
Mohon kebijakannya untuk membaca Bab ini
"Aa pelan-pelan dong minumnya." Aku meraih napkin dan menyeka mulut Ghiffa yang basah.
"Sejak kapan kamu jadi frontal gini, Yang." Ghiffa masih terbatuk.
"Aa mikirnya apa sih, 'kan banyak yang bisa dilakuin di kamar." ucapku.
"Aku tahu maksud kamu kok, Sayang." Ghiffa menatapku hangat.
Wajahku mulai memerah. "Abis Aanya berubah. Aa jadi gak pernah manja-manja sama aku. Aa juga kayak yang kagok dan gak pernah inisiatif lagi. Tiap mau itu pasti aku duluan yang minta. Atau kayaknya bener ya gara-gara aku gemukan Aa jadi gak pengen lagi sama aku." keluhku dengan cemberut.
"Kamu itu makin cantik seudah naik 5 kg, Yang." Ia membimbingku untuk bangkit dan mendekat padanya. Ia meraih pinggangku, membuat dadaku sejajar dengan wajahnya. "Setelah kamu naik berat badan, kamu makin menggoda tahu. Aku makin terpesona. Kamu jadi gak terlalu kurus. Aku suka karena kamu jadi beneran kayak anak kuliahan, gak kayak anak SMP lagi. Kamu gak nyadar emang dada kamu jadi makin berisi." Ghiffa mulai mengatakan kata-kata nakalnya seraya menatap dadaku yang berada tepat di depan matanya.
Ghiffa menyingkap kaos yang aku kenakan, "Aa ini di luar loh. Kalau ada orang gimana?" Aku kembali menutup kaos yang disingkap olehnya.
"Villa ini privat, Sayang. Gak akan ada yang liat kita." Ghiffa kembali menyingkap kaos yang aku kenakan, menelusupkan tangannya dan membebaskan kedua bukit kembarku dari kungkungannya.
Aku akui memang dadaku menjadi lebih besar setelah aku mengalami kenaikan berat badan. Baju-bajuku yang asalnya terasa longgar, sekarang menjadi lebih ketat. Obat itu benar-benar membuat berat badanku bertambah, maka dari itu aku tidak mengkonsumsinya lagi sekarang.
Tapi resikonya seperti kemarin, aku harus berusaha keras untuk mengendalikan sendiri rasa cemasku. Tapi tidak apa-apa, aku harus belajar mengendalikannya. Lagipula terus-terusan mengkonsumsi obat juga tidak baik.
Ghiffa mulai meraih satu bukit kembarku dan meremasnya, satu jarinya bermain-main di atas puncak merah muda kecoklatan itu, membuat tubuhku mulai bereaksi.
"Kamu suka aku kayak giniin?" tanya Ghiffa menatap kedua mataku\, kabut g*ir*h tergambar jelas disana.
Aku hanya bisa mengangguk malu-malu.
Ghiffa mulai mendekatkan bibirnya ke puncak itu. Seketika melahapnya dan mengulumnya. Tanpa sadar sebuah d*s*han lirih lolos dari bibirku karena kenikmatan yang Ghiffa timbulkan. Kini pergerakan mulutnya itu seperti seorang bayi yang menghisap ASI. Membuat aku mulai kepayahan.
Tanganku mulai meremas rambut hitamnya. Hingga Ghiffa beralih ke bukit kembarku yang lain, dan melakukan hal yang sama. Saat ia melakukannya, kedua matanya melihat ke arahku dan sungguh itu mengintimidasiku hingga wajahku, aku yakin sudah sangat memerah.
Kenikmatan itu sudah hampir mencapai puncaknya, hingga saat Ghiffa melepaskan mulutnya dari puncak bukit kembarku, segera aku melahap bibir Ghiffa. Ia pun menggendong tubuhku, membuat kedua kakiku melingkar di pinggangnya. Kemudian ia berjalan memasuki villa.
Hingga kami tiba di kamar, Ghiffa membaringkanku perlahan di tempat tidur. Kemudian ia mulai melucuti pakaianku dan juga pakaiannya. Siang itu kami melakukannya untuk yang pertama dalam acara honeymoon kami ini.
Ghiffa tak membiarkanku beristirahat, ia terus menyerangku hingga tak terasa sore haripun tiba. Akhirnya sebagai penutup aktivitas panas itu, kami berendam di bathtub sore itu.
Terdapat sebuah jendela besar di kamar mandi villa ini. Aku duduk di bathtub dengan Ghiffa di belakangku. Bathtub itu menghadap ke arah jendela besar itu. Matahari sedang perlahan tenggelam di ufuk barat, dan kami bisa melihatnya dengan jelas dari tempat kami duduk.
"Sunsetnya bagus banget, A." ucapku dengan mata yang terus tertuju pada matahari berwarna jingga itu.
"Iya bagus banget." ujar Ghiffa setuju, "Tapi kita jadi gak jadi jalan-jalannya. Padahal aku tadinya pengen bawa kamu liat sunset itu di pinggir pantai."
"Dari sini juga keliatan bagus kok, A."
"Iya sih. Udah ini tapi kita jalan-jalan ya. " ujar Ghiffa.
"Kenapa sih Aa pengen jalan-jalan terus?"
