
Ku sandarkan tubuhku di kursi yang terletak di balkon lantai 2 markas Centaur Squad, menunggu kedatangan Ghiffa yang katanya akan segera menyusul. Dari tempatku duduk aku bisa melihat ke arah tempat parkir. Aku baru sadar bahwa banyak mobil dan motor yang sering aku lihat di sekolah. Ternyata tempat ini yang sering dituju oleh Ghiffa dan teman-temannya sepulang sekolah.
Sekitar 30 menit sudah aku duduk disini, tapi sosok Ghiffa belum juga terlihat. Bahkan aku sudah menghabiskan sepotong mile crepes yang dibawakan oleh Theo beberapa saat lalu. Milkshake yang dibawakannya juga tinggal sisa setengahnya. Ia mengatakan bahwa jika aku ingin sesuatu yang lain aku bisa mengatakan padanya. Namun saat mengatakan aku ingin ponselku kembali, ia menolaknya.
"Sorry, Mbak Perpus, lo bisa minta apapun kecuali minta HP lo balik. Itu yang Ghiffa wanti-wanti sama kita." Begitu kata Theo.
Theo terlihat merasa tidak enak, tapi aku mengerti. Ghiffa akan sangat marah jika instruksinya tidak dituruti. Akhirnya aku hanya bisa menunggu dalam diam, menikmati langit senja yang sudah semakin di ufuk barat. Langitpun sudah berubah menjadi jingga.
Aku benar-benar tidak paham dengan pola pikir Ghiffa. Dia membawaku kesini, bisa dikatakan juga dia menculikku, jika dilihat dari cara ia membawaku. Aku jadi teringat dengan Nyonya Natasha yang langsung menghubungiku seketika saat aku pergi. Ia pasti marah sekali. Bagaimana keadaan di rumah itu setelah aku pergi? Ini juga sudah waktunya jam pulang Tuan Musa dan juga Ghaza.
Apa baik-baik saja disana? Apa Ghiffa sempat bertemu dengan Ghaza dan ayahnya?
Perasaanku tidak enak.
Tiba-tiba aku melihat sebuah mobil sport merah menyala yang sangat aku kenal memasuki area parkir cafe. Mobil itu mengambil salah satu lahan kosong dan seketika Ghiffa keluar dari mobil itu. Ini belum sebulan, tapi Ghiffa sudah bisa kembali membawa mobilnya? Apa hukumannya dibatalkan?
Ia berjalan membawa koperku yang ia ambil dari bagasi mobilnya menuju ke markas. Aku menyipitkan mataku saat menyadari ada yang tidak beres dengan wajah Ghiffa dari kejauhan. Akhirnya aku bisa melihat ada lebam di pipi sebelah kanan ketika ia sudah semakin dekat ke pintu masuk markas.
Apa yang terjadi?
Tak lama suara derap kaki di tangga terdengar, "Yang!" teriaknya.
"Aku di balkon." Ucapku agak berteriak.
Kedua manik hitamnya menangkap sosokku. Tanpa sadar aku bangkit dari dudukku, karena saking terkejutnya melihat wajah Ghiffa yang begitu berantakan. Pipi kanannya lebam kebiruan. Terdapat darah yang sudah mengering di sudut bibir, dan juga hidungnya.
"Ghiffa, muka kamu.." Tubuh Ghiffa sudah merengkuh tubuhku bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku meremas jaket denim yang ia gunakan, "Muka kamu kenapa, Ghif?"
Ghiffa melepas pelukannya, menatapku beberapa saat, kemudian menciumku begitu saja. Aku bisa merasakan sedikit asin dan bau seperti besi saat bibir Ghiffa ******* bibirku. Beberapa saat kemudian ia menjauhkan bibirnya dan merengkuhku kembali.
"Aya, bilang kalau kamu cuma sayang sama aku." Lirih Ghiffa.
Kenapa dia memintaku mengatakan itu?
"Ay..." ucapnya tidak sabar ia melepaskan pelukannya dan menatapku penuh harap.
Aku mengangguk, "Aku cuma sayang sama kamu."
Wajah Ghiffa seketika berubah lega dan memelukku lagi. Erat sekali sampai aku merasa sedikit sesak.
