The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 106: Belum Selesai



Ghiffa menciumku berkali-kali, kedua tangannya merengkuh tubuhku erat


"Aa cepet pergi ih!" Aku mendorong Ghiffa menuju tangga setelah ia menghabiskan sarapannya.


"Aku gak akan ketemu kamu sampai nanti sore, Yang. Sebentar aja, ya?"


Aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga, "Nanti aja pas Aa pulang. Aa nanti terlambat, ih!"


Ghiffa menghela nafasnya. "Ya udah." ucapnya kesal.


"Kalau Aanya kesel gitu, aku mau ngumpet aja deh nanti pas pulang." Aku berpura-pura marah. Langsung saja ia tersenyum manis padaku.


"Ya udah nggak, aku pergi dulu, Sayang." Ia menciumku sekilas kemudian segera pergi menuju lantai bawah.


Dasar, suami kecil. Dengusku gemas.


Hari ini semester baru untuk Ghiffa dimulai. Ia sudah berangkat pagi tadi menuju sekolah. Berbeda dengan Ghiffa yang sudah harus masuk sekolah, aku justru baru memulai liburan panjangku. Kini aku berada di rumah dan membersihkan setiap sudut rumah. Setelah selesai aku turun ke lantai bawah dan membereskan juga ruangan luas itu.


Ghiffa tidak akan mengizinkanku membereskan semua ini jika dia tahu, tapi aku benar-benar bosan jika berdiam diri saja. Maka dari itu aku mulai membereskan semua yang aku rasa berantakan.


Setelah itu aku ke kafe, aku melihat Om lucas sudah berada disana mengecek persiapan kafe yang akan buka menjelang siang nanti.


"Lagi apa, Om?" tanyaku basa basi seraya duduk di salah satu meja di area indoor.


"Biasa, kerjalah, Ay. Kenapa?" Ia duduk di hadapanku dan mulai membuka laptopnya.


"Om, boleh gak aku kerja disini? Gak digaji juga gak apa-apa. Aku bete diem terus di rumah. Mau pulang ke Lembang gak dibolehin sama Bapak. Katanya kalau mau pulang ya harus berdua, masa mau pulang sendiri, gak sama suami? Gitu katanya. Sedangkan Aa sekarang udah mulai sekolah lagi." Ucapku seraya memainkan sebuah vas bunga kecil yang terletak di tengah meja.


"Om sih mau-mau aja nerima kamu kerja, apalagi tanpa digaji. Mau banget. Tapi kamu kayak yang gak tahu si Ghiffa kayak gimana. Om bisa dihajar sama dia." Tatapannya masih tertuju pada laptop di hadapannya.


Aku mendengus. Benar juga. Selama ini walaupun Om Lucas bertindak sebagai Walinya, tapi saat sedang bekerja Ghiffa selalu menganggap Om Lucas adalah bawahannya, begitu juga Om Lucas yang menganggap Ghiffa adalah bosnya. Om Lucas selalu terlihat bersikap hormat pada Ghiffa meskipun Ghiffa jauh lebih muda darinya.


"Oh iya, gimana acara ulang tahun Ghaza kemarin?" Om Lucas memang sedang berada di luar kota kemarin, saat acara itu berlangsung.


"Seru." Ucapku singkat sambil sumringah.


"Ceritain dong. Om 'kan pengen tahu. Om cuma baca-baca di artikel bisnis. Yang heboh justru berita pernikahan kalian, bukan ultah Ghazanya. Terus kamu hebat banget Ayana bisa jadi trending topic gitu." Komentar Om Lucas.


"Apa sih, Om, biasa aja." ucapku merendah. "Sebenernya aku lega tapi sekaligus cemas dan juga ngerasa bersalah sih, Om. Lega karena akhirnya Tuan Musa ngasih restu sama aku dan Aa. Walaupun Nyonya Natasha nentang banget."


"Tuan Musa ngasih restu?" Om Lucas yang sejak tadi tak melepaskan pandangannya dari laptopnya kini menatapku terkejut.


"Iya, Om. Diluar dugaan banget. Tapi aku merasa bersalah, Om. Tuan Musa memang ngasih restunya, tapi Aa jadi harus janji buat bener-bener lepasin saham perusahaannya. Baik sekarang ataupun nanti, Aa gak boleh menggugat sahamnya. Aa juga mutusin buat gak ketemu lagi sama Ayahnya, dan itu yang bikin Nyonya Natasha marah banget."


