The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 34: Tidak Pandang Bulu



Tunggu, mengapa kini Zayyan menatap Ghiffa seolah meminta maaf?


"Mak-maksud gue, gue sama cewek gue lagi ngomong sama Ayana. Ada yang harus diklarifikasi." Zayyan gelagapan, lebih seperti meralat daripada memperjelas ucapannya.


"Klarifikasi apa?" Ghiffa ternyata kepo juga.


"Gak ada apa-apa, kok." Aku mencoba membuat Ghiffa pergi dan tidak ikut campur. Aku menatapnya seolah berbicara 'tuan tolong pergi saja dari sini dan jangan memperkeruh suasana'. Masalah kecil ini akan bisa menjadi besar jika mental pembuat onar Ghiffa ikut terlibat.


Tapi sepertinya ia tidak memahami arti dari tatapanku, atau mungkin lebih ke sengaja tidak menggubrisku. Ghiffa malah ikut campur sekarang dan mengundang banyak mata menatap ke arah kami.


"Apa cewek lo ini salah paham sama Ayana?" Mata setajam elang milik Ghiffa kini menatap Zalfa yang semakin ciut dibelakang Zayyan. "Heh, lo denger. Ayana gak ada apa-apa sama cowok lo. Kenal juga nggak. Jangan pernah lo teriakin dia lagi. Ngerti lo?" suara Ghiffa tidak terlalu tinggi sebenarnya, tapi nada intimidasi dan auranya yang dingin membuat kata-katanya yang terdengar biasa menjadi terasa menusuk.


"I-iya, Ghif. Gue ngerti." cicit Zalfa.


"Dan gue kasih tahu sama lo semua, cuma gue yang boleh gak sopan sama guru atau karyawan sekolah. Sedangkan kalian semua, wajib dan harus hormat dan ngehargain mereka. Jadi jangan ada yang macem-macem lagi sama dia, atau bakal berurusan sama gue." tatapan elang itu menyapu beberapa anak cheers, dan beberapa anak lain yang ikut menyaksikan obrolan kami. Mendapat nada peringatan dari Ghiffa mereka segera membubarkan diri, tidak ingin berurusan lebih jauh dengan si pembuat onar ini.


Aku terperangah melihat orang-orang begitu segan dan takut pada Ghiffa. Tanpa sadar aku bergidik, merinding. Ternyata tidak hanya padaku tindakan semena-menanya, tapi pada hampir semua orang.


"Kalau ada apa-apa ngomong sama gue." suaranya membuyarkan lamunanku. Wajah Ghiffa terasa sedikit menghangat saat melihatku.


Kenapa sih Ghiffa sampai bersikap berlebihan seperti ini. Tapi aku tidak ingin memperpanjang urusan ini, maka aku iya-kan saja. "Baik, Tuan." anggukku.


"Kok lo manggil Ghiffa 'Tuan'?" celetuk Zalfa tanpa sadar. Zalfa dan Zayyan memang masih ada disana, tidak ikut membubarkan diri seperti yang lain.


Ghiffa menoleh ke arah Zalfa. Seketika Zalfa kembali ciut melihat mata elang Ghiffa mengintimidasinya lagi. Padahal Ghiffa tidak mengatakan apapun.


"Zalfa, Tuan Ghiffa ini majikan saya. Saya asisten rumah tangganya." terangku.


"Harus ya lo ngomong sejelas itu?" protes Ghiffa.


"Emang yang saya katakan itu salah ya, Tuan?" debatku.


"Oh jadi dia cuma ART lo, Ghif? Kok bisa sih ART ada disini jadi karyawan perpus? Bukannya harusnya ART itu kerjanya beres-beres rumah ya? Terus aneh deh, kok gue ngerasa lo ada sesuatu sama dia?" Seorang anak cheers dengan rambut panjang dengan ikal di bagian bawah, ikut nimbrung. Ia cukup berani berinteraksi dengan Ghiffa. Anak cheers yang lain begitu segan pada Ghiffa, tapi tidak dengan cewek itu.


"Emang kenapa kalo gue ada apa-apanya sama dia? Apa hubungannya sama lo?" tanya Ghiffa dingin.


