
Tubuhku terus meronta-ronta, kupukul punggung Ghaza sekeras yang aku bisa, kutendangkan kakiku pada tubuhnya, namun semua itu sia-sia. Aku melihat Ghiffa berlari tergopoh ke arahku namun Ghaza terlanjur membawaku ke dalam kamarnya. Ia segera menguncinya, melepaskan tas punggungku dengan paksa, dan menjatuhkan tubuhku di tempat tidurnya.
"Aa tolong!!" Teriakku. Aku mencoba bangkit dari posisiku yang terbaring di ranjang itu.
"Ayana! Berhenti!" Ghaza kini berada di atasku, kedua tangannya masing-masing menyergap kedua tanganku di sisi kanan dan kiriku. Tubuhku ada di antara kedua kakinya dan matanya menyorot tajam kepadaku.
"AA..TOLONG AKU...!!" Aku berteriak sekeras mungkin, air mata sudah membanjir di kedua sisi mataku. Tubuhku masih meronta-ronta untuk melepaskan diri dari Ghaza. Ghiffa juga terus memanggil-manggilku dari balik pintu yang terkunci seraya ia menggedor pintu.
Bahkan kini terdengar suara 'brak' yang begitu keras, sepertinya Ghiffa sedang mencoba mendobrak pintu. Aku harus mencari cara untuk melepaskan diriku dari kungkungan Ghaza.
"Ayana! Tenang! Saya gak akan ngapa-ngapain kamu!" Teriak Ghaza meyakinkanku. Tentu saja aku tidak percaya dan tidak peduli. Aku terlanjur panik. Setelah apa yang pernah dilakukannya padaku tentu saja aku tidak bisa tenang. Ketakutanku semakin menjalar ke seluruh tubuhku.
Hingga spontan, tanpa berpikir, mulutku reflek melakukannya. Aku meludah sekuat tenaga ke arah wajah Ghaza yang hanya berjarak sekitar 20 cm dariku.
Cuh!
Berhasil. Aku mengenai hidung dan pipi kirinya. Ghaza terlihat begitu terperangah, seketika tangannya meraih wajahnya. Di kesempatan itu aku segera bangkit dan berlari menuju pintu. Namun Ghaza meraih handel pintu lebih cepat dariku.
"AA...Tolong...!!" teriakku seraya menggedor pintu dengan keras, semakin panik karena Ghaza kini berhasil mendapatkanku lagi.
Terdengar suara Ghiffa dari luar, "Yang! Aku lagi coba dobrak, kamu minggir dari pintu!"
Ghaza membalikkan tubuhku sehingga kini aku berdiri menghadap ke arahnya. Kedua tanganku kembali disanderanya, tepat di belakang pintu yang sedang didobrak oleh Ghiffa.
"Ayana! TENANG!" Teriak Ghaza. "Udah saya bilang saya cinta sama kamu! Saya gak akan melukai kamu! Saya hanya ingin bicara sama kamu! Tolong sebentar saja!"
Seketika aku tertegun, wajah Ghaza penuh harap padaku. Kedua matanya menatap lekat pada kedua mataku. Dobrakkan di pintu juga berhenti, sepertinya Ghiffa mendengar percakapan kami.
"Saya menyesal sudah melakukan itu pada kamu." Ucapnya penuh sesal. "Kamu sampai mengatakan bahwa saya mel*cehkan kamu. Tapi kamu harus tahu, saya melakukan itu karena saya sudah mulai tertarik pada kamu. Dan itu terjadi sebelum saya menyadari bahwa saya mencintai kamu."
Aku kembali terisak. Tak peduli dia melakukannya karena apa, yang jelas dia sudah melec*hkanku. Dan itu adalah perbuatan yang tak akan pernah bisa aku maafkan seumur hidupku.
"Saya hanya mencium bibir dan leher kamu. Saya benar-benar tidak melakukan lebih dari itu, Ayana. Saya tidak melakukan apapun lagi." Terangnya.
"BANGS*T!!" umpat Ghiffa dari balik pintu, Ghiffa pasti sangat syok mendengar ucapan Ghaza.
Aku masih terisak, sekuat tenaga aku mencoba untuk menimpalinya, "Anda sudah melihat tubuh saya, anda bilang tidak melakukan apapun lagi?!" teriakku.
"Saya minta maaf." Ucapnya terlihat sangat menyesal.
