
Aku bersama Ghiffa baru saja tiba di sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Setelah melakukan check in kami memasuki lift menuju lantai dimana kamar yang kami pesan berada, menuju suite room terbaik yang Ghiffa pesan di hotel itu.
Karena Nyonya Natasha terus menerus berada di Kafe dan menolak untuk pergi sebelum Ghiffa memberitahukan dimana ia tinggal sekarang, Ghiffa akhirnya memutuskan untuk membawaku pergi. Kami bingung akan kemana dan akhirnya dia membawaku ke hotel ini.
Beberapa saat kemudian kami sampai di kamar Hotel dan kami merebahkan diri di sofa yang menghadap ke arah dinding kaca dengan pemandangan malam yang indah akibat lampu kota yang berkelap-kelip.
"A, kenapa sih Aa gitu banget sama mamanya Aa? Aa gak kasian sama mamanya Aa?" Jujur aku merasa sangat kasihan pada Nyonya Natasha, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Ghiffa sepenuhnya.
"Sebentar lagi, Yang. Mama belum boleh tahu kalau kita tinggal di atas basecamp. Sampai ulang tahun Ghaza kita bakal rahasiain semuanya."
"Aa bakal ngungkapin kalau kita udah nikah di acara ulang tahunya Tuan Ghaza? A yang bener aja!"
"Iya. Pasti bakal seru." Entah apa yang dipikirkannya hingga ia tertawa saat mengatakannya.
"Aa jangan macem-macem, A. Aku gak seberani itu. Aku gak mau ah dateng ke acara ulang tahunnya Tuan Ghaza."
"Kamu harus dateng, Yang. Katanya kamu bakal megang tangan aku dan akan ngehadepin apapun juga yang ada di depan kita. Ulang tahun Ghaza adalah saat yang tepat buat ngumumin semuanya."
"Jadi Aa emang udah ngerencanain ini? Maksud Aa bilang tunggu saat yang tepat itu pas ulang tahunnya Tuan Ghaza?"
"Iya, Yang. Aku bakal kasih tahu semua orang. Saat acara itu, temen-temen sekolah aku juga bakal dateng. Karena kebanyakan orang tua mereka itu koleganya Papa dan juga Ghaza. Jadi di acara itu kita akan kasih tahu semuanya. Untuk itu aku udah siapin senjata. Dijamin kita gak akan dibilang halu doang."
"Senjata?"
Ghiffa merogoh saku jaket bomber yang digunakannya dan mengeluarkan HPnya, ia memperlihatkan sesuatu padaku.
"Ini bukannya akta nikah? Kok ada foto aku sama Aa? Eh, ada nama aku sama Aa juga? Waktu itu Aa minta kita buat bikin pas foto dan ktp aku buat ini?" Aku tercengang melihatnya.
"Iya, Om Lucas yang ngusahain ini. Tinggal kita tanda tangan dan udah deh, kita gak hanya sah di mata agama tapi juga hukum."
"Tapi A, orang tua Aa pasti bakalan syok?! Pihak sekolah gimana? Gak apa-apa kalau Aa ketahuan udah nikah?" Bagiku yang berstatus mahasiswa tidak akan terjadi masalah jika pernikahan kami tersebar luas. Tapi bagi Ghiffa yang masih sekolah? Aku tidak yakin.
"Gak ada larangan anak sekolah gak boleh nikah, Yang. Tergantung sekolahnya juga sih. SMA Centauri gak akan sampai berani ngeluarin aku dari sekolah. Mama udah nyumbang banyak buat sekolah soalnya."
Aku menatap Ghiffa dengan lelah. Hidupku berubah seperti berlaga di sebuah film action saat sudah mulai mengenalnya. Penuh dengan tantangan dan adegan menegangkan. "Aa serius?"
"Semangat ya." Ghiffa mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Sepertinya ia tahu aku begitu khawatir. Efek dari hal yang akan dilakukannya akan sangat besar pengaruhnya terhadap kami.
"Aku takut, A." Saking kacaunya pikiran dan perasaanku, aku masuk ke dalam pelukan suamiku, mencari ketenangan disana.
Mulai kurasakan kedua tangan Ghiffa merengkuh tubuhku, dagunya berada di puncak kepalaku. "Bohong kalau aku bilang aku gak takut. Aku juga takut, Yang. Tapi ini adalah satu-satunya cara supaya mereka bisa nerima pernikahan kita."
"Nyonya Natasha pasti marah banget." Aku tak bisa membayangkannya. Dia pasti sangat murka pada kami, terlebih padaku.
