
"Ghif, Ay, duduk." Om Lucas mempersilahkan kami duduk. Aku dan Ghiffa duduk di sofa, berhadapan dengan Nyonya Natasha. Di sisi sebelah kiri, Om Lucas duduk diantara Nyonya Natasha dan Ghiffa.
"Udah sebulan sejak kamu pergi dari apartemen, kamu tinggal dimana sih selama ini?!" Tanya Nyonya Natasha.
Ghiffa malah menopangkan kakinya, menyanggakan tangannya di sandaran sofa di belakang punggungku, dan tidak menjawab.
"Mama nanya sama kamu Ghiffa!" Nyonya Natasha mulai tidak sabar. Tatapannya berpindah padaku "Terus kamu masih berhubungan dengan anak saya?! Kamu benar-benar tidak tahu malu Ayana! Seharusnya setelah Bi Dini mengatakan dia akan resign waktu itu, saya menolak saat dia menawarkan kamu sebagai penggantinya. Kamu sudah memberikan pengaruh yang jauh lebih buruk pada anak saya!"
"MAMA!" teriak Ghiffa dengan suara yang keras sekali. "Jangan ngomong gitu sama Aya!"
"A..." Tegurku.
"Tuh lihat! Gara-gara kamu bahkan Ghiffa sekarang berani membentak saya!" Manik hitam Nyonya Natasha yang dihiasi bulu mata lentik sempurna membulat padaku.
"Ini bukan gara-gara Aya, Mah! Dari dulu juga aku udah kayak gini sama Mama. Udah deh, Mama mau apa sebenarnya kesini? Aku sibuk. Gak bisa lama-lama ketemu Mama."
"Kamu ini! Mama ini khawatir selama ini Mama gak tahu kamu tinggal dimana. Mama sampai nanyain ke temen-temen kamu dan mama dikasih tahu kafe ini. Jadi dari mengelola kafe ini kamu kamu dapat uang?!"
"Ini kafenya Om Lucas. Aku cuma numpang hidup sama dia. Tiap hari aku dikasih uang jajan. Sekarang Mama udah tahu 'kan aku baik-baik aja. Aku juga disini bukan sama orang lain, Om lucas ini sepupu Mama juga 'kan. Jadi udah, Mama bisa tenang sekarang."
"Bisa tenang kamu bilang?! Kamu tinggal sama dia yang mantan narapidana! Terus kamu masih berpacaran dengan mantan pembantu itu?! Kamu kira Mama akan tenang?! Kamu mau sampai kapan seperti ini sama Mama, Ghiffa? Kalau kamu begini terus kamu mending bunuh mama aja sekalian!"
"Nat!" Om Lucas kini bersuara, karena mendengar status mantan narapidananya disebut-sebut. "Kenapa emangnya kalau gue mantan narapidana? Lo cuma ngedenger apa kata orang tentang gue. Lo gak tahu apa-apa tentang kasus gue itu!"
"Udah Cas, aku gak peduli gimana cerita lengkapnya kasus kamu itu. Yang jelas kamu itu udah bener-bener gak bersyukur. Kamu diadopsi sama keluarga kaya raya sejak kamu kelas 6 SD, tapi bukannya jadi anak yang baik kamu malah banyak berulah. Kamu bahkan sampai terlibat kasus penganiayaan!"
"Lo sendiri gimana? Lo ngegodain bos lo sampai lo hamil. Terus lo bertahan di rumah itu padahal lo tahu, baik lo atau anak lo gak bahagia. Lo ancurin hidup lo dan hidup anak lo dengan ambisi lo itu! Lo jangan ngerasa jadi orang yang paling menderita! Gak usah lo nyalahin orang lain! Yang bikin hidup lo kayak gitu ya diri lo sendiri! Lo gak liat? Ghiffa sekarang jauh lebih bahagia dibanding waktu pertama gue ketemu sama dia setahun yang lalu. Lo pengen Ghiffa balik lagi sama lo? Maka lo harus lupain ambisi lo itu!"
"Kamu gak usah ikut campur dan sok nasehatin aku ya, Cas! Aku yang paling tahu apa yang terbaik buat anak aku! Dia ini pewaris dari PT Melcia Properti! Dia anak kandung dari Musa Airlangga! Dia berhak dapetin kekayaan ayahnya! Aku bertahan di sisi Musa Airlangga itu demi Ghiffa!"
"Tapi Ghiffa gak pernah mau jadi pewaris! Lo ngerti gak sih?! Sampai kapan lo mau kayak gini! Lo selama ini hidup mewah dengan segala fasilitas yang ada, tapi gue tanya, lo bahagia gak?!"
Nyonya Natasha terdiam tidak menjawab.
