
"Kenapa atuh teteh teh gak bilang mau ada Tuan Ghiffa kesini?" Raut wajah ibuku begitu cemas, "Pak, sini dulu!" panggil ibuku pada Ayahku yang sedang mengolah ladang.
Ayahku pun menghampiri kami, "Kenapa?"
Ibuku menjelaskan kembali mengenai kehadiran Ghiffa disini. Ayahku langsung begitu sungkan pada Ghiffa, beliau sampai membuka topinya. "Aduh Tuan, punten, tangan saya kotor. Kenalkan saya Ahmad, ayahnya Ayana." Ayahku berubah menjadi begitu sopan pada Ghiffa saat beliau mengetahui bahwa ia adalah majikanku.
Ghiffa hanya mengangguk dan tersenyum canggung, "Gak apa-apa, Pak. Saya Ghiffa." Terlihat sekali ia sangat tidak nyaman. Ia melirikku beberapa kali dengan tatapan jengkelnya.
"Ya udah atuh kalau gitu Mama buatin dulu sarapan ya buat Tuan Ghiffa. Sebentar ya Tuan." Ibuku segera berjalan menuju rumah.
"Gak usah, Bu. Saya makan yang lagi dimakan sama Aya aja." ucap Ghiffa membuat Ibuku berhenti melangkah. "Dan Bapak sama ibu gak usah manggil saya Tuan. Ghiffa aja, biar saya juga lebih nyaman."
"Emangnya gak apa-apa gitu?" tanya Ibuku khawatir.
"Saya lebih nyaman gitu, Pak, Bu." Ucapnya sopan dan penuh harap. Aku cukup kaget juga Ghiffa bisa berlaku sesopan itu.
"Ya udah kalau begitu. Silahkan kamu sarapan dulu aja, nanti baru ikut Bapak ya." ucap ayahku seraya kembali mengolah tanah yang akan ditanami wortel.
"Ya udah Ibu buatkan dulu minuman ya. Silahkan Ghiffa disini dulu sama Aya." Ujar Ibuku kemudian meninggalkan kami.
Ghiffa dan aku saling menatap. Aku gemas sekali melihat wajahnya yang begitu kebingungan.
"Aa Ghiffa ini temennya teteh?" Tiba-tiba saja Asha bertanya pada Ghiffa. Ghiffa duduk di sisi saung, seberangku.
"Bukan temen, majikan teteh, Sha." terangku sembari memberikan sebuah surabi rasa oncom pada Ghiffa, "Silahkan Tuan dicoba. Ini namanya surabi rasa oncom, makanan khas Sunda. Tuan pasti belum pernah nyoba."
"Iya, aku juga tahu ini surabi. Aku udah pernah makan ini, kali." Ucapnya jengkel. Aku tak bisa menahan senyumku saking gemasnya melihatnya begitu jengkel. Antara senang dan kagum juga. Senang karena ia benar-benar menyusulku kesini, kagum juga karena ia tahu makanan khas Sunda ini.
"Itu motornya A Ghiffa?" Tanya Asha dengan polosnya.
"Iya, itu punya Aa Ghiffa. Kamu siapa namanya?" tanya Ghiffa ramah.
"Asha." Jawab adikku dengan senyum lebar menunjukkan gigi-giginya yang jarang-jarang karena baru saja tanggal. "Motornya bagus, A. Asha mau liat motornya ah." Kemudian Asha turun dari saung dan berlari menuju motor Ghiffa yang sedang dikerumuni oleh anak-anak desa lainnya.
"Awas jatuh, Sha! Hati-hati motornya jangan dinaikin!" teriakku pada Asha. "Maaf ya, Asha itu emang kayak cowok. Dulu waktu mamaku hamil, Mama nyangkanya hamil anak cowok. Ternyata yang keluar cewek lagi." celotehku pada Ghiffa.
Ghiffa malah menatapku penuh arti sambil memainkan surabi yang aku berikan.
"Kenapa?" tanyaku.
Ghiffa melihat ke arah ayahku dan juga ke arah rumahku, "Maksud kamu apa ngenalin aku sebagai majikan kamu ke orang tua kamu?" tanyanya galak.
"Gak apa-apa." Ucapku dengan senyum gemas, "Daripada bilang kamu pacar aku. Mama sama Bapak pasti gak akan percaya."
"Kenapa gak percaya? Emang penampilan aku aneh sampai kamu harus bohong."
"Karena kamu terlalu ganteng, makanya orang tuaku pasti gak akan percaya kalau bilang kamu itu pacar aku."
Kedua sudut bibir Ghiffa terangkat, terlihat sekali ia tersipu.
"Apa sih kamu senyumnya kayak gitu. Seneng banget dibilang ganteng sama aku. Heran deh." godaku.
"Seneng dong dibilang ganteng sama kamu." Ucapnya masih dengan wajah tersipu. "Aku kira kamu marah sama aku. Aku sampai susulin kamu kesini karena khawatir kamu marah sama aku." ucapnya sedih.
Manis sekali pacarku!
"Emang kamu ganteng banget." godaku lagi, membuat senyum kembali tersungging di bibirnya. "Semua orang juga pasti setuju. Makanya aku bilang kamu majikan aku, biar pada percaya."
