The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 104: Kakak Terbaik



Ghiffa's point of view


Para pemain orkestra memainkan lagu bertema ulang tahun sejak Ghaza dan Ayana melangkah menuju panggung. Disana kue ulang tahun setinggi satu meter didorong dengan sebuah kereta dorong oleh para pelayan. Semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun hingga Ghaza meniup lilin di puncak kue itu. Kemudian tepukan yang meriah terus terdengar dari para tamu. Ghaza tersenyum sumringah. Ia menoleh pada Ayana dan menempelkan pipi kanan dan pipi kirinya di pipi Ayana. Ayana menyambutnya, masih dengan senyum yang bahagia.


Ghiffa menghela nafasnya berkali-kali. Ia terus berusaha agar tidak terbakar cemburu melihat kedekatan Ayana dan Ghaza di atas sana. Tangan Ghaza selalu ada di pinggang Ayana ketika mereka berada di atas panggung, membuat Ghiffa ingin mematahkan tangan sang kakak saat melihatnya.


Kini Ghaza dipersilahkan oleh pembawa acara untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Seorang petugas menyiapkan standing mic di depan Ghaza untuk berbicara.


"Selamat malam, semuanya." Suara Ghaza terdengar di pengeras suara. Ia mulai mengungkapkan rasa terimakasihnya pada semua tamu atas kehadiran dan juga ratusan kado yang diterimanya. Ia juga berterimakasih pada kedua orang tuanya yang telah merawatnya sejak kecil hingga sekarang dengan segala kenyamanan dan tanpa kekurangan sesuatu apapun.


"Terakhir, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada wanita di samping saya," Ghaza menoleh ke arah Ayana sesaat dengan tatapan yang hangat dan gadis itu membalasnya dengan tatapan yang sama. "Dia adalah perempuan yang sangat spesial bagi saya."


Kemudian terdengar gemuruh sorakan dari para penonton mendengar penuturan Ghaza. Lampu flash dari para wartawan yang mengambil gambar dari sisi depan dan sebelah kanan pangggung terus mengarah pada mereka.


Ayana masih tersenyum manis pada Ghaza, lalu ia mendekat pada telinga Ghaza dan membisikkan sesuatu. Ghaza terlihat agak terkejut namun Ayana segera mengambil alih mic yang berdiri di depan Ghaza.


Ayana memposisikan mic itu agar sejajar dengan bibirnya. "Mohon maaf, saya izin berbicara." Kini suara Ayana terdengar ke seluruh ruangan megah itu.


Ghiffa kembali dibuat tercengang atas sikap luwes dan berani Ayana untuk menginterupsi Ghaza yang sedang berpidato di depan.


"Saya perlu mengklarifikasi sesuatu." ucap Ayana dengan nada ceria, "Saya dan Mas Ghaza tidak ada hal seperti itu ya, semuanya. Mas Ghaza ini adalah kakak ipar saya."


Para hadirin di Ballroom itu segera riuh mendengar pernyataan Ayana. Wajah Ghaza memucat kebingungan, sedangkan sebuah senyuman tipis muncul di wajah Ghiffa. Natasha dan Musa membatu diposisinya, mereka menatap ke arah Ghiffa dan ke arah panggung bergantian. Mencoba mencerna situasi yang terjadi.


Diana yang duduk di meja sebelah menepuk lengan Natasha, "Ayana itu menantunya Jeng Natasha?" Natasha hanya tertawa canggung, bingung akan menjawab apa.


Ayana meraih lengan Ghaza lagi, "Jadi mohon jangan salah paham dengan kedekatan kami."


Ayana menatap hangat pada Ghaza. "Mas Ghaza adalah sosok kakak yang sangat saya hormati. Hadirin sekalian, kalian sendiri sudah mengetahui sehebat apa pria yang berdiri di samping saya ini. Pengusaha muda yang dikagumi oleh banyak orang dengan segudang prestasi yang telah diraihnya di usia yang masih sangat muda. Dia adalah kebanggaan untuk keluarga Airlangga." ucapan Ayana itu disambut riuh para tamu.


Ghaza menatap Ayana dengan penuh tanya, dibalas dengan tatapan hangat Ayana.


"Mas Ghaza ini juga," Ayana melanjutkan, "tidak hanya seorang sosok pekerja keras, dan bertangan dingin dalam membantu ayahnya menjalankan perusahaan, tapi juga sosok anak yang begitu membanggakan bagi kedua orang tuanya. Juga kakak yang sangat baik dan perhatian."


Seorang wartawan yang menggunakan setelan jas berwarna abu tua dengan name tag 'pers' menggantung di lehernya, sudah sangat penasaran. "Mbak Ayana, kalau Pak Ghaza adalah kakak ipar anda. Berarti suami anda adalah putra kedua Pak Musa?"


Ayana tersenyum penuh arti pada wartawan itu. Ia mengalihkan pandangannya kepada Ghiffa, bibirnya mendekat ke arah mic lagi, "Sayang, bisa bergabung ke atas panggung?"


Perlahan Ghiffa melangkah ke arah Ayana. Gadis itu sumringah seraya mengulurkan tangannya pada Ghiffa. Ghiffa menyambut tangan sang istri. Ayana menatap Ghiffa yang masih sedikit kebingungan dan merangkulnya. Wajah Ghaza sudah sangat tidak nyaman.