"Kan tujuan kita kesini emang mau jalan-jalan, 'kan?"
Aku sedikit membalikkan tubuhku, menatap wajah suamiku, "Aa, gak kenapa-kenapa 'kan?"
"Aa... tolong jujur sama aku." Aku menatap curiga padanya.
Ghiffa merengkuh tubuhku\, dan mengistirahatkan dagunya di pundakku. "Sejujurnya aku juga jadi agak tr*um* sejak liat reaksi kamu waktu di apartemen Ghaza. Jadi itulah alasannya kenapa aku jadi gak berani buat minta duluan\, Yang. Aku takut reaksi kamu kayak waktu itu lagi."
Ya Tuhan kenapa aku tidak menyadarinya. Ghiffa juga ternyata mengalami tr*um* atas kejadian itu. Beruntungnya\, tidak sebesar yang aku rasakan.
Aku membalikkan tubuhku dan memeluknya, "Kenapa Aa gak bilang sama aku? Maaf ya aku gak sadar."
"Kenapa kamu minta maaf, Sayang. Aku gak apa-apa, kok. Kamu yang justru aku khawatirin. Kamu sampai harus konsumsi obat, waktu awal-awal seudah kamu pulang dari rumah sakit, kamu terus-terusan histeris. Wajar aku jadi takut buat lakuin itu sama kamu. Aku lebih nunggu kamu yang mau duluan, karena aku takut kamu ngerasa gak nyaman dan PTSD kamu kambuh."
Sekhawatir itu Ghiffa padaku dan juga menjaga perasaanku. Aku sungguh tidak menyangka, Ghiffa sampai seperti itu.
"Ghaza beneran harus dikasih pelajaran!" tiba-tiba saja aku merasa marah sekali.
"Yang...?" Bahkan Ghiffa kini terperangah.
"Aku kesel kenapa aku masih aja ketakutan kalau ketemu dia. Harusnya aku gak usah takut sama dia. Aa jadi sampai kayak gini, aku gak terima!"
Ghiffa malah tertawa, "Kamu marah sama Ghaza gara-gara aku kayak gini?"
"Iya! Aku gak terima Aa sampai kayak gini. Harusnya aku ancurin dia aja sekalian waktu ulang tahun dia waktu itu!"
"Kamu udah lakuin sesuatu yang tepat, Sayang. Kalau kamu ngacauin semuanya, Papa gak akan nerima kita, Papa gak akan ada di pihak kita. Gak akan ngasih restunya sama kita. Terus seudah kejadian itu juga aku gak bisa laporin dia ke polisi padahal kita punya bukti yang kuat."
"Kenapa gak bisa lapor sih, A?"
"Ghaza itu punya dekeng yang kuat di kepolisian. Sebagai orang yang selalu berurusan sama pertanahan, perizinan, dan hal-hal semacamnya. Polisi udah jadi partner solidnya Ghaza. Sebenernya bukannya gak bisa, bisa aja kita laporin. Tapi hasilnya udah bakal kita tebak, dia pasti bakal menang di pengadilan."
Aku tertegun beberapa saat, "Iya juga sih, A. Ini kenapa kita malah jadi kebalik ya? Aa yang biasanya suka emosian, malah jadi pendiem. Aku justru emosi sekarang."
"Iya, gak ngerti juga." Ghiffa malah tertawa. "Ghaza udah hancur kok, Yang." ucapnya yakin.
"Maksudnya?" Aku tidak paham.
"Semenjak tahu kamu PTSD, dia jadi kepikiran. Dia gak konsen kerja. Tender banyak yang gagal. Kerjaan dia banyak yang ketunda. Papa juga jadi sering marah-marah sama dia. Dia kayaknya nyesel banget udah ngelakuin itu sama kamu. Asalnya dia mau jahatin aku kayak biasa dengan cara rebut sesuatu dari aku, tapi ternyata dia malah beneran jatuh cinta sama kamu. Dia bucin banget sama kamu dan baru kali ini Ghaza sekacau itu. Akhirnya dia kena karmanya setelah apa yang selalu dia lakuin ke aku."
"Sampai segitunya, A? Tapi kok Aa gak marah?" Biasanya Ghiffa akan sangat emosi jika seperti itu.
"Buat apa marah? Orang kamunya juga bucin sama aku." ucapnya dengan senyum tengil. Sikap khas Ghiffa perlahan muncul.
Setelah puas berendam sambil bercengkrama, kami keluar untuk mencari makan malam. Kami memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran pinggir pantai dan memesan menu seafood. Makanan disana sangat enak, ditambah suasana romantis di restoran itu membuat kami juga betah.
Sampai malam sudah larut, kamipun sampai di villa. Saat tiba di depan villa, kami melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir disana. Aku dan Ghiffa keluar dari mobil yang kami sewa selama di Bali.
"Mobil siapa ini, A?" Tanyaku saat sudah keluar dari kursi penumpang di sebelah kiri. Ghiffa menggeleng dengan wajah kebingungan.
Seketika seseorang keluar dari pintu penumpang sebelah kanan mobil itu.
Orang itu adalah Ghaza. Ia menghampiriku dan sepersekian detik kemudian tubuhku sudah didekap erat olehnya.