The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Ekstra 2: Mengejar Cinta Ghaza (part 2)



Kini Olivia yakin, Ghaza sedang menciumnya. Saat ia akan membalas ciumannya itu, Ghaza malah menjauh.


Mata mereka terus menatap. Tangan Ghaza meraih dress yang digunakan Oliva dan menariknya ke atas, keluar melewati kepala Olivia. Olivia hanya bisa terdiam, tak mampu bergerak. Ia sudah terhipnotis oleh pria di hadapannya.


Ghaza meraih kaitan di belakang punggung Olivia dan seketika bukit kembar Olvia terpampang di hadapannya. Ghaza meraih pipi Olivia seraya menatap Olivia, masih dengan tatapan dinginnya.


Tangannya turun ke leher Olivia, dan kemudian tiba di bukit kembar Olivia.


Detak jantung Olivia bergemuruh tak beraturan. Ia tak tahu mengapa Ghaza melakukan ini, tapi ia tak bisa menolak.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Ghaza. "Apa kamu ingin saya menyentuh kamu lebih dari ini." Tangan Ghaza masih berada di salah satu bukit kembar Olivia.


Olivia tidak menjawab hanya mampu mengangguk patuh. Sepenuhnya kesadarannya sudah tertutupi kabut g*ir*h.


Ekspresi Ghaza malah berubah kesal. Ia menjauh dari Olivia dan mengusap kasar wajahnya. Ia menatap ke arah dinding kaca.


Sontak Olivia bingung dengan sikap Ghaza. Apa yang salah? Kenapa Ghaza tidak melanjutkannya?


Tiba-tiba saja Ghaza berteriak, "Kenapa cuma Ayana yang ketakutan dan benci dengan apa yang saya lakukan?!"


Detak jantung Olivia perlahan mulai teratur.


"Apa maksud Kak Ghaza?" Olivia sungguh tidak mengerti.


Ghaza duduk di sisi tempat tidurnya dengan kepala tertunduk. "Pakai lagi baju kamu dan pergilah."


Olivia tidak mengerti hingga ia hanya bisa terdiam mematung.


"PERGI!!"


Suara Ghaza menggema di kamar itu. Seketika Olivia meraih pakaiannya dan memakainya lagi dan keluar dari kamar Ghaza. Saat akan menutup pintu, ia melihat Ghaza perlahan duduk di lantai bersandar ke tempat tidurnya, membelakangi pintu yang sedang ia pegang handlenya.


"Ayana... Ayana..." isak Ghaza tak tertahankan.


Olivia tercengang melihat pria itu menangis tersedu seperti itu sambil menyebutkan nama perempuan lain. Sakit yang Olivia rasakan terasa beberapa kali lipat. Sakit karena ia semakin yakin Ghaza tak mencintainya dan malah mencintai perempuan lain, juga sakit karena melihat kondisi Ghaza yang begitu terpuruk.


Juga Olivia masih tak mengerti mengapa tadi Ghaza melakukan itu padanya, dan mengatakan hanya Ayana yang malah benci dan takut padanya dengan apa yang dilakukannya.


Olivia masih berada di apartemen Ghaza. Ia duduk di sofa ruang tengah. Ia merasa khawatir pada Ghaza dan tidak bisa meninggalkan Ghaza begitu saja.


Sudah sekitar satu jam Ghaza berada di kamar, Olivia sedikit khawatir tapi ia juga merasa tidak enak jika harus masuk ke dalam kamar setelah ia diusirnya seperti tadi.


Satu hal yang pasti, yang kini Olivia tak bisa sangkal, Ghaza benar-benar mencintai Ayana.


Karena kelelahan dan jetlag yang dirasakannya, tak terasa Olivia tiba-tiba tertidur di sofa itu.


Ia terbangun saat mendengar seseorang membangunkannya, "Oliv, bangun. Kamu harus pulang."


Olivia mengerjapkan matanya beberapa kali, mengumpulkan kesadarannya. Ia melihat Ghaza dengan mata yang sembab di hadapannya. Perlahan ia bangkit dan memeluk Ghaza.


"Lupain Ayana, Kak. Ayana udah bahagia sama Ghiffa. Kak Ghaza harus bahagia juga. Tolong buka hati Kak Ghaza buat aku, aku akan bikin Kak Ghaza bahagia." lirih Olivia.


Ghaza hanya terdiam. Olivia melepas pelukannya, menatap Ghaza dengan lekat. "Kak, Kak Ghaza lupa waktu itu gimana kita waktu tunangan dulu. Kita saling cinta. Walaupun aku tahu sekarang Kak Ghaza cuma pura-pura, tapi bukan berarti kita gak bisa mencobanya dari awal lagi. Kita tunangan yang sesungguhnya, bukan pura-pura."


"Kenapa kamu masih juga mencintai saya? Padahal saya sudah sejahat itu pada kamu."  tanya Ghaza tak habis pikir.


Olivia menatap Ghaza lekat, "Aku juga gak tahu. Waktu Kak Ghaza berubah sikapnya sama aku, jadi dingin sama aku dan jadi sering bikin aku nangis, aku emang sedih banget waktu itu. Tapi aku lebih memilih kayak gitu, daripada harus putus sama Kak Ghaza. Aku udah terlanjur cinta sama Kak Ghaza."


