The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 26: Zayyan bukan Hyuga



Telingaku terasa berdengung. Kesadaranku seakan hilang, tapi aku masih bisa bertumpu di kakiku. Hanya saja aku tak bisa berdiri dengan baik. Kenyataan ini terlalu membuatku shock.


PRAK!!


Tak sengaja aku menyenggol sebuah botol bekas minuman berenergi yang entah siapa yang menyimpannya disana. Botol yang terbuat dari kaca itu kini pecah dan serpihannya berserakan di lantai. Suaranya yang nyaring membuat Zayyan dan pacarnya terkejut dan melihat ke arahku. Aku yakin sekali Zayyan melihatku.


Segera aku berlari menjauh dari tempat itu. Aku berlari ke sembarang arah dan tanpa sadar aku memasuki gedung utama yang saat itu sudah tidak terlalu ramai oleh siswa karena bel tanda istirahat selesai telah berbunyi. Aku melihat lift kosong dan terbuka. Segera aku memasukinya. Saat pintu lift akan tertutup, Zayyan melihatku.


"Ayana!" Namun terlambat. Pintu lift segera menutup sehingga Zayyan tidak berhasil mengejarku.


Aku bernafas lega walaupun masih dengan perasaan yang luluh lantak berantakan. Butiran bening itu kembali mengalir dari kedua mataku.


"Zayyan jahat banget!" isakku.


Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Aku melangkah keluar dari lift dan kebingungan mau kemana. Aku mengedarkan pandanganku dan melihat pintu menuju rooftop terbuka. Akupun berjalan menuju pintu rooftop itu dan berjalan menuju sisi pagar yang terbuat dari tembok setinggi kurang lebih 120 cm.


Angin di atap itu bertiup lumayan kencang menerpa tubuhku. Hembusan angin itu seakan ingin membelaiku, seraya berkata 'menangislah, luapkan semua sesak itu'.


Akupun menangis sejadinya. Merasa menyedihkan. Selama ini dengan bodohnya aku berpacaran dengan seseorang yang sudah memiliki pacar. Ditambah lagi Zayyan terlihat begitu menyayangi pacarnya itu. Waktu yang aku habiskan untuk memikirkannya, mengkhawatirkannya, berbicara di telepon ataupun chat dengannya, benar-benar sebuah kesia-siaan. Seharusnya aku tahu mengapa Zayyan tidak ingin bertemu, ternyata inilah alasannya.


Bodoh sekali aku tidak menyadarinya!


Seharusnya aku tidak memercayai orang yang aku kenal di dunia maya. Dari awal ini semua salahku. Mungkin saja waktu itu Zayyan sedang ada masalah dengan pacarnya itu, lalu ia berkenalan denganku dan merasa nyaman. Pantas saja waktu itu Zayyan hanya ingin berpacaran secara 'maya' tanpa bertemu. Mungkin aku hanya sebatas tempat singgah sementara di saat ia jenuh dengan pacarnya itu.


Mungkin seperti itu yang terjadi.


Bodoh! Terus ku rutuk diriku sendiri karena sudah sebodoh ini.


"Ayana..." sebuah suara lirih tiba-tiba saja terdengar.  Aku melihat Zayyan berdiri di sampingku, dengan nafas tersengal.


Ternyata ia berhasil menemukanku. Mau apa lagi dia? Saat aku sudah seperti ini baru dia mau menemuiku, padahal selama ini ia selalu menolak untuk bertemu.


Aku memalingkan wajahku, tak ingin ia melihatku menangis sampai seperti ini.


"Ayana, ada yang harus aku jelasin ke kamu." ucapnya hati-hati.


"Mau jelasin apa lagi? Aku udah liat semuanya!" isakku dengan suara tercekat.


"Kamu salah paham, Ayana. Kamu harus dengerin penjelasan aku." Zayyan masih berusaha menjelaskan.


"Aku liat kamu cium dan peluk cewek lain, kamu masih bilang aku salah paham?! Justru sekarang aku ngerti kenapa kamu selalu gak pengen aku ajak ketemu! Akhirnya aku paham semuanya, Ga. Kamu cuma main-main 'kan sama aku? Aku gak akan mertahanin semua ini. Udah cukup. Kita putus aja."


Aku berniat pergi. Namun Zayyan menahan tanganku, dengan segera aku menangkisnya.


"Jangan pegang aku!" teriakku marah.


"Maaf, Ayana. Aku gak bermaksud lancang." ucap Zayyan.


Bahkan Zayyan sekarang berbicara sesopan itu padaku, apa baginya kami benar-benar sudah menjadi orang asing sekarang?


Aku tidak menjawab, isakku membuatku sulit bicara.


"Maaf aku udah bohong sama kamu, Ayana. Sebenarnya aku bukan pacar kamu."


Seketika isakku berhenti. Sebegitunya Zayyan padaku? Bahkan aku tak pernah dianggap olehnya?


"Jadi selama ini kamu emang gak pernah nganggep aku sebagai pacar kamu?!" Aku tidak percaya ternyata itulah yang Zayyan rasakan terhadapku.