"Dasar bocah nekat," Om Lucas menggeleng-gelengkan kepalanya. "Yah, lagian lebih baik kayak gitu. Daripada Ghiffa terus berurusan sama Musa dan Ghaza yang toxic. Cuma Natasha yang masih aja bertahan diperlakukan gak baik kayak gitu. Dia pasti gak akan nyerah buat ngerecokin suaminya itu, biar Pak Musa ngembaliin sahamnya Ghiffa."


"Iya, Nyonya Natasha bener-bener ambis buat mempertahankan haknya Aa." ucapku tak habis pikir.


"Terus gimana sama Ghaza?" tanyanya.


"Kemarin..." aku menghentikan ucapanku. Bingung harus menjelaskannya bagaimana. "Dia marah bangetlah pasti."


"Marah kenapa? Kamu 'kan gak ngacauin ulang tahun dia. Malah imej dia jadi makin baik di mata orang-orang."


"Kayaknya bukan itu yang bikin Ghaza marah?" telisik Om Lucas.


Aku mendeham, "Terus apa?"


"Ghaza bukannya marah gara-gara kamu udah nikah sama Ghiffa? Dia 'kan suka sama kamu?" ucapnya telak.


"Siapa yang suka, Om. Dia itu bukan suka sama aku. Dia cuma pengen rebut apa yang dimiliki sama Aa."


"Iya sih. Kamu bener. Tapi Ay, Om pengen nanya."


Aku penasaran, "Nanya apa Om?"


"Beneran gak terjadi sesuatu sama kamu setelah Ghaza bawa kamu pergi?"


Deg!


Aku seketika terdiam. Kilasan video itu terlintas dalam benakku begitu saja. Aku mencoba untuk terlihat biasa.


"Gak ada, Om. Aku udah bilang 'kan kalau aku itu gak inget sama sekali sama apa yang terjadi pas Ghaza bawa aku." Aku menghindari tatapan Om Lucas.


"Yakin?" Pertanyaan Om Lucas itu semakin menyudutkanku.


"Yakin, Om. Emang kenapa sih? Aa juga terus-terusan nanya itu sama aku."


"Om khawatir aja. Kalau ada sesuatu kamu harus ngomong sama Ghiffa. Kalau kamu gak bisa cerita ke Ghiffa, kamu bisa cerita sama Om."


Om Lucas sepertinya mencurigai sesuatu. Aku merasa bersyukur karena ia sepeduli itu padaku. Tapi tetap saja kejadian itu tidak bisa aku ceritakan pada sembarang orang. Apalagi dengan apa yang sudah aku lakukan di ulang tahun Ghaza kemarin, rasanya aku benar-benar sudah sangat puas dan lega. Aku sudah tidak ingin berurusan dengan Ghaza lagi.


"Bos, ini aja yang mau dibeli?" Tiba-tiba saja Hesti, salah satu karyawan di kafe itu menghampiri kami.


"Mau kemana, Hesti?" Tanyaku kepo.


"Aku mau ke supermarket, Mbak. Ada beberapa yang harus dibeli ini." terang Hesti.


"Aku ikut ya!" Mendengar kata supermarket membuat aku jadi bersemangat. Kebetulan persediaan di rumah juga sudah mulai menipis.


"Tapi anak-anak lagi pada gak ada, mereka sekolah semua. Anak-anak yang udah pada lulus juga pada gak bisa ngawal, Ay." Para alumni itu memang sedang asyik menenggak minuman saat aku dan Ghiffa tiba di rumah kemarin malam. Mereka pasti masih belum bangun.


"Cuma ke supermarket situ doang 'kan ya?" Tanyaku pada Hesti, Hestipun mengangguk. "Deket Om. 5 menit pakai mobil juga nyampe. Lagian aku cuma mau belanja doang. Udah gitu langsung pulang. Iya 'kan Hesti?"


"Aku terserah Bos Lucas aja deh." aku mendengus, Hesti sepertinya tidak ingin tersalahkan jika terjadi sesuatu.


"Ya udah, tapi cepet ya belanjanya. Kalau ada apa-apa cepet hubungi Om."


Akupun mengangguk semangat. Aku membawa diriku menuju rumah untuk mengambil tasku dan berjalan menuju mobil dimana Hesti sudah duduk di kursi kemudi. Tak berapa lama mobil sudah terparkir di parkiran supermarket. Aku dan Hesti keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk supermarket.


Saat kami akan mengambil troli, sebuah tangan menyergap tanganku. Sontak aku melihat ke arah kananku.


Berdiri Ghaza disana, menatapku dengan buas.