
(masih) Sekitar seminggu yang lalu...
"Mau ngomong apa, Yang?"
Aku dan Ghiffa duduk berhadapan di kursi meja makan setelah kami makan malam. Di hadapan kami sudah tidak ada apapun, piring dan gelas sudah aku bereskan. Aku meminta Ghiffa untuk tidak beranjak dari tempat ia duduk karena ada yang ingin aku bicarakan dengannya.
"Saya ingin membuat kesepakatan dengan Tuan."
Dahi Ghiffa mengerut, "Kesepakatan?"
"Iya. Kesepakatan yang tidak boleh dilanggar oleh saya ataupun Tuan."
"Maksudnya gimana?"
Aku menghela nafasku panjang, "Agar saya dan Tuan bisa terus tinggal disini bersama-sama dalam satu atap. Saya ingin membuat batasan."
Ghiffa meregangkan bahunya yang sedari tadi terlihat tegang. "Gara-gara tadi kita ciuman ya?" tanyanya tengil.
Wajahku berubah merah padam.
"Iya." tegasku, dengan nada dan wajah yang serius.
Seketika Ghiffa tersenyum, "Yang. Kenapa sih harus serius gitu. Sampe mau bikin kesepatan segala. Biarin mengalir aja kayak tadi. Kapan aku pengen peluk, ya aku bakal peluk kamu, kalau aku pengen cium, ya cium. Kenapa harus bikin batasan?"
"Harus, Tuan!" nadaku galak. "Saya udah sangat mengenal Tuan. Tuan itu nekat. Saya harus membuat peraturan karena sekarang saya merasa tidak aman."
"Gak aman? Aku gak akan ngapa-ngapain, Yang. Aku ngehargain kamu, kok. Kamu gak usah khawatir, aku tahu batasan kok. Paling cium sama peluk aja."
"Apa sih, Tuan. Jangan frontal gitu ngomongnya!" Wajahku kembali memerah. "Saya gak percaya. Tuan itu orangnya nekat. Saya tahu betul itu."
"Ya udah, kita dengerin dulu pengajuan kamu. Kita negosiasi." ucapnya setuju.
"Pertama, sebelum memulai kesepatakannya, saya ingin tahu, sejak kapan Tuan menyembunyikan ini semua?"
"Sejak pertama kamu kesini."
"Sejak awal? Kok bisa?" Aku tak habis pikir.
Kemudian Ghiffa menceritakan awal ia mengetahui siapa aku pada malam pertama aku berada di apartemen ini. "Dari situ deh aku tahu kalau ART baru itu adalah kamu, calon pacar aku."
Aku tertegun. Sudah selama itu Ghiffa mengetahuinya? Sebagai seorang majikan, pantas saja ia bersikap sangat aneh.
"Tuan tidak kaget saat melihat saya pertama kali?" cicitku.
"Kagetlah. Tapi aku seneng banget bisa tiap hari bareng-bareng sama kamu. Bahkan aku pura-pura gak bisa tidur sendiri biar kamu temenin tidur tiap malem."
Emosiku tiba-tiba saja memuncak. Kuberikan tatapan sinis untuknya.
Ghiffa malah tertawa gemas, "Kamu suka nemenin aku tidur sambil chat sama pacar kamu, padahal pacar kamu ada di depan kamu lagi tiduran."
"Tuan pikir itu lucu?!" aku benar-benar merasa dibodohi.
Ghiffa mengulum senyumnya, "Maaf, Yang."
"Tega banget Tuan bohong pada saya!" Aku tak bisa membendung amarahku. Aku malu, kesal, dan merasa dipermainkan.
Ghiffa menghentikan senyumnya, "Aku punya alasan, Yang. Awalnya aku gak maksud bohong lama-lama. Aku cuma pengen liat sebesar apa kamu sayang sama aku. Aku sengaja sering godain kamu sebagai Ghiffa. Aku pengen bikin kamu suka sama Ghiffa. Tapi bukannya oleng, kamu malah tetep suka sama Hyuga. Padahal selama ini cewek-cewek selalu terpesona sama aku, loh."
