
Mobil Ghiffa berhenti di sebuah area datar yang terletak di pinggir jalan menanjak. Pemandangan lampu ibukota terlihat sangat indah dari tempat ini. Aku menoleh ke arah laki-laki di sampingku yang tidak mengatakan apapun sejak ia membawaku pergi dari acara itu.
Ghiffa melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Ia duduk di kap mobil dan mengeluarkan sebuah rokok elektrik dari sakunya. Ia menekan tombol pada benda kecil itu dan menghirup benda itu, lalu menghembuskan asap putih yang membumbung di udara dan seketika lenyap.
Aku perlahan turun dari mobil, menghampirinya dan berdiri tidak jauh darinya.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Ghiffa hingga ia bisa senekat itu menolak saham pemberian dari ayahnya. Sedikitnya aku paham, saham itu sangat penting bagi Ghiffa jika ia akan meneruskan perusahaan sang Ayah. Saham itu seakan melegitimasinya untuk menjadi salah satu calon petinggi di perusahaan itu. Namun, tadi secara gamblangnya ia mengembalikan saham itu kepada sang Ayah, di depan semua orang.
Apa itu artinya Ghiffa menolak untuk menjadi pewaris?
Setelah ini, buah dari tindakan nekatnya akan segera Ghiffa dapatkan. Ayahnya yang sangat menyeramkan itu pasti akan melakukan sesuatu sebagai hukuman. Aku sendiri tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya.
"Ngapain lo bengong disitu?" Suara Ghiffa membuyarkanku, "Sini."
Rokok elektriknya ia masukkan ke dalam saku celananya. Aku pun berjalan menghampirinya yang masih duduk di kap mobilnya. Ia menarikku mendekat padanya, sehingga kini aku berdiri di antara kedua pahanya.
Ghiffa membuka jasnya, kemudian menggantungkannya di pundakku. Ia membalikkan tubuhku sehingga membelakanginya, menarik tanganku ke arahnya, dan membuatku bersandar padanya.
Tinggi tubuh Ghiffa yang menjadi sejajar denganku saat ia duduk di kap mobilnya, membuatnya bisa meletakkan dagunya di pundakku.
"Lo gak dateng ke salon itu?" tanyanya lirih, kedua tangannya melingkar erat di pinggangku.
"Saya datang, Tuan. Tapi kemudian langsung pergi. "
"Kenapa?"
"Buat apa saya pakai baju bagus dan juga make up? Saya datang ke acara itu untuk bekerja paruh waktu. Tuan mikirin apa sih sampai menyiapkan semua itu untuk saya."
Ghiffa menghela nafasnya. "Kenapa gak lo pake aja bajunya?"
"Saya datang karena ditawari Nyonya Natasha untuk kerja paruh waktu, Tuan. Bukan sebagai tamu. Lagipula apa yang harus saya katakan pada Nyonya jika beliau melihat saya datang bersama anda."
Ghiffa menghela nafasnya. "Tahu gitu, gue gak akan datang."
"Tuan, kita udah sepakat 'kan? Tuan akan datang jika saya melakukan syarat yang Tuan ajukan."
"Iya tapi kenapa lo malah jadi pelayan kayak gini?" ia mendumel dengan nada yang manja, persis anak kecil yang kesal karena tidak diperbolehkan membeli permen kesukaannya.
"Berapa kali saya harus bilang, Tuan. Saya ini hanya ART. Tidak mungkin bagi saya datang ke acara tersebut."
"Sama. Gue juga cuma anak yang gak dianggap. Lo sama gue sama, kali."
"Kalau Tuan gak dianggap, Tuan gak akan dijadikan pemegang saham oleh Ayah Tuan. Apa sih yang Tuan pikirin sampai nekat ngelakuin hal tadi?" tanyaku masih tak habis pikir.
Ghiffa malah mencium pipiku, akupun sontak menoleh galak ke arahnya sambil memegang pipiku, "Tuan!"
Ghiffa menatapku lekat, "Jadi cewek gue dulu, kalau lo emang sekepo itu sama gue."
Aku menatapnya beberapa saat sebelum kembali menatap ke arah depan, memilih untuk tidak menanggapi ucapan Ghiffa.
Benar. Aku harus punya batasan tentang apa yang bisa aku tanyakan dan yang tidak.
Ia membalikkan tubuhku dan mata kami bertemu, "Lo berhutang satu penjelasan lagi sama gue."
"Apa, Tuan?"
"Kenapa lo ada di lounge sama Ghaza?"
Aku ceritakan saja apa yang terjadi, tanpa ada hal yang aku tutupi sedikitpun.
