The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 102: Teman Kencan Ghaza



Ghiffa's point of view


"Yang.." Telepon ditutup oleh Ayana sebelum Ghiffa menyelesaikan ucapannya, membuat Ghiffa berdecak kesal. Ia berdiri di sudut lounge room sebelah ballroom bersama dengan kedua orang tuanya.


"Nak, ayo acaranya udah mau dimulai." ajak Natasha pada sang putra. "Coba sini Mama liat dulu."


Natasha melihat ke arah sang putra. Ghiffa menggunakan kemeja hitam dengan dasi kupu-kupu berwarna senada dibalut setelan tuxedo berwarna hitam juga. Rambut Ghiffa ditata rapi dengan pomade, menampakkan dahi sempurnanya.


"Ganteng sekali anak Mama." Mata Natasha berbinar. "Bagaimana menurut, Bapak?" Natasha bertanya pada sang suami yang duduk di sofa di belakangnya, sibuk dengan ponselnya.


Musa melirik sekilas kepada sang putra lalu kembali ke ponselnya, tidak mengatakan apapun.


"Pak..." ujar Natasha meminta suaminya setidaknya bersuara.


Musa melirik ke arah Ghiffa lagi, "Dia tampan. Ada darah saya mengalir di tubuhnya maka dari itu dia bisa setampan itu." ucapnya Arogan.


Ghiffa hanya tersenyum sinis mendengar sang Ayah yang selalu seperti itu padanya.


"Papa kamu bener. Ada darah Musa Airlangga yang begitu tampan mengalir di dalam diri kamu." Natasha sumringah, seakan tidak masalah dengan ucapan Musa yang begitu menyebalkan bagi Ghiffa.


Kemudian pintu diketuk dan Ghaza masuk menghampiri sang ayah, Ia menggunakan tuxedo berwarna putih yang terlihat sangat mewah. Warna putihnya jadi begitu kontras dengan Ghiffa yang menggunakan tuxedo serba hitam.


"Wah, makin ganteng aja anak Papa." Musa berdiri saat sang putra menghampirinya. "Papa gak menyangka kamu sudah 28 tahun hari ini." Musa merangkul Ghaza dengan rasa penuh bangga.


Dulu Ghiffa akan merasa sangat sakit hati jika ada di posisi ini, sering sekali ia mendapatkan perlakuan yang begitu berbeda dari sang Ayah. Namun kini hal itu tidak lagi mempengaruhinya. Ia sudah tidak peduli lagi jika ia tidak mendapatkan perhatian dan cinta kasih dari sang ayah.


"Makasih, Pah." sahut Ghaza juga dengan penuh rasa bangga, Ia melirik sekilas pada sang adik dengan sinis. Ghiffa hanya bersikap masa bodo. "Ayo Pah, sekarang kita masuk ke Ballroom. Semua orang sudah datang."


"Teman kencan kamu itu sudah datang juga?" Tanya Musa penasaran. Ghiffa sempat bertanya-tanya juga, kira-kira siapa perempuan yang akan Ghaza bawa kali ini setelah pertunangannya dengan Olivia kandas. Namun beberapa detik kemudian Ghiffa tidak ingin ambil pusing.


"Belum, Pah. Mungkin sebentar lagi. Aku tunggu dia di depan nanti seudah nganterin Papa ke meja."


"Papa gak sabar, Ghaza. Dia pasti jauh lebih cantik dari Olivia. Iya 'kan?" Tebak Musa.


"Papa bisa melihatnya sendiri nanti saat ketemu dengannya." Ucap Ghaza tidak ingin memberikan spoiler.


"Baiklah, semoga kali ini kamu benar-benar bertemu dengan jodoh kamu. Papa sudah ingin memiliki seorang menantu dan juga cucu." ucap Musa.


"Papa masih terlalu muda untuk menjadi Kakek, Pah." puji Ghaza. "Lagipula dia masih berstatus sebagai teman. Belum ada hubungan seperti itu antara aku dengan dia."