"JANGAN SENTUH SAYA!" Teriakku tidak terima ia mengecup keningku. Jijik sekali rasanya menerima perlakuan seperti ini darinya. Juga, perbuatannya ini membuat rasa bersalahku terhadap Ghiffa menjadi semakin besar.
"GHAZA LO NGAPAIN?! JANGAN SENTUH ISTRI GUE!!" teriak Ghiffa. Ia histeris karena mendengar aku berteriak seperti itu.
"Tolong kasih saya kesempatan, Ayana. Saya akan membuat kamu jatuh cinta pada saya. Saya yakin kamu juga akan mencintai saya." ucap Ghaza, masih seyakin itu bahwa aku akan jatuh hati padanya.
Aku menggelengkan kepalaku dengan pasti, "Nggak akan pernah! Saya gak akan pernah jatuh cinta pada anda! Saya benci sama anda! Benci sebenci-bencinya!!"
"Kamu harus realistis! Ghiffa itu masih remaja! Dia gak bisa jaga kamu! Kamu lihat kejadian tadi? Dia melakukan hal-hal ceroboh sampai kamu harus merasakan ditahan di kantor polisi! Setelah ini apalagi yang akan dilakukannya yang akan merugikan kamu? Kamu perempuan istimewa! Kamu gak pantas mendapatkan hal-hal tak bertanggung jawab seperti itu!"
"Lebih baik saya ditahan disana daripada saya berada disini bersama Anda! Tolong hentikan semua ini! Saya ini adik ipar anda! Tuan Musa sudah memperingatkan anda!"
"Kamu gak usah mengkhawatirkan Papa saya. Saya pasti akan membuatnya menerima kamu sebagai pasangan saya. Sekarang hanya tinggal kamu yang harus bisa membuka hati kamu untuk saya. Saya jauh lebih baik dari Ghiffa! Kamu akan jauh lebih bahagia bersama saya, Ayana. Sadar Ayana! Tolong kamu buka hati kamu!"
"Suami saya jauh lebih baik dari anda! Dia adalah laki-laki terbaik yang pernah ada. Berbeda dengan anda! Di mata saya anda hanyalah seorang laki-laki yang arogan, serakah, dan gak punya hati!" selorohku penuh benci.
"Kamu belum mengenal saya! Yang kamu tahu tentang saya hanya kamu dengar dari Ghiffa. Kamu harus memberikan saya kesempatan untuk membuktikannya, Ayana. Saya mohon."
"Nggak! Saya gak perlu memberikan kesempatan apapun pada anda! Tanpa suami saya memberitahukan seperti apa anda, saya sudah mengetahuinya sendiri. Sekarang saya minta anda lepaskan saya! Saya muak pada anda!"
"Saya gak akan melepaskan kamu. Kamu akan terus berada disini bersama saya." Tatapan Ghaza mengeras.
Ya Tuhan, sampai kapan aku harus seperti ini? Apa lagi yang harus aku lakukan untuk bisa terlepas dari laki-laki gila seperti dirinya?
"Tolong lepaskan saya..." Aku sudah sangat putus asa sekarang. Hingga aku hanya bisa kembali menangis sesenggukan. "Aa.. Tolong.."
"Yang, minggir! Aku bakal dobrak lagi pintunya!" ucap Ghiffa.
Ghaza membawaku menjauh dari pintu, Ia berbisik di telingaku. "Biarkan saya memeluk kamu sekali saja, maka saya akan membiarkan kamu pergi."
"NGGAK!!" Aku kembali berteriak dengan tenaga yang tersisa. Aku terus mencoba melepaskan diri dari cengkraman kuat tangannya di kedua tanganku.
Terdengar suara pintu masih terus didobrak oleh Ghiffa.
Tanpa sepertujuanku, Ghaza merengkuh tubuhku membuatku berontak lebih keras lagi, "LEPASIN SAYA!!" Namun aku tak kuasa melepaskan kedua tangannya yang kini sudah melingkar di sekeliling tubuhku. Semakin aku berontak, semakin erat Ghaza merengkuhku.
Satu tangannya meraih tengkukku dan sepersekian detik kemudian tanpa bisa aku cegah bibirnya sudah berada di bibirku. Tepat saat itu pintu berhasil dibuka, dan pemandangan menyakitkan itu kini harus disaksikan oleh Ghiffa.