
Nyonya Natasha terlihat sangat murka, pundakku sudah naik turun saking tidak beraturannya nafasku akibat situasi yang gila ini.
Bukan. Bukan situasinya yang gila, tapi Ghiffa!
Bagaimana bisa dia mengatakan aku ini pacarnya segamblang itu di depan Nyonya Natasha?
Nyonya Natasha melangkah ke arah kami. Ghiffa segera berdiri di depanku, membentengiku jikalau Nyonya Natasha akan bertindak sesuatu yang di luar batas.
"Bisa-bisanya kamu menggoda anak saya, Ayana!" teriak Nyonya Natasha murka.
Sungguh hatiku cukup terhujam oleh kata-katanya, tapi aku tidak mampu mengatakan apapun. Nyonya Natasha mencoba untuk menyingkirkan tubuh Ghiffa yang membentengiku, namun tubuh Ghiffa yang jauh lebih tinggi dan lebih besar dari sang ibu tentu tidak bergeming sedikitpun.
"Mah, aku yang suka sama Ayana duluan. Bukan dia!" Ghiffa mencoba mengklarifikasi. Ia segera mendorong tubuh sang ibu ke arah pintu keluar, "Udah Mama sekarang pulang ya."
"Mama belum selesai, Ghiffa! Mama harus bicara sama Ayana!" Sedikitpun Nyonya Natasha tidak bisa melawan tenaga Ghiffa.
Aku yang tidak bisa melakukan apapun hanya bisa membiarkan Ghiffa yang terus menyeret sang ibu keluar. "Nyonya...Saya...maaf..Tuan..!" Aku benar-benar bingung harus apa melihat majikanku diseret begitu. Jika kakiku sedang tidak seperti ini akan ku hentikan Ghiffa dan memukul kepalanya dengan spatula karena sudah sangat kurang ajar pada ibunya sendiri!
"Udah ya, Mama hati-hati pulangnya. Dah!" Ghiffa segera menutup pintu setelah Nyonya Natasha ada di luar. Seketika pintu tertutup dan terkunci. Nyonya Natasha terdengar masih berada di luar, ia terus menyalakan bel dan menggedor pintu.
Aku segera meraih ponselku dan menelepon Nyonya Natasha, aku akan menjelaskan semuanya. Saat telepon terhubung dan diangkat, Ghiffa malah merebut ponselku dan mematikan sambungan teleponnya.
"Kamu ngapain?! Udah biarin dulu Mama kayak gitu." Ia meletakkan ponselku di laci lemari bawah TV.
"Tapi Nyonya marah banget! Kamu kok bisa sih kayak gitu sama beliau? Aku harus jelasin semuanya."
"Nyonya..nyonya.." Ghiffa membeo, "Dia bukan majikan kamu lagi, tapi calon ibu mertua."
Aku memukul lengannya dengan sekuat tenaga yang aku bisa hingga ia mengaduh kesakitan. "Anj..." hampir dia mengumpat jika aku tidak menatapnya dengan mata yang membulat dan alis yang tertaut. "Sakit, Yang!"
"Kamu masih bisa bercanda kayak gini?! Ini Nyonya Natasha tahu tentang kita, Ghiffa! Gimana dong ini?! Aku pasti dipecat." Aku benar-benar panik.
Ghiffa meraih kedua pipiku, "Yang, tenang dong. Mama masih syok sekarang. Tapi nanti juga bakal ngerti."
"Tapi Ghif..."
"Udah aku bilang, aku bakal bilang sama semua orang kalau kamu adalah pacar aku, tanpa pengecualian."
"Kamu gak liat Nyonya marah banget? Kamu bikin kita ada di situasi yang sulit, Ghiffa!"
"Udah sekarang kamu istirahat. Tidur. Muka kamu udah cape banget." Tanpa aba-aba ia membopong tubuhku ke kamarnya.
Saat akan memasuki pintu kamar tanganku meraih kusen pintu, "Aku gak mau tidur di kamar kamu. Aku mohon, aku mau di kamar aku aja." pintaku pada Ghiffa.