'Aku sempat oleng kali, cuma gak bilang aja!' dengusku dalam hati.
"Biasanya tanpa aku ngapa-ngapain, cewek-cewek dengan mudahnya suka sama aku, karena aku ganteng dan tajir. Aku juga pinter dan jago olahraga," imbuhnya, kata-katanya sungguh membuat aku mengerlingkan mataku.
Aku tahu itu benar, tapi Ghiffa benar-benar terlalu percaya diri.
"Tapi kamu nggak, Yang. Kamu malah masih lebih memilih Hyuga. Baru pertama kali ada cewek yang gak suka sama aku. Dari situ aku jadi tahu, ternyata kamu beda. Kamu bener-bener sayang sama aku. Inner aku, bukan luarnya aku." Kemudian Ghiffa menopang dagunya dengan sebelah tangannya, ia tersenyum seakan terpesona padaku, "Makanya aku makin bucin sama kamu."
Aku berdeham. Tiba-tiba saja terasa sangat gerah, padahal udara sejuk masih menyeruak dari AC yang menyala.
"Selera Tuan berarti sangat aneh. Masa Tuan suka pada saya yang seperti ini?" ucapku ketus.
"Di mata aku kamu itu cantik banget tau, Yang. Kamu manis banget."
Aku jadi salah tingkah sendiri mendengar Ghiffa sebegitunya. "Secepatnya Tuan harus memeriksakan mata Tuan ke Dokter mata. Saya rasa mata Tuan pasti bermasalah." Aku rasa mata Ghiffa sudah rabun, karena aku merasa tidak secantik itu.
Iapun terbahak. "Kamu itu cantik, liat deh foto-foto kamu."
Ghiffa merogoh HPnya dan kemudian memperlihatkan beberapa foto. Seketika aku terkesiap melihat foto-foto itu.
"Tuan!" teriakku. Wajahku terasa panas kembali.
Foto-foto yang ditunjukkannya adalah foto ketika kami di hutan pinus. Saat dia menciumku, ternyata Ghiffa memotretnya. Beberapa foto itu adalah foto yang diambil mulai dari kami saling memandang, kemudian setelah itu semakin dekat, dan saat bibir kami bertemu.
Kenapa ada foto seperti itu?!
"Tuan, hapus fotonya!" ujarku galak.
"Semoga itu jadi kenangan indah bagi, Tuan." ujarku dingin.
"Kenapa gitu?"
"Karena saya tidak akan membiarkan Tuan melakukan itu lagi pada saya."
Ghiffa malah tersenyum samar, "Yakin? Barusan aja kita udah ciuman lagi. Itu yang keempat loh, Yang."
"Saya serius, Tuan!!" teriakku merasa terpojok.
"Iya deh, iya itu yang terakhir." Ucapan Ghiffa lebih seperti mengiyakan agar perdebatan ini segera selesai. Ia terlihat tidak benar-benar menyetujuinya.
Aku bisa gila jika lama-lama berdebat dengannya.
"Ya udah, saya akan mulai kesepakatannya." Ucapku to the point. "Saya minta, Tuan berhenti berbicara 'aku-kamu' pada saya. Berbicaralah dan perlakukan saya selayaknya Tuan kepada ART Tuan. Juga tolong jangan panggil saya 'yang' lagi. Saya ingin kita sama-sama sepakat bahwa saya dan Hyuga sudah putus. "
Ghiffa menghela nafas, "Ya udah gue sepakat."
Aku cukup tercengang. Ghiffa langsung menyetujuinya tanpa drama.
"Kenapa?" tanyanya heran, "Dari awal gue ngebongkar semua ini, gue udah niat buat deketin lo lagi sebagai Ghiffa. Tapi kalau lo keberatan gue ngomong aku-kamu sama lo, fine. Gak masalah bagi gue. Nanti kalau kita jadian lagi kita 'aku-kamu' lagi ya." Ia tersenyum penuh arti.