Kami duduk di sofa ruang tengah ruangan itu, tanganku sibuk mengobati luka Ghiffa, "Sebenernya kamu abis ngapain sampai muka kamu kayak gini?"
"Aku berantem sama Ghaza."
"Dia terang-terangan bilang mau ambil kamu dari aku." Amarah muncul begitu saja di wajahnya.
"Ya Tuhan, Kamu mikir apa sih, Ghif? Kenapa kamu sampai berantem sama Tuan Ghaza?" Aku meremas rambutku merasa frustasi.
Kenapa kedua putra majikanku ini sampai terlibat baku hantam? Terlebih penyebabnya adalah aku.
"Dia yang bikin mama bawa kamu ke rumah! Gak akan aku biarin dia ngerebut kamu dari aku! Dia ambil semua milik aku silahkan, tapi aku gak akan diem aja kalau dia mau ambil kamu dari aku!"
"Tapi harus ya sampai berantem kayak gini? Nyonya Natasha gimana? Tuan Musa liat kalian berantem?"
"Nggak. Papa lagi gak ada. Lagian kok kamu malah nanyain reaksi Mama sama Papa sih? Bukannya khawatir sama aku?"
"Ya jelas aku nanyain reaksi mereka! Kamu gak tahu betapa seriusnya situasi ini buat aku?! Aku pasti dipecat!" Kini aku menaikan nada bicaraku, tidak habis pikir. Bagaimana sekarang nasibku? Dengan kondisi kakiku yang seperti ini bagaimana bisa aku mencari pekerjaan lain?
Ghiffa hanya terdiam.
"Kenapa sih kamu harus sampai kayak gini hanya karena aku?"
Kedua mata Ghiffa menatapku dengan pandangan tak percaya, "Hanya, kamu bilang?"
Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjelaskannya agar Ghiffa mengerti maksudku.
"Aya, kamu itu gak ngerti sama yang udah aku omongin ke kamu apa gimana sih? Apa kamu gak bisa rasain semua perasaan aku selama ini sama kamu? You're mean the world to me! Kamu alasan kenapa aku bahagia, Ay! Kalau Ghaza mau ambil kamu dari aku, itu artinya dia mau ambil sumber kebahagiaan aku! Dan ini bukan pertama kali! Dari aku masih kecil dia kayak gini! Dia selalu aja pengen dapetin apa yang aku punya!"
Aku sungguh tidak menyangka Ghiffa akan semarah ini.
"Katanya kamu sayang sama aku, tapi kamu mau aja disuruh mama buat pindah ke rumah! Harusnya kamu bilang sama aku semuanya! Saat mama bilang ke kamu buat matiin hp seharusnya kamu jangan nurutin itu!"
"Aku ini cuma asisten rumah tangga, Ghiffa! Kamu ngerti gak sih posisi aku? Aku cuma pembantu!!"
"Makanya aku bilang kamu buat berhenti! Aku bakal nanggung semua kebutuhan kamu, Ay!"
"Kamu siapa sampai mau nanggung semua kebutuhan aku?" Kini aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku. "Kamu masih sangat muda dan belum ngerti dengan semua yang terjadi di hidup kamu! Kamu harus bisa ngeliat ke depannya! Kamu itu pewaris PT Melcia Properti. Walaupun sekarang kamu bilang gak akan ngikutin jejak ayah sama kakak kamu, tapi suatu hari kamu bakal sadar sama tanggung jawab kamu sendiri! Saat itu kamu bakal sadar kalau aku ini gak penting buat kamu!"
Pundakku naik turun, nafasku tersengal, sakit rasanya saat mengutarakan semua ini pada Ghiffa. Tapi aku harus mengatakannya. Kata-kata dari Nyonya Natasha itu harus aku utarakan. Bagaimanapun itu adalah harapan dari seorang ibu yang sudah mengorbankan segalanya demi anaknya. Aku harap dia akan mengerti.
Namun beberapa saat Ghiffa hanya terdiam. Ekspresi wajahnya tidak bisa aku artikan.
"Mama yang ngomong itu sama kamu?" Tanyanya dingin. "Mana perjuangan kamu buat hubungan kita? Cuma segitu aja perasaan kamu sama aku?"