
Setelah makan malam itu, aku dan Ghiffa masuk ke sebuah kamar. Pandanganku beredar tatkala memasuki kamar itu, kamar yang sungguh sangat luas dan mewah.
"Ini kamar Aa?" Tanyaku tak percaya. Bagiku kamarnya di apartemennya dulu saja sudah begitu nyaman dan luas, tapi ini jauh lebih luas lagi. Seakan satu apartemennya menjadi satu kamar ini.
"Iya. Dulu ini kamar aku, Yang. Gak ngerti juga kenapa dulu Kakek bangun rumah ini dengan kamar yang gede-gede kayak gini." Ujar Ghiffa membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Besar banget sih, A." Aku masih terperangah seraya menghampirinya.
"Kamar Ghaza lebih luas lagi." Ujarnya sambil menutup matanya.
Itu benar. Aku ingat awal aku datang ke rumah ini untuk mengambil bahan masakan waktu itu, aku sempat masuk ke kamar Ghaza dan kamar itu memang sedikit lebih luas dari kamar ini.
Satu hal yang kadang sampai hari ini masih belum bisa aku percayai adalah bahwa aku sudah menikahi Ghiffa yang seorang anak konglomerat. Juga kenyataan dimana ia justru tidak bahagia dengan segala kemewahan dan kenyamanan ini.
Mengingatnya membuat aku begitu bersyukur walaupun aku hidup dengan sederhana, tapi aku sungguh diberkahi karena memiliki keluarga yang saling menyayangi.
Benar kata sebuah lagu, harta yang paling berharga adalah keluarga.
"Sini, Yang." Pinta Ghiffa mengulurkan tangannya padaku.
Aku segera menghampirinya dan membaringkan tubuhku disampingnya, memeluknya.
"Aku bener-bener gila selama gak ketemu kamu," Ghiffa merengkuh tubuhku erat ke dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepalaku beberapa kali. "Aku kangen wangi kamu."
Itu pula yang persis aku rasakan selama berpisah dengan Ghiffa.
"Aku juga kangen sama Aa." Aku menumpukan sikutku agar bisa melihat wajahnya yang sedang terbaring. Aku meraih pipinya dan membelainya. Masih belum percaya semua kegilaan itu sudah selesai dan kami kembali bersama seperti ini.
"Kangen banget, A. Sampai-sampai rasanya kayak mimpi aku bisa ketemu Aa lagi kayak gini." Tak terasa mataku memanas dan pandanganku buram terhalang air mata yang mulai menggenang di mataku.
Ghiffa mengangguk cepat, matanya pun memerah dan berair. Segera ia mulai memelukku lagi. "Aku beneran gak bisa ternyata kalau gak ada kamu, Yang."
Aku mengangguk setuju dalam pelukan suamiku. Kilasan kejadian itu kembali hadir dalam ingatanku. Kami berdua pun mulai terisak. Merasa begitu lega dan juga bersyukur saat-saat menyiksa itu sudah berakhir.
Selama berada di rumah sakit, tak ada yang menyinggung perihal ini. Semua berkonsentrasi pada pemulihan kami berdua. Kami juga tidak punya waktu untuk saling mengungkapkan betapa leganya kami bisa bertemu kembali.
Dan sekaranglah saatnya, kami pun melepas rindu itu dengan menangis bersama penuh haru.
"Kamu gak apa-apa 'kan, Yang? Apa Ghaza macem-macemin kamu lagi?" Tanya Ghiffa saat isak kami mulai mereda.
"Nggak, A. Untungnya dia gak ngapa-ngapain." Aku berusaha menguasai emosiku.
"Syukurlah, Yang." Ujar Ghiffa. "Kita bisa lega sekarang karena Ghaza udah gak akan ganggu kita lagi."
"Aku gak nyangka Papa berubah. Rasanya aneh banget." ujar Ghiffa.
"Selalu ada hikmah dari segala sesuatu yang terjadi, A. Syukurlah sekarang Papa udah bisa nunjukin rasa sayangnya sama Aa, sama Mama. Juga bisa berlaku adil sama Aa."
"Tapi rasanya aku justru kesel. Dan terus-terusan aku nanya, kenapa baru sekarang? Seudah aku ngalamin waktu paling sulit sepanjang hidup aku, Yang."