"Harus, lo sampe mijit tangan dia?!" mata elangnya seakan menusukku, membuat aku tak mampu menatap matanya lebih lama. Aku pun menunduk seraya berkata, "Maaf."
"Makanya gue pengen lo jadi cewek gue. Biar lo tahu dan inget. Saat ada di situasi kayak tadi, lo bakal mikir dua kali. Terus kalau lo jadi cewek gue, lo jadi punya alasan buat dateng ke acara kayak tadi." ucapnya masih dengan emosi, "Dan gue udah wanti-wanti sama lo. Jangan deket-deket sama Abang gue. Lo bisa dalam bahaya."
"Bahaya gimana, Tuan?"
"Gue bisa ngurung lo di apartemen biar lo gak perlu keluar lagi dan ketemu dia."
Dasar. Aku kira apa, dia bisa-bisanya bercanda seperti ini.
"Gue serius." ucap Ghiffa, menyadari aku yang tersenyum samar. "Lo bisa 'kan gak bikin gue frustasi sekali aja, Ay?"
"Saya gak kayak gitu, Tuan. Saya selalu mencoba yang terbaik agar menjaga perasaan Tuan. Tapi keadaannya yang sering gak berpihak pada saya."
"Makanya kita harus jadian, Ay."
Aku kembali bungkam. Lalu ku alihkan pandanganku darinya.
Tangan Ghiffa meraih daguku agar aku menatap ke arahnya, "Ay, sesulit itu emang lo nerima gue jadi cowok lo?"
Entah mengapa aku merasa sangat bersyukur karena Ghiffa masih begitu ingin menjadikanku miliknya. Karena setelah mengetahui ada gadis lain yang pernah menempati hati Ghiffa sebelum aku, membuatku egoku muncul ke permukaan.
Tetiba Ghiffa merengkuh pinggangku, "Gue sayang banget sama lo. Please, terima gue, Ay." Ghiffa memeluk pinggangku erat.
Sungguh aku tidak tahu harus mengatakan apa. Logikaku terus berkata tidak, tapi hatiku terus mengatakan iya. Aku membelai rambut hitamnya dalam pelukanku seraya berkata, "Saya gak bisa, Tuan."
Ghiffa melepaskan pelukannya, sehingga aku bisa menatap kedua maniknya yang sendu, membuat aku merasa bersalah.
"Kenapa, Ay? Lo segitu sayangnya sama Hyuga. Sekarang lo tahu Hyuga itu ada dalam diri gue. Tapi kenapa lo justru gak bisa nerima gue?" Ghiffa ingin penjelasan yang bisa diterimanya.
Aku menatapnya sendu, "Saya sangat sayang sama Hyuga. Tapi saya gak bisa bersama Ghiffa." lirihku masih menatap kedua matanya.
'Tuan, apa kedua mata Tuan ini pernah menatap Olivia seperti Tuan menatap saya?' Aku menanyakannya dalam hati.
Tanpa sadar kuraih kedua pipi majikanku itu, tak menggubris logikaku yang terus mewanti-wanti untuk segera melepaskannya dan tidak bertindak sembarangan.
Aku merasakan tangan Ghiffa meremas kedua bagian pinggang dari baju yang aku kenakan. "Terus apa yang lo lakuin ini? Lo megang pipi gue, lo ngeliat gue seakan gue adalah milik lo."
Iya, Ghiffa benar. Apa yang aku lakukan? Aku tak pernah seperti ini sebelumnya pada Ghiffa. Aku selalu bisa menahan perasaanku. Bahkan ketika aku harus menciumnya lebih dulu, itu murni bukan hatiku yang bergerak. Namun kali ini, ada apa denganku?
Ingin sekali aku menanyakan padanya, apa arti seorang Olivia untuknya? Masih adakah Olivia di dalam hatinya? Namun lidahku kelu dan kata-kata itu hanya tertahan di tenggorokanku.
Siapa aku hingga dengan lancangnya ingin bertanya mengenai masa lalu Tuanku ini? Bertanya mengenai Alasan dibalik tindakan nekatnya itu saja tidak ia jawab. Apalagi ini?
Aku kesal. Aku marah pada situasi dan kondisi yang membuatku tidak bisa membiarkannya menjadi milikku. Seketika runtuh sudah pertahananku.
Aku mendekatkan bibirku pada bibir Ghiffa dan menciumnya.
Egoku telah menguasaiku. Dengan lantang hatiku terus berkata,
Olivia, sekarang di hati Ghiffa hanya ada aku.
Hanya aku.