
Selesai mencuci mangkuk aku menghampiri kamar Ghiffa. Ada apa ya dia memintaku masuk ke kamarnya? Apa ada cucian kotor yang harus aku bawa ke ruang cuci? Atau perlengkapan mandinya habis? Pikiranku terus bertanya-tanya.
Tok...tok...tok...
Aku mengetuk pintu kamar Ghiffa dan sebuah suara mempersilahkanku masuk. Ku buka pintu kamar itu dan aku lihat Ghiffa berada di balkon kamarnya. Ia baru saja mematikan rokoknya!
'Dasar anak nakal. Ini harus aku laporin sama Nyonya Natasha!' tekadku.
Ghiffapun masuk ke kamar dan berbaring di tempat tidurnya. Membuat aku tertegun melihatnya. Apa aku ini makhluk tak kasat mata? Mengapa ia melewatiku begitu saja dan berbaring di tempat tidurnya?
"Tuan, ada apa saya diminta untuk datang kesini?" tanyaku.
Ghiffa membuka matanya yang terpejam dan memandangku. "Lo bersihin kamar gue. Tuh di balkon beresin, kamar mandi gue, kamar juga. Terus matiin lampunya nanti kalau udah beres."
'APA?!' aku berteriak dalam hati.
Aku harus membereskan kamarnya di waktu yang sudah selarut ini? Majikanku ini semakin aneh saja.
"Bisa tidak ya, Tuan, saya membersihkannya besok pagi? Saya takut mengganggu Tuan tidur." Ucapku hati-hati. Aku mencari alasan. Padahal akulah yang ingin tidur, rasanya aku sudah mengantuk sekali.
"Nggak," Matanya terpejam. "Beresin sekarang juga. Lo beresin aja gue gak akan keganggu, kok. Asal jangan berisik. Pake sapu aja, jangan pake vacuum cleaner."
Apa jangan-jangan?
"Tuan, takut tidur sendiri?" tanyaku. Entah darimana keberanian itu berasal.
Ghiffa bangkit dari tidurnya, "Ngomong sekali lagi!" ucapnya galak.
Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat, tidak ada niatan untuk membalas kata-katanya. Aku segera membawa peralatan untuk membersihkan dan mulai membersihkan kamarnya dengan perlahan agar tidak terlalu berisik.
Mataku seakan tidak bisa kukendalikan, di sela-sela pekerjaanku, aku terus menatap ke wajah majikanku itu. Tuhan, mengapa dia tampan sekali?
"Ngapain lo ngeliatin gue?" tiba-tiba saja Ghiffa membuka matanya dan menangkap basah aku yang sedang menatapnya.
Aku sedikit gelagapan, "Maaf Tuan." Aku segera mengalihkan pandanganku.
"Lo harus sembunyiin ini dari semua orang. Imej gue gak boleh rusak." ucap Ghiffa dengan mata yang kembali tertutup.
Jadi benar dia takut tidur sendiri? Serius? Aku terbahak dalam hati.
"Apa bi Dini juga selalu menemani Tuan saat akan tertidur?" tanyaku penasaran.
"Nggak." ujar Ghiffa dengan mata yang terpejam.
Lalu kenapa aku disini kalau begitu?
"Bi Dini cerewet dan mulutnya gak mau diem. Kalau gak ngomong dia pasti nyanyi-nyanyi di luar. Gue gak bisa tidur kalau gak ada orang di deket gue." tambah Ghiffa.
Sepertinya Ghiffa lebih butuh seorang baby sitter daripada seorang ART. Apa akupun harus membersihkan kamarnya sembari bersenandung nina bobo agar ia tertidur? Sarkasku dalam hati.
Dan memang, Bi Dini orang yang tidak bisa berhenti bicara. Cerewet sekali, seakan tidak pernah kehabisan bahan untuk diceritakan. Suaranya juga bagus sekali. Apalagi jika bernyanyi lagu-lagu Sunda.
Juga sedikit mengejutkan, saat Ghiffa mengatakan ia tidak bisa tidur jika tidak ada orang di dekatnya. Anak ini sungguh sangar di luar, tapi hatinya selembut hello kitti. Bagaimana bisa anak semanja ini tinggal seorang diri di apartemen seperti ini. Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran orang kaya.
"Bagaimana kalau saya bernyanyi juga di luar agar Tuan tidak merasa sendiri?" aku menawarkan.
