The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 84: Aa Ghiffa



Ghiffa menjatuhkan dirinya ke sampingku tepat setelah ia mencapai puncak. Matanya terpejam, nafasnya masih menderu, dan seluruh tubuhnya penuh peluh.


Berbeda denganku yang tidak terlalu bersimbah peluh, karena aku memang tidak banyak melakukan pergerakan. Tapi tubuhku rasanya lemas sekali. Setelah rasa sakit yang aku rasakan di inti tubuhku saat awal Ghiffa memasukiku, perlahan sakit itu berganti dengan kenikmatan yang baru aku rasakan kali ini.


Ternyata seperti ini rasanya?


Perlahan nafas Ghiffa mulai kembali beraturan. Ia membuka matanya dan mengubah posisinya sehingga menghadap ke arahku. Ia mendekat padaku dan mengecup bibirku pelan seraya berkata, "Makasih, Yang."


Aku hanya tersenyum seraya menyeka keringat yang tersisa di pelipisnya. Ghiffa terlihat berkali lipat lebih tampan.


"Kamu haus?" tanya Ghiffa.


Aku mengangguk. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Diambilnya boxer miliknya, memakainya, dan berjalan menuju pintu. Tak lama ia membawa segelas air.


Aku bangkit dari posisiku dan meraih air yang Ghiffa bawa, "Makasih, Ghiffa." Air dalam gelas itu langsung habis dalam beberapa teguk.


Haus sekali rasanya setelah melakukan aktivitas barusan!


Ghiffa kembali membuka lemarinya dan meraih sebuah kaos miliknya, kemudian berjongkok di depanku dan memakaikan kaos itu padaku.


"Aku 'kan ada baju?" tanyaku. Kini tubuhku tertutup kaos Ghiffa yang kebesaran.


"Koper kamu masih di bagasi mobil. Pakai kaos aku dulu aja. Biar gampang buka laginya." Ujarnya.


"Kamu masih mau lagi?" tanyaku heran.


"Iya dong. Tapi istirahat dulu ya."


Ya ampun, inti tubuhku saja masih terasa linu. Ia masih ingin lagi?


"Tapi aku masih sakit. Nanti lagi ya?" Aku merajuk meminta keringanan.


Wajah Ghiffa terlihat kecewa, tapi kemudian ia tersenyum, "Ya udah gak apa-apa kita lanjut besok lagi aja. Sekarang kita makan dulu aja yuk."


Ghiffa membawaku ke ruang tengah setelah ia menggunakan kaos. Kemudian ia menelpon seseorang yang sepertinya pelayan di cafe miliknya dan meminta membawakan kami makanan.


"Aku 'kan bisa masak dulu, Ghiffa." ujarku saat Ghiffa mematikan teleponnya.


"Gak ada yang bisa dimasak, Yang. Udah sekarang kalau kita mau makan ke cafe aja."


"Kenapa? Kamu gak suka masakan aku?" tanyaku sedikit tersinggung.


"Suka. Tapi 'kan kamu bukan ART aku lagi. Jadi gak perlu masak."


"Tapi kamu suami aku. Udah kewajiban aku buat masakin makanan buat kamu." ujarku.


Wajah Ghiffa malah kembali memerah.


"Apa sih kok malah jadi malu-malu kamunya." Aku tak bisa menahan senyum heranku.


"Lucu aja kamu bilang aku itu suami." ucapnya masih tersipu.


"Lucu kenapa coba? 'Kan emang bener." Aku malah ikut-ikutan salah tingkah.


"Gak apa-apa. Pokoknya aku seneng banget, Yang." Ghiffa menghela nafas, "Kaki kamu kapan bisa dilepas gipsnya? Aku pengen kaki kamu cepet sembuh. Biar gak kagok."


"Kagok kenapa emang?" tanyaku.


"Biar enak pas kalau lagi kayak tadi." Ghiffa tersenyum tengil seraya menaik-turunkan alisnya.


Kini wajahku yang merona merah mendengar ucapannya.


"Kamu gak usah salting gitu, dong." goda Ghiffa.


Aku menghindari tatapannya dan mengibas-ngibaskan tanganku karena tiba-tiba saja aku merasa kegerahan.


Ghiffapun membawaku ke toilet. Aku membersihkan tubuhku dan beberapa saat kemudian Ghiffa kembali ke toilet dan membawaku kembali ke ruang tengah. Makanan sudah tersaji disana. Sepertinya barusan pelayan cafe datang mengantarkannya.


"Ayo makan dulu." ujar Ghiffa.


