The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 105: Restu



Aku menatap wajah Ghaza dengan sangat puas. Ia tersenyum tipis saat semua orang memberikan tepuk tangan yang begitu meriah untuknya.


Seorang wartawan lainnya bertanya setelah tepuk tangan dari para tamu mereda. "Mbak Ayana, apa pernikahan kalian hanya pernikahan siri? Lalu mengapa kalian belum mengadakan pesta pernikahan?"


Aku kembali mendekatkan bibirku ke mic di depanku, namun Ghiffa menahan tanganku dan menatapku seakan mengatakan 'biar aku aja'. Ia pun mendekatkan mic itu pada bibirnya,  "Kami menikah secara siri pada awalnya. Tapi sekarang kami sudah menikah secara sah." Ghiffa menoleh ke arahku, "Sayang kamu bawa buku nikah kita?"


Aku mengangguk dan membuka clutch yang sejak tadi aku pegang. Aku membuka bagian dimana terdapat fotoku dan juga Ghiffa di dalam buku nikah itu. Kameramen menyorot buku nikah yang aku pegang itu dan seketika buku nikah itu ada di layar besar di belakang kami.


"Kami juga ada foto saat kami melaksanakan akad waktu itu." Tak lama fotoku dan Ghiffa saat akad di rumahku waktu itu terpampang jelas di layar belakang kami. Ghaza terlihat kembali terperangah dengan wajah menengadah melihat ke arah layar belakang panggung. Begitu juga dengan kedua orang tua Ghiffa. Nyonya Natasha bahkan sampai bangkit dari duduknya, sedangkan Tuan Musa, di luar dugaan justru terdiam di kursinya seakan itu bukanlah apa-apa.


"Mengenai pesta pernikahan," lanjut Ghiffa, "Akan kami selenggarakan mungkin tidak dalam waktu dekat. Kami akan mengabarkan kepada semua orang, jika waktunya sudah tiba."


***


Setelah acara itu aku dan Ghiffa diminta untuk datang ke rumah kediaman Airlangga. Aku dan Ghiffa berdiri dengan tangan saling menggenggam menghadap Nyonya Natasha dan juga Tuan Musa yang duduk di sofa ruang kerja Tuan Musa.


Aku sudah siap. Apapun yang akan mereka katakan padaku, aku sudah sangat siap.


"Katakan kalau pernikahan kalian ini hanya omong kosong!" teriak Nyonya Natasha.


"Mama, tadi udah liat 'kan akta nikah itu asli. Aku sama Ayana udah nikah." ujar Ghiffa dengan santainya.


"Bohong! Mama gak percaya, Ghiffa!" Nyonya Natasha menghampiriku dengan tatapan yang buas, "Berikan buku nikah itu! Saya mau lihat!"


Aku segera membuka clutchku, namun Ghiffa menahannya, "Jangan, Yang. Nanti sama mama dirusakin lagi."


"Berikan Ayana!!" teriak Nyonya Natasha menggila. Tangannya bersiap merebut clutch yang aku pegang namun Ghiffa segera menjauhkan sang ibu dariku. "Lepasin Mama! Kalian gak punya restu Mama! Pernikahan kalian gak sah! Mama gak sudi punya menantu seorang pembantu!!"


"Natasha." Suara berat Tuan Musa seketika membuat Nyonya Natasha ciut. "Duduk." Titahnya. Perlahan Nyonya Natasha duduk kembali di sofa itu.


"Pak, Ghiffa menikah dengan seorang anak petani! Bagaimana Bapak diam saja?!" Nyonya Natasha masih belum menyerah walaupun nada bicaranya agak sedikit lembut kali ini.


"Kenapa memangnya?" tanya Tuan Musa, "Darah kamu mengalir di dalam tubuhnya. Jangan salahkan dia jika seleranya juga serendah itu."


Ghiffa bersiap mengatakan sesuatu, namun segera aku menggenggam tangannya kembali dan membawanya mundur beberapa langkah. Kuusap lengan suamiku, memintanya untuk bisa tetap menahan emosinya mendengar ucapan sangat merendahkan itu.


"Tapi...." Nyonya Natasha bersiap merengek kembali, segera saja dipotong oleh Tuan Musa.


"Kamu lebih baik diam. Biarkan saya yang bicara." ucapnya dengan nada yang penuh intimidasi.


Tuan Musa menatapku dan Ghiffa bergantian, "Papa tidak peduli kamu sudah menikah atau belum, dengan siapa, atau kamu akan seperti apa menjalani hidup kamu, terserah. Papa sudah melepaskan kamu semenjak kamu menolak saham yang Papa berikan. Papa berikan kamu kebebasan untuk menentukan hidup kamu sendiri. Hanya satu yang perlu kamu ingat," Tuan musa menatap Ghiffa dengan tajam, "Jangan biarkan kekacauan di rumah ini sampai terendus keluar. Jangan biarkan citra buruk mengenai Keluarga Airlangga bersiar di luar sana."


