
Aku membuka goodie bag itu dan melihat satu tray sushi dengan berbagai bentuk di dalamnya.
"Kamu mau gak, Bel?" Aku menyodorkan goodie bag itu pada Belva.
Belva menggelengkan kepalanya. "Gue gak mau ikut-ikutan." Iapun terus melahap mie ayamnya.
Karena bingung, aku menyimpan sushi itu di bangku taman sebelahku dan kembali melahap mie ayamku.
"Hey kalian sedang apa disini?" Roni, teman sekelas kami menyapa, khas sekali dengan logat Papuanya.
"Lagi dugem. Ya lagi makanlah, Onta. Masih nanya." ujar Belva jutek. Belva dan Roni memang tidak akur, Roni ini sudah ngefans pada Belva sejak kami pertama jadi mahasiswa.
"Jutek sekali kamu ini sama teman, Bel. Aku hanya bertanya sajae." ujarnya kecewa.
"Eh Ron, kamu mau juga gak? Aku masih ada sushi nih?" Tawarku.
"Sushi? Wah aku maue. Baik sekali Ayana berbeda dengan kawanmu inie." Belva menatap Roni dengan galak, membuatnya terburu menyambar goodie bag itu, "Makasih Ayana. Aku pergi dulu!" Lalu lari terbirit-birit.
"Serius lo ngasihin sushi dari Ghaza gitu aja?" tanya Belva khawatir.
"Serius. Pertama aku emang gak suka. Kedua, aku gak akan nerima bantuan atau apapun dari dia lagi mulai sekarang." ucapku penuh tekad.
HPku yang terletak di meja taman itu berdering. Nama Ghaza muncul di layarku.
"Panjang umur, baru juga diomongin." ujar Belva.
Bagaimana ini? Apa aku abaikan saja? Tapi tidak mungkin juga. Aku harus bisa tegas sekarang. Aku menghela nafasku panjang, menghilangkan gugupku. Lalu aku usap layarnya, "Halo?"
"Ayana, kamu sudah terima sushi yang saya kirim?" terdengar suara Ghaza di seberang sana.
"Sudah, Tuan. Terimakasih banyak." Ucapku.
"Sama-sama. Di makan ya."
"Saya gak suka sushi, Tuan. Jadi saya sudah berikan sushi itu pada teman saya, daripada mubadzir. Kebetulan dia tadi kelaparan karena uang kiriman dari orang tuanya belum juga sampai." ucapku sedikit berdusta, juga tanpa merasa bersalah.
Belva menatapku dengan mulut terbuka dan tatapan terheran-heran.
"Oh gitu ya." Sepertinya Ghaza agak syok dengan jawabanku, "Maaf saya gak tahu kamu gak suka sushi. Lain kali saya akan kirimkan makanan yang memang kamu suka. Kamu sukanya makan apa?"
"Maaf, Tuan. Tapi Tuan tidak perlu repot-repot seperti ini lagi. Saya tidak akan menerima apapun lagi dari Tuan. Terimakasih sebelumnya kalau Tuan bisa mengerti." Aku menjauhkan ponselku dan bersiap mematikannya.
Namun suara Ghaza terdengar lagi, "Apa kamu menolak niat baik saya?"
Ku dekatkan kembali ponselku pada telingaku, "Dengan berat hati saya katakan, iya Tuan. Saya tidak bisa menerima apapun lagi dari anda. Sekecil apapun itu."
"Kenapa? Apa karena Ghiffa?" tanyanya.
Kalau sudah tahu untuk apa masih bertanya? Ku jawab hanya dalam hati.
"Selama ini saya sering membuat status. Tapi tidak pernah melihat kamu sudah melihat status saya. Apa kamu menyimpan nomor saya?"
"Saya menyimpan nomor Tuan. Tapi saya batasi, jadi saya tidak bisa melihat status yang anda buat. Begitu juga sebaliknya status saya tidak akan bisa dilihat oleh Tuan." ujarku, lagi-lagi tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kamu berubah, Ayana. Ada apa?" Ucapnya.
Yang berubah justru dirinya. Aku merasa dia semakin berani menunjukkan maksudnya.
"Maksud Tuan?"
"Kenapa kamu jadi angkuh seperti ini pada saya? Setahu saya kamu adalah perempuan yang lembut."
Aku kembali terdiam.
"Saya ingin bertemu. Kamu bisa sore nanti?"
Ada apa sih dengan Ghaza? Kenapa dia malah mengajakku bertemu?
"Maaf, saya sibuk Tuan. Saya tutup dulu teleponnya. Selamat Siang."
Aku matikan sambungan teleponnya dan menyimpan HPku kembali di sebelah mangkuk stereofoam berisi mie ayam milikku.
"Aku udah punya suami, Bel. Aku harus jaga jarak sama cowok manapun juga selain suami aku." Aku kembali melahap mie ayam yang sudah sedikit dingin.
