The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 4: Tuan Muda Menyebalkan



"Ghiffa itu anak yang manja. Sejak kecil dia tidak pernah bisa menjalani aktivitasnya sehari-hari tanpa bantuan dari saya dan ARTnya. Makanya saya sangat khawatir membiarkan dia tinggal sendiri seperti ini." ucap Natasha dengan cemas. "Saya sering ikut suami saya untuk ke luar kota, maka dari itu saya mohon, jaga Ghiffa untuk saya ya."


Aku mengangguk ragu, "baik, Bu." Kata-kata majikanku barusan terasa sangat membebaniku. Jika dia sangat mengkhawatirkan putranya tinggal disini sendirian, mengapa dia mengizinkannya?


"Terimakasih ya Ayana," sebuah senyuman terbit di wajah Natasha, "besok saya juga mau minta bantuan sama kamu."


"Bantuan apa, Nyonya?" tanyaku.


"Besok saya dan suami saya harus pergi ke Semarang. Tapi tadi siang saya mendapatkan panggilan dari sekolah Ghiffa, lagi-lagi dia dipanggil sama BK. Gak tau apa yang udah dia lakukan kali ini. Saya minta tolong, kamu mewakili saya bertemu dengan walikelas dan guru BKnya Ghiffa, bisa 'kan Ayana?"


'Anda kira saya bisa menolaknya? Walaupun anda mengatakan anda minta bantuan, tetap saja itu perintah buat saya! Wah, urusan persekolahannyapun saya harus turun tangan. Tolonglah, saya hanya ingin membereskan rumah dan menyiapkan makanan. Bukan mengasuh dan ikut bertanggung jawab atas persekolahannya juga!'


Ingin aku teriakkan kata-kata itu pada Natasha, namun tentu saja aku hanya bisa menelannya kembali, "Baik, Nyonya. Saya akan ke sekolah Tuan Muda Ghiffa besok." lirihku dengan pasrah.


Setelah itu Natasha pulang. Aku kembali masuk ke kamarku, ku raih HP dan melihat chat dari Hyuga dan beberapa panggilan tak terjawab juga.


[Hyuga] : Ay? Kok Gak bales?


Aku segera membalasnya. Aku tidak ingin ia salah paham. Tadi dia sudah mengirimkan fotonya padaku dan aku tidak langsung membalasnya. Aku sedikit khawatir jika dia berpikir aku hilang perasaan padanya karena aku tidak langsung membalasnya, setelah ia mengirimkan fotonya padaku.


[Ayana] : Maaf, Ga. Aku tadi ada perlu sebentar jadi gak sempet bales.


Segera chatku bercentang biru, tanda Hyuga sedang berada di ruang obrolannya denganku.


[Hyuga] : Oh, aku kira kemana. Iya gapapa, kok.


[Ayana] : Makasih fotonya. Kita ketemu aja yuk, besok kamu bisa gak?


[Hyuga] : Loh, kan katanya mau tukeran foto aja.


Aku tidak ingin menundanya lagi. Aku ingin dia segera mengetahui aku yang sebenarnya. Semuanya sudah tidak akan sama lagi setelah ini. Zona nyamanku dengan Hyuga sudah hilang semenjak aku dan dia sama-sama menyatakan perasaan masing-masing. Sekarang aku harus bisa mengambil resiko. Jika dia tetap menyukaiku saat bertemu denganku, maka zona nyaman itu akan kembali aku dapatkan. Jika tidak, aku harus rela kehilangan dia.


[Ayana] : Aku pengennya ketemu, Ga. Kalau kamu sibuk, aku bisa ke tempat kerja kamu besok. Sebentar aja kok, ketemu udah gitu aku pulang lagi.


[Hyuga] : Jangan, Ay. Aku gak enak kalau di coffeeshop. Nanti aku takut ditegur sama bos aku. Besok aku kabarin lagi deh.


[Ayana] : Okay deh. Btw, nama asli kamu siapa Ga?


Semakin aneh 'kan hubungan yang aku jalani bersama Hyuga? Nama aslinya saja aku tidak tahu.


Mataku tiba-tiba saja terasa begitu berat. Aku memasang alarm di jam 8.30 malam. Mataku ingin terlelap sebentar saja, hari ini aku cukup kelelahan karena harus membereskan barang-barang dari kostku dan pindah kesini. Segera mataku tertutup dan membawaku ke alam mimpi.


BRAK..BRAK..BRAK...


Kesadaranku tiba-tiba kembali setelah beberapa saat aku terlelap. Aku terperanjat kaget mendengar suara kamarku diketuk dengan kasar dari luar. Aku melihat jam dan sontak aku bangkit dari tempat tidur, membuat pandanganku sedikit berkunang. Bagaimana bisa sekarang sudah pukul 10.30 malam!


Aku bergegas menuju pintu dan aku melihat majikanku disana, berdiri dengan tatapan yang murka.


