
Mobil yang dikemudikan Hesti memasuki area kafe. Ia memarkirkannya di garasi yang terletak di sebelah markas. Aku melihat mobil Ghiffa sudah berada di garasi itu juga. Padahal ini masih siang, tapi kenapa Ghiffa sudah pulang?
"Hes, jangan kasih tahu yang tadi ya." ucapku mewanti-wanti. Hestipun mengangguk patuh.
Kami keluar dari mobil dan kemudian beberapa karyawan kafe yang lain datang dan membawakan belanjaan kami. Aku masuk ke dalam kafe dan melihat Ghiffa di meja paling sudut. Segera saja aku menghampirinya.
"A, kok udah pulang lagi?" Tanyaku seraya duduk di sampingnya.
Ghiffa tidak menggubrisku. Ia sedang melamun. Entah apa yang dipikirkannya sampai-sampai ia tidak menyadari keberadaanku. Akupun menyentuh tangannya.
"A..." ucapku cemas.
Ia tersentak kaget lalu menolehku.
"Aa kenapa?" Tanyaku lagi karena Ghiffa hanya menatapku lekat tanpa mengatakan apapun.
"Ikut aku." Ghiffa menggenggam tanganku dan membawaku beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu luar kafe.
Tiba-tiba saja Om Lucas datang dari ruangannya dan menghadang kami. "Ghif."
"Diem lo, Om!" Ghiffa mendorong tubuh Om Lucas membuatnya terdorong ke belakang. Om Lucas terlihat pasrah dengan sikap Ghiffa.
Ada apa ini? Aku menatap ke arah suamiku. Kedua sorot mata elang itu tertuju pada Om Lucas. Kemudian Ghiffa membawaku menuju rumah kami. Ia membawaku ke kamar dan langsung saja merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Aku merasakan pundak Ghiffa naik turun, nafasnya begitu cepat. Aku tahu dia sedang sangat marah.
"A, ada apa? Kenapa Aa kayak gitu tadi sama Om Lucas?" Tanyaku seraya mengelus punggungnya.
Ghiffa melepaskan pelukannya dan membawaku duduk di tepi tempat tidur, ia berlutut di depanku. Ditatapnya kedua mataku dengan sedih. Aku sungguh khawatir, tidak biasanya Ghiffa seperti ini.
"Ada apa sih, A?" tanyaku lagi mulai tidak sabar.
"Yang, maafin aku sebelumnya. Maafin kalau aku egois. Tapi kita gak bisa tinggal disini lagi." Kedua mata Ghiffa menatap kedua mataku bergantian.
"Maksudnya... gimana A?" Aku sungguh tidak paham.
Ghiffa menyapukan rambut hitamnya, merasa frustasi. "Dengerin, Yang. Ternyata Om Lucas selama ini udah bohong sama aku. Kamu inget 'kan waktu itu aku bilang aku kasih uang ke Om Lucas 50 juta buat modal dia ngembangin kafenya? Dia pake uang itu, terus kafenya maju pesat, lambat laun kafenya makin besar bahkan bisa beli tempat ini, dan Om Lucas buka 5 cabang lainnya."
"Iya, A. Aku inget." ucapku, tapi aku masih belum mengerti kenapa kami harus meninggalkan tempat ini?
Wajah Ghiffa mengeras, "Ternyata Om Lucas gak cuma dapet modal itu dari aku. Selama ini Papa bantuin Om Lucas."
"Tuan Musa bantuin Om Lucas?" tanyaku memastikan.
Ghiffa mengusap wajahnya dengan kasar, "Aku emang bego! Selama ini aku percaya aja kalau kafe ini jadi besar dengan sendirinya, dengan kerja kerasnya Om Lucas dan dengan bantuan uang yang aku kasih. Tapi ternyata uang Papa yang bikin kafe ini jadi sebesar ini, Yang."
Aku mengerutkan dahiku, "A, coba Aa jelasin deh semuanya dari awal."
"Tadi di sekolah, Papa nelpon aku. Aku gak angkat pertamanya. Aku heran aja, bukannya semalem kita sepakat buat gak saling berhubungan lagi, tapi Papa malah nelpon. Akhirnya aku angkat ternyata Papa pengen aku ketemu sama kolega-koleganya. Papa pengen ngadain acara makan malam buat semacam secara resmi dia ngumumin pernikahan kita ke kolega-koleganya. Kamu pasti ngertilah, intinya Papa ngelakuin ini karena untuk menjaga hubungan baik sama rekan-rekan bisnisnya. Aku bilang gak mau. Kita udah sepakat kalau kita bakal putus hubungan. Aku bener-bener gak mau berhubungan sama Papa apalagi harus hadir di acara kayak gitu. Terus intinya seudah itu aku sama Papa debat panjang, sampai dia minta aku dateng ke kantornya."
"Terus Aa dateng ke kantornya Tuan Musa?"
Sebenarnya aku sempat berpikir, kenapa Tuan Musa begitu tega tidak memberikan hak milik Ghiffa di perusahaannya. Bagaimanapun Ghiffa ini adalah anak kandungnya. Tapi ternyata dari penuturan Ghiffa barusan, sedikitnya aku tahu Tuan musa masih memiliki rasa peduli pada putra keduanya ini.