Seketika senyum Ghiffa memudar, "Maksudnya?"
Tak ada jawaban yang aku berikan pada Ghiffa. Aku hanya tersenyum padanya dan kembali menikmati surabiku yang masih tersisa setengah.
"Yang, kamu kenapa sih tiba-tiba pulang? Kenapa kamu gak ngomong sama aku? Aku 'kan bisa anterin kamu."
"Kamu 'kan lagi marah. Terus aku cuma sama Max di markas kamu itu. Ya udah aku mending pulang aja. Lagian aku udah dipecat juga."
"Serius?"
Aku mengangguk, "Pas perjalanan kesini aku ditelepon Nyonya Natasha. Beliau nyuruh aku ke rumah tapi karena aku udah di mobil, jadi beliau mecat aku lewat telepon."
"Mama pasti marah-marah sama kamu. Maaf ya."
"Kamu gak salah, Yang. Yang salah itu Mama sama Ghaza!" tanpa sadar ia berteriak. Untungnya ayahku ada berada jauh di tengah kebun.
"Udah ah, gak usah bahas siapa yang salah. Sekarang aku cuma pengen refreshing dulu. Udah lama aku gak pulang dan nikmatin suasana desa aku."
"Kapan kamu mau balik ke Jakarta emangnya?"
"Minggu depan mungkin. Pas aku minggu tenang sebelum UAS."
"Lama banget. Terus aku gimana?" tanya Ghiffa merajuk.
"Aku 'kan udah dipecat. Jadi aku gak akan tinggal sama kamu lagi."
Ghiffa tercengang dengan apa yang aku ucapkan, "Yang, aku juga udah gak akan tinggal di apartemen lagi. Rumah aku di markas sekarang. Rumah di atas markas itu aku siapin buat kita. Kita tinggal disitu."
"Mana bisa Ghiffa. Kamu mau kita digerebeg sama polisi?"
"Mana berani polisi datengin markas Centaur Squad. Ayahnya Max itu Kapolres. Gak mungkin Max ngebiarin anak buah ayahnya buat ngegerebeg kita. Yang ada aku abisin si Max kalau itu kejadian."
"Bukan itu masalahnya, Ghiffa! Kita itu gak mungkin tinggal bareng."
"Di Apartemen kita tinggal bareng 'kan?"
"Ya beda dong. Waktu itu 'kan aku ART kamu. Sekarang udah jelas-jelas kita pacaran."
"Terus gimana? Gak mau, pokoknya kamu harus tinggal sama aku."
"Kita bukan suami istri, Ghiffa. Gak boleh tinggal bareng."
"Ya udah kita nikah dulu."
Sudahlah, aku lelah menanggapi pola pikir pacarku yang kadang absurd ini. Aku pun memakan surabiku dan tidak menanggapinya lagi.
"Serius, Yang. Ayo kita bisa nikah siri dulu." Ghiffa kembali meyakinkanku.
"Aku pengen nanya deh sama kamu, nikah itu apa?"
"Dua orang saling mencintai, tinggal bersama, menjadi partner seumur hidup."
"Terus kamu yakin aku ini partner seumur hidup kamu?"
"Yakin." tatapan Ghiffa memang terlihat benar-benar yakin. Tapi tetap saja ini sangat konyol.
"Ghif, denger ya. Aku pacaran sama kamu aja masih mikir-mikir. Gimana nikah? Terus kamu itu masih sekolah!"
"Kamu mikirin apa lagi sih? Aku emang masih sekolah tapi aku udah bisa nafkahin kamu. Sekarang ada orang tua kamu. Aku bisa bilang sama mereka kalau aku dateng buat ngelamar kamu."
Ghiffa pasti bercanda.
"Kamu liat dong keluarga aku disini. Kehidupan aku. Barusan juga kamu udah ketemu mama sama bapak aku. Kamu harus ngeliat dunia kita yang beda banget ini, Ghiffa."
"Jadi itu tujuan kamu pulang? Kamu tahu aku bakal nyusul kamu kesini. Kamu bilang aku ada tugas buat ngerasain jadi petani selama sehari, itu karena kamu pengen aku ngeliat latar belakang kamu?"
Benar, Ghiffa. Itu yang aku ingin perlihatkan pada kamu. Aku hanya mengatakannya dalam hati.
"Kamu kira kenapa aku bisa ada disini sekarang? Aku bukan dapet alamat kamu dari Belva, loh."
"Terus..?" tanyaku bingung. Aku kira Ghiffa kesini karena mendapatkan alamatku dari Belva. Ia bahkan sampai tepat di depan rumahku.
"Sejak kamu masih belum tahu aku ini Hyuga, aku udah tahu rumah kamu dan juga semua tentang keluarga kamu."
"Gak mungkin.." gumamku tak percaya.
"Kamu pikir dengan tahu seperti apa rumah kamu, kehidupan dan profesi ayah dan ibu kamu, akan bikin aku berubah pikiran?" Ghiffa menatapku lekat, "Aku udah tahu kamu luar dalem, Yang. Gak ada yang bisa bikin perasaan aku berubah sama kamu."
Gak mungkin Ghiffa sudah mengetahui semuanya.
"Aya, however you are, I will always love you. Kenapa kamu gak paham juga sih?"