The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 93: Morning Sweet Talk



"Jangan sedih dong, A." ucapku seraya mengusap rambut Ghiffa. "Kita anggap aja sekarang kita lagi pacaran. Kita nikmatin dulu waktu kita berdua kayak gini."


"Iya juga ya?" Ucapnya lebih seperti bergumam. Ghiffapun bangkit dari posisinya. "Ya udah kita kayak gini dulu aja sampai aku lulus nanti." Senyum merekah di wajahnya.


Aku mengangguk, "Iya. Nanti Aa udah lulus, bapak juga bakal lepasin kita."


"Aku salut sama Bapak, Yang. Kalau nanti aku jadi ayah aku mau kayak Bapak kamu." ujarnya bertekad.


"Kenapa emangnya, A?"


"Bapak kamu walaupun dengan penghasilan yang gak tentu dan gak seberapa, tapi bisa menghidupi istri sama tiga orang anaknya. Terus anak-anaknya tumbuh jadi anak yang baik, bahagia, dan berbakti. Gak semua orang tua bisa kayak gitu loh, Yang."


Terharu sekali rasanya mendengar Ghiffa mengatakan itu tentang Ayahku. Aku sangat tahu bagaimana Ghiffa memandang ayahnya sendiri. Beliau adalah orang yang penting, berkuasa, dan tentu saja kaya raya. Tapi aku tidak pernah mendengar Ghiffa memujinya. Malahan Ghiffa lebih sering kecewa padanya. Namun pada ayahku yang bukan siapa-siapa, hanya seorang petani sayur, Ghiffa sampai menaruh hormat seperti itu.


"Terus," imbuhnya, "Bapak masih ngejaga anaknya bahkan setelah anaknya sebesar kamu, Bapak tetep jagain kamu, perhatian banget sama kamu, dan sayang banget sama kamu. Kamu beruntung punya ayah kayak Bapak, Yang."


"Iya, aku emang beruntung punya Bapak. Bapak sayang banget sama aku sama Anis dan Asha juga. Tapi aku lebih beruntung lagi karena punya suami kayak Aa."


"Kenapa?" Ghiffa terlihat tersipu mendengar aku memujinya.


"Karena Aa, dalam keadaan keluarga yang gak harmonis tapi bisa tumbuh jadi anak yang baik. Aku tahu kok Aa gak bener-bener jadi anak badung. Aa cuma di luar aja jadi anak yang nakal, tapi di dalam hati Aa, Aa anak yang baik banget dan kuat banget."


"Aku lebih beruntung lagi, Yang. Karena punya istri sebaik kamu. Kamu sayang sama aku tanpa ngeliat aku siapa. Kamu juga cantik, lembut, lucu, gemesin, semua yang aku pengen ada di kamu. Kamu udah bikin kesialan yang selalu aku rasain selama hidup aku, berubah jadi suatu keberuntungan. Kamu yang bikin aku mikir kalau Tuhan masih sayang sama aku karena ngirim kamu buat aku, Yang."


Semakin terharu aku mendengar ucapan Ghiffa. Mataku sampai berkaca-kaca. "Apa ih Aa. Ini masih pagi, tapi udah bikin aku nangis kayak gini." Aku segera mengipas-ngipas mataku mencoba menahan agar air mataku tidak jatuh.


"Harus dong, Yang. Karena emang sebesar itu aku ngerasa beruntung udah punya kamu dalam hidup aku." Ujar Ghiffa menyeka sedikit air mata yang tumpah di sisi mataku.


"Aa tuh dulu waktu masih pura-pura gak tahu siapa aku, jutek banget, nyebelin banget. Kenapa sekarang berubah jadi sweet kayak gini."


"Tahu gak kenapa?" Ghiffa malah bertanya balik.


Aku menggeleng.


"Aku pengen liat sikap kamu dulu. Biasanya cewek yang pertama liat aku suka langsung suka, Yang."


Aku menyipitkan mataku seraya berkata, "Pede banget."


"Serius, Yang. Bahkan setelah aku berubah jadi anak yang nyebelin, gak sopan, cewek-cewek masih aja pada suka sama aku. Mereka suka karena katanya aku ganteng, terus aku tajir. Itu kata mereka loh. Terus pas tahu kamu itu Ayana yang aku kenal lewat instagram, aku juga gak mau kamu langsung tahu aku ini Hyuga. Aku takut kamu sama kayak cewek-cewek yang aku kenal selama ini. Eh tahunya.."


"Tahunya gimana?"


Ghiffa menghela nafas kesal, "Kamu sama sekali gak suka sama aku. Kamu malah lebih suka sama si Zayyan."


Akupun tertawa mendengar Ghiffa cemburu.


"Kamu harusnya periksain mata kamu, Yang." sindirnya.


"Itu salah Aa sendiri kenapa bohongin aku. Pakai suruh Zayyan buat pura-pura jadi Hyuga." Aku tidak mau disalahkan.


"Ngeselin banget. Harga diri aku terluka tahu. Baru kali ini ada cewek yang cuekin aku. Terus pas kamu aku suruh buat cium aku setiap hari, wajah kamu kayak kepaksa banget, kayak yang kesel banget kalau lagi mau cium aku. Harusnya kamu seneng disuruh nyium cowok seganteng aku."


"Ih, Aa narsis banget sih. Kenapa juga aku harus seneng buat nyium cowok yang gak aku suka." Ujarku dengan wajah tidak nyaman.


