
Ghiffa menghampiriku dan segera saja menarik tanganku. Kedua pasang mata dingin itu bertemu beberapa saat sebelum Ghiffa membawaku meninggalkan lounge.
"Tuan.." Aku berjalan tergopoh di belakangnya dengan tangannya mencengkram tanganku. "Tangan saya sakit!" Ghiffa sama sekali tidak menggubrisku, malah terus saja berjalan sambil menarikku, tidak tahu kemana ia akan membawaku.
"Berhenti!" teriak Ghaza.
Saat itu aku dan Ghiffa berada di depan pintu menuju ballroom yang terbuka. Alunan musik klasik terdengar dari para pemain orkestra di sudut depan panggung. Di dalam sedang berlangsung sesi ramah tamah yang diisi dengan jamuan makan malam untuk seluruh tamu yang datang. Beberapa terlihat berada di mejanya masing-masing, banyak juga yang berkeliaran bercengkrama dan mencoba hidangan di stand-stand makanan yang tersedia.
Ghaza berjalan menghampiri kami dengan wajah dinginnya.
Sontak tangan Ghaza meraih tanganku dan menarikku ke arahnya. Otakku tiba-tiba berhenti berfungsi, tatkala tangan Ghiffa memegang tangan kiriku, dan Ghaza di tanganku yang lain.
Situasi macam apa ini?!
"Dari dulu lo gak pernah bisa ya lembut sama cewek." sindir Ghaza pada sang adik.
"LEPASIN DIA!" Suara Ghiffa menggema, mengundang perhatian para tamu yang berada di ballroom. Beberapa orang mulai melihat ke arah kami, penasaran dengan apa yang terjadi.
Mata Ghiffa menatap nanar pada Ghaza, tangannya menarik tanganku ke arahnya.
Ghaza menyeringai, seraya menarik tanganku juga ke arahnya, aku sudah macam tali tambang saja ditarik kesana kemari. Beberapa orang mulai berkumpul di sekitar kami, menonton perdebatan antara dua pewaris itu.
"Lo ada sesuatu sama dia, 'kan?"
Ghiffa terlihat semakin marah. Ia menyingkirkan tangan Ghaza yang mencengkramku, dan 'menyembunyikanku' di belakang punggungnya. "Kalau gue emang ada hubungan sama dia, lo mau apa?" suaranya tercekat saking berusahanya ia menahan amarah.
Ghaza menatap dengan begitu meremehkan, "Secepat itu lo move on dari Oliv? Sayang banget, padahal baru aja gue mau ngembaliin dia sama lo."
Ghiffa melepaskan tanganku, berjalan ke arah sang kakak dan begitu saja meraih kerah jas yang dipakai Ghaza, lalu mengumpatnya, "Anj*ng!" Orang-orang terkesiap gaduh melihat apa yang Ghiffa lakukan pada sang kakak
"Ghiffa!" Tiba-tiba nyonya Natasha ada disana keluar dari pintu Ballroom setelah menembus kerumunan orang-orang. "Kalian sedang apa?!"
Ghaza melepaskan tangan Ghiffa dari kerahnya. Tatapan mereka masih bertemu dengan sorot mata yang semua orang yang melihatnya akan tahu betapa mereka saling membenci satu sama lain.
"Jo." ucap Nyonya Natasha, kedua matanya tidak terlepas dari kedua putranya. Jonathan yang paham dengan satu kata tersebut, segera bertindak.
"Bapak ibu, silahkan untuk kembali ke dalam. Acara masih berlangsung." ucap Jonathan pada para tamu yang mengerumuni kami. Perlahan para tamu membubarkan diri. "Terimakasih. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya." Jo terus menggiring para tamu ke dalam ballroom. Sampai akhirnya semua orang sudah kembali pada aktivitasnya masing-masing dalam pesta tersebut.
Nyonya Natasha menghampiri kami.
"Ghaza, ayah Olivia baru saja datang. Temui beliau dan bersikap baiklah. Dia memutuskan untuk melanjutkan kerjasamanya bahkan setelah kamu memutuskan pertunangan kamu dengan Olivia." Nyonya Natasha menasehati.
"Anda siapa mendikte saya harus apa dan bagaimana?" Ghaza menatap sang ibu sambung dengan tatapan mencemooh.
Nyonya Natasha hanya bisa terdiam.
"Sopan dikit Anj*ng lo sama nyokap gue!" Melihat sikap Ghaza yang tak menghormati sang ibu, membuat Ghiffa kembali emosi.
Ghaza malah terkekeh, "Cara ngomong lo bener-bener ngeliatin dari kelas mana lo berasal." Seringai Ghaza.
Ghiffa siap menimpali, namun Nyonya Natasha menahannya. "Udah, Nak. Jangan memperburuk keadaan."
Ghiffa menatap sang ibu tak percaya, "Selalu 'kan? Aku yang salah? Aku yang harus ngertiin?"
