The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 113: Selalu Seperti Ini



Ghiffa's point of view


Setelah beberapa saat menangis, Ayana akhirnya tertidur. Tangan Ghiffa terus menepuk pelan punggung sang istri yang berbaring di sampingnya.


Ghiffa masih merasa sangat syok. Saat melihat Ayana tertidur tadi, Ghiffa spontan mencium bibirnya. Setelah hari yang membuatnya begitu penat, ingin rasanya ia mencari ketenangan dengan melakukannya dengan sang istri. Namun entah mengapa Ayana tiba-tiba saja berontak dan berteriak. Yang membuat Ghiffa semakin syok, tubuh sang istri bergetar hebat dan raut ketakutan tergambar jelas di wajah cantiknya. Air mata juga terus bercucuran dari kedua matanya. Kemudian Ayana menangis histeris sambil memeluk tubuhnya dengan amat sangat erat.


Ghiffa terus memeluknya, sambil menenangkan Ayana, ia juga menenangkan dirinya sendiri. Ghiffa sungguh tidak tidak mengerti mengapa reaksi Ayana seperti itu. Tanda tanya besar muncul begitu saja dalam benak Ghiffa.


Ghiffa tak bisa tidak curiga. Sikap Ayana terlalu aneh dan ganjil. Ini bukan pertama kali ia tiba-tiba mencium Ayana yang sedang tertidur. Biasanya perlahan Ayana akan terbangun dan mereka melakukannya seperti biasa. Namun kali ini, ada apa dengan Ayana?


Ghiffa memandang wajah Ayana yang terlelap dengan mata yang sembab. Tangannya mengusap sisa air mata yang masih basah di pipi sang istri. Kekalutan terus menguasainya.


Perlahan ia mengangkat kepala Ayana sedikit, mengganti lengannya yang ditiduri Ayana dengan bantal. Dengan telaten Ghiffa merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah sang istri dan menyelimuti tubuhnya hingga menutupi dada.


Ghiffa beranjak dari tempat tidur dan meraih ponsel Ayana yang disimpannya di nakas. Ghiffa begitu penasaran hingga ia mencoba untuk mencari tahu, siapa tahu ada petunjuk di ponsel Ayana. Ia mulai memeriksa galeri, namun tidak ada yang janggal. Lalu ia memeriksa aplikasi perpesanan dengan logo berwarna hijau itu, sekali lagi tidak ada apapun disana.


Ghiffa terus mengobrak-abrik otaknya. Mengingat-ingat jika ada sesuatu yang aneh dari Ayana selama ini. Kemudian ia ingat laporan dari Seno dan juga Victor, bahwa di hari mereka mengawal Ayana ke kampus, Ayana sempat keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang kacau. Matanya bengkak seperti habis menangis histeris.


Kemudian setelah itu Ayana pergi ke salon dengan Belva, saat sudah pulang tanpa ada acara spesial apapun, Ayana mematikan lampu dan menyalakan banyak lilin sehingga kamar menjadi temaram dan suasana menjadi begitu romantis. Kemudian Ayana juga berinisiatif untuk melakukannya lebih dulu.


Setelah itu Ayana menawarkan diri untuk menghancurkan Ghaza di hari ulang tahunnya, dengan caranya sendiri. Di situ Ghiffa mulai menyadari, Ayana jadi begitu berani pada Ghaza. Bahkan sang istri terus menatap Ghaza dengan tatapan yang begitu puas saat Ghaza tak berkutik mendengar berita pernikahannya dengan Ghiffa.


Ghiffa menatap kembali wajah sang istri, ia kini yakin telah terjadi sesuatu antara Ghaza dan juga Ayana. Terlebih melihat sikap Ayana yang begitu tidak nyaman saat mereka berada di mobil ataupun berada di lift. Ayana seperti ketakutan dan waspada. Juga sikapnya barusan, tiba-tiba Ayana berteriak saat ia menciumnya, dan kemudian menangis histeris.


Apa jangan-jangan...


Sekujur tubuh Ghiffa tiba-tiba merinding hebat ketika tiba-tiba saja sebuah spekulasi menelusup masuk ke dalam kepalanya. Ia kembali teringat dengan kecurigaannya terhadap kejadian Ayana diculik oleh Ghaza waktu itu. Ayana mengatakan ia tidak mengingat apapun. Saat Ghiffa mencoba merunutkan setiap kejadian yang ada, Ghiffa sangat yakin Ghaza telah melakukan sesuatu pada Ayana.


Ghiffa segera keluar dari dalam kamar dan menutup pintunya. Ia mencari keberadaan Ghaza. Ia melihat ke arah bawah dari sisi tangga, ia menangkap sosok sang kakak yang baru saja berjalan menuju ke arah dapur. Iapun turun dan menghampiri Ghaza yang sedang mengambil segelas air putih dari kulkas pintar miliknya.


