
Setelah berjalan-jalan menyusuri hutan pinus, kemudian melihat pemandangan di tebing, dan bermain di sungai, kami kembali ke resort saat menjelang senja. Aku membersihkan diri dan mengganti pakaianku dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh Ghiffa. Tadinya pakaiannya itu ia sediakan untuk pacarnya. Ingat 'kan, aku tidak membawa sama sekali pakaian saat datang kesini.
Pakaian yang Ghiffa siapkan adalah satu stel piyama lengan panjang berwarna baby pink dengan kancing di depannya. Ia juga menyediakan sweater oversize berwarna putih. Yang aku heran, ukuran pakaiannya sangat pas di tubuhku. Sepertinya pacar Ghiffa memiliki ukuran badan yang sama denganku.
Aku keluar dari cottage dan melihat Ghiffa sedang merebahkan diri di kursi malas di gazebo di tengah taman yang terletak di samping cottage. Ghiffa terlihat memakai sweater juga, berwarna putih, sama dengan yang aku kenakan. Aku semakin kasihan pada majikanku itu, ia pasti berharap sekali perayaan satu bulan ini akan sangat spesial ia rayakan bersama sang pacar. Tapi kini malah aku disini menemaninya karena Ghiffa memang tidak bisa jika tidak ada orang di sampingnya.
Aku melihat di tengah taman ada sebuah kayu besar berbentuk meja. Meja seperti itu sering aku lihat di drama-drama Korea. Di atas meja itu ada meja yang lebih kecil, dan kita bisa duduk disana secara lesehan. Bahan-bahan masakan seperti sosis, daging sapi dan ayam yang sudah diiris tipis dan dimarinasi, kompor portabel, juga peralatan dan bahan-bahan pelengkap lainnya sudah tersedia di meja itu.
Kenapa Ghiffa so sweet sekali sih pada pacarnya. Sampai sweater saja ia siapkan yang samaan. Acara yang ia siapkan dari siang tadi juga benar-benar membuat perempuan manapun akan iri pada pacarnya Ghiffa. Aku jadi penasaran siapa ya pacar tuan mudaku ini? Dia pasti cantik sekali, anggun, dan dari kalangan atas seperti Ghiffa. Yang aku tahu tuan mudaku ini seleranya sangat tinggi.
Ghiffa yang setampan itu memang sepantasnya bersanding dengan perempuan yang nyaris sempurna. Jika saja pacar Ghiffa ada disini, hari ini akan sempurna bagi Ghiffa. Begitu juga aku, jika saja hari ini aku bersama dengan Zayyan. Hari ini akan sangat sempurna.
Namun aku hanya bisa menghela nafas, Zayyan sepertinya tidak terlalu suka jika kami bertemu. Aku tidak tahu mengapa. Coba Zayyan bisa seperti Ghiffa dalam memperlakukan pacarnya, manis dan penuh perhatian ketika bertemu, bukan hanya manis lewat chat saja.
'Loh? Kok aku malah membandingkan Zayyan dengan Tuan Ghiffa?' batinku memperingatkan. Aku menggelengkan kepala menghilangkan pikiran itu.
"Ngapain lo bengong aja di situ? Buruan lo panggang dagingnya. Gue laper." Tanpa aku sadari Ghiffa sudah duduk di depan meja yang penuh dengan makanan itu.
Suara Ghiffa membuyarkan lamunanku. Segera aku berjalan menuju meja itu, melepas sandalku dan duduk bersila di seberang Ghiffa. Akupun mulai menyalakan kompor portabel dan mulai memanggang daging-daging itu. Aku juga menyiapkan semangkuk nasi dan aku simpan dihadapan Ghiffa yang sedang sibuk memetik sebuah gitar.
Ghiffa memainkan sebuah lagu dengan gitar itu, membuat suasana malam itu menjadi sangat syahdu dan romantis. Barbeque di tengah taman yang diterangi cahaya lampu yang berkelap-kelip di sisi gazebo, juga bintang yang berkilauan di langit yang bersih tanpa awan. Malam yang indah sekali.
"Sweater ini couple-an ya Tuan?" tanyaku saat Ghiffa selesai memainkan lagu it's you-nya Sezairi.
"Iya." jawabnya singkat. Tangannya mulai bersiap memainkan lagu lain.
"Tuan bener-bener udah nyiapin semuanya demi ngerayaian satu bulanan Tuan ya? Tuan kayaknya sayang banget sama pacar Tuan itu, sampai nyiapin ini semua." ucapku simpati.