Musa tertawa puas mendengarnya.


"Kamu memang anak Papa. Baiklah kita ke Ballroom sekarang." ucapnya setelah tawanya berhenti. "Natasha." panggilnya pada sang istri.


Natasha segera menghampiri Musa dan melingkarkan tangannya di lengan sang suami. "Jaga sikap kalian, ingat itu." Musa memperingatkan pada Natasha dan juga Ghiffa.


"Baik, Pak." ujar Natasha patuh, sedangkan Ghiffa hanya diam tak ingin menjawab.


Ghiffa menghela nafas melihat segala kepalsuan ini, belum juga dimulai ia sudah merasa jengah. Iapun berjalan di belakang kedua orang tuanya, bersebelahan dengan Ghaza. Beberapa detik mereka saling menatap dengan tajam. Namun saat keluar dari lounge room, Ghaza segera menampilkan wajah bahagianya, membuat Ghiffa tercengang. Betapa pencitraan begitu penting bagi Ghaza dan juga ayahnya.


Mereka mulai berjalan memasuki ballroom yang sudah dipenuhi oleh orang-orang dengan tuxedo dan gaun mewah mereka.


Ketiga orang tersebut terus tersenyum dan menyapa setiap orang yang menghampiri. Hanya Ghiffa yang berwajah tidak tertarik. Ia tersenyum tipis saat ada yang menyapanya. Demi kelancaran rencananya yang kini diambil alih oleh Ayana, ia harus menahan diri untuk tidak mengacaukan acara ini dan berpura-pura menjadi keluarga yang harmonis.


Di tengah kerumunan orang-orang, Ia melihat Max, Theo, Victor, dan teman-temannya yang lain menyebar di seluruh ruangan. Mereka berpakaian rapi seperti dirinya. Mereka mengangguk, memberi tanda bahwa para anggota Centaur Squad sudah bersiap jika terjadi sesuatu.


Akhirnya mereka berempat tiba di meja paling depan. Meja bundar itu dilapisi taplak mewah berwarna broken white dihiasi satu vas mewah dengan rangkaian bunga mawar di tengah meja. Terdapat lima buah kursi yang mengelilingi meja itu. Natasha dan Musa duduk bersebelahan. Disamping kiri Natasha, Ghiffa duduk, menyisakan dua kursi lainnya di sebelahnya.


Mungkin dua kursi itu untuk Ghaza dan juga teman kencannya itu, pikir Ghiffa.


Tak lama datang banyak kolega Musa menyapa mereka. Sehingga mereka kembali berdiri dan menyapa mereka yang datang dan pergi. Ghiffa juga harus ikut bergabung dan bersikap hormat. Ia sangat malas tapi sekali lagi, apa boleh buat. Di tengah-tengah senyum palsu sang ibu dan ayahnya, Ghiffa mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Ayana.


Dimana gadis itu sebenarnya?


Saat sedang menoleh, tak sengaja ia menangkap sosok Zayyan. Ghiffa pamit sebentar kepada sang ibu dan menghampiri Zayyan yang sibuk membawa nampan berisi minuman.


"Zay. Lo liat Ayana gak?" Ghiffa menepuk pundaknya.


"Gak liat, Ghif." ujar Zayyan. "By the way, selamat ya lo udah nikah sama Ayana. Parah gak nyangka banget kalian sampai nikah."


"Thanks," Ghiffa agak terkejut juga Zayyan mengetahuinya, "Tau dari mana lo?"


"Ayana. Dia minta tolong sama gue buat bikin pertunjukan nanti." Ujar Zayyan.


"Pertunjukan?" Ghiffa sama sekali tak terpikirkan apapun.


"Liat aja nanti." Zayyan malah tertawa penuh arti pada Ghiffa. Ia menepuk bahu Ghiffa dan kemudian kembali beredar menawarkan minuman pada para tamu.


