
"Okay. Aku paham sekarang."
Ghiffa beranjak dari hadapanku dan berjalan ke arah tangga.
"Ghiffa..." Aku memanggilnya namun langkahnya tak berhenti. Ia terus menuruni tangga dan sosoknya tak terlihat lagi.
Aku berjalan ke balkon, tak lama Ghiffa muncul dari pintu masuk markas dan berjalan ke arah parkiran. "Ghiffa! Kamu mau kemana?"
Tepat saat itu seseorang datang dengan sebuah motor besar berwarna hijau muda. Aku tahu itu milik Ghiffa. Orang yang membawa motor itu membuka helm dan menyerahkan pada Ghiffa. Dan orang itu adalah Zayyan.
"Ghiffa!" teriakku lagi. Tapi ia sama sekali tidak menggubrisku. Ia malah menunggangi motornya. Malah Zayyan yang menoleh ke arahku. Zayyan seperti mencoba berbicara pada Ghiffa. Lagi, Ghiffa pun mengabaikan Zayyan.
Ghiffa mengemudikan motor besarnya itu keluar dari parkiran dan membelah jalanan yang sudah mulai gelap. Terdengar suara motornya meraung-raung dan terus menjauh.
Mau kemana lagi dia?
Aku duduk di sofa ruang tengah. Kubawa kakiku ke atas sofa dan memeluk lututku. Ku tenggelamkan wajahku ke dalam lututku.
Ghiffa pantas marah padaku. Saat aku menyambut perasaannya, aku sudah bertekad akan menggenggam tangannya dan menghadapi semua rintangan yang akan kami hadapi. Aku begitu yakin akan menghadapinya dengan berani.
Tapi seketika nyaliku ciut saat berhadapan dengan Nyonya Natasha. Mendengar semua harapan dan bagaimana beliau begitu memikirkan dan berharap mengenai masa depan putranya, membuat aku memikirkan kembali semuanya.
Juga, mengapa aku hanya bisa terdiam saat berbicara dengan Ghaza siang tadi? Kenapa tidak aku jelaskan dan gamblangkan semua mengenai ketidaknyamananku pada sikapnya? Kenapa aku hanya diam?
"Ayana?" Aku mendongak dan melihat Zayyan sudah duduk di depanku.
"Zay, Ghiffa pergi kemana?" tanyaku lesu.
"Aku juga gak tahu, Ayana." ucapnya penuh sesal.
Aku menyapukan rambutku dengan kedua tanganku. "Ghiffa berantem sama Tuan Ghaza. Di rumah kediaman Airlangga tadi pasti kacau banget ya?"
"Aku gak begitu tahu gimana kejadiannya sih, tapi aku denger dari ibuku, iya di rumah itu cukup kacau. Beberapa pajangan koleksi Tuan Besar pecah, vas bunga kesayangan Nyonya juga pecah. Tuan Ghaza babak belur dan Ghiffa juga sama. Untung Pak Gugun, Pak Janu, sama Mang Ujang segera ngelerai mereka. Kalau nggak bakal tambah parah."
Bagus sekali.
"Baru kali ini mereka berantem sampai kayak gitu. Biasanya mereka cuma adu mulut dan perang dingin aja, gak sampai jotos-jotosan. Nyonya Natasha aja sampai histeris. Kamu tahu gak alasan mereka berantem tadi?" Imbuh Zayyan.
Aku hanya bisa menghela nafas. Sedikit lega juga karena sepertinya orang-orang tidak mengetahui alasan pertengkaran dua saudara itu.
"Aku juga gak tahu." Dustaku.
"Terus sekarang kamu mau disini?"
"Kayaknya aku disini aja. Ghiffa udah bawa semua barang-barang aku juga kesini. Aku takut dia marah kalau aku pergi. Terus kalau balik lagi ke rumah Nyonya, rasanya suasananya juga lagi gak enak."
"Tapi dianya 'kan gak ada? Kamu yakin mau disini sama temen-temen Ghiffa?"
"Gak apa-apa, Zay. Aku nunggu dia disini aja. Dia pasti balik kok. Makasih ya."
Zayyan tidak memaksaku dan pamit pulang. Sebelum pergi aku meminta Zayyan untuk memanggilkan Theo.
"Mbak Perpus, si Theo udah pulang. Dia ada perlu soalnya. Lo butuh sesuatu?" Sosok cowok blasteran dengan rambut coklat itu yang justru muncul dari tangga.
"Boleh gak saya ambil HP saya? Ghiffa pergi dan saya pengen tahu dia kemana."
Max terlihat ragu. "Duh gimana ya? Gimana kalau gue yang ngehubungin dia? Nanyain dia dulu ada dimana, sekalian nanyain juga HP lo boleh gak gue balikin ke lo."
Kemudian Max membuka HPnya, dan menaruhnya di telinganya.
"Lo dimana Nj*ng? Ini Mbak Perpus nanyain. Lo main kabur aja." Aku lega karena Ghiffa mengangkat teleponnya. Aku kira dia akan menghindari semua orang.
