The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Ekstra 1: Mengejar Cinta Ghaza



Olivia's point of view


Los Angeles, California, Amerika Serikat


Olivia tiba di depan sebuah apartemen dengan logo Melcia yang sangat ia kenal. Supir dan seorang pria berjas dengan rambut pirang mengeluarkan kopernya dari bagasi mobil.


"Nona, anda yakin kami hanya perlu mengantar anda sampai disini?" tanya pria asing berbahasa inggris, yang merupakan salah satu orang kepercayaan Ayah Olivia.


"Iya. Kalian pergilah. Saya bisa bawa koper saya sendiri dari sini." Ujar Olivia tanpa menoleh ke arah pria itu.


Kedua pria itu memasuki mobil dan pergi meninggalkan Olivia. Olivia membuka ponselnya dan mengetik sebuah pesan. Tak lama centang di sisi pesan itu berubah biru, tanda orang yang menerima pesen itu sudah membukanya.


Olivia masuk ke dalam lobi apartemen dan duduk disalah satu sofa. Ia merapikan rambutnya dan membuka kamera ponselnya untuk melihat pantulan dirinya, memastikan bahwa penampilannya tidak berantakan.


Tak lama lift terbuka. Seorang pria berwajah dingin dengan pakaian santai keluar dari lift itu dan mengedarkan pandangannya.


"Kak Ghaza!" teriak Olivia dengan wajah sumringah.


Ghaza menatap Olivia sekilas dan menghampirinya. "Apartemen saya kecil. Kamu pergilah ke apartemen yang sudah disiapkan oleh ayah kamu."


"Apartemen yang disiapkan oleh Papa itu ya di apartemen ini, di sebelah apartemen kak Ghaza." terang Olivia.


"Jadi unit sebelah saya sejak tadi pagi berisik karena mempersiapkan apartemen untuk kamu?"


"Iya, Kak. Maaf ya." Olivia mengibaskan rambut coklatnya, mencoba membuat Ghaza terpesona kepadanya.


"Kamu bisa cari apartemen lain yang lebih nyaman. Kenapa disini?" tanya Ghaza masih dengan nada dinginnya.


"Kak Ghaza juga kenapa tinggal di apartemen biasa kayak gini? Biasanya Kak Ghaza tinggal di penthouse."


"Saya bukan lagi wakil presiden direktur. Saya hanya selevel manager sekarang. Kamu yang justru seharusnya tidak tinggal di apartemen sederhana kami ini. Kamu pasti tahu apartemen Melcia dengan konsep classic six ada beberapa blok dari sini. Tempat itu sangat cocok untuk kamu."


"Karena aku pengen deket sama Kak Ghaza. Aku pengen kita tunangan lagi. Aku bakal bikin Kak Ghaza suka lagi sama aku, makanya aku pengen tinggal deket sama Kak Ghaza." ucap Olivia penuh tekad.


Ghaza bergeming, "Kamu sudah buang-buang waktu. Saya tidak pernah menyukai kamu. Saya hanya bersandiwara waktu itu. Saya hanya ingin merebut kamu karena kamu adalah pacar dari Ghiffa."


"Aku tahu, kok." Olivia tidak gentar, "Aku bakal bikin Kak Ghaza suka beneran sama aku."


Ghaza menatap Olivia dengan dingin, tapi Olivia masih tersenyum pada Ghaza dengan hati yang berdebar. Olivia tahu tidak akan mudah menaklukan seorang pria dingin seperti Ghaza.


Di mata Olivia dan mungkin juga perempuan-perempuan lain, Ghaza adalah laki-laki sempurna tanpa cela. Wajah tampan, kaya raya, berkharisma, cerdas, dan pewaris perusahaan besar. Sosok yang akan mendampinginya juga pasti adalah seorang perempuan yang sempurna.


Dan Olivia begitu percaya diri, tidak ada perempuan yang lebih sempurna dari dirinya untuk bisa mendampingi seorang Ghaza.


"Hanya dua koper ini yang harus saya bawa?" Tanya Ghaza sembari meraih kedua koper yang ada di sebelah Olivia.


"Iya, Kak. Sisanya udah dibawain sama pegawainya Papa." Ujar Olivia, ia mulai melangkah mengimbangi langkah Ghaza yang sudah mulai berjalan memasuki lift.


Beberapa saat mereka sudah berada di lantai 20. Mereka berjalan menuju dua pintu yang bersebelahan. "Ini unit kamu. Saya masuk dulu."


Belum sempat Olivia menjawab, Ghaza sudah masuk ke dalam unit apartemennya.


Olivia menghela nafas, tapi ia tidak akan menyerah. Setelah mengganti pakaian ia keluar unitnya dan menekan bel di depan pintu unit Ghaza.


Setelah beberapa kali menekannya, Ghaza keluar. "Ada apa?"


"Aku laper, Kak. Tapi di apartemen belum ada apa-apa. Aku juga gak tahu makanan apa yang enak di sekitar sini. Kak Ghaza mau gak makan siang bareng? Aku yakin Kak Ghaza juga belum makan."


"Saya lagi makan. Kamu pergi sendiri aja." Ghaza siap menutup pintu, segera Olivia menahan pintu.


"Kalau gitu boleh ya aku makan di tempat Kak Ghaza. Please? Aku gak punya siapa-siapa disini, aku gak kenal siapa-siapa selain kak Ghaza."


Ghaza menghela nafasnya mulai tidak sabar. Kemudian ia membuka pintu apartemennya lebih lebar.