"Tolong Tuan pahami situasi dan kondisi saya dan juga Tuan. Saya adalah asisten rumah tangga disini. Tuan adalah majikan saya. Dunia Tuan dan dunia saya berbeda. Saya tidak akan pernah menjalin hubungan seperti itu lagi dengan Tuan." Tegasku.
"Kenapa? Beda dunia gimana maksud lo? Lo bukan kuntilanak 'kan?"
Malah bercanda dia?!
"Saya serius, Tuan." Aku masih mencoba bersabar.
"Jadi lo maunya gimana? Kita udahan gitu aja? Hanya sekedar ART dan majikannya? Gitu mau lo?"
'nggak juga, sih' cicitku dalam hati. Mendengar Ghiffa mengatakannya, aku malah merasa tidak rela.
"Iya." dustaku. "Itulah yang seharusnya terjadi antara saya dengan Tuan."
"Gemes lama-lama gue sama lo." Ghiffa mulai tidak sabar.
"Tuan harus sepakat, saya hanya ART bagi Tuan dan tidak lebih dari itu. Jadi hentikan semua kontak fisik yang sering Tuan lakukan pada saya." tegasku.
Ghiffa terdiam sejenak. "Okay. Lo cuma ART bagi gue. Fine. Tapi kalau gak kontak fisik gue gak bisa."
"Tuan!"
"Kita lagi negosiasi 'kan? Daripada gue bohong, mending gue ngomong dari sekarang."
Bagaimana ini? Lalu tiba-tiba saja sebuah ide terbersit di otakku. Mungkin ini akan sulit bagiku, tapi ini kesempatanku untuk menjalankan tugas yang Tuan Musa berikan untukku.
"Kalau begitu, boleh kontak fisik. Tapi kita harus memperinci batasannya."
Ghiffa terlihat mulai jengah. "Ay lo bener-bener bikin gue gemes. Kenapa sih harus sampe segininya?"
"Tuan mau atau tidak?!" tegasku.
"Gue yang nentuin batasannya." sahutnya.
"Silahkan Tuan ajukan dulu, saya ingin dengar dulu."
"Lo harus cium gue setiap pagi dan nemenin gue tidur, kayak waktu itu. Dan ada tambahannya, kalau gue pulang, lo harus peluk gue."
Sudah kuduga, pasti itu yang diajukannya.
"Terus lo juga harus pindah ke kamar sebelah gue, jangan di kamar pembantu lagi." imbuhnya.
"Tidak bisa, Tuan." ujarku segera, "Kalau Nyonya Natasha lihat, saya harus bilang apa?"
"Lo kalau tidur aja di kamar tamu. Barang-barang lo tetep disimpen di kamar belakang. Okay?"
Baiklah, ini satu-satunya jalan.
"Baik, saya akan menyetujui semua yang Tuan ajukan, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Tuan harus kembali jadi siswa teladan. Jadilah siswa dengan nilai-nilai terbaik seperti Tuan kelas 10. Tuan juga harus bisa lebih menghargai dan sopan pada siapapun. Juga Tuan masuk lagi ke ekskul futsal yang sangat Tuan kuasai dan berprestasi disana."
"Gue gak..."
"Saya belum selesai, Tuan." ujarku segera. Ghiffapun mengatupkan mulutnya yang sudah ingin menimpaliku, "Tuan harus mau datang ke acara ulang tahun perusahaan Ayah Tuan."
Raut wajah Ghiffa mengeras mendengar syarat terakhir yang aku ajukan. Dia bersiap mendebatku, namun aku segera mendahuluinya, "Itu syarat dari saya. Jika Tuan tidak mau, maka lupakan semua kesepakatannya. Kalau Tuan tidak setuju maka saya akan berhenti dari pekerjaan saya dan meninggalkan apartemen ini."