"Jo itu cerita, dia aja gak berani nyuekin telepon atau chat dari Ghaza. Nah ini, lo malah dengan gamblangnya ngacangin dia. Lo tutup telepon dia duluan lagi! Sejak kapan temen gue jadi se-savage ini." Belva menggelengkan kepalanya, masih tercengang dengan yang aku lakukan.
"Kamu tuh lebay." ujarku singkat.
"Beneran. Jo itu sering dimarahin gara-gara..."
Terdengar bunyi klakson mobil yang sangat aku kenal, aku dan Belva menoleh dan melihat mobil merah Ghiffa mengambil salah satu tempat parkir di depan fakultas. Tak lama Ghiffa keluar dari mobil dengan seragam SMA yang dipadukan dengan jaket denim robek-robek miliknya. Beberapa mata langsung tertuju pada penampilannya yang begitu mencolok.
"Wah, dia beneran suami lo, Na? Kok gue baru nyadar kalau Ghiffa emang ganteng parah." Belva saja sampai terpana begitu melihat Ghiffa yang sedang berjalan ke arah kami.
Aku hanya terbahak, "Inget Mas Jo, Bel."
"Suka sama yang bening-bening itu manusiawi kali. Tapi untuk cinta tetep Jo yang ada di hati gue." ucapnya dengan gaya hiperbola.
"Apaan sih, alay!" candaku.
"Yang, belum abis makanannya?" Ghiffa sudah berada di sampingku dan mengambil bangku diantara aku dan Belva.
"Iya ini banyak banget, A. Aa mau gak?" tanyaku.
"Dia mah kebanyakan ngobrol jadi aja lama makannya. Gue udah abis dari tadi makanannya." ujar Belva spontan.
Dasar Belva kurang asem!
"Ngobrol sama siapa emangnya?" tanya Ghiffa.
"Sama..." entah kenapa otakku tiba-tiba blank. Tidak mungkin aku mengatakan ngobrol dengan Ghaza di telepon 'kan!?
"Sama guelah, Ghif. Dia cerita tentang pernikahan kalian yang drama banget itu. Selamat ya buat kalian. Kado dari gue nyusul." Seketika aku lega. Belva menatapku dengan tatapan tengil seakan mengatakan 'tenang aja kali.'
"Oh.." Ghiffa tersipu seraya mengusap tengkuknya.
Kami mengobrol sebentar setelah itu sampai makananku habis. Kemudian kami segera kembali ke rumah.
Tanpa berlama-lama Ghiffa membawaku ke kamar dan segera menyerangku, lagi.
Semuanya terasa berbeda. Aku sangat paham dengan yang Ghiffa rasakan. Rasanya kami hanya tidak bertemu kurang dari 8 jam, tapi entah mengapa kami begitu saling merindukan.
Aku sangat merindukan suamiku, lebih tepatnya sentuhan dari suamiku ini.
Setelah mencapai puncak bersama, Ghiffa mengistirahatkan kepalanya di dadaku. Aku menyelimutinya dengan selimut hingga menutupi punggung polosnya. Aku menyeka keringatnya yang bercucuran di pelipisnya dengan tanganku. Ia menengadahkan kepalanya.
"Gawat, Yang."
Sontak aku khawatir, "Apa yang gawat, A?"
"Gawat aku gak bisa jauh-jauh dari kamu sekarang." ucapnya diakhiri senyuman manis di bibirnya.
"Apa sih Aa!" Aku memprotesnya karena kembali membuat jantungku kembali berdetak kencang. "Tapi A, ini kita gak akan apa-apa ngelakuin ini terus? Kalau aku hamil gimana?"
"Ya gak apa-apa." ujarnya santai.
"Tapi 'kan bapak bilang kita jangan dulu punya anak, A. Aa itu masih sekolah. Aku masih kuliah. Harusnya kita fokus dulu sama pendidikan kita."
"Iya sih. Tapi aku beneran gak apa-apa kalau kamu hamil. Kita bakal sayangin dia dan kita besarin dia tanpa kekurangan sesuatu apapun. Terus Bapak sama Mama kamu juga pasti seneng kalau punya cucu."
Tanpa sadar aku menatapnya hangat. Seorang Ghiffa yang anak broken home, cuek, nekat, dan kadang egois, berkata tidak apa-apa jika kami memiliki anak. Benar-benar di luar dugaan.
"Aku kira Aa gak pengen dulu punya anak? Gak nyangka Aa bisa sedewasa itu ngomongnya?"
"Aku pengen punya anak, Yang. Aku pengen anak aku gak kayak aku. Dia harus jadi anak yang ngerasa disayangi sama kedua orang tuanya."
Aku tertegun mendengarnya. Sangat bisa dipahami, Ghiffa pasti tidak ingin anak kami kelak bernasib sama sepertinya. "Aku bersyukur banget udah dikasih suami yang baik dan gemesin kayak gini." Aku mencubit kedua pipi Ghiffa pelan saking gemasnya.
"Baru tahu aku gemesin?"