
Semoga Ghiffa menyadari kini aku kembali membuat jarak lagi dengan menyebutnya dengan sebutan 'Tuan'.
"Ay.. " Raut sedih dan juga penuh sesal tergambar jelas di wajah Ghiffa. "Ay, aku mohon. Jangan ngomong gitu! Aku minta maaf, aku salah!"
Isakku tak mau berhenti, "Saya selalu tahu diri dan saya selalu berusaha buat gak ngelewatin batas. Tapi kenapa Tuan justru selalu melewati batas itu?"
"Ay... "
"Saat Tuan marah, selalu seperti ini. Di resort itu, Tuan menyentuh saya. Lalu sekarang... " aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.
"Ay, aku sayang sama kamu. Makanya..."
"Yang Tuan lakukan bukan karena Tuan sayang, tapi Tuan marah pada saya! Tuan ngikutin emosi dan nafsu! Dulu Tuan pernah melakukan ini. Tuan janji gak akan melakukannya lagi. Lalu sekarang Tuan kembali melakukannya. Bahkan lebih parah. Ternyata semudah itu untuk Tuan mengingkari janji yang sudah Tuan buat." Aku kembali menyentuhkan lenganku ke arah puncak bukit kembarku yang masih berdenyut sakit akibat perbuatan Ghiffa.
"Kamu salah, Ay. Aku sayang sama kamu makanya aku kayak gini. Aku terlalu frustasi makanya aku gak bisa nahan diri!" Ghiffa mencoba menjelaskan. "Aku udah ngomong kamu berhak marah sama aku! Marah sepuas hati kamu! Aku akan terima semuanya karena aku tahu aku emang salah. Tapi kenapa aku malah denger semuanya dari Belva?! "
"Saya gak minta Belva buat ngomong. Saya cuma curhat sama dia karena saya gak bisa ngomong langsung sama Tuan tentang apa yang saya rasain. Saya sendiri gak mau kalau Tuan sampai tahu."
"Kenapa? Kamu bisa cerita semuanya sama temen kamu, tapi kamu gak bisa cerita sama aku? Kamu marah sama aku harusnya kamu ngomong sama aku langsung!"
"Saya cuma pembantu, Tuan! Kenapa Tuan gak pernah ngerti dengan kondisi kita ini?!"
"Aku yang gak ngerti atau kamu yang gak mau ambil resiko?" ujar Ghiffa emosi. "Kenapa emangnya kalau kamu pembantu aku?! Gak boleh emangnya kita saling sayang? Gak boleh kita pacaran? Kamu sendiri yang bikin semuanya sulit, Ay!"
Ghiffa kembali menyalahkanku. Dan aku kembali hanya bisa menangis. Bagaimana caranya agar dia mengerti bahwa masalah yang kami hadapi tidak sesederhana itu. Hubungan kami tidak akan bisa berjalan dengan lancar, akan penuh dengan rintangan. Kami pasti akan ditentang, oleh orang tuaku, terlebih oleh kedua orang tua Ghiffa.
"Tuan sebaiknya kembali aja sama mantan, Tuan. Maka semuanya akan selesai."
"AYA!!" Ghiffa meneriakiku keras sekali.
Sontak Ghiffa semakin tersulut emosi dengan kata-kataku. Ia meraih kedua pundakku dan meremasnya sangat kuat, "Lo bener-bener udah kelewatan!!" Ghiffa pun kembali ke mode gue-lo nya. Itu menandakan Ghiffa juga sudah jengah dengan sikapku.
"Sakit..." Isakku. Pipiku sudah basah sepenuhnya oleh air mata. Aku sungguh ingin mengakhiri semuanya.
"Lo tahu tentang Olivia dari orang lain. Lo selalu percaya sama orang lain. Tapi pernah gak lo nanya sendiri sama gue?!" Sakit hatiku ini terasa berkali-kali lipat tatkala melihat pelupuk mata Ghiffa meloloskan sebutir air mata. "Lo gak pernah ngasih kesempatan buat hubungan kita. Yang jahat itu lo, Ay! Lo selalu mikirin perasaan orang lain, pandangan orang lain, tapi pernah gak lo mikirin perasaan gue?"
Kedua matanya bergantian menatap mata kiri dan kananku.
"Gak cuma keluarga gue yang gak nganggep gue, ternyata lo juga sama aja. Gue kira lo bisa jadi 'rumah' buat gue. Tapi ternyata gue salah. Lo ternyata lebih jahat dari abang gue. Se-gak penting itu gue dimata lo, Ay?"