Aku menyelami kedua mata hitam berkilauan itu dan mengangguk pelan, "Perasaan aku sama Aa gak akan berubah karena perlakuan orang tua Aa, kok. Aku sayang banget sama Aa."
Wajah Ghiffa mendekat dan bibir kamipun bersatu. Rasanya setelah mendengar rencana nekat Ghiffa ini, kami membutuhkan energi baru. Sehingga tanpa dapat kami cegah, kami membutuhkan untuk melakukan penyatuan lagi.
Seperti biasa semua kepenatan dan ketakutan seakan terangkat begitu saja saat kami mulai melakukan aktivitas yang penuh kenikmatan itu.
Pada penyatuan kali ini juga, aku bisa merasakan Ghiffa lebih liar dari biasanya. Semenjak kepulangan kami dari Lembang waktu itu, seperti ada amarah dalam diri Ghiffa setiap kami melakukannya. Ia memasukiku dengan berbagai posisi di setiap sudut kamar hotel itu, tanpa jeda dan tanpa ampun. Tenaganya seakan tidak pernah habis bahkan setelah beberapa kali pelepasan. Membuat aku benar-benar kepayahan.
Hingga setelah lewat tengah malam kami ambruk ke tempat tidur. Tubuh kami penuh peluh. Namun hatiku terasa begitu ringan, justru kini kedua kelopak mataku yang begitu berat. Hingga tanpa sadar akupun terlelap di dalam dekapan tubuh polos Ghiffa.
Pagi harinya sekitar pukul 4 aku terbangun. Aku membangunkan juga suamiku yang masih terlelap di sampingku.
"A, bangun. Udah subuh." Ku kecup pipinya beberapa kali, tapi tak ada reaksi. Sepertinya ia begitu kelelahan hingga tak bergeming sama sekali.
Akhirnya akupun ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku, kemudian tak lupa aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang hamba. Setelah selesai aku melihat Ghiffa masih terlelap di posisi yang sama seperti sebelum aku meninggalkannya.
Aku menghampiri suamiku dan duduk di sampingnya, "Aa, bangun A. Subuh dulu yuk." Aku menepuk-nepuk pipinya agak keras. Ghiffa mulai bereaksi dan kini matanya mulai terbuka menatapku.
"Tangan kamu dingin, Yang." ucapnya dengan suara serak khas saat bangun tidur. Ia menyingkirkan tanganku yang menyentuh pipinya.
"Iya aku 'kan abis mandi. Bangun yuk."
Ghiffa malah memindahkan kepalanya ke atas pangkuanku dan menyembunyikan matanya di antara perut dan pahaku, "Kenapa gak mandi bareng."
"Tadi udah aku bangunin, Aa gak bangun-bangun. Aa mandi dulu yuk." bujukku.
"Aku sedih."
Aku mengerutkan dahi, "Sedih kenapa?"
"Sekarang kamu gak akan hamil kalau kita ngelakuin itu." lirihnya.
Aku menghela nafasku. Jadi itu alasannya mengapa Ghiffa terasa berbeda saat memasukiku setelah kepulangan kami dari kampung halamanku.
Seminggu yang lalu, saat kami pulang ke Lembang, Ayahku memaksaku untuk memasang alat kontrasepsi. Beliau bersih kukuh. Aku tidak diperbolehkan untuk hamil. Setidaknya sampai Ghiffa lulus SMA. Ayahku sepertinya masih sedikit meragukan mengenai pernikahan kami ini. Ia takut jika kami tiba-tiba memutuskan untuk berpisah, mengingat usia Ghiffa yang masih sangat muda, masih berada di usia dengan emosi yang sangat labil. Jika kami berpisah dalam keadaan sudah ada anak diantara kami, itu akan sangat sulit bagi kami, apalagi untuk anak kami kelak. Juga ayahku terus mewanti-wanti, membesarkan seorang anak tidaklah mudah.
Maka dari itu ayahku tidak mau itu terjadi.
Ghiffa sempat menolak dan bersih kukuh bahwa kami tidak akan sampai bercerai. Ia bahkan mengatakan bahwa ia siap menjadi seorang Ayah. Tapi Ayahku tetap pada keputusannya. Ia mengatakan wayahna sampai Ghiffa setidaknya lulus SMA, Ayahku akan terus ikut campur dan mengawasi kami.
Ghiffa tidak bisa apa-apa selain menuruti apa kata ayahku.