"Bukan gitu, Ayana. Aku bukan orang yang chat sama kamu. Aku bukan Hyuga. Pacar kamu yang asli bayar aku untuk ketemu kamu di cafe X waktu itu."


Otakku mendadak kosong, hatiku mati rasa.


"Pacar kamu yang asli, pengen aku pura-pura jadi pacar kamu. Jadi Hyuga. Tapi aku bukan dia, Ayana. Maafin aku karena udah berbohong sama kamu."


"Maksud kamu apa sih?" Aku masih mencoba mencerna semua yang baru saja Zayyan katakan. Apa Zayyan sedang berbohong padaku? Tapi wajahnya terlihat serius, dan Zayyan juga terlihat merasa sangat bersalah.


"Aku akan jelasin semuanya sama kamu. Waktu itu aku lagi butuh uang buat berobat karena ibu aku sakit. Terus tiba-tiba 'Hyuga' nyari aku. Dia minta bantuan aku buat pura-pura jadi dia dan ketemu sama kamu, supaya kamu mau jadi pacarnya Hyuga. Awalnya aku nolak. Kamu tahu perempuan yang tadi aku peluk? Dia pacar aku. Aku sayang sama dia, Ayana. Aku gak mau ngelakuin hal kayak gini di belakang dia. Tapi karena aku emang lagi butuh uang, aku nyanggupin itu. Gak tau kenapa Hyuga minta foto aku yang lagi kerja di coffeeshop. Seudah itu aku diminta buat nemuin kamu di cafe X. Dia juga bilang cuma butuh bantuan aku sekali itu aja. Tapi ternyata kamu muncul di sekolah. Awalnya aku ragu kamu pacarnya Hyuga atau bukan, karena aku gak terlalu hafal juga wajah kamu. Tapi kamu datengin aku waktu di lapangan basket dan disitu aku yakin kamu Ayana, pacarnya Hyuga. Aku kembali pura-pura jadi Hyuga karena kayaknya Hyuga yang asli juga kaget ngeliat kamu tiba-tiba ada di sekolah. Aku bantuin dia karena aku ngerasa hutang budi atas uang yang dia kasih sama aku waktu itu."


Aku terdiam. Otakku masih mencoba memahami semua penjelasannya yang terasa tidak masuk akal.


"Jadi...kamu bukan Hyuga?" lirihku, lebih seperti bergumam.


Zayyan menatapku dengan simpati, "Bukan, Ayana. Maaf karena udah bohong. Hyuga emang 'minjem' latar belakang keluarga aku, aku yang disini karena beasiswa, tentang ibuku yang sakit, aku kerja di coffeeshop, semua itu adalah emang beneran aku."


"Kamu kenapa harus sampai bohong kayak gini..?" Logikaku masih belum bisa mencerna semuanya.


"Aku gak bohong, Ayana. Aku serius. Pacar kamu itu orang lain. Bahkan aku gak punya nomor kamu. Coba aja kamu telepon nomornya Hyuga." Zayyan mencoba meyakinkan.


Akupun merogoh sakuku. Terdapat belasan panggilan tak terjawab dari Hyuga. Setelah aku meneleponnya tadi, aku mematikan panggilan begitu saja. Karena panik Zayyan melihatku, aku tidak mengecek ponselku lagi.


Tiba-tiba saja panggilan dari Hyuga masuk, seketika tubuhku panas dingin. Shock. Ternyata yang Zayyan katakan benar. Bagaimana bisa Hyuga berdiri di depanku dan di saat yang bersamaan panggilan dari Hyuga juga masuk ke ponselku? Jawabannya adalah Hyuga dan Zayyan memang bukan orang yang sama.


Dengan tangan bergetar aku menerima panggilan itu, lalu terdengar suara Hyuga yang sudah sangat aku kenal. "Yang. Kamu lagi apa? Kenapa kamu telepon aku tadi dan kedengeran kayak lagi bingung? Terus pas aku telepon lagi kamu malah gak angkat."


Seketika aku merasa merinding. Aku terus meyakinkan diriku bahwa semua yang Zayyan katakan adalah benar. Zayyan bukanlah Hyuga.


"Siapa kamu? Kamu bukan Zayyan 'kan?" kali ini perasaan sedihku berubah menjadi marah, kecewa. Bagaimana bisa Hyuga sudah membohongi aku selama ini?


Hyuga tidak langsung menjawab. Lalu terdengar nada ragu dari suaranya, "Maksud kamu apa, Yang?"


"Zayyan udah bilang semuanya. Dia lagi bareng aku sekarang. Kalau kamu bukan Zayyan terus kamu siapa?!" nada bicaraku meninggi. Tak terdengar sahutan dari Hyuga, "Jawab! Kamu siapa?!"


Hyuga masih bungkam. Sepertinya ia shock karena aku mengetahui semuanya.


"Okay kalau kamu gak mau jawab. Aku tutup teleponnya. Satu hal lagi, makasih banyak karena kamu udah bikin aku jadi orang bego selama ini. Lupain semua yang udah kita jalanin. Anggap aja kita gak pernah kenal, apalagi pacaran."