
"A-apaan sih, Tuan. Kenapa Tuan ngomongnya ngaco begitu? Pasti pengaruh alkoholnya masih belum hilang." sambil gelagapan aku mengaduk nasi dan sup yang ada di hadapanku, menghindari bersitatap dengan Ghiffa.
"Ya udah deh, kalau lo gak mau ngaku." pungkas Ghiffa, "Kita pelan-pelan aja."
"Maksud Tuan?"
"Gak apa-apa. Untuk ke depannya, kita gak perlu ada perjanjian apa-apa lagi. Sebaiknya semua terjadi secara alamiah aja." Ghiffa kembali menyuapkan sendok demi sendok sup ayam itu, "Lo bener, makan sup ayam bikin pengar gue lumayan berkurang."
Tidak aku gubris ucapannya mengenai sup ayam itu. Pikiranku terlalu sibuk memahami kata-kata yang Ghiffa ucapkan sebelumnya. Berarti perjanjian satu kali cium setiap harinya itu batal 'kan? Helaan nafas ku hembuskan dengan lega. Syukurlah.
Tatapanku dan Ghiffa bertemu tatkala pintu apartemen diakses, "Kayaknya itu Nyonya Natasha, Tuan!" ucapku panik.
Aku bergegas bangkit dari posisiku dan membereskan piringku dan menyimpannya di dapur.
"Lo kenapa sih? Nyantei aja kali." Mata Ghiffa tak lepas dariku yang berlari kecil menuju dapur. Aku tidak mungkin membiarkan Nyonya Natasha melihatku makan bersama dengan putranya seperti tadi, 'kan?
Syukurlah aku sudah berada di dapur saat Natasha mulai masuk ke apartemen.
"Ayana, tolong kamu bawain dan siapkan buah-buahan itu buat anak saya, ya." Natasha yang sudah memasuki ruang tengah memintaku mengambil sekeresek buah-buahan yang dibawa oleh seorang pria yang aku kenal sebagai supir Nyonya Natasha yang bernama Pak Janu.
"Baik, Nyonya." Aku segera membantu Pak Janu dan menyimpan keresek itu di atas konter dapur. Aku melihat ada melon, stroberi, kiwi, dan juga apel. Kemudian aku mulai sibuk mengupas buah-buahan itu.
"Pak, itu simpan disini aja." titah Natasha. Pak Janu membawa sebuah bungkusan setinggi dirinya yang ditutupi oleh kain yang terdapat gantungan baju di atasnya, iapun menyimpannya di sofa sebelah Ghiffa yang masih asyik memakan sup ayamnya.
"Kok makannya gak di meja makan, Nak." tanya Natasha seraya duduk di sofa di hadapan Ghiffa.
"Lagi pengen aja." ucap Ghiffa singkat, tanpa melihat ke arah sang ibu.
Selalu seperti itu. Setiap kali aku melihat interaksi Ghiffa dengan ibunya, majikanku itu tidak pernah menunjukkan rasa hormatnya.
"Nih, udah makan kamu coba tuxedonya. Baru Mama bawa dari butik. Gak sabar Mama liat kamu pake ini. Pasti tambah ganteng anak Mama." Mata Natasha begitu berbinar saat mengatakannya.
Ghiffa berdecak, "Udah aku bilang aku gak akan dateng ke acara itu."
"Nak, kamu harus datang. Ini acara ulang tahun perusahaan pertama yang akan kamu hadiri sebagai salah satu pemegang saham utama. Bukan sekedar anak dari papa kamu aja."
Wah, aku terperangah mendengar Ghiffa memiliki saham di perusahaan sang ayah yang bergerak di bidang properti. PT Melcia Properti, milik Papa Ghiffa sudah membangun banyak projek besar seperti apartemen, hotel, mall, dan perumahan-perumahan elit di berbagai kota-kota besar di Indonesia. Aku sempat mencari tahu tentang ini ketika pertama bekerja disini.
"Aku gak mau." tegas Ghiffa, "Suruh Papa batalin saham itu dan kasihin ke si Ghaza." Wajah Ghiffa mengeras saat menyebutkan nama sang kakak, Ghaza. Aku jadi ingat ekspresi marah yang ia tujukan pada kakaknya ketika aku ke rumahnya waktu itu. Sepertinya memang sebenci itu Ghiffa pada saudaranya itu.
"Mau sampai kapan kamu sama Ghaza kayak gini. Papa sampai sakit gara-gara liat permusuhan kalian makin kesini makin jadi. Papa itu pengen liat kalian itu ada di rumah, tinggal bareng-bareng sama Papa sama Mama. Sesulit itu ya buat kalian baikan? Terus kapan kamu mau ke rumah? Papa nanyain kamu terus. Minimal kamu berkunjung setiap hari libur gini."
"Mama salah nanya itu sama aku. Harusnya Mama tanyain ke dia. Dia 'kan yang bikin aku harus ninggalin rumah?"
"Mama yakin Kakak kamu itu gak sungguh-sungguh. Kamu masih bisa minta maaf sama dia 'kan, Nak? Mama mohon kamu bisa lebih ngertiin Kakak kamu, ya?"
Ghiffa tertawa getir, "Aku minta maaf sama dia?" Ghiffa bangkit dari duduknya dan memandang Nyonya Natasha dengan tatapan tidak percaya dan penuh amarah. "Mama sadar gak sih? Aku yang dibuang, Mah, disini! Mama malah nyuruh aku buat minta maaf atas kesalahan yang gak pernah aku buat?! Sekarang aku mau nanya sama Mama, salah aku apa? Salah aku gitu kalau tiba-tiba dia jadi punya adik yang gak pernah dia inginkan? Yang harus disalahin itu Mama! Ngapain Mama datengin Papa pas aku dikandungan Mama? Harusnya Mama pergi jauh-jauh dan gak usah ngerusak ketentraman keluarga mereka! Bahkan Papa gak pernah nganggap aku sebagai anaknya!"
"Ghiffa! Kenapa kamu ngomong kayak gitu, Nak? Papa itu sayang sama kamu!" Natasha bangkit dari sofa dan menatap nanar pada sang putra. Pundaknya naik turun, terlihat sekali ia sedang mencoba menahan emosinya.
"Kenapa? Itu fakta 'kan? Terus, ngapain Mama mohon-mohon sama Papa buat ngasih sahamnya buat aku di ulang tahun aku yang ke-17 waktu itu? Aku gak pernah minta! Aku gak butuh saham! Kalau bukan karena keegoisan Mama yang pengen jadi nyonya Musa Airlangga, aku gak akan hidup kayak gini! Dicap anak haram dan ngejalanin hidup kayak sampah!" teriaknya dengan murka.
Sorot mata Ghina penuh benci pada sang ibu. Tidak hanya benci, aku bisa melihat kesedihan dari matanya. Natasha sepertinya mengakui semua itu karena ia tidak mengatakan apapun setelah teriakan putranya itu. Ghiffa berniat meninggalkan sang ibu dan berjalan menuju kamarnya.
"Olivia pulang dari Singapura. Ghaza udah mutusin pertunangan mereka." Ghiffa menghentikan langkahnya sejenak mendengar kabar itu, kemudian masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Olivia? Siapa itu?