Ghiffa menghela nafas, iapun berjalan ke kamar sebelahnya. "Ya udah. Ini kamar kamu mulai sekarang." Ia mendudukkanku di tempat tidur. "Besok barang-barang kamu kita pindahin ke kamar ini. "
"Ghiffa, gak mungkin aku jadiin ini kamar aku, kalau nyonya tahu gimana? Aku..." Ghiffa mengecup bibirku membuatku menghentikan ucapanku.
"Nyonya..." Ghiffa tidak hanya mengecup kali ini, ia mel*m*tnya. Aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun lagi. Baiklah aku mengerti. Aku harus diam kali ini. Jika aku terus berusaha berbicara, entah dia akan melakukan apa lagi.
Ghiffa melepaskan tautan bibirnya dan mengistirahatkan dahinya di dahiku. Rahangnya menengang seperti menahan sesuatu.
Ia menatapku hangat, "Jangan pikirin apa-apa. Sekarang kamu tidur. Kamu udah cape banget hari ini. Kaki kamu butuh istirahat. Ngerti?"
Aku mengangguk pasrah. Efek ciuman Ghiffa membuat kepalaku berkunang dan perutku dipenuhi kupu-kupu lagi.
"Pinter." Ia mengusak pelan poniku. Kemudian ia membaringkanku dan meletakkan bantal di kakiku yang digips, kemudian menyelimutiku.
Ia mengecup dahiku. Kedua matanya menyelami mataku seraya berkata dengan suara rendahnya, "Selamat malam, Sayang. Sweet dreams." ucapnya diakhiri senyum memabukkan dari wajah tampannya.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Walaupun aku baru saja mendengar kata-kata menyakitkan dari Nyonya Natasha, tapi semua itu hilang begitu saja karena perlakukan Ghiffa. Bagaimana bisa tuan muda menyebalkan itu sekarang menjadi begitu hangat dan manis?
Bagaimana aku tidak jatuh hati padanya coba kalau begini?
Tak lama aku merasa sangat mengantuk. Benar apa kata Ghiffa, keadaan kakiku ini membuat tenagaku lebih cepat terkuras, hingga aku merasa sangat kelelahan. Padahal aku lebih banyak dibopong oleh Ghiffa, tapi entah mengapa rasanya tubuhku lelah sekali.
Aku tidur nyenyak sekali. Aku terbangun seperti biasa di jam 3 pagi. Otakku sepertinya memiliki alarmnya sendiri sehingga dalam keadaan apapun aku akan terbangun di jam segini.
Aku bangkit dari posisi berbaringku. Mencoba mengumpulkan kesadaran penuhku. Tanpa sengaja sudut mataku menangkap sosok yang tertidur di sofa sebelah tempat tidur ini. Tubuh tinggi dan kekarnya terlihat sangat tidak nyaman berbaring disana.
"Ghif.. " Aku mencoba membangunkan Ghiffa. "Ghiffa bangun.."
Tubuhnya mulai bergerak dan seketika matanya terbuka. "Kamu butuh sesuatu, Yang?" Ia melirik ke arah jam dinding.
"Nggak. Aku gak butuh apa-apa. Kamu kenapa tidur di sana? Pindah ya ke kamar kamu. Nanti badan kamu sakit-sakit tidur kayak gitu."
Ghiffa meregangkan badannya yang sepertinya memang pegal karena posisi tidur yang kurang nyaman. "Kamunya gak mau tidur di kamar aku. Ya udah aku tidur kayak gini."
Jadi dia sedang protes padaku?
"Tapi 'kan emang gak boleh kita tidur di kamar yang sama."
Ghiffa menatap heran padaku, "Aku gak akan ngapa-ngapain, Yang."
Aku tidak percaya padanya. Puncak bukit kembarku saja masih terasa nyeri, mengingatkanku betapa kata-kata 'aku gak akan ngapa-ngapain' terdengar seperti omong kosong saja bagiku.