Ghaza menyadari bahwa sang adik berjalan ke arahnya. Mereka bertemu tatap, namun Ghaza tak mengatakan apapun. Ia malah dengan santainya meneguk air putih di tangannya.


"Waktu lo nyulik Aya, apa yang lo lakuin ke dia?" Ghiffa langsung ke intinya.


Ghaza terdiam sejenak lalu tersenyum menyeringai, "Kenapa emangnya?"


Dari jawaban Ghaza, juga ekspresi Ghaza, Ghiffa tahu bahwa sesuatu itu memang telah terjadi. "Jawab aja, Anj*ng. Gak usah balik nanya." Ghiffa yang sudah emosi, semakin emosi.


Ghaza duduk di kursi bar di konter dapur sambil kembali meminum air putihnya kembali, "Gue nyium dia."


Kata-kata Ghaza masuk ke telinga Ghiffa dan langsung saja menyebarkan racun ke seluruh tubuh Ghiffa. Perlahan rasa sakit dan tidak terima ia rasakan didalam hatinya.


"Bohong." lirih Ghiffa sambil menahan amarah yang terus mengalir ke setiap sendi di tubuhnya.


"Lo pasti ngelakuin lebih dari itu." ucap Ghiffa dengan ragu, walaupun dalam hati ia sangat berharap itu bukanlah yang telah terjadi.


Ghaza masih tersenyum. "Itu... privasi gue dan juga Ayana. Lo gak perlu kepo." ucapnya tanpa rasa bersalah.


Racun itu terus menjalar hingga ke ubun-ubunnya, membuat Ghiffa merasa seperti terbakar. Akhirnya amarahnya meledak, "BANGS*T!!" Kaki Ghiffa melangkah menuju Ghaza, ia siap merobek mulut sialan milik sang kakak.


PRANG!!


Ghaza melemparkan gelas kaca yang sedang dipegangnya ke arah kaki Ghiffa. Reflek Ghiffa menghentikan langkahnya dan agak mundur ke belakang untuk menghindari gelas itu, untungnya pecahan gelas itu tidak mengenai kakinya. Namun kini serpihan-serpihan itu memenuhi lantai di sekelilingnya, membuat Ghiffa tidak bisa lagi melangkah kemana-mana.


Ghaza menatap puas pada wajah sang adik yang terkejut, "Gue suka sama Ayana. Gue bakal rebut dia dari lo."


Ghiffa tersenyum lirih, "Selalu." Ia mengatur amarahnya, "SELALU LO KAYAK GINI. LO AMBIL APAPUN YANG GUE PUNYA, ANJ*NG!!"


"Selama ini gue emang selalu ambil apapun yang lo punya karena semua itu emang punya gue." ucapnya arogan.


"Lo emang psikopat serakah gak tahu diri! Emang siapa yang yang mau lahir di keluarga lo itu, hah?! Gue bener-bener dikutuk hidup dengan nama belakang yang sama sama lo!"


"Lo jangan ngehina nama keluarga gue, Manusia Sampah!" ejek Ghaza dengan nada meninggi.


"Yang sampah itu gue atau lo?!" Sahut Ghiffa tak terima. "Denger ya, lo mungkin bisa ambil semua yang gue punya. Tapi lo gak akan bisa dapetin Aya!"


Ghaza tertawa mengejek pada sang adik. "Gue selalu dapetin apapun yang gue mau, termasuk Ayana." ucapnya angkuh.


"Aa!!" Sontak Ghiffa dan Ghaza menoleh ke arah tangga dimana Ayana berlari menuruni anak tangga itu.


Ghaza berdiri dari posisi duduknya, terlihat terkejut karena Ayana sudah menggendong tas punggungnya lagi.


Ayana terbangun karena teriakan Ghiffa, sesaat kemudian ia menyadari keadaan sudah tidak aman bagi mereka. Kemudian ia segera membawa tasnya dan menghampiri Ghiffa.


"Berhenti, Yang. Banyak pecahan kaca." Ghiffa memperingatkan karena Ayana masih tanpa alas kaki, seketika Ayana berhenti sekitar 3 meter di belakang Ghiffa.


Dua tangannya menenteng sepatu, di kanan miliknya dan di tangan kiri milik Ghiffa. Ayana segera menggunakan sepatu miliknya.


Tinggal satu lagi Ayana menggunakan sepatunya, Ghaza yang menggunakan sandal rumah berjalan cepat munuju Ayana, merendahkan tubuhnya di depan Ayana dan membawa tubuh Ayana di pundaknya.


"YANG!!"


"AA!!"


Teriak Ayana dan Ghiffa bersamaan. Ghiffa segera melewati pecahan kaca itu. Ia tidak peduli kakinya terluka. Yang ia pikirkan adalah berusaha mengejar Ghaza yang terus berjalan menuju kamarnya dengan tubuh Ayana di pundaknya. Namun terlambat, Ghaza sudah membawa Ayana ke dalam kamarnya dan menguncinya.