Ghiffa menghentikan petikan tangannya pada gitar yang dipangkunya dan menatapku. Kemudian berkata, "Iya. Gue emang sayang banget sama dia."
Aku merasakan sesuatu saat Ghiffa mengatakannya. Apa ya ini? Namun yang jelas aku merasa sesak. Aku tidak paham mengapa aku tidak suka dengan apa yang Ghiffa katakan.
Apa mungkin aku cemburu?
Tapi sepertinya yang aku rasakan bukan cemburu pada pacarnya Ghiffa, rasa ini lebih seperti iri. Sepertinya sih... Kenapa aku merasa tidak yakin?
Aku mulai berandai-andai, seandainya Zayyan melakukan hal yang sama. Maksudku tidak perlu menyewa resort seperti ini, cukup aku dan dia menghabiskan waktu bersama, aku pasti akan sangat bahagia.
Beberapa saat kemudian, daging sudah matang dengan sempurna. "Tuan, ayo dimakan." Aku meletakkan beberapa daging di atas mangkuk nasi Ghiffa.
Ghiffa menyimpan gitarnya dan mulai melahap makan malamnya.
"Lo gak makan?" Tanyanya, aku masih sibuk memanggang daging-daging untuk majikanku itu.
"Saya nanti aja. Yang penting Tuan dulu makan yang kenyang." ucapku sambil terus sibuk membolak-balikan daging-daging itu di atas panggangan.
"Selalu lo ngomongnya gitu kalau lagi makan. Lo juga harus makan. Gue gak suka makan sendirian. Harus berapa kali gue ngomong baru lo ngerti? Otak lo itu slow respon banget."
Mulutnya lebih baik dipakai mengunyah saja bisa 'kan? Tidak perlu mengatai, dengusku dalam hati.
"Baik, Tuan. Saya juga makan." Aku tidak akan berdebat. Karena hari ini dia ditinggal pacarnya, dan membiarkan aku menikmati fasilitas resort yang nyaman ini, jadi aku akan menurut tanpa mendebatnya.
"Gimana hari ini? Seru gak?" tanyanya.
Aku cukup heran dia bertanya seperti itu, "Tuan bertanya pada saya?" tanyaku memastikan.
"Emang ada orang lagi disini? Lo kira gue nanya sama makhluk tak kasat mata di pinggir lo itu?" ucapnya asal.
"Hah?" Bulu kudukku seketika berdiri. Dengan panik aku segera menoleh ke kanan dan kiriku. Jujur aku menjadi merinding sekali. Apa-apaan majikanku ini! Akupun segera beranjak dari tempatku duduk dan berpindah ke sebelah Ghiffa.
"Tuan, jangan ngomong yang aneh-aneh! Kita di tempat asing ini, jangan sompral!" Aku memperingatkan dengan panik. Mau tak mau saking takutnya aku duduk dekat sekali pada Ghiffa, lututku bahkan bersentuhan dengan pahanya.
"Ternyata kamu beneran takut sama hantu ya," gumamnya, senyum tengil terbit di bibirnya.
"Apa Tuan?" sepertinya kupingku agak error.
"Lo takut hantu?" tanyanya dengan nada dingin.
Sepertinya tadi aku seperti mendengar Ghiffa berkata 'kamu'. Dan seingatku aku belum pernah mengatakan bahwa aku takut pada hantu.
"Iya, Tuan. Saya gak suka yang gitu-gitu. Tuan harus tanggung jawab loh. Saya jadi ketakutan begini!"
"Ya udah, nanti kita tidur bareng aja."
Itu otaknya Ghiffa kok bisa memikirkan hal sefrontal itu, ya?
"Gue gak bercanda. Lo tau sendiri gue juga gak berani tidur sendiri. " ucapnya sambil terus melahap makanannya.
Benar juga. Lalu bagaimana?
"Gak boleh, Tuan. Perempuan dan laki-laki itu gak boleh tidur di satu kamar yang sama. Kecuali suami istri. Gini-gini saya perempuan loh, Tuan." Akupun mulai memakan makananku.
"Oh, lo cewek? Kirain cewek jadi-jadian."
'Lama-lama ku sumpal juga mulutnya pake daun selada ini!' ucapku sambil dengan jengkelnya membungkus daging yang sudah dipanggang dengan selembar daun selada dan memasukkannya ke dalam mulutku.
Ghiffa meminum segelas air putih dan kemudian meraih gitarnya lagi.
"Loh, Tuan udah selesai makannya?" tanyaku melihat masih ada nasi dan daging yang tersisa di mangkuk miliknya.
