saat kemudian aku mulai mendengar suara motor besar yang begitu khas. Aku melirik ke arah spionku dan melihat sebuah motor besar berwarna hijau muda yang sangat aku kenal, ditunggangi seorang anak SMA dengan helm fullface berwarna senada dengan motor yang dikendarainya.


"Sial! Kok Ghiffa cepet banget?!" umpatku yang kesekian kalinya.


Sepertinya Tuhan sedang tidak berpihak padaku karena baru saja aku berencana menambah kecepatanku, di depan tiba-tiba saja lampu merah di persimpangan itu menyala. Aku seketika mengerem mendadak, membuat ban belakang motorku sedikit terangkat saking mendadaknya aku mengapit rem di tanganku. Sangat nyaris aku menabrak mobil yang ada di depanku.


Nafasku tersengal karena hampir saja aku aku menabrak mobil di depanku.


Suara motor besar itu kini tepat berada di samping kiriku.


"Yang." Seketika tubuhku merinding mendengar suara itu. Aku hanya meliriknya tanpa menoleh ke arahnya.


"Bawa motornya ke pinggir." perintahnya. "Cepetan!"


Sial banget, sih?!


Motor besar Ghiffa terus memepet motorku ke arah kanan. Di sisi kanan jalan itu memang terdapat sebuah minimarket, "Parkirin motornya, terus kamu naik ke motor aku."


Perubahan yang nyata, yang belum bisa aku terima, kini terjadi begitu saja. Bahkan Ghiffa tidak mengatakan gue-lo sekarang, namun aku-kamu. Dan itu membuatku sangat, sangat tidak nyaman.


Aku sudah tertangkap, tidak ada gunanya terus melarikan diri, apalagi melarikan diri dari si paling-tak-bisa-dibantah. Setelah memarkirkan motorku, aku berjalan malas menghampirinya.


"Kamu mau ikutan balapan liar? Ngapain coba kebut-kebutan di jalan raya kayak gitu? Bahaya tau. Sekalian aja nanti aku pinjemin motor aku." Sarkasnya.


Aku masih bungkam tidak menatap ke arahnya, tidak juga menjawab ucapannya.


"Ayo naik. Aku belum selesai ngomong, kamu main pergi aja." keluhnya.


Aku masih terdiam di posisiku. Rasa enggan masih menguasaiku. Kenapa semuanya mendadak berubah menjadi seperti ini?


Ghiffa menstandarkan motornya, lalu turun dari dari motornya. Ia menghampiriku dan seketika meraih pinggangku, dan mengangkat tubuhku begitu saja menuju jok belakang motornya dengan mudahnya.


"KYAA!! Tuan!!" sontak aku berteriak.


Sedetik kemudian aku sudah duduk di jok belakang motornya. Aku tahu tubuhku dan tubuh Ghiffa memang sangat jomplang. Bahkan tinggi badan kami berbeda sekitar 40 cm. Tapi kenapa dia bisa mengangkat tubuhku semudah itu?


"Bilang, kalau mau digendong." ucapnya tengil di balik helm fullface yang masih digunakannya. Aku hanya bisa terperangah menghadapi sikapnya yang otoriter ini.


Ghiffa kembali menunggangi motornya dan membawaku pergi. Motor Ghiffa terus melaju ke arah yang sepertinya aku tahu kemana ia akan membawaku. Tempat dimana ciuman pertamaku berhasil dicurinya.