Oliviapun masuk dengan riang ke dalam apartemen itu. Unit apartemen yang tergolong sederhana bagi seorang Ghaza yang terbiasa tinggal di unit Penthouse. Tapi apartemen itu tetap saja cukup nyaman. Oliviapun sama, biasanya ia mendapatkan fasilitas terbaik dan super mewah mengingat ia adalah putri tunggal dari Ayahnya yang juga seorang pengusaha sukses di bidang yang sama dengan Ayah Ghaza.


Olivia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Seketika ia membeku ketika kedua maniknya menangkap sebuah foto berukuran sangat besar seukuran pintu, tertempel di salah satu dinding utama apartemen itu. Olivia tahu seharusnya disana adalah TV, tapi Ghaza menggantinya dengan foto itu.


"Itu... bukannya Ayana?" Tanya Olivia.


Hatinya perih seketika. Matanya tak bisa lepas dari foto yang menunjukkan Ghaza dan Ayana saling menatap bahagia, dengan tangan Ayana melingkar di lengannya. Olivia ingat pakaian yang dikenakan Ghaza dan Ayana itu adalah saat ulang tahun Ghaza.


Ghaza tidak menjawab dan sibuk di konter dapur. Tiba-tiba terdengar getar ponsel. Olivia melihat ke arah ponsel yang berada di meja makan, ponsel milik Ghaza. Lagi-lagi Olivia melihat foto itu di layar ponsel Ghaza.


"Duduk." Ghaza memberikan semangkuk bubur dengan topping ayam suwir. "Cuma ada bubur. Saya sedang tidak enak perut. Maka dari itu hanya ada bubur disini." Iapun duduk di salah satu kursi di meja makan itu dan kembali menyantap buburnya.


Olivia masih mematung di posisinya. Pikirannya sibuk menerka-nerka dan menghentikan rasa cemburu yang menjalar di hatinya.


"Mau berdiri sampai kapan?" tanya Ghaza.


Olivia tersadar dan mulai menduduki kursi di hadapan Ghaza, "Makasih, Kak."


Beberapa saat hanya ada keheningan. Hingga Olivia memberanikan dirinya untuk bertanya, "Kak Ghaza, apa Kak Ghaza suka sama Ayana?"


Olivia menatap Ghaza dengan harap-harap cemas. Berharap itu tidak benar, tapi buktinya sudah sangat jelas. Ghaza mencetak foto dirinya dan Ayana sebesar itu, seakan foto itu adalah pusat dari apartemen ini.


Ghaza menatap Olivia, "Iya. Saya sangat mencintai Ayana."


Kretek!


Rasanya Olivia bisa mendengar bunyi patah itu dari sudut hatinya berada. Seorang Ghaza yang ia tahu tak pernah takluk sama sekali pada seorang perempuan. Ia selalu menjadi laki-laki penuh pesona dan incaran banyak perempuan dari kalangan atas seperti dirinya, kini dengan sangat yakin mengatakan menyukai bahkan mencintai seorang perempuan.


Sontak Olivia menatap kembali foto itu. Ia melihat sosok Ayana yang saat itu memang terlihat begitu berbeda. Begitu elegan dan memesona. Bahkan dirinya sendiri begitu dipenuhi api cemburu pada Ayana saat melihatnya bersama Ghaza memasuki Ballroom. Tapi sakit hatinya mereda saat mendengar pernyataan Ayana bahwa Ghaza hanyalah kakak iparnya. Olivia juga bisa melihat ada cinta yang begitu besar antara Ghiffa dan Ayana saat itu.


Namun saat melihat Ghaza, Olivia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan Ghaza saat itu. Ada raut kecewa namun sebisa mungkin Ghaza menyembunyikannya.


"Gimana bisa, Kak?" Olivia tersenyum getir, "Ayana itu adik iparnya Kak Ghaza. Kenapa Kakak pasang foto kakak dan Ayana sebesar itu disini? Gimana kalau Om Musa dan Tante Natasha tahu? Terlebih kalau Ghiffa tahu? Gak ada apapun 'kan antara Kak Ghaza dengan Ayana?"


Olivia harap dugaannya salah. Olivia harap pikirannya itu tidak benar. Pikiran dimana Ayana memiliki hubungan dengan Ghaza dibelakang Ghiffa.


"Kamu benar-benar ingin tahu?" tanya Ghaza dingin.


Olivia mengangguk pasti, "Iya. Aku pengen tahu semuanya."


Ghaza menyeka bibirnya dengan napkin dan meminum segelas air putih lalu menatap ke arah Olivia. "Saya mencintai Ayana." Ghaza terdiam sejenak, wajahnya berubah. "Tapi Ayana sebaliknya, dia membenci saya." ucapnya dengan sedih.


Olivia merasa sedikit lega dan bingung di waktu yang bersamaan. "Ayana benci pada Kak Ghaza?"


Ghaza mengangguk, "Dia benci dan takut pada saya. Dia juga adalah alasan utama mengapa saya berada disini, jauh dari semua orang."


"Kenapa Ayana bisa benci dan takut sama Kak Ghaza?" Olivia sungguh tidak mengerti.


Ghaza tidak menjawab. Beberapa saat ia terdiam menatap Olivia dengan lekat.


Olivia sampai tak bisa bergerak karena tatapan Ghaza seperti mengunci tubuhnya dan membuatnya tak bisa bergerak.


Seketika Ghaza meraih tangan Olivia dan membawanya ke kamarnya.


"Kak...?" lirih Olivia tidak paham dengan sikap Ghaza yang tiba-tiba membawanya ke kamar.


Ghaza mendekat pada Olivia. Beberapa detik Olivia masih mencerna. Ia bisa melihat mata Ghaza begitu dekat, hidung mancungnya menyentuh pipinya.


Apakah... kini Ghaza sedang menciumnya?


Kenapa? Apa alasannya?