"Lo mau ketemu sama Ayahnya Oliv? Tanpa gue tunangan sama anaknya, ternyata dia tetep mau kerjasama. Gue udah gak butuh pertunangan itu lagi. Lo mau lanjut sama Oliv? Mau gue bilangin?" Ucapnya dingin tanpa perasaan.
Kata-kata Ghaza benar-benar menyulut emosi Ghiffa. Namun Ghiffa terlihat menahan emosinya.
"Kenapa? Udah move on lo dari Oliv?" Ghaza mengarahkan pandangannya padaku sesaat.
Ghiffa terlihat sangat tidak nyaman. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Nyonya Natasha yang bingung menatap ke arahku dengan dahi mengerut.
Ghazapun masuk ke dalam ballroom meninggalkan Ghiffa yang masih berdiri mematung.
"Apa maksud ucapan kakak kamu, Nak?" tanya Nyonya Natasha. Karena Ghiffa bungkam, ia menatap ke arahku penuh tanya, "Ada apa Ayana?"
"Saya..."
"Gak ada apa-apa, Mah." Akhirnya Ghiffa bersuara, "Aku dan Ayana gak ada apa-apa." Ada penekanan pada kata 'gak' yang Ghiffa ucapkan.
Nyonya Natasha semakin menatapku penuh tanda tanya. Sepertinya ia tidak begitu saja mempercayai ucapan Ghiffa.
Ghiffa terlihat termenung beberapa saat. Apa yang dipikirkan Ghiffa sih? Kenapa wajahnya begitu serius?
"Mah, aku mau minta maaf yang aku kasih di muka." ucap Ghiffa, tatapannya berbeda dengan sebelumnya. Kali ini ia menatap Natasha dengan sendu.
"Apa maksud kamu?" tanya Nyonya Natasha tidak memahami ucapan sang putra.
Ghiffa tidak menjawab lagi, kemudian Ghiffa menarik tanganku dan masuk ke dalam ballroom. Orang-orang mulai melihat ke arah kami. Tatapan mereka seakan menyedot habis oksigen di sekitarku, sungguh aku merasa sangat sesak.
Ghiffa melepaskan tanganku tidak jauh dari pintu masuk, "Tunggu disini. Jangan pergi kemanapun juga." perintahnya.
Dengan bingung aku pun mengangguk patuh.
"Ghiffa!" teriak Nyonya Natasha. Namun Ghiffa tidak menggubrisnya.
Ia terus berjalan ke arah panggung megah di depan sana. Semua orang yang sedang menikmati jamuan makan malam kebingungan melihat sosok putra kedua perusahaan properti terbesar di Indonesia itu berjalan dengan begitu cepatnya membelah kerumunan orang hingga kini ia berada di depan, di atas panggung, dengan mic berada di tangannya.
"Mohon perhatiannya." Suara Ghiffa terdengar di pengeras suara. Perhatian langsung tertuju padanya. Para pemain orkestra menghentikan iringan musik mereka, memberikan kesempatan pada putra dari Tuan Rumah itu untuk berbicara.
"Mohon maaf karena dengan lancangnya saya berdiri disini dan menganggu jamuan yang sedang berlangsung." Tatapan Ghiffa menyapu seluruh ruangan, "Saya ingin menyampaikan sesuatu."
Tuan Musa terlihat bingung, tatapannya nanar mencari keberadaan seseorang. Saat melihat Nyonya Natasha ia memintanya mendekat dan berkata sesuatu seperti 'ada apa ini?'. Namun Nyonya Natasha yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Seperti yang sudah diumumkan di awal acara, Secara resmi saya sudah menjadi salah satu pemegang saham utama. Maka dalam kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Ayah saya, Bapak Musa Airlangga, atas kepercayaannya kepada saya. Saham ini sudah saya terima sejak saya berulang tahun yang ke-17 beberapa bulan lalu. Saya merasa sangat bangga dan terhormat. Namun..."
Ghiffa berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan, "Saya tidak dapat menerimanya."
Sontak seluruh ruangan gaduh mendengar ucapan Ghiffa. Aku melihat Tuan Musa bangkit dari kursinya dengan tatapan tidak percaya pada sang putra. Begitu juga Tuan Ghaza, tidak bisa melepaskan tatapannya dari Ghiffa. "Maka dengan itu di hadapan semua dewan direksi dan para pemegang saham yang hadir disini, saya kembalikan semua yang telah Ayah saya percayakan pada saya. Mohon maaf dan terimakasih. " pungkasnya.
Ghiffa menuruni tangga di sudut panggung dan kembali membelah kerumunan, berjalan menuju pintu. Ia tidak menggubris Nyonya Natasha yang memanggilnya. Wajah Tuan Musa sudah sangat marah, namun pria itu mencoba untuk meredamnya. Begitu juga dengan Tuan Ghaza, tatapan tercengangnya tak dapat ia sembunyikan. Terlihat raut wajahnya begitu shock dengan apa yang sudah dilakukan sang adik.
Ghiffa sudah berada beberapa langkah di depanku. Ia menatapku dingin, "Kita pergi," dan seketika tangannya menyambar tanganku dan membawaku keluar dari ruangan megah itu.