"Suara lo bagus? Lo ngomong aja suaranya pelan gitu. Ntar malah serem yang ada. Udah beres-beres aja. Gak usah banyak ngomong. Gue ngantuk."
Benar juga. Aku tidak terlalu pandai bernyanyi. Aku juga bukan orang yang seberani itu untuk bernyanyi di depan orang lain, apalagi di depan majikanku ini.
"Tuan.. " bisikku. Tidak ada pergerakan dari tubuhnya.
Akupun segera menyudahi beres-beres kamar majikanku itu karena apa yang mau dibersihkan, semuanya masih sangat kinclong. Hanya beberapa puntung rokok dan abunya saja yang bisa dibereskan dari kamarnya itu. Perlahan aku berjalan menuju saklar lampu dan mematikannya. Kemudian aku keluar dari sana dan menutup pintu dengan perlahan.
***
Keesokkan paginya setelah mandi dan berpakaian rapi, aku menuju dapur dan mulai menyiapkan sarapan. Aku membuat nasi goreng dan teh hangat.
"Tuan Ghiffa udah bangun belum ya?" gumamku. Akupun berjalan menuju kamarnya dan mengetuk pintu.
"Tuan, ini sudah pagi." tidak terdengar suara dari dalam. Aku memutuskan untuk membuka pintu.
Aku melihat majikanku itu masih tertidur pulas. Aku berjalan menghampirinya. "Tuan, bangun. Waktunya bersiap ke sekolah."
Ghiffa perlahan membuka matanya, dan bangkit dari posisi berbaringnya. "Minum.." ucapnya dengan mata mengantuk.
Aku segera beranjak dan mengambil segelas air putih untuknya. "Ini Tuan. "
Ghiffa menghabiskan air itu dan menyerahkan gelas kosong itu padaku dan beranjak menuju kamar mandi di dalam kamarnya.
Akupun kembali ke dapur dan mengambil seporsi nasi goreng dan membawanya ke kamarku. Aku memakannya disana sambil membuka HPku. Tidak ada balasan dari Hyuga semenjak chatku tadi malam.
Aku mendengus, "Kenapa Hyuga gak bales ya?"
"Ayana!" terdengar suara Ghiffa. Aku segera menghampirinya di kamarnya.
"Iya, Tuan?" Seketika aku terkesiap melihatnya hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Tubuhnya sungguh mempesona, terdapat kotak-kotak mirip roti sobek di perutnya. Jantungku berdetak kencang sekali. Ada apa sih ini?
"Mana seragam gue? Kok belom disiapin?" tanyanya, membuatku tersadar dari fantasiku.
"Seragam ada di lemari anda, Tuan." aku belum mengeceknya sih, tapi tidak ada seragamnya di ruang cuci. Jadi aku kira pasti ada di dalam lemarinya.
"Lo itu bisa kerja gak sih?! Lo harus siapin seragam gue di kasur biar gue langsung pake seudah gue mandi!"
Emang dia tidak bisa ya mengambilnya sendiri di lemarinya? Dumelku dalam hati.
"Maafkan saya Tuan. " Aku segera membuka lemarinya.
"Telat lo! Udah lo keluar aja!" Ghiffa sedikit mendorong tubuhku dan membuka sendiri lemarinya dan mencari seragamnya.
Aku mendengus dan segera keluar dari kamar majikanku itu lalu kembali ke kamar untuk menghabiskan nasi goreng yang baru setengahnya aku makan.
"Pagi-pagi udah marah-marah aja itu anak." Aku duduk kembali di kursi di hadapan meja riasku dan mulai melahap sarapanku.
Setelah sarapanku habis aku kembali ke dapur dan melihat Ghiffa juga baru saja keluar dari kamarnya. Kami bertemu tatap.
'kerja disini bikin jantungku gak aman' ucapku dalam hati. Entah mengapa tatapan Ghiffa selalu menusuk hingga ke jantungku. Hingga jantungku selalu berdebar saat melihatnya.
"ini teh manis hangatnya, Tuan. " Aku meletakkannya di samping nasi goreng yang sedang dilahap oleh Ghiffa.
Ghiffa tidak menggubrisku dan malah sibuk dengan HPnya. Akupun kembali ke counter dapur.
Tiba-tiba saja HPku berbunyi, notifikasi chat masuk. Segera aku membukanya.
[Hyuga] : Maaf Ay, aku baru bales. Nanti sore kita ketemu di Cafe X ya. Oh iya, nama aku Zayyan.
"Zayyan?" gumamku sambil tersenyum menatap layar HPku.