"Papa tenang aja." Ujar Ghiffa tenang. "Tadi juga Ayana gak bilang apa-apa yang menyudutkan Papa dan juga Ghaza 'kan? Papa gak usah khawatir sama yang aku lakuin selama ini. Cuma nama aku aja yang bakal jelek di mata orang-orang. Bukan nama Papa." ujar Ghiffa.


"Bagus kalau kamu sudah paham. Berarti kamu sudah dewasa dan mengerti maksud Papa selama ini."


"Ghiffa! Apa maksud kamu?!" Sontak Nyonya Natasha kembali histeris.


"Seudah ini, aku gak perlu lagi ketemu sama Papa." ucap Ghiffa dengan penuh keyakinan.


"Ghiffa!! Kamu udah gila! Kamu itu anak Papa kamu! Kamu akan megang PT Melcia Properti suatu hari nanti bareng sama kakak kamu!" Nyonya Natasha semakin histeris.


"Udah, Mah. Mama gak cape hidup kayak gini terus? Terserah Mama kalau Mama masih mau bertahan dengan Papa. Aku gak akan ngelarang. Tapi aku, gak pengen ada hubungan apapun lagi sama Papa ataupun Ghaza."


"Kamu yakin gak akan meminta saham pada Papa suatu hari nanti?" tanya Tuan Musa memastikan.


"Nggak, Pah. Papa gak usah khawatir. Semua jerih payah Papa dan Ghaza, sedikitpun aku gak pernah mau itu." ucap Ghiffa mantap.


"Ghiffa!!" Air mata Nyonya Natasha mulai tumpah.


"Baiklah, kita buat perjanjiannya." Tuan Musa menatap lekat Ghiffa dan mengabaikan Nyonya Natasha, tidak peduli sama sekali sang istri yang sudah begitu emosional, "Papa memberikan restu Papa untuk kamu menikahi Ayana, dengan syarat baik sekarang ataupun nanti, kamu tidak akan pernah meminta saham itu kembali pada kamu. Jika kamu melanggar, kamu harus meninggalkan Ayana."


Ghiffa mengangguk mantap, "Deal."


"Nggak!!" Nyonya Natasha menatap marah sang suami, "Bapak benar-benar tidak punya hati! Ghiffa ini anak bapak! Dia juga berhak atas perusahaan Bapak!"


"Tidakkah kamu mengerti keinginan anakmu sendiri, Natasha? Dia lebih memilih perasaannya pada perempuan itu. Bahkan saya lebih paham itu daripada kamu. Kamu masih menyebut diri kamu adalah ibunya? Justru kamu yang tidak mengerti arti bahagia bagi anakmu sendiri." Kata-kata itu terdengar sangat bijak tapi juga jahat di waktu yang bersamaan.


"Bapak hanya berpikir mengenai keuntungan Bapak sendiri! Bapak bukan memahami perasaaan Ghiffa!!" Teriak Natasha.


"Untuk apa saya memaksa Ghiffa jika dia tidak mau menerima saham itu?" ucap Tuan Musa tanpa merasa bersalah.


"Ya udah, Mah, Pah. Aku sama Ayana pamit." Ghiffa sepertinya sudah jengah mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Aku sendiri yang baru kali ini melihat pertengkaran mereka, sudah sangat sesak dan membuat kepalaku begitu sakit. Apalagi Ghiffa yang sudah mengalaminya sejak ia masih sangat kecil.


"Mau kemana kamu, Ghiffa! Mama gak akan ngebiarin kamu pergi dari rumah ini!" Natasha segera menghadang kami yang akan berjalan menuju pintu.


Tepat saat itu, Ghaza masuk ke dalam ruangan kerja Tuan Musa dengan wajah yang murka. Ghaza memang tidak pulang bersama kami karena ia harus menjamu para tamu yang hadir disana sampai acaranya selesai. Ia sedikit mendorong tubuh Natasha yang berada di depan kami, hingga Nyonya Natasha tergopoh ke arah samping. Kemudian tangannya meraih tanganku. Segera saja tangan Ghiffa menangkisnya dan ia membentengiku dari Ghaza.


"Berani-beraninya kamu, AYANA!!" teriak Ghaza. Kedua matanya begitu menusuk ke arahku.


"Apa yang salah dari sikap Ayana?" Tanya Tuan Musa, sebelum Ghiffa menimpali sang kakak. "Dia membuat kamu terlihat baik di depan semua orang."


"Dia milik aku, Pah! AYANA MILIK AKU!!" suaranya menggelegar.


"Apa maksud kamu?" Tuan Musa bangkit dari duduknya dan menghampiri Ghaza, "Katakan! Apa maksud kamu bilang perempuan kampung ini adalah milik kamu?!" Tuan Musa meraih kerah tuxedo yang Ghaza gunakan dan menatap putra kesayangannya dengan bengis.


"Papa tidak peduli jika Ghiffa menikah dengan anak petani seperti dia. Tapi kamu, kamu anak kebanggaan Papa! Dalam diri kamu mengalir darah keluarga terhormat! Papa sudah sering mengatakan pada kamu, jangan mengulangi kesalahan Papa! Jangan pernah jatuh pada perempuan yang tidak sepadan dengan kita!"