Ini sudah semakin melebar. Aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus mengklarifikasinya sebelum gosip tentang aku dan Ghiffa semakin menyebar, "Saya dan..." namun Ghiffa lebih dulu menyahuti cewek itu.


"Lo itu kapten cheers apa admin akun lambe turah? Gue saranin lo dan tim cheers lo itu fokus aja joget-joget yang bener. Gak usah banyak ngeghibah dan nyampurin urusan orang lain. Kasih tahu juga anggota lo, jangan sok kecentilan dan ngerasa jadi cewek-cewek paling wah di sekolah ini! Eneg gue ngeliatnya."


Ghiffa mendekat pada cewek itu dan menatapnya bengis, tidak memberi kesempatan pada cewek itu untuk menimpali lagi ucapannya. "Lo juga jangan sok paling ngerti tentang gue. Gak usah lo nge-judge gue mau deket sama siapa. Jangan pernah lo nyangkut-pautin lagi gue sama temen lo itu lagi. Terus jangan pernah lo berani buat ngomentarin hidup gue lagi! Kalau nggak, lo bakal rasain akibatnya nanti. Gue gak pernah main-main sama yang udah gue omongin. Tinggal lo pilih, lo sendiri atau cowok lo yang nanggung akibatnya?"


Cewek itu terdiam, terpaku, tak mampu bergerak, sepertinya terlalu shock karena kata-kata Ghiffa. Teman-temannya yang justru sibuk mengomentari sikap Ghiffa, "Apaan sih si Ghiffa. 'kan gak usah juga sampe ngomong kayak gitu." komentar-komentar serupa terus terdengar.


Ghiffa benar-benar tidak pandang bulu, laki-laki ataupun perempuan, jika ia rasa sudah mengganggunya, maka ia tidak akan segan untuk memperingatkannya. Aku sendiri merinding jika ditatap dan diberikan kata-kata seperti itu.


Ghiffa meraih tanganku dan membawaku pergi dari sana. Aku mendengar beberapa orang terkesiap melihat apa yang Ghiffa lakukan. Mereka saling berbisik penuh heran dan tanda tanya melihat Ghiffa yang menautkan tangannya di tanganku dan menjauh dari mereka semua menuju gedung utama.


Mereka saja seheran dan seterkejut itu. Apalagi aku? Aku pasrah saja. Tidak ada gunanya mendebatnya sekarang.


Ghiffa berhenti di depan lift yang kebetulan sedang kosong, merogoh sakunya kemudian memberikanku selembar uang. "Beliin gue minuman dingin di mesin minuman di sana. Gue tunggu di atap."


"Tapi Tuan...!" pintu lift sudah menutup sebelum aku memprotesnya.


Harusnya kan dia mengikuti ekskul sama seperti yang lain, kenapa malah ke atap? Oh iya, aku lupa Ghiffa 'kan sudah tidak mengikuti ekskul apapun. Ia sudah keluar dari futsal dan juga basket.


Aku berjalan menuju mesin penjual minuman yang memang tersedia di pojok lantai 1 gedung utama itu. Kemudian aku segera menuju rooftop. Sialnya lift sedang penuh sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan tangga.


Satu per satu aku menapaki anak-anak tangga itu. Bersamaan dengan itu, pikiranku mulai memutar ulang kejadian yang baru saja terjadi. Ada ucapan yang sedikit menggangguku. Aku yakin tadi aku tidak salah mendengar, Zayyan berkata 'cewek lo' dan langsung disahuti teriakan Ghiffa. Seakan Ghiffa ingin menegur Zayyan.


Apa jangan-jangan...?


Hey, gak mungkinlah! Segera aku hempaskan pikiran itu. Bahkan aku tidak berani mengungkapkannya sekalipun itu dalam pikiranku. Itu terlalu mustahil.


Lalu yang kedua, kapten cheers itu mengatakan tentang seseorang yang bernama Oliv, dan mengatakan sesuatu tentang Ghiffa sudah move on darinya. Namanya mirip dengan yang diucapkan oleh Nyonya Natasha tempo hari.


Apakah Olivia dan Oliv ini orang yang sama? Dan apa hubungannya dengan Ghiffa?


Kedua hal itu benar-benar mengganggu pikiranku.