"Sebelumnya kami mohon maaf karena belum membuat pengumuman resmi atas pernikahan kami. Sebetulnya kami cukup bingung apakah harus mengumumkannya atau tidak, mengingat suami saya ini yang masih berstatus sebagai seorang siswa SMA, juga saya yang masih berstatus mahasiswa. Namun Mas Ghaza dengan segala kemurahan hatinya, mengatakan bahwa pernikahan adalah berita yang sangat baik, sudah seharusnya disebarluaskan. Maka dari itu, Mas Ghaza mengizinkan kami untuk mengumumkan langsung pernikahan kami di acara ulang tahunnya ini kali ini."


Para wartawan segera riuh ke depan panggung. Flash dari kamera mereka terus menyala dan menyorot Ayana dan juga Ghiffa. Ghaza justru terlupakan begitu saja. Para wartawan terus membombardir Ayana dan juga Ghiffa dengan pertanyaan mengenai pengumuman mereka yang begitu menggemparkan itu. Di meja paling depan, Natasha dan Musa juga terus mendapatkan banyak pertanyaan dari para koleganya. Mereka hanya bisa tersenyum canggung tak bisa menjawab satupun pertanyaan terlontar pada mereka.


Para petugas keamanan segera menertibkan semua wartawan yang ada.


"Mohon tenang, hadirin sekalian." Ucap Ayana. "Saya akan menjelaskan semuanya."


Ayana melepas rangkulannya pada Ghiffa dan berdiri di depan standing mic, "Mungkin ini berita yang begitu tiba-tiba dan mengejutkan banyak orang, maka itu saya ingin meminta maaf telah membuat gaduh. Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Ayana Pitaloka. Saya adalah seorang anak petani sayur yang berasal dari sebuah desa kecil di Bandung Barat. Sekitar dua tahun lalu saya pergi merantau ke Jakarta untuk kuliah di Universitas Z jurusan Agribisnis. "


Para tamu kembali gaduh. Kebanyakan dari mereka begitu terkejut mendengar Ayana yang begitu jujurnya mengatakan bahwa ia adalah anak dari seorang petani. Orang-orang mulai membicarakan mengenai status sosial Ayana dan Ghiffa yang begitu berbeda. Terlebih mereka menjadi semakin penasaran bagaimana bisa seorang anak petani bisa menikah dengan seorang putra dari seorang presiden direktur perusahaan besar, mengapa Musa Airlanggga bisa memberikan restunya.


"Saya bertemu tidak sengaja dengan Ghiffa di sebuah acara, dan kamipun berkenalan." dusta Ayana. "Sejak itu kami semakin dekat dan saling menyukai. Ghiffa juga mengenalkan saya kepada Mas Ghaza, kakak yang sangat dihormatinya. Awalnya perbedaan umur dan juga status sosial menjadi penghalang yang sangat besar bagi kami." Ayana menoleh pada Ghiffa lalu pada Ghaza dan tersenyum padanya.


Ghaza kini tak menampakkan ekspresi apapun.


Ayana pun melanjutkan ucapannya, "Tapi Ghiffa selalu mendapat dukungannya dari Mas Ghaza. Mas Ghaza mengatakan bahwa tak ada yang salah dengan adanya perbedaan di dalam suatu hubungan. Jika kalian saling menyukai, maka perjuangkan."


Para tamu yang mendengar begitu tersentuh dengan ucapan Ayana, merekapun mulai bertepuk tangan merasa kagum atas kata-kata yang disampaikan oleh Ghaza kepada Ayana dan Ghiffa.


Ayanapun melanjutkan. "Sampai suatu ketika, sebuah insiden terjadi. Terjadi sebuah kesalahpahaman pada saat Ghiffa berkunjung ke kampung halaman saya beberapa bulan lalu. Insiden itu membuat hubungan kami yang hanya sebatas berpacaran, secara mendadak harus melangsungkan pernikahan. Kami sempat berdebat, orang tua saya juga sempat tidak setuju dengan pernikahan ini. Seperti yang diketahui Ghiffa masih sekolah. Saya juga masih kuliah. Usia dan status sosial kami juga sangat jauh berbeda. Bagaimana mungkin kami tiba-tiba harus menikah? Lalu Ghiffa memberitahukan ini kepada Mas Ghaza. Dengan sangat mengejutkan, ternyata Mas Ghaza mendukung penuh niat baik Ghiffa untuk mempersunting saya. Mas Ghaza juga mengatakan bahwa Ghiffa tidak perlu mengkhawatirkan kedua orang tuanya, biarlah itu menjadi tanggung jawab Mas Ghaza."


Para tamu kembali terkagum-kagum pada sosok Ghaza.


Tatapan penuh hormat dari Ayana tertuju pada Ghaza. "Walaupun sempat tidak mendapat restu dari kedua orang tua Ghiffa, Mas Ghaza terus membantu Ghiffa untuk meyakinkan Pak Musa dan juga Bu Natasha, hingga akhirnya kamipun mendapatkan restu itu." Ayana menoleh pada Ghiffa dan menggenggam tangannya.


"Maka dari itu, saat ini saya dan juga suami saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada kakak terbaik kami, Alghazali Airlangga. Atas semua dukungan, dorongan, dan kasih sayangnya kepada kami hingga kami bisa berada pada tahap ini. Mohon tepuk tangan untuk kakak terbaik kami."


Para tamu mulai bertepuk tangan. Tak jarang bahkan mereka sampai berdiri untuk memberikan tepuk tangan dengan penghormatan tertinggi untuk Ghaza.


Ghiffa hanya bisa tersenyum mendengar semua sandiwara Ayana. Ia begitu puas melihat sang kakak yang hanya bisa berdiam diri dengan wajah yang dipaksakan untuk tersenyum saat mendengar segala penuturan Ayana.