"Ikhlas, A." Ujarku. "Papa bilang kalau selama ini sebenernya Papa sayang sama Aa dan Mama. Tapi beliau selalu menyembunyikan itu. Itu artinya bagi Papa selama ini memang sesulit itu buat ngungkapinnya. Hati beliau tertutup egonya. Tapi sekarang beliau bisa berubah. Itu artinya juga kejadian yang menimpa Aa kemarin itu bener-bener bikin Papa merasa tertampar dan akhirnya mengubah pandangannya. Percaya deh A, selama ini gak cuma Aa dan Mama yang gak bahagia, Papa juga pasti gak bahagia dengan semua yang dia lakuin ke Aa dan Mama."
Ghiffa menghela nafas panjang. "Iya, Yang. Kamu bener. Saat kita benci sama seseorang dan nyakitin orang lain, gak cuma orang lain yang sakit, tapi kita juga. Kayak kalau aku abis mukul seseorang. Orang yang aku pukul itu pasti sakit, tapi tangan aku juga sakit banget, Yang."
"Iya, A. Makanya sekarang Aa harus bisa maafin Papa. Juga, Ghaza."
"Kamu serius mau maafin Ghaza?" Ghiffa sepertinya sangat tercengang mendengar aku mengatakan itu.
"Harus, A. Supaya kita tenang dan bisa lanjutin hidup kita dengan baik, tanpa dendam. Langkah Papa bikin Ghaza pergi dari sini itu udah tepat banget sih, A. Semoga baik kita ataupun dia bisa sama-sama merenungkan semuanya, dan ke depannya kita bisa ngelupain semua yang udah terjadi."
"Aku gak yakin bisa maafin dia." ucap Ghiffa, masih sulit sepertinya baginya.
"Iya pasti susah buat Aa. Apalagi perlakuan dia ke Aa yang kayak gitu udah berlangsung sejak Aa masih kecil. Tapi bukan berarti gak bisa. Aa bisa coba pelan-pelan."
Ghiffa tidak menjawab lagi, ia malah memelukku semakin erat. Tentu saja. Tidak semudah itu bagi Ghiffa memaafkan semua perlakuan Ghaza selama ini terhadapnya. Tapi aku yakin, suamiku ini adalah orang yang berjiwa besar. Ia pasti bisa melepaskan bencinya suatu hari nanti.
Tanpa sadar setelah obrolan itu kamipun tertidur.
Keesokan harinya kami bangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Selama beberapa hari ini kami memutuskan untuk memulihkan kondisi fisik dan juga psikis kami sebelum kembali ke aktivitas kami seperti biasa. Kami juga terus berada di rumah itu. Aku bersih keras untuk berada disana karena jujur aku mencemaskan ayah mertuaku.
Tiba-tiba saja istrinya pergi dan putra kesayangannya tidak akan ia temui dalam waktu yang lama. Aku yakin Ayah mertuaku yang selalu terlihat tangguh itu membutuhkan juga penyembuhan di hatinya. Maka, mengapa kami tidak bersama-sama disini dan menyembuhkan semua luka kami bersama-sama.
Semakin hari Ghiffa mulai bisa membuka hatinya dan membiarkan ayah mertuaku menebus semua yang tak diberikannya selama ini pada putra keduanya itu. Setiap beliau pulang kerja, kami selalu melakukan semua hal bersama-sama. Makan bersama, menonton, berjalan-jalan di taman belakang, bermain bola, dan hal lain.
Aku begitu lega, saat melihat Ghiffa kini bisa dengan luwesnya merangkul sang ayah, tertawa bercanda bersama, dan juga mengobrol banyak hal.
Ghiffa terlihat begitu bahagia, begitu juga dengan ayah mertuaku.
Namun ada satu hal yang kurang saat melihat kebersamaan mereka. Ibu mertuaku.
Kadang aku memergoki ayah mertuaku terdiam dan melamun. Aku yakin ia sangat bahagia karena bisa berhubungan baik dengan Ghiffa sekarang, tapi hatinya tidak berbohong bahwa ada rasa hampa yang beliau rasakan.
Alangkah sempurnanya jika Nyonya Natasha berada disini bersama kami.