"Mana makanan gue?" tanya Ghiffa. "Lo abis tidur?!" suaranya meninggi.


"Maafkan saya, Tuan!" aku segera merapikan rambutku yang berantakan dan bergegas ke dapur.


Aku menyiapkan wajan dan mengeluarkan bahan-bahan yang tadi sudah aku iris-iris dari dalam kulkas. Aku baru menyadari bahwa Ghiffa belum kesini. Aku melihat ke arah pintu kamarku dan Ghiffa tidak ada. Dimana dia?


Sudahlah, akupun segera menyalakan kompor.


"Lo tuh belum sehari disini udah lalai!" bentaknya. Tiba-tiba saja sudah ada di depanku.


Ghiffa memotong ucapanku. "Udah bikinin gue mie aja biar cepet!"


Aku menghentikan tanganku yang baru saja akan memasukan bawang ke wajan.


"Ini juga cepet kok, Tuan. Lagipula mie itu kurang bagus buat..."


"Gak usah ceramah!" sela Ghiffa. "Udah salah pake nasehatin lagi."


Terkutuklah Tuan Mudaku ini. Kenapa sih dia tidak makan di luar saja? Memang dia tidak kelaparan jam segini belum makan? Ingin aku menanyakannya tapi aku tidak berani.


Aku segera mengambil mie dari kabinet dapur dan memasaknya, kemudian menghidangkan mie di hadapan Ghiffa yang sudah duduk di meja makan. "Silahkan, Tuan."


"Gak pake telor?!" tanya Ghiffa dengan nada tingginya, "Lo kira gue bakal kenyang cuma makan mie kayak gini doang?"


Aku menghela nafasku, meredam emosiku. Dalam hati aku berteriak, 'Woy mana aku tahu kamu mau makan mie pake telor! Kenapa gak bilang dari tadi! Kamu kan dari tadi duduk disini dan liat aku bikin mie. Harusnya bilang dong, malah diem-diem aja!'


Ku telan kembali kata-kata itu dan membuat seporsi mie lagi. Kali ini dengan telur, sayuran hijau, sosis, dan jamur. Aku masukan semua.


"Silahkan, Tuan." aku meletakkan mangkuk itu di hadapan Ghiffa.


Dia menatapku heran, "Emang gue minta lo masukin sosis dan lain-lainnya?!"


Ya Tuhan.


"Saya hanya berinisiatif aja, Tuan. Anda kan ingin makan mie yang bisa membuat anda kenyang, makanya saya masukkan semua agar anda bisa kenyang." Akhirnya aku mendebatnya. Pedulilah!


Tanpa disangka, dia tidak membalas kata-kataku. Dia mulai melahap mie yang kubuatkan.


"Saya permisi, Tuan." aku berniat kembali ke kamarku.


"Lo mau kemana?" tanyanya. "Duduk." dagunya mengarah pada kursi di hadapannya.


"Ada apa ya, Tuan?" tanyaku hati-hati, khawatir akan ada ledakan lainnya yang keluar dari mulutnya.


"Gue gak suka makan sendirian." ucapnya sambil terus memakan mienya. Aku masih terdiam mematung. "Duduk gue bilang! Tuh abisin mie yang tadi lo bikin. Mubazir!"


Aku memandang pada mangkuk mie yang ada di meja itu. Mienya sudah sedikit mengembang. Aku tidak suka mie yang sudah mengembang seperti itu, malah aku cenderung lebih menyukai mie yang setengah matang.


Tidak ingin membuat Ghiffa berteriak lagi, akupun duduk di hadapan Ghiffa dan menggeser mangkuk mie itu ke arahku dan mulai melahapnya dengan tidak semangat. Mienya tidak enak, sudah mengambang dan agak dingin. Makan mie itu kan harus dalam keadaan airnya masih panas.


"Tadi Mama kesini? Mama nyuruh lo ke sekolah gue besok?" tanya Ghiffa memecah keheningan.


"Iya, Tuan. Saya harus menggantikan Nyonya Natasha dan Tuan Musa karena beliau tidak bisa memenuhi panggilan guru anda, jadi saya yang diminta datang." terangku.


"Lo besok jangan ngomong macem-macem. Iya-iya aja kalau guru ngomong sama lo. Terus gak usah laporin yang macem-macem sama bokap-nyokap gue. Terutama kalau gue diskors. Lo diem aja."


"Tapi, Tuan..."


Belum selesai aku berbicara, Ghiffa memotong ucapanku. "Gak usah banyak protes. Lo disini cuma ART. Ikutin aja apa kata gue." Ghiffa beranjak dari kursi setelah ia meneguk segelas air putih.


"Baik, Tuan." diingatkan bahwa aku hanyalah seorang ART membuatku tidak bisa berkata-kata lagi.


"Udah lo beresin piring kotor, masuk ke kamar gue."


Aku tersedak saking terkejutnya mendengar perintah Ghiffa. Ke kamarnya? Apa yang dia ingin aku lakukan di kamarnya?