
Aku duduk di salah satu kursi salon setelah sebelumnya rambutku dicuci. Setelah berdebat lama akhirnya Ghiffa menyerah dan membiarkanku hanya akan memotong rambutku saja. Dia membopongku ke tempat cuci rambut dan juga ke kursi ini. Membuat semua mata tertuju pada kami. Aku malu sekali melihat tingkah overprotektifnya.
Kini ia berada di lounge lagi. Aku memaksanya menunggu di sana agar tidak merecoki hairdresser yang akan memotong rambutku. Tadi saja ia cerewet sekali saat rambutku di cuci hingga petugasnya pucat setelah dibentak olehnya karena airnya hampir mengenai mataku. Padahal 'mbak'nya tidak fokus karena Ghiffa sendiri yang terlalu merecokinya.
"Pacar yey gitu banget sih, say. Ganteng-ganteng tapi nyeremin." ucap Hairdresser yang berbadan kekar, berpakaian seperti laki-laki namun bertingkah seperti perempuan.
"Maaf ya, Tante, eh Om. Dia udah bikin ribut disini." ucapku penuh sesal.
"Om aja keleus. Eikeu cowok kok, tapi cowok jadi-jadian." ucapnya diikuti dengan terbahak karena ucapannya sendiri membuatku jadi ikut terbahak juga karena mendengar tawanya yang begitu 'renyah'. "Ini rambut yey bagus banget sih. Panjang, lurus, item, terus tebel lagi. Gak sayang mau dipotong?"
"Ia potong dikit aja, Om. Bosen juga panjang terus. Pengen ada modelnya dikit gitu. Bagusnya diapain ya?" Aku memang tidak pernah mengganti model rambutku. Selalu seperti ini, panjang sepunggung tanpa model dan tanpa poni. Saat sudah melebihi pinggang aku pasti memotongnya. Tapi kali ini aku ingin suasana baru.
"Kalau gitu dishaggy gimana? Pake poni depan? Biar bisa nutupin luka di dahi yey juga? Yey pasti tambah kiyut deh."
"Boleh deh. Tapi yakin cocok?" Aku sedikit ragu.
"Pasti cocok. Wajah yey itu bentuknya oval, cocok pakai model apa aja. Kalau tadi gak bilang udah kuliah, Eikeu pasti nyangkanya yey masih SMP deh." komentarnya masih dengan nada melambai.
"Om gak tahu orang ke berapa yang bilang aku kayak anak SMP." Dulu aku kesal sekali jika dikatakan seperti itu, tapi sekarang aku masa bodo.
"Emang bener kok. Dijamin pacar yey makin kesemsem deh. Eh say, kebayang ih dia buas banget kayaknya kalo di ranjang, ya gak sih? Gila aja kalo nggak liat aja leher yey, penuh sama tanda-tanda cinta gitu. Ih gemes banget kalian wajah-wajah polos tapi ternyata nacal!" ucapnya heboh sendiri membuatku antara malu dan terbahak lagi.
"Aduh Om nanyanya ih. Kami gak pernah kayak gitu, Om." ujarku malu sendiri dengan ucapannya. Ghiffa harus aku peringatkan. Bahkan kini ada orang yang berpikir kami pernah melakukannya.
Akhirnya hairdresser itu mulai memotong rambutku sambil mulutnya berbicara tanpa henti. Aku jadi terhibur sendiri mendengar ocehannya.
Aku terus merasa berdebar saat sedikit demi sedikit rambutku dipotong dan berjatuhan di lantai. Namun di waktu yang sama aku juga merasa sangat penasaran seperti apa hasilnya.
Setelah beberapa saat aku pun menghampiri Ghiffa di lounge. Ia sedang sibuk bermain game di HPnya.
"Ghif.." Aku memanggilnya.
"Bentar, Yang. Tanggung. Aku hampir menang." Wajahnya serius sekali. Aku pun duduk di sofa di hadapannya, dengan sabar aku menunggunya sambil membuka ponsel baruku yang sejak tadi memang aku titipkan pada Ghiffa. Kini ponsel itu tergeletak di atas meja.
Aku meraihnya. Saat aku menyalakan layar ponsel itu, sontak aku langsung menyembunyikan layar ponselku dengan telapak tanganku. "Ghif, ini kok wallpapernya gini?!"
"Hemm?" ujarnya masih sangat fokus pada ponselnya.
Percuma saja mengajak Ghiffa berbicara. Jika ia sedang fokus bermain ia akan melupakan segalanya. Aku kembali menyalakan layar ponsel itu lagi. Kemudian muncul lagi foto di hutan pinus itu, saat aku dan Ghiffa berciuman, Ghiffa jadikan wallpaper di ponsel baruku!
"Foto begini dijadiin wallpaper, kalau orang lain liat gimana?!" Gerutuku. Segera aku mengganti foto itu dengan foto yang lain. Ku ganti dengan salah satu foto Ghiffa yang juga diambil di hutan pinus itu.
Aku tersenyum melihatnya. Hal-hal sederhana seperti ini akhirnya bisa aku lakukan juga. Menjadikan foto pacarku sebagai wallpaper di ponselku. Terlebih pacarku ini tampan sekali! Aku tidak akan bosan melihat wajahnya.
Aku melirik sejenak ke arah Ghiffa yang masih serius bermain game, dan sontak aku tersenyum sumringah sendiri. Ya Tuhan, benarkah cowok tampan di depanku ini sekarang benar-benar sudah menjadi pacarku? Aku masih harus terus meyakinkan diriku bahwa itu memang benar.
Lalu aku melihat ada panggilan tak terjawab juga dari nyonya Natasha. Aku berniat meneleponnya balik, khawatir ada sesuatu yang penting.
"Yang?" Aku mendongak mendengar Ghiffa memanggilku. Kulihat wajahnya tercengang melihatku.
"Kenapa? Aneh ya?" tanyaku cemberut. Aku mulai menyesali keputusanku untuk memotong rambutku. Sepertinya Ghiffa kurang menyukainya.
Namun sebenarnya aku cukup menyukainya. Aku terlihat lebih fresh dan ini benar-benar baru bagiku. Aku menyentuh poniku sambil melihat Ghiffa yang masih tercengang di seberang sana. Apa sejelek itu?
Ia pindah ke sebelahku dan begitu saja memelukku sambil mengusak rambutku dengan gemas, "Kamu imut banget, Yang." Ia melepas pelukannya dan memerhatikan wajahku dengan lebih seksama. "Kamu jadi ada poninya." Tangannya terus mengusak poniku.
"Jadi gak aneh?" Hatiku mulai lega.
"Nggak. Lucu. Jadi pengen beliin kamu baju seragