The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 120: Selamat Berusia 18 Tahun



Mohon kebijakannya saat membaca bab ini


"Sayang..." Ghiffa mengusap wajahnya antara jengkel dan lega.


"Gara-gara obat itu, A!!" Ku bulak-balikkan badanku ke kiri dan kanan dan menatap pantulan diriku di kaca itu. Aku sentuh pipi, lengan, perut, dan bagian belakang tubuhku. "Ya ampun. Selama ini aku pengen nambah berat badan gak pernah bisa. Tapi sekarang malah tiba-tiba naik 5 kg cuma dalam waktu seminggu! Aku bisa gemuk lama-lama kalau terus minum obat itu! Terus nanti Aa gak suka lagi sama aku gimana!" dumelku panik sekali.


Ghiffa mendekat padaku dan memelukku dari belakang. Ia menatap pantulanku di cermin di depan kami. "Aku bakal tetep sayang sama kamu mau kamu kayak gimana juga, kok."


"Bohong, ah. Sekarang aja ngomong gitu, kalau aku beneran udah jadi gemuk Aa nanti malah gak suka." ucapku cemberut.


"Yah, gak percaya. Beneran, Sayang." ucapnya lembut.


"Aa kok berubah gitu sih sikapnya sama aku?" tanyaku akhirnya.


"Berubah gimana, Sayang?" tanya Ghiffa.


"Aa kayak bukan Aa. Aa jadi baik banget, perhatian banget, kayak hati-hati banget sama aku. Padahal dulu gak kayak gini. Sekarang aku malah ngerasanya Aa yang lebih tua dari aku."


Ghiffa malah tersenyum, "Masa sih? Jadi kamu gak suka kalau aku perhatian dan baik sama kamu? Jadi gak suka kalau aku kayak gini?"


"Suka sih, tapi Aa jadi kayak yang kagok sama aku." Aku melepas pelukan Ghiffa dan membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya.


Kujinjitkan kakiku, kulingkarkan tanganku di sekeliling lehernya, dan kuselami kedua matanya. Kutarik tengkuk Ghiffa dan menciumnya. Tanpa sadar kututup mataku dan bibir kami terus bertemu beberapa saat. Semakin lama, semakin dalam. Nafasku sudah menderu, sensasi nikmat itu sudah menjalar di inti tubuhku.


Namun kemudian Ghiffa menjauh. Ia menyeka bibirku dengan ibu jarinya, "Sekarang kamu pakai baju, terus kita tidur ya." Ia mengusap puncak kepalaku pelan dan meninggalkanku begitu saja di kamar mandi.


Serius? Dia benar-benar menghentikannya begitu saja?


Sehati-hati itu Ghiffa padaku sekarang. Ghiffa yang biasanya tak pernah bisa membendung rasa itu, kini begitu membuat jarak denganku. Sekhawatir itukah suamiku padaku?


Aku sangat bisa memahaminya. Pasti sulit baginya juga setelah melihat reaksiku waktu itu.


Tapi seharusnya ketakutan itu dihadapi, bukan dihindari 'kan? Saat aku menciumnya barusan, sekelebat sosok Ghaza yang memaksaku menciumnya sempat muncul. Tapi segera aku fokuskan pikiranku pada Ghiffa.


Tak akan kubiarkan Ghaza menggangguku lagi. Perasaanku dan Ghiffa jauh lebih besar dan lebih penting dari ketakutanku itu. Sudah cukup. Aku harus segera bangkit dan menghadapinya.


Jujur, pertemuanku dengan Ghaza tadi juga sedikitnya menyadarkanku bahwa meskipun semua itu berakhir dengan aku yang dikuasai kembali oleh rasa cemas yang berlebihan, hingga aku harus mengkonsumsi obat itu lagi, tapi sekarang entah mengapa aku merasa jadi lebih siap jika seandainya harus bertemu dengannya lagi.


Memang benar, ketakukan itu dapat kita taklukkan jika kita beranikan diri kita untuk menghadapinya, bukan malah menghindarinya.


Baiklah, ini saatnya aku keluar dari kubangan ketakutan yang Ghaza sebabkan.


Perlahan aku keluar dari kamar mandi. Aku melihat Ghiffa duduk berselonjor dengan punggung bersandar ke headboard tempat tidur. Ia sedang sibuk menscroll ponselnya. Lampu sudah ia matikan. Hanya lampu tidur yang menerangi kamar kami sekarang.


Saat melihatku, ia tersenyum. Aku mendekat padanya dan berdiri tidak jauh dari tempat tidur.


"Sayang, yuk cepet pakai bajunya. Kita tidur." bujuknya lembut.


Aku tak begitu suka dengan sikap Ghiffa seperti ini. Bukan tidak suka karena ia berubah menjadi lembut, tapi karena dinding tak kasat mata yang berdiri kokoh diantara kami.


Akan ku kembalikan Ghiffaku yang begitu buas di ranjang sekarang.


Perlahan aku meraih sedikit bagian handuk yang kuselipkan di bagian dadaku, dan menjatuhkannya begitu saja ke lantai. Tubuh polosku yang kini lebih berisi dari sebelumnya terpampang nyata di hadapannya.


Ghiffa mulai bereaksi, wajahnya terkejut dan kulihat jakunnya naik turun, menelan salivanya.