"Wah..." Aku tercengang melihat makanan-makanan yang tersaji di meja ruang tengah itu. Semuanya terlihat enak. "Banyak banget ini, Ghif."


"Bentar deh, Yang." ucapnya.


"Kenapa?"


"Kamu sampai kapan mau manggil aku Ghiffa kayak gitu. Cowok yang kakak kelas kamu aja kamu panggil akang. Masa sama suami sendiri kamu panggil nama?!"


Ya ampun padahal sudah kujelaskan bahwa aku memanggilnya seperti itu karena memang di sekolahku dulu semua adik kelas akan memanggil kakak kelas laki-laki dengan sebutan akang, dan yang perempuan dengan sebutan teteh. Tapi aku malas berdebat. Selain perutku yang keroncongan, tubuhku rasanya juga sangat kelelahan.


"Ya udah aku panggil kamu apa?" tanyaku seraya melahap seporsi spagetti.


"Apa aja, yang enak didenger."


"Tuan?"


Ghiffa malah melirik tajam padaku, "Bercanda." ucapku segera.


Kemudian aku berpikir sambil terus melahap spagettiku. "Apa dong? Aa aja ya? Cocok loh, kayak Asha waktu panggil kamu. Aa Ghiffa. A Ghiffa aku pengen..."


Sontak aku berhenti berbicara saat tak sengaja bersih tatap dengan Ghiffa. Ia mengulum senyumnya.


"Kamu bisa gak sih jangan seimut itu." protesnya.


Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, tidak mengerti maksud ucapan Ghiffa. "Maksudnya?"


"Ya udah fix kamu panggil aku kayak tadi aja." Kedua sudut bibirnya terus terangkat, sambil kembali melahap chicken cordon bleu miliknya.


"Aa Ghiffa?" Akhirnya aku mengerti, "Jadi aku panggil kamu Aa aja? Ya udah, iya mulai sekarang aku bakal panggil suami aku dengan sebutan Aa. Aa Ghiffa yang ganteng." Godaku dengan suara yang dibuat imut.


Ghiffa masih tersenyum sembari sibuk melahap makanannya. "Jangan macem-macem, Yang. Katanya masih sakit."


"Iya, nggak. Maaf. Aku gak akan sok imut lagi." Lebih baik menjaga lisanku daripada Ghiffa menembusku lagi. Inti tubuhku masih belum siap menerima benda itu di dalamnya lagi.


Akupun memilih untuk mengubah topik pembicaraan, "A, kenapa kita gak tinggal di apartemen lagi?"


"Apartemen itu punya Papa. Aku udah bakalan lepas dari semua yang berhubungan sama orang tua aku."


"Kenapa?"


"Karena ini tujuan awal, Yang. Waktu aku ditendang keluar dari rumah, aku bertekad buat hidup mandiri. Udah cukup perlakuan Papa yang selalu aja mengabaikan aku. Aku bakal buktiin ke mereka kalau aku bisa hidup sendiri tanpa bantuan Papa dan Mama. Sekarang aku udah punya usaha aku sendiri, jadi aku gak perlu lagi bantuan mereka."


"Aa yakin?"


"Yakin, Yang. Aku udah punya penghasilan sendiri. Aku udah punya kamu. Hidup aku akhirnya sempurna sekarang. Jadi aku bakal keluar dari keluarga Airlangga seperti yang selalu diinginkan sama Ghaza dan Papa."


"Tapi Nyonya Natasha pasti sedih. Beliau udah usahain semuanya demi Aa loh. Aa gak kasian sama Nyonya?"


"Nggak, Yang. Malah aku pengen bikin Mama sadar dan buat dia juga ninggalin Papa dan hidup bahagia seudah itu. Bukan malah jadi bawahan dari suaminya sendiri." terangnya, "Yang, Mama itu udah jadi mertua kamu. Jangan panggil Nyonya lagi dong. Panggilnya Mama juga."


"Hah?" Aku menggelengkan kepalaku, "Aku belum terbiasa, A."


"Ya harus dibiasain. Mama dan Papa aku udah jadi mertua kamu sekarang. Sama kayak aku yang manggil orang tua kamu dengan Mama dan juga Bapak." Ujar Ghiffa.


Tiba-tiba saja panik melandaku, "Tapi A..."


"Jangan takut, Yang. Kita bakal hadapin semuanya bareng-bareng. Pokoknya aku udah rencanain semuanya. Untuk seminggu ini kamu fokus buat UAS dulu aja. Setelah itu kita temuin Mama dan Papa. Aku bakal kenalin kamu sebagai istri aku."