The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 37: Menolak



"Yang, sini duduk. Buka dong helmnya."


Kata-kata itu tak aku gubris. Aku berdiri tepat di tepi danau memegang erat tali sling bag yang menggantung di pundakku. Helmku, sengaja tidak aku lepas. Aku harus melindungi wajahku, aku tidak ingin Ghiffa memandangku. Rasa maluku sudah di tingkat tertinggi sekarang.


"Yang.." Ghiffa meraih lenganku, mencoba membuatku menghadap ke arahnya.


Namun segera aku tangkis tangannya itu, "Tolong, tuan jangan pegang saya." ucapku dengan menatapnya dingin.


Ghiffa menghela nafas. "Ya udah. Gak apa-apa. Tapi jangan lama-lama ya shocknya."


Tubuhku bergidik. Sangat tidak terbiasa aku mendengar majikanku itu berkata selembut itu padaku. Dia benar-benar menjadi orang lain sekarang. Kemana nada semena-mena yang selalu diucapkannya? Kemana senyum jahil dan menyebalkan yang biasanya menghiasi wajah tampannya itu?


Melihatku tak beranjak dari posisiku berdiri, iapun berdiri tepat di sebelahku. Ia diam tanpa berkata sepatah katapun. Dan itu sangat menggangguku.


"Bisakah Tuan tidak dekat-dekat dengan saya?" ucapku ketus, dan sedikit berteriak.


Tanpa berkata apapun, Ghiffa menjauh dariku dan duduk di kursi taman tak jauh di belakang kami. Dan Itu kembali membuatku terperangah. Biasanya ia tidak pernah membiarkan siapapun berbicara seperti itu padanya, namun kali ini dia bungkam.


Lama sekali aku terdiam di sana. Pikiranku begitu sibuk memikirkan kebetulan yang sangat gila ini. Jantungku juga masih terus berdetak kencang sampai-sampai aku berpikir apa aku mengunjungi dokter saja, karena detaknya seperti tidak melambat sejak tadi. Badanku juga meremang panas dingin. Sepertinya tubuhku tak cukup kuat menerima semua kenyataan yang sangat konyol ini.


Sedangkan Ghiffa, masih bersabar duduk di sana. Aku sama sekali tidak melihat ke arahnya. Aku merasa sangat enggan bahkan untuk sekedar menoleh ke arahnya. Dia juga tidak mengatakan apapun. Aku hanya mendengar beberapa kali ia menyalakan pemantik, sepertinya ia menyalakan rokoknya di belakangku. Tercium juga samar-samar asap rokok dari posisiku berdiri.


Jujur, aku memang menyukai Ghiffa. Aku juga menyukai Hyuga, sangat sayang malahan. Seharusnya ini menjadi sempurna karena ternyata dua cowok yang aku sukai ternyata adalah orang yang sama. Tapi justru aku tidak bisa menerimanya sama sekali.


Aku tak pernah sampai hati membiarkan diriku yang hanya seorang pembantu ini, untuk berharap memiliki sebuah hubungan dengan majikanku yang status sosialnya saja jauh di atasku. Membayangkannya saja aku tidak pernah. Aku selalu berusaha untuk tahu diri. Sejak aku mulai merasakan sesuatu terhadap Ghiffa, dengan hati yang ikhlas, aku tak pernah mengharapkan untuk bisa memilikinya.


Mungkin rasaku terhadap Ghiffa, sama seperti saat aku mem-bias-kan Suga atau Hyunjin, mencintai dengan tahu diri bahwa memilikinya hanyalah sekedar halu belaka.


Selama aku dan Hyuga berpacaran, aku menyukai Hyuga dengan visual dan latar belakang seorang Zayyan. Bagiku keadaan itu sudah sangat sempurna. Pribadinya memanglah milik Ghiffa, namun fisiknya Zayyan setara denganku. Maksudku aku bukan perempuan yang cantik bak aktris korea. Aku merasa cocok bersanding dengan Zayyan yang hitam manis menggemaskan.


Namun dengan Ghiffa, jelaslah aku merasa tak pantas bahkan untuk sekedar berdiri berdampingan. Wajah dan tubuh Ghiffa terlalu sempurna untuk aku yang hanya remahan roti kering.