Aku menghampirinya dan naik ke pangkuannya, "Aa, aku kangen." lirihku seraya mengusap lembut lehernya.


"Aku pengen Aa..." ucapku dengan lebih berani.


"Sayang..." Ghiffa terlihat sungkan. "Kamu belum sembuh."


Kuraih tangannya dan kuletakkan tangan hangat dan besarnya di salah satu bukitku. "Tapi aku pengen Aa cium aku, pegang aku, kayak biasanya..." lirihku.


Tanpa dapat menunggu akupun kembali mencumbunya. Melahapnya dengan rakus. Berharap Ghiffa bisa terbangun dan menjam*hku seperti sebelum kejadian itu.


Ghiffa masih menahannya, aku bisa merasakan dari pergerakan bibirnya, juga tangannya yang masih hanya sekedar menempel di salah satu bukitku. Kuraih kaosnya dengan bibirku yang masih bermain di bibirnya hingga ciuman itu harus tertunda sebentar karena kaos yang sedang kulepaskan melewati kepala Ghiffa.


"Sayang... Udah dulu ya?" bujuknya, masih dengan suara yang lembut.


Tidak. Aku tidak mau. Lagipula aku sudah tidak apa-apa.


Akhirnya aku mulai menjelajahi leher Ghiffa. Kemudian bibirku turun dan semakin turun. Hingga ku sentuh inti tubuh Ghiffa yang sudah menegang. Aku cukup tercengang Ghiffa masih bisa menahannya. Bibirku mulai bermain disana, di inti tubuh Ghiffa.


Sampai kapan ia akan menahannya? Aku ingin tahu.


Hingga pertahanan Ghiffa akhirnya runtuh juga. Ghiffa menyergapku dan mulai mencumbu bibirku kembali, kali ini dengan pergerakan yang sudah aku tunggu-tunggu sejak tadi. Pergerakan yang selalu dilakukannya saat sudah dikuasai sensasi nikmat itu.


Ghiffaku sudah kembali.


Kini permainan sepenuhnya diambil alih oleh Ghiffa. Aku hanya pasrah saat Ghiffa membaringkanku dan mulai melahap setiap inci tubuhku.


Kemudian akhirnya inti tubuh Ghiffa menembusku dan mulai membuatku merasakan kenikmatan itu lagi.


Ia membungkuk padaku dan mendekatkan bibirnya pada telingaku, "Kamu makin cantik, Sayang." lirih Ghiffa.


Bahagia. Hanya itu yang aku rasakan sekarang. Akhirnya bisa aku rasakan lagi penyatuan itu setelah waktu-waktu terpurukku. Juga tak ada gangguan yang tiba-tiba menelusup ke dalam pikiranku. Sebenarnya ada, tapi itu sama sekali tidak menggangguku.


Pikiranku, perasaanku, sepenuhnya terfokus pada laki-laki yang tengah memasukiku ini.


Bunyi alarm dari ponselku berbunyi. Bertepatan dengan itu kami mencapai puncak kenikmatan itu untuk yang kedua kalinya. Dan kami dapatkan puncak itu secara bersama-sama. Kamipun berbaring di ranjang dengan nafas menderu.


Sejenak aku mengumpulkan sisa tenagaku kemudian meraih ponselku untuk mematikan alarm itu.


"Alarm apa jam segini, Yang?" tanya Ghiffa.


Aku kembali mendekat pada Ghiffa yang masih berbaring di sebelahku dengan tubuh penuh peluh. Kutatap kedua matanya dengan hangat, "Selamat ulang tahun Suami kecilku. Selamat berusia 18 tahun."


"Kamu...inget hari ini ulang tahun aku?"


Aku mengangguk semangat, "Iya, dong. Masa suami aku ulang tahun aku gak inget? Aku nyalain alarm takutnya ketiduran dan gak bisa jadi orang pertama yang ucapin pertama sama Aa."


Ghiffa tersenyum lembut, sepertinya ia terharu sekali.


"Eh, tunggu." Aku meraih kaos Ghiffa yang tergeletak di ranjang dan memakainya. Aku beringsut ke arah nakas. Om Lucas mengatakan sudah menyimpan sebuah bento cake di lemari nakas saat sebelum aku dan Ghiffa kembali ke rumah untuk mengantar ayahku dan Asha ke kamar.


Bento cake itu dihias dengan gambar wajah Ghiffa. Seorang karyawan kafe yang membuatnya. Lumayan mirip dan lucu saat aku melihatnya, serta sebuah lilin kecil sudah tersedia di kotak bento cake itu.


Akupun menyanyikan lagu selamat ulang tahun saat sudah menyalakan lilinnya. Tepat saat aku sudah selesai bernyanyi, Ghiffa meniup lilin itu. Akupun bersorak, "Yeeeiiii! Selamat ya, Aa." Aku meletakkan bento cake itu di nakas.


Lalu aku kembali menatap Ghiffa dengan meraup kedua pipinya, "Aa, makasih ya udah lahir ke dunia ini. Udah tumbuh dengan baik dan jadi laki-laki yang hebat. Sampai akhirnya sekarang kita bisa ketemu dan nikah kayak gini. Makasih banyak, Aa. Semoga semua yang Aa pengen bisa tercapai, dan suatu hari Aa bisa jadi orang yang sukses, bahagia, dan sehat selalu."


Ghiffa memelukku erat seraya berkata, "Makasih... Makasih, Sayang."