"Sampai kapanpun? Terus Kak Ghaza mau hidup seperti ini seterusnya? Menangis diam-diam. Padahal disana Ayana sama sekali gak pernah memikirkan Kak Ghaza. Ayana itu cintanya sama Ghiffa."


"Ini karma bagi saya karena sudah memperlakukan Ghiffa dengan buruk selama ini. Dia menderita selama ini karena saya. Saya selalu merebut apapun miliknya, termasuk kamu. Mungkin kali ini giliran saya yang merasakan kesedihan yang selalu Ghiffa rasakan selama ini. Maka dari itu, jika Ayana memang hanya mencintai Ghiffa dan tidak bisa bersama saya, gak apa-apa. Anggap saja saya sedang menebus dosa saya."


"Kak, ini kayak bukan Kak Ghaza. Kak Ghaza yang aku kenal gak kayak gini! Semua orang berhak bahagia. Kak Ghaza harus bisa ikhlasin Ayana dan Ghiffa. Minta maaf langsung sama mereka. Aku yakin mereka juga akan memaafkan Kak Ghaza."


Ghaza menggeleng lemah, "Ayana gak mungkin melihat saya lagi. Dia mengalami PTSD. Dia akan histeris jika bertemu saya."


Olivia mengerutkan dahi, "PTSD? Kok bisa? Kenapa?"


"Saya pernah menyentuh Ayana. Setelah itu dia benci saya dan takut pada saya."


Olivia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Ia teringat dengan apa yang Ghaza lakukan padanya barusan. "Apa Kak Ghaza melakukan hal tadi juga pada Ayana?"


Ghaza mengangguk, "Selama ini tak pernah saya ditolak oleh perempuan manapun. Mereka selalu dengan senang hati memberikan tubuh mereka pada saya. Padahal saya sama sekali tidak cinta pada mereka. Tapi di saat saya benar-benar mencintai seorang perempuan, ia justru tidak bisa menerima saya."


Olivia masih syok. Terlalu syok. Ghaza sampai melakukan sejauh itu demi merebut Ayana. Padahal ia tahu Ayana adalah adik iparnya sendiri.


"Sekarang kamu tahu saya laki-laki seperti apa." Ghaza menatap dingin pada Olivia, "Bahkan ketika kita masih bertunangan saya pernah tidur dengan beberapa perempuan, di saat saya tidak pernah sekalipun tidur dengan kamu."


Apa?


Olivia hanya bisa terpaku. Hatinya terasa perih sekali.


"Bagi saya, kamu masih terlalu muda. Kamu masih anak-anak. Juga tidak mungkin saya menyentuh kamu, karena kamu adalah anak dari Pak Doni, rekan bisnis yang paling penting untuk perusahaan saya. Saya sangat menghormati beliau, maka saya tidak bisa melakukannya pada kamu."


Olivia tak bisa menahan bulir air mata yang semakin banyak keluar dari sudut matanya. Tanpa dapat berkata apa-apa lagi iapun meninggalkan apartemen Ghaza dengan hati yang hancur berantakan.


Seketika ia menyesal sudah begitu mencintai Ghaza, menyanjung Ghaza dengan segala kelebihannya. Ternyata Ghaza sama saja dengan laki-laki lain.


Beberapa hari Olivia hanya terdiam di kamar. Hatinya bimbang. Ia ingin pulang saja ke Indonesia, tapi di sisi lain di sudut hatinya nama Ghaza masih menduduki singgasana terpenting baginya.


Yang dilakukan Ghaza memang jahat. Tapi semua itu tak bisa membuatnya melepaskan Ghaza. Apalagi ia tahu, Ghaza memang tidak mencintainya. Maka dari itu ia bisa berbuat sejahat itu.


Bukankah berpura-pura mencintainya, membuatnya jatuh cinta, hingga memintanya bertunangan, itu juga sudah merupakan sesuatu yang sangat jahat yang pernah dilakukan oleh Ghaza? Sejak awal Ghaza memang sudah jahat. Pada akhirnya Ghaza sudah melepaskannya. Seharusnya itu menjadi pelajaran yang berharga bagi Olivia untuk meninggalkan Ghaza. Tapi kenyataan berkata lain, justru dirinyalah yang kini tidak bisa melepaskan Ghaza.


Akhirnya Olivia menyadari, ia tak bisa terus seperti ini. Ia harus kembali ke tujuan awalnya datang kemari, yaitu membuat Ghaza mencintainya.


Ia berada di depan apartemen Ghaza malam itu. Memijit Bel beberapa kali, namun Ghaza tak juga keluar. Olivia mencoba memasukkan kode akses ke pintu itu. Ia mencoba dengan tanggal ulang tahun Ghaza, tapi tidak berhasil. Olivia terus berpikir, hingga ia memikirkan satu tanggal lainnya.


"Apa jangan-jangan..." Olivia menekan beberapa nomor itu dengan ragu.


Berhasil.


"Ternyata kode aksesnya tanggal ulang tahunnya Ayana." Gumamnya sedih.


Olivia segera menguasai emosinya dan masuk ke dalam.


"Kak Ghaza?" Namun tak ada jawaban. Apartemen itu sangat hening.


Hingga Olivia masuk ke dalam kamar Ghaza dan melihatnya terbaring dengan tubuh menggigil.


"Ya ampun, Kak Ghaza?!"