Selain itu, Zayyan berada di status sosial yang sama denganku. Kami berasal dari kalangan biasa. Kami juga sama-sama menempuh hidup dengan cara yang sulit untuk bisa bertahan di kota besar ini. Alangkah sempurnanya hubungan yang aku miliki jika saja Zayyan ini benar-benar Hyuga.


Al-ghiffari Airlangga, putra kedua Presiden Direktur PT. Melcia Properti, yang bahkan perusahaan itu pernah aku lihat di salah satu chanel TV, sedang mempromosikan sebuah gedung apartemen yang sedang dikembangkannya. Apartemen high class dengan segala fasilitas mewah yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang berada karena harganya yang sangat tidak masuk akal bagi orang kecil sepertiku.


Itu artinya Ghiffa bukanlah dari kalangan sekedar berkecukupan, dia bahkan ada di kasta teratas di SMA Centauri yang dipenuhi oleh putra-putri dari para orang penting dan juga pebisnis kaya di seluruh Jakarta ini.


Bagaimana bisa Hyuga tersayangku adalah Ghiffa?


Kakiku terasa lemas. Aku juga mulai lelah menyadarkan diri ini bahwa semua yang baru saja aku ketahui bukanlah mimpi. Akhirnya aku berjongkok di tepi danau itu dan menatap pantulan wajahku disana. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku akan menghadapinya Ghiffa setiap harinya setelah mengetahui semua ini.


"Yang, jangan diem aja dong. Lebih baik kamu omongin semua unek-unek kamu. Aku siap kok dengerinnya." tiba-tiba saja Ghiffa sudah berada di sampingku.


Aku menoleh lemah ke arahnya, "Tuan jangan seperti ini. Bicara sama saya seperti biasanya aja, jangan kayak gini..." Jika Ghiffa tidak membongkar rahasianya ini, ia pasti akan mengatakan 'Lama banget sih?! Cepetan gue laper!'


Kurang lebih seperti itu.


"Maaf. Kamu pasti shock banget ya." nada bicaranya lembut sekali. Kini Ghiffa benar-benar seperti Hyuga. "Tapi aku udah gak pengen nyembunyiin semuanya. Mulai sekarang aku bakal kasih tau sama semua orang kalau kamu itu pacar aku." Ghiffa meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Nggak, Tuan." Segera aku menarik kembali tanganku. Raut wajah Ghiffa terlihat terkejut atas apa yang aku lakukan, "Tuan ini bicara apa? Kenapa sejak tadi bersikap aneh seperti ini pada saya?"


"Yang, kamu gak usah pura-pura, deh." Ghiffa tertawa getir mendengar ucapanku yang masih saja menganggapnya sebagai majikan.


Aku berdiri dari posisi jongkokku, mundur beberapa langkah, memberi jarak antara aku dan dia, "Tuan adalah majikan saya. Semuanya masih akan sama seperti ini. Tidak akan ada yang berubah."


Ghiffa tertegun sesaat. Aku belum pernah melihatnya seperti itu. Sepertinya ia tidak menyangka sama sekali dengan reaksiku yang malah menghindarinya.


"Apa kamu semarah itu sama aku?" Wajahnya berubah sendu. "Aku tahu aku salah udah nyembunyiin semuanya dari kamu. Aku ngerti kamu pasti ngerasa dibohongin sama aku, tapi aku bongkar semua ini karena aku pengen pacaran sama kamu secara normal, kayak yang selalu kamu pengen 'kan? Kamu sering bilang pengen anter-jemput kalau pulang, makan bareng, nonton, ngedate, ngobrol langsung? Sekarang kita udah ketemu, tapi kamu malah bereaksi kayak gini?"


"Tuan, saya itu sudah putus dengan Hyuga. Keinginan-keinginan itu memang pernah saya utarakan padanya. Tapi semuanya sudah selesai. Dia sudah memutuskan hubungan dengan saya. Dan saya tegaskan kembali, Tuan Ghiffa bukan Hyuga. Bahkan saya tidak tahu wajah asli Hyuga seperti apa."


Wajah Ghiffa mengeras, sorot mata elangnya menyorot padaku, "AKU INI HYUGA, AY!" teriaknya.