"Terus HPnya?" tanya Max. "Okay." Kemudian ia mematikan teleponnya.
"Gimana?" tanyaku tak sabar saat Max menyimpan kembali ponselnya di saku celananya.
Max merogoh saku celananya yang lain dan berjalan ke arahku, "Nih. Si Ghiffa bilang lo tunggu disini aja jangan kemana-mana."
"Makasih." Aku menerima HPku kembali. "Dia bakal kesini lagi?"
"Iya dia pasti kesini, kok. Gak ada lagi tempat dia pulang. Selain ke apartemen ya dia pasti kesini."
Ternyata Ghiffa benar-benar sudah tidak menganggap rumah kediaman Airlangga itu sebagai rumahnya. Teman-temannya saja sampai sudah sepaham itu.
"Ini tuh cafe siapa ya? Terus ini markas Centaur Squad kok bisa disini juga?"
"Cafe ini punya si Ghiffa. Yang ngelolanya emang bukan dia, tapi ada anak Centaur Squad juga, udah alumni. Si Ghiffa juga yang jadiin tempat ini basecamp kita sejak dia gabung di Centaur Squad tahun lalu."
Oh jadi ini cafe yang Ghiffa ceritakan waktu itu, aku pun mengangguk paham.
"Gue mau nanya boleh gak, Mbak?" Tanya Max.
"Boleh, mau nanya apa?"
"Lo beneran ceweknya si Ghiffa?"
Kenapa dia menanyakan itu ya? Benar juga, Ghiffa pernah berpacaran dengan Olivia. Max pasti sangat tidak menyangka sekarang dia malah berpacaran dengan cewek sepertiku.
"Bukannya apa-apa, Mbak." ucapnya cepat setelah aku tidak langsung menjawab, "Si Ghiffa itu berubah banget setelah kenal sama Mbak."
"Berubah gimana?"
"Dia jadi gak terlalu sangar. Jadi lebih manusiawi gitu. Kita sempet bingung awalnya kenapa dia berubah. Udah nemu pawangnya ternyata."
Hatiku sedikit menghangat mendengarnya.
"Titip aja deh, Mbak. Dia anaknya kasian soalnya, butuh perhatian dan kasih sayang. Pas banget dapetin Mbak."
"Pas gimana ya maksudnya?"
"Mbak itu udah kayak pacar merangkap jadi pengasuhnya dia. Mbak sendiri tahu kali gimana kayak bayinya dia. Makan pedes aja gak bisa, tidur juga harus ditemenin. Jadi cocok dapetin mbak yang bisa ada 24 jam bareng dia."
"Kamu tahu Ghiffa kalau mau tidur harus ditemenin? Dan itu beneran kayak gitu? Dia bukan pura-pura takut tidur sendiri?"
"Tahulah, cuma gue sama si Theo doang yang tahu. Mbak juga jangan bilang-bilang siapa-siapa ya. Bisa digorok leher gue kalau ketahuan kita ghibahin dia kayak gini"
Aku membalas candaan Max dengan tawa. Kemudian aku menghela nafasku. "Tapi Ghiffa itu nanti bakal warisin perusahaan ayahnya. Mana mungkin saya sepadan dengan dia. Kamu sendiri tahu saya ini cuma ARTnya Ghiffa. Kami kurang cocok deh kayaknya." Rasa rendah diri ini memang sulit sekali untuk pergi.
"Lo cinta gak sama si Ghiffa? Kalau iya ya perjuangin dong. Gak usah dengerin apa kata orang, Mbak. Yang jalanin kan kalian. Mau dia pewaris dan lo ART, kalau gue jadi lo gue bakal milih ikutin kata hati. Karena hati pasti tahu apa yang sebenernya kita pengen dan itu yang bakal bikin kita bahagia. Terus coba deh lo posisikan diri lo jadi si Ghiffa, dan si Ghiffa di posisi lo. Bayangin, Lo terus-terusan ngejelasin bahwa yang lo butuhin dari dia cuma cintanya doang, tapi dia malah selalu bilang gak bisa karena kalian beda, kalian gak mungkin pacaran, gimana nanti tanggapan orang tua lo, itu terus yang dia ucapin ke lo. Kalau gitu, apa yang lo rasain? Kalau gue sih bakal kesel dan gemes banget. Terus gue yakin lo juga udah tahu, si Ghiffa udah nolak jadi pemegang saham. Jadi pemegang saham aja dia gak mau, apalagi jadi pewaris."
Aku tidak menyangka kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut seorang Max yang terkenal suka bercanda dan tidak pernah serius jika berbicara. Ternyata ia begitu peduli pada sahabatnya. Dan yang membuatku lebih terperangah lagi, kata-kata Max betul-betul membuatku berpikir dari sudut pandang yang berbeda.
Satu hal yang pasti sekarang, kata-kata dari Max sudah membuatku berpikir satu hal. Ada hal yang harus aku perlihatkan pada Ghiffa. Hal yang belum pernah Ghiffa lihat dariku sebelumnya.