"Gak jelas banget si Zayyan." Gumamnya.


"Ghif!" Sebuah tangan menepuk bahunya, Ghiffapun menoleh dan melihat Olivia disana.


"Oliv?"


Olivia menempelkan pipi kanan dan kirinya ke pipi Ghiffa.


"Ngapain lo disini. Tuh bokap gue sama bokap lo nyariin. Yuk kesana." Olivia mengajak Ghiffa ke bergabung kembali dengan orang tua mereka.


Beberapa saat Ghiffa bergabung dalam obrolan kedua presiden direktur perusahaan besar itu. Ditemani juga dengan sang Ibu dan juga ibu dari Olivia. Hingga obrolan itu sampai pada topik yang sangat membuat Ghiffa ingin sekali segera pergi dari ruangan sesak ini.


"Gak apa-apa Pak Musa, Saya sangat mengakui kalau Oliv memang masih sangat kekanak-kanakan. Usianya baru saja 19 tahun. Memang terlalu muda untuk bertunangan dengan pria sehebat Ghaza." ujar Doni, ayah dari Olivia.


"Iya untungnya putusnya pertunangan mereka tidak membuat hubungan kita menjadi rusak ya. Bukan begitu Jeng Natasha?" Diana, ibu dari Olivia menimpali.


"Tentu saja, jeng. Tapi sejujurnya saya sangat kecewa karena gagal mendapatkan menantu secantik dan sepintar Oliv." ucap Natasha dengan wajah sedih.


"Iya betul, jeng. Tapi Jeng Natasha ini masih punya putra satu lagi 'kan. Masih bisa dijodohkan dengan Oliv. Lagipula umur mereka tidak terlalu jauh. Ya 'kan, Pah?" ujar Diana pada sang suami.


"Mama, Ghiffa sama aku cuma temenan!" ujar Olivia cepat. Ia menangkap ketidak nyamanan Ghiffa karena ucapan ibunya. Disahuti oleh Doni dan Musa yang mengklarifikasi bahwa Diana hanya sedang bercanda.


Tiba-tiba terdengar suara gemuruh tepuk tangan dari para tamu. Kamera menyorot sosok Ghaza yang baru saja masuk kembali ke dalam Ballroom. Ghaza terlihat di layar besar di belakang panggung, sedang berjalan membelah kerumunan para tamu. Musik klasik dari pada pemain orkestrapun mulai mengalunkan musik yang lebih romantis.


Semua orang terpana melihat Ghaza yang didampingi seorang perempuan cantik dengan gaun hitam berkilauan, yang menautkan tangannya di lengannya. Mereka terlihat tersenyum dan menyapa para tamu yang kebanyakan adalah sahabat-sahabat Ghaza. Perempuan itu juga tak canggung berada di dekat sang bintang utama acara ini, tangannya terus tertaut pada lengan Ghaza dan bibirnya yang dipoles dengan lipcream merah menyala tak henti-hentinya mengembangkan senyuman.


"Siapa itu, Jeng? Apa calon Ghaza yang baru?" tanya Diana agak sedikit kesal.


Natasha hanya tersenyum menyesal, begitu juga Musa yang mencoba membuat Doni mengerti. Untungnya Doni lebih tak ambil pusing, berbeda dengan sang istri yang merasa geram karena Ghaza sudah memiliki calon yang baru setelah putus dengan Olivia.


Ditambah teman kencan Ghaza itu terlihat sangat cantik, anggun, dan berkelas, juga manis dan lembut di waktu yang bersamaan.


Semua orang tertegun mengagumi kecantikan perempuan itu. Natasha bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Musa juga terlihat tersenyum bangga melihat sang putra.


Tapi tidak dengan Ghiffa.


Darahnya seketika mendidih ketika menyadari bahwa wanita yang menautkan tangannya pada Ghaza, adalah sang istri. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.


'Apa maksudnya ini, Ay?!' tanyanya dalam hati yang mulai terbakar.