"Udah, gue kenyang." Memang, Ghiffa sudah makan 4 mangkuk nasi, dua sosis, dan mungkin sekitar setengah kilogram daging sapi dan ayam.
"Sedikit lagi, Tuan. Sayang nasinya." bujukku.
Ghiffa menggelengkan kepalanya dan tangannya mulai memetik gitar itu lagi.
Aku menghela nafas. Ku ambil nasi dan daging panggang di mangkuk Ghiffa dan mulai memakannya.
"Loh, kok lo makan sisa gue?" tanya Ghiffa heran.
"Sayang, Tuan. Saya itu diajarin sama orang tua saya dari kecil kalau makan itu harus sampai habis. Walaupun kita udah kenyang tetep harus diabisin, jangan sampai ada sisa. Saya juga sering makanin sisa makanan adik-adik saya kok kalau mereka makan dan gak habis."
"Tapi, 'kan itu bekas gue." protesnya.
"Saya udah sering kok abisin makanan Tuan yang gak abis."
"Sering?"
"Tiap makanan Tuan gak abis, saya yang abisin. " ucapku dengan santai.
"Tapi tetep aja, masa lo ngabisin makanan bekas gue."
"Emang kenapa, Tuan? Saya gak jijik kok. Saya ini 'kan pengasuhnya Tuan."
Ghiffa terdiam sejenak, "Gue gak mau lo ngabisin makanan bekas gue lagi. Please, jangan. " ia mengambil mangkuknya yang sedang aku pegang kemudian memakannya.
"Nah gitu dong, pinter." reflek aku menepuk-nepuk kepalanya pelan. "Kalau Tuan gak mau saya makan makanan sisa Tuan, Tuan harus makan sampai habis ya." ucapku seakan menasihati seorang anak TK.
"Gue, bukan anak kecil." tatapan tajamnya tertuju padaku.
"Tuan itu masih kecil. Bayi kata saya juga." candaku.
"Gue bukan bayi." suaranya meninggi.
"Iya, iya, Tuan bukan bayi." ucapku.
Namun Ghiffa terlihat tidak puas dengan jawabanku yang seakan mengalah padanya.
"Jangan pernah lo nganggep gue kayak gitu lagi. Jangan anggap diri lo sebagai pengasuh gue lagi." nada bicaranya serius, sepertinya ia tersinggung.
"Kalau gitu, Tuan juga harus menjaga sikap Tuan. Tuan harus bersikap lebih dewasa, lebih mandiri. Tuan harus bisa tidur tanpa saya temani terlebih dahulu." aku terbawa suasana. Rasanya ini waktu yang tepat untuk membuat Ghiffa mengubah sikapnya yang begitu bergantung padaku.
Wajah Ghiffa berubah marah.
"Tuan juga jangan sembarangan menempelkan bibir Tuan pada saya." ucapku dengan nada serius.
"Menempelkan?" dengusnya.
"Iya, Tuan sudah dua kali menempelkan bibir tuan pada bibir saya. Untung saya orangnya gak mikir macem-macem. Jadi saya cuma nganggep Tuan itu sudah 'apet' sama saya. Tuan tau gak 'apet'? Itu istilah dalam bahasa Sunda yang artinya kurang lebih kayak gini, kalau ada anak kecil atau bayi ngerasa deket sama orang lain yang bukan orang tuanya. Nah itu apet namanya, Tuan. Tuan juga udah apet ya sama saya? "
Muncul keheningan yang janggal setelah aku mengatakan itu. Ghiffa tidak membalas ucapanku dan aku sibuk menghabiskan makananku. Namun perasaanku bisa merasakan Ghiffa sedang menatapku. Dengan ragu aku menoleh ke arahnya. Dan benar saja, Ghiffa sedang menatapku. Entah apa yang dipikirkannya. Namun tatapannya membuatku takut.
Akhirnya setelah susah payah menelannya, makananku habis. Aku meminum segelas air putih dan beranjak untuk membereskan meja.
Namun, tepat saat aku akan berdiri, Ghiffa menarik tanganku dan satu tangan lainnya meraih tengkukku mendekat pada wajahnya, kemudian ia berkata, "Kita liat, seudah yang bakal gue lakuin sama lo sekarang, apa lo masih nganggep gue bayi?"
Sontak, Ghiffa menempelkan bibirnya lagi padaku. Bahkan tidak hanya menempel, ia 'melahap bibirku dengan rakus'. Dan aku, tersengat listrik itu lagi. Aku tak mampu bergerak karena kali ini tegangan listriknya jauh lebih tinggi dari sebelumnya, membuat sekujur tubuhku kaku beberapa saat.