"Tapi sekarang suka banget 'kan sama aku?" tanyanya.


"Iya dong, makanya aku mau nikah sama Aa." ujarku sejujurnya, "Sebenernya perasaan aku sempet kebagi dua loh. Sama 'Ghiffa dan juga 'Hyuga'."


"Kita tiap hari bareng-bareng A, aku juga perempuan normal. Aa juga sering bikin aku salah paham. Sampai aku ngerasa bersalah banget sama Hyuga, karena udah ngebiarin perasaan aku kebagi dua. Tapi tahunya..." aku tertawa sendiri.


"Tahunya kamu ternyata jatuh cinta sama dua orang yang sama." Ghiffa merengkuh pinggangku gemas.


"Iya. Konyol banget sih. Dasar Aa bikin aku kayak orang bego." Akupun melingkarkan tanganku di leher Ghiffa.


Ghiffa mengecup bibirku sekilas. Kemudian aku mengecup bibirnya juga. Kemudian Ghiffa malah terus mengecup bibirku berkali-kali, hingga aku kegelian sendiri.


"Aa udah sana mandi. Aa bau!" Tawaku terus tergelak karena kegelian. Aku mencoba mendorong tubuh Ghiffa dan menghindarinya yang terus menghujaniku dengan kecupan-kecupannya.


"Bau gitu?" tanya Ghiffa.


"Iya, sana Aa mandi. Aku pengen cepet makan, laper tahu, A." Aku merajuk. Perutku memang mulai keroncongan, minta diisi setelah energiku terkuras habis karena aktivitas kami tadi malam.


Ghiffapun menyerah dan segera membawa dirinya ke kamar mandi. Tak lama Ghiffa selesai mandi, berpakaian, dan membawaku ke restaurant hotel untuk sarapan.


Berbagai macam makanan tersaji disana. Kami bebas mengambil makanan apapun disana. Air liurku sampai keluar karena melihat berbagai makanan yang tersaji. Akhirnya pilihanku jatuh pada bubur ayam, beberapa buah-buahan potong, semangkuk kecil bubur kacang ijo. Aku mengambil tempat di paling sudut dekat dengan dinding kaca yang dimana kami bisa langsung melihat kearah kolam renang. Lalu Ghiffa datang sambil membawa beberapa menu sarapan ala western.


"Yang. Udah makan di hotel gini masih aja milihnya menu Indonesiaan. Cobain yang lain kenapa." Ghiffa protes saat ia duduk di sampingku.


"Emang kenapa sih." ujarku memajukan bibirku, "Aku sukanya ini, Aa. Jangan suka protes deh."


Ghiffa mencubit hidungku gemas, membuatku meringis. "Sakit Aa!"


Ghiffa mulai melahap makanan  yang dibawanya. Ia menyendokan sesendok lasagna salah satu menu yang dibawanya dan menyodorkannya padaku, "Cobain."


Aku mengatupkan mulutku, "A itu eneg. Aa tahu aku gak suka keju."


"Cobain dulu, sayangku, cintaku." ujarnya gemas. "Cepetan tangan aku pegel."


Mau tidak mau aku membuka mulutku dan mulai mengunyahnya. Aku cukup tercengang karena rasanya ternyata enak sekali! Aku memang belum pernah memakan makanan itu.


"Aa enak." ucapku sumringah.


"Enak lasagnanya?"


"Banget. Mau lagi, Aa..." aku membuka mulutku. Ghiffa kembali menyendokkan lasagna itu ke mulutku.


"Enak, kan? Makanya harus mau nyobain kalau apa-apa itu. Jangan bilang gak mau dulu." Ghiffa malah sibuk menyuapiku. Sesekali ia menyeka bibirku karena saus lasagna yang agak berantakan di bibirku.


"Udah ah, gak mau banyak-banyak nanti eneg." Akupun mulai memakan buburku.


"Mau nyoba buburnya juga. Aaa..." Ghiffa membuka mulutnya. Akupun meniup sesendok bubur yang masih panas itu sebelum menyuapkannya pada Ghiffa.


Kami pun sibuk saling menyuapi sampai makanan kami habis. Setelah itu kami memutuskan kembali ke kamar. Namun saat akan memasuki lift aku malah ingin buang air kecil.


"Aa, aku pengen pipis, gak kuat! Bentar ya ke toilet dulu. Aa tunggu di lounge itu aja." Aku menunjuk ke sofa-sofa yang ada di lobi itu. Tanpa persetujuan Ghiffa aku segera ke toilet karena sudah tidak bisa menahannya lagi.


Sesaat kemudian aku merasa sangat lega. Aku keluar dari pintu toilet dan berjalan menuju lobi untuk menghampiri Ghiffa.


Saat selangkah lagi menuju lobi, tiba-tiba saja sebuah tangan membekap mulutku. Segera aku meronta-ronta mencoba melepaskan tangan yang tiba-tiba saja membekapku. Tapi tenaganya sangat kuat. Aku tak kuasa melawannya. Bahkan kini tubuhku ditariknya entah kemana.


Siapa yang melakukan ini padaku?! Sungguh aku begitu ketakutan. Tak ada kata-kata yang bisa aku keluarkan, hanya suaraku yang terdengar. Hingga tanpa sadar air mataku keluar.


Aku hanya bisa berteriak dalam hati, 'Aa! Tolong aku A!'