Ghiffa mengusap wajahnya kasar. "Terserah lo mau percaya atau nggak. Lo mau dengerin atau nggak. Gue cuma pengen lurusin semuanya. Biar lo tahu kalau selama ini lo salah!Yang jahat itu lo."
Seketika aku merasa keheranan, Ghiffa seyakin itu bahwa yang jahat adalah aku. Ghiffa bangkit dari posisinya yang berjongkok di depanku kemudian duduk di sofa yang berseberangan dengan tempat tidurnya. Kini aku dan Ghiffa duduk berhadapan.
"Waktu awal gue masuk SMA, gue sama Oliv udah sering dijodoh-jodohin sama anak-anak. Gara-gara itu gue jadi beneran tertarik sama dia. Gue deketin dia dan ternyata dia juga suka sama gue. Akhirnya kita pacaran. Tapi seudah pacaran, kita malah lebih sering cuek-cuekan, kita pacaran tapi hambar. Akhirnya gue sama dia sadar, kayaknya pas PDKT itu kita cuma saling kagum aja, gak ada rasa kayak gitu diantara gue sama Oliv. Seudah itu gue sama Oliv gak langsung mutusin buat udahan. Kita malah jadi sahabat berkedok pacaran. Sampai sekitar beberapa minggu sebelum akhirnya gue sama dia mutusin buat udahan, Oliv cerita kalau Ghaza deketin dia. Ghaza sama Oliv emang sempet ketemu waktu acara kantor, saat itu Oliv ikut dampingin ayahnya. Lama-lama Oliv bilang kalau dia suka sama Ghaza. Bener-bener jatuh cinta sama Ghaza. Gitu juga dengan Ghaza, bilang kalau dia juga suka sama Oliv. Bahkan Ghaza sampe bilang ke ayahnya Oliv bakal tunangan sama Oliv. Akhirnya gue sama Oliv mutusin buat putus. Pas putus gue gak sedih sama sekali, malah gue seneng banget karena dia bakal jadi kakak ipar gue. Kita malah ketawa-ketawa karena kekonyolan kita, pacaran tapi gak ada romantis-romantisnya, gak pernah pegangan tangan, peluk, apalagi cium. Pacaran tapi rasanya kayak bestie-an. Terus dia juga udah niat suatu hari dia bakal cerita sama anak-anaknya kalau om mereka adalah mantan pacarnya dari ibu mereka sendiri." Ghiffa mengakhiri ceritanya dengan senyum getir di bibirnya.
Setelah mendengar cerita dari Ghiffa aku hanya bisa tertegun. Ghiffa terlihat tidak mengada-ngada. Yang dikatakannya sepertinya adalah hal yang sebenarnya terjadi. Jika benar seperti itu, satu hal yang sudah bisa dipastikan, aku sudah salah paham.
"Terus, " Ghiffa melanjutkan, "Pas sekitar sebulan dari mereka tunangan, gue ulang tahun yang ke-17. Saat itu gue dikasih saham perusahaan sama bokap gue. Dan lo tahu, gara-gara itu Ghaza murka sama gue."
Aku mengerutkan dahiku, tidak paham. Kenapa Ghaza marah?
"Ghaza benci banget sama gue bahkan sejak gue kecil. Gue sama dia beda 10 tahun. Waktu gue umur 8 tahun dan dia 18, dia pindah dari rumah. Dengan lantangnya dia ngomong, dia pergi dari rumah karena gak sudi terus-terusan hidup satu atap dengan gue. Dari situ gue yang baru kelas 2 SD, sadar kalau abang gue gak suka sama gue."
Ghaza yang menolongku kemarin, bisa berkata sejahat itu? Sangat sulit dipercaya.
"Dia selalu jutek, kalau ngomong kasar, gak pernah sekalipun dia senyum sama gue. Dia selalu liat gue dengan tatapan benci. Tapi gue malah suka sama abang gue. Dia pinter, selalu juara kelas, jago olahraga, dan dia selalu jadi pemimpin, ketua OSIS, ketua ekskul, semuanya. Dia adalah sosok paling keren yang pernah gue temuin. Dan seiring berjalannya waktu ternyata gue mirip banget sama abang gue. Gue selalu ranking, gue juga jago olahraga. Selera kami hampir selalu sama. Bahkan waktu abang gue masih SMP dia suka banget sama Tsubasa, gue juga ikut suka. Walaupun gue selalu dijutekin gue gak pernah sama sekali benci dia balik. Gue tetep mengidolakan dia. Bahkan gue seneng banget pas Ghaza sama Oliv tunangan. Dua orang yang gue favoritin bakal nikah suatu hari nanti. Gue ngerasa keluarga gue bakal tambah sempurna."