"Serius, Yang." Ghiffa menangkap tatapanku yang tidak mempercayainya. "Aku cuma pengen jagain kamu aja. Seudah kaki kamu sembuh kita masing-masing lagi. Kalau nggak, aku bakal tidur kayak gini tiap malem. Kalau badan aku sakit-sakit itu salah kamu berarti."
Tuh 'kan?
"Ya udah nanti aku tidur di kamar kamu." ucapku, percuma berdebat dia pasti akan terus memaksa.
"Nah gitu dong. Ya udah kita pindah ya." Ghiffa bersiap membopongku.
"Ini udah pagi. Aku mau mulai kerja." ucapku menahan tangan Ghiffa yang akan meraihku.
"Kerja apa pagi-pagi gini? Kamu gak liat kaki kamu?"
"Nyetrika. Aku kan gak perlu jalan kalau nyetrika. Kamu tidur lagi aja. Nanti aku bangunin pas mau sekolah." Aku meraih tongkat yang terletak di sisi tempat tidur.
"Jam segini kamu selalu nyetrika? Pantesan kamu ke kampus dan ke sekolah tapi rumah selalu rapi."
"Iya dong. Kalau gak gitu gak akan selesai kerjaan aku. " Aku mulai membawa diriku ke arah toilet untuk membersihkan diri, baru setelah itu aku akan mulai menyetrika.
"Kamu ngapain sih, Ghif?" Ghiffa berjalan perlahan di sebelahku.
"Jagain kamu." ucapnya.
"Aku gak apa-apa. Aku bisa sendiri. Udah kamu tidur lagi nanti ngantuk lagi di sekolah."
"Tapi aku takut kamu jatuh."
"Aku bisa, kok. Aku bakal bilang sekarang kalau butuh bantuan. "
Ghiffa menatapku tidak percaya.
"Beneran. Boleh bawain handuk aku gak di kamar?" Akupun memutuskan untuk membuktikannya pada Ghiffa.
Ia tersenyum mendengar ucapanku dan segera menuju ke kamarku di belakang dapur. Sesenang itu Ghiffa dimintai tolong olehku?
Setelah itu aku mandi dan kemudian berada di ruang cuci, menyetrika baju-baju yang sudah menumpuk. Kemudian membangunkan Ghiffa. Ia segera bersiap sedangkan aku menyiapkan sarapan.
Aku mempersiapkan sarapan yang mudah dan praktis. Nasi dengan nori dan juga abon. Aku mempersiapkan juga teh manis hangat dan buah-buahan potong. Ghiffa terus memperingatkanku agar tidak memasak. Maka aku mempersiapkan yang bisa dimakan tanpa dimasak, agar tidak terjadi drama lagi.
Sebelum pergi Ghiffa mengembalikan ponselku. Akhirnya. Namun dia terus mewanti-wantiku untuk tidak menghubungi Nyonya Natasha. Tentu saja aku tidak bisa. Aku harus menjelaskan semuanya.
Setelah Ghiffa pergi aku segera menghubungi Nyonya Natasha. Aku cukup terkejut karena saat berbicara kali ini emosinya sudah kembali terkendali.
"Saya yakin Ghiffa hanya sedang puber saja. Dia pasti tidak bersungguh-sungguh untuk terus menjalin hubungan dengan kamu. Dia pasti akan segera sadar dan memutuskan hubungan dengan kamu. Jadi saya tidak akan mempermasalahkan hubungan kalian lagi."
Ucapan Nyonya Natasha memang benar, pemikirannya realistis. Tapi tetap saja itu sangat menyakitkan untuk didengar.
"Dan saya gak bisa membiarkan kalian tinggal bersama kalau seperti ini, ditambah kondisi kamu yang tidak memungkinkan untuk mengurus semua keperluan anak saya. Jadi kamu segera kemasi barang-barang kamu, sebentar lagi supir akan datang menjemput."
"Jemput saya kemana Nyonya?"
"Kamu akan pindah ke rumah saya. Ini kesempatan bagus agar Ghiffa mau kembali ke rumah."