"Gue yakin nggak! Ghiffa cerita hidup lo di rumah itu lebih kayak karyawan sama atasannya daripada istri sama suaminya. Ghiffa gak bahagia, lo gak bahagia. Ghiffa juga udah nolak saham itu tanpa ada usaha dari ayahnya buat ngembaliin saham itu ke Ghiffa. Itu tandanya Musa Airlangga emang gak bener-bener mau ngasih saham itu ke Ghiffa. Iya 'kan? Terus ngapain lo lanjutin semua itu? Tinggal lo lupain ambisi lo itu dan hidup bebas! Jangan terkungkung sama ambisi lo lagi, Nat!"
"Gue tahu, waktu kita di panti dulu, lo adalah anak paling ambis buat keluar dari panti dan selalu bermimpi jadi orang kaya. Sampai-sampai lo iri banget waktu ada anak diadopsi sama orang tua yang kaya raya, termasuk gue. Tapi gue gak nyangka lo sampai segininya, ngorbanin kebebasan dan kebahagiaan lo sendiri buat kekayaan."
"Kalau kamu setahu itu sama apa yang udah aku laluin dari kecil sampai sekarang, kenapa kamu masih gak ngerti kenapa aku sebegininya ingin Ghiffa mendapatkan haknya? Aku cuma gak mau anak aku hidup susah kayak aku dulu! Jadi sekarang berhenti bantuin anak aku dengan ngediriin kafe gak jelas kayak gini!"
"Kafe gak jelas?! Kalau gak tahu lo gak usah ngehina, Nat! Gue ngerintis kafe ini dari kecil! Saat gue hampir bangkrut, saat gue bahkan minta tolong lo buat minjemin gue uang buat nyelametin usaha gue ini tapi gak lo kasih, untungnya ada orang yang suka rela ngasihin semua uangnya tanpa berharap apa-apa. Siapa orang itu? Anak lo! Dia yang ngasih gue duit 50 juta! Dia yang nyelametin kafe ini! Dia juga yang bantuin gue buat nyeleksi menu dan ngomentarin semua kopi yang gue buat disini, juga meriksain pengeluaran dan pemasukan. Dan lo tahu? Kafe yang lo bilang gak jelas ini udah ada 5 cabang lainnya di Jakarta! Tanpa ada bantuan dari keluarga Airlangga aja Ghiffa bisa jadi kaya seperti yang selalu lo pengenin!"
"Nggak! Berapa sih keuntungan kafe ini sebulannya? Mungkin cuma berapa persennya dari kekayaan yang seharusnya dimiliki Ghiffa kalau dia jadi pewaris perusahaan Pak Musa. Dia harus berada di rumahnya, di tempat dia seharusnya berada. Di rumah keluarga Airlangga, atau paling nggak di salah satu apartemen Melcia!" Sorot mata tajam Nyonya Natasha mengarah pada Ghiffa, "Sekarang juga kamu ikut Mama pulang ke apartemen!"
"Aku gak mau." ujar Ghiffa singkat.
"Alghiffari Airlangga!" teriaknya murka. Kesabaran Nyonya Natasha sudah semakin tipis sekarang.
"Aku udah bilang, aku udah gak akan kembali lagi ke rumah itu ataupun menerima semua bantuan dari Mama dan Papa." Ghiffa bersih kukuh.
"Lihat 'kan? Ini pengaruh dari kamu Lucas! Juga kamu Ayana!" Nyonya Natasha menunjukkan telunjuknya pada Om Lucas, lalu padaku.
"Nyonya, saya..."
"Udah, Yang." Ghiffa memotong ucapanku. "Kamu gak usah jelasin apa-apa. Di Mata Mama kita akan bakal tetep salah. Jadi diem aja ya. Gak usah cape-cape ngomong."
"Kalian memang salah!" Emosi Nyonya Natasha semakin naik ke ubun-ubun mendengar respon Ghiffa. "Mama gak akan nyerah Ghiffa! Mama pasti nemuin cara bawa kamu lagi ke rumah!"
Nyonya Natasha merogoh tasnya dan mengeluarkan kartu undangan yang sebelumnya sudah pernah aku lihat. Ia meletakkannya di atas meja. "Kamu harus dateng ke acara ulang tahun Ghaza. Perlihatkan bahwa kalian adalah kakak adik yang akur. Mama minta tolong pada kamu, sekali ini saja kamu nurut sama Mama."
Ghiffa meraih undangan itu dan mulai membukanya, "Mama pengen aku main drama keluarga harmonis lagi?"
"Terserah kamu ngomong apa. Tapi jangan bikin Papa sama Kakak kamu malu. Kamu harus datang. Tahun lalu kamu gak dateng. Bahkan di hari ulang tahun kamu tahun ini kamu juga gak dateng! Kali ini kamu harus dateng. Kalau nggak kamu akan nyesel, karena Mama pastikan kamu bakal lihat Mama mati atau minimal ngeliat mama terbaring di ranjang rumah sakit!"
Ghiffa berdecak, "Mama gak usah lebay. Aku bakal dateng kok."
"Kamu gak bohong?" Nyonya Natasha terlihat terkejut sekali.
"Mama tunggu aja. Nanti kita ketemu disana."