"A, itu bentuk perhatiannya Papanya Aa. Kayaknya beliau gak bisa ngasih secara langsung sama Aa karena hubungan kalian yang gak terlalu baik. Makanya Beliau mutusin buat ngelakuin itu." Aku mencoba memberikan pendapatku.
"Tapi aku gak mau, Yang! Aku gak sudi dapet uang dari papa! Kamu sendiri tahu selama ini sikap Papa kayak gimana sama aku 'kan? Tahu gak dia bilang apa tadi? Melcia itu mutlak miliknya Ghaza, tapi bukan berarti dia gak ngasih aku sama sekali hartanya. Aku bisa minta berapapun yang aku mau, asal gak ada hubungannya dengan Melcia. Gimanapun darah dia terlanjur mengalir di dalam tubuh aku. Jadi dia merasa bertanggung jawab buat nafkahin aku."
Ghiffa terduduk lesu di depanku. Ia menenggelamkan wajahnya di balik kedua lututnya yang ditekuknya.
Ya Tuhan, jahat sekali sih. Hanya karena Ghiffa lahir karena 'kesalahan' yang diperbuatnya, kenapa Tuan Musa begitu membedakan kasih sayangnya pada Ghiffa. Wajar sekali jika suamiku ini kini sangat membenci ayahnya.
Setelah Ghiffa mengatakan itu, aku hanya bisa menatapnya simpati. Aku mengelus rambutnya perlahan, "Terus sekarang Aa maunya gimana?"
"Aku gak bisa tinggal disini lagi." Ghiffa menatapku dengan wajah yang sangat sedih, "Aku gak pengen hidup dengan belas kasihan papa. Aku gak mau papa mikir kalau aku punya hutang budi. Tapi di sisi lain aku juga gak tega sama kamu, Yang. Aku udah nikahin kamu. Tapi sekarang aku malah ngajak kamu buat hidup susah. Tapi aku juga gak mau kalau kita tetep tinggal disini dan terus nerima uang dari Om Lucas."
"Aa udah yakin bakal lepasin kafe ini?" tanyaku.
"Aku gak bisa tinggal disini setelah tahu semuanya, Yang. Kafe sama mobil udah pasti bakal aku lepasin. Kecuali motor. Motor itu aku beli pake uang taruhan pas pertama kali aku menang waktu itu. Terus itu juga udah jadi milik kamu sekarang, kan."
"Terus nanti kita tinggal dimana kalau pergi dari sini? Aa yakin bisa hidup tanpa adanya pemasukan dari Om Lucas? Tanpa mobil Aa? Aa siap hidup susah?"
"Harusnya aku yang nanya gitu, Yang."
Aku tersenyum pada suamiku, "A, aku udah biasa hidup susah. Aa lupa sebelum kenal sama Aa aku kerja banting tulang buat ngehidupin diri aku sendiri? Justru Aa yang aku cemasin. Aa bisa emangnya gak ada mobil, dan hidup seadanya? Aa udah mikirin semuanya? Seudah kita pergi dari sini kita harus cari tempat tinggal, juga pekerjaan. Aa siap hidup kayak gitu?"
"Aku siap, Yang. Aku pasti bakal cari kerja buat kamu. Tapi aku gak tega sama kamu." Ghiffa menggenggam tanganku.
"Aku juga siap kok, A. Aku itu istrinya Aa. Apapun keputusan Aa aku pasti dukung. Aku pasti bakal selalu ada di samping Aa."
Ghiffa mengecup punggung tanganku, "Kamu tuh jadi istri baik banget sih." lirihnya.
"Aa muji apa ngeluh sih itu?" candaku.
"Ya mujilah, Yang." Ghiffa menarik tanganku, "Sini."
Ia menselonjorkan kakinya dan membimbingku duduk di pahanya, menghadap ke arahnya. Ia menatap mataku lekat, "Kamu yakin mau ikut aku pindah dari sini? Gak apa-apa kalau aku bawa kamu hidup susah?"
"Udah aku bilang kan, aku istrinya Aa. Kalau Aa gak tinggal disini lagi, ya masa iya aku masih disini. Aku bakal ikut kemanapun Aa pergi." Aku melingkarkan tanganku di lehernya, "Justru Aa yang harus mikirin bener-bener. Aa emang bisa hidup jadi orang biasa? Nyari kerja itu gak gampang loh, A. Aa lebih baik pikirin lagi baik-baik. Jangan terlalu mikirin gengsi Aa. Kenapa Aa gak mikir kayak gini, dengan papanya Aa ngasih uang diem-diem melalui Om Lucas, justru itu ngebuktiin kalau ternyata beliau itu sayang sama Aa. Beliau merasa bertanggung jawab karena Aa anaknya."
Ghiffa menggeleng pelan, "Gak bisa, Yang. Papa terlalu lama dan terlalu sering bikin aku sakit hati. Aku udah gak bisa mikir kayak gitu."
"Ya udah. Aku cuma ngingetin aja. Gak ada orang tua yang bener-bener benci sama anaknya, A."
"Kecuali Papa aku." ucapnya keras kepala.
Aku menghela nafas tak ingin menanggapi lagi. Ghiffa menarik tengkukku mendekat padanya dan menciumku beberapa saat. Kemudian ia mengistirahatkan dahinya di dahiku, "Seudah ini, kita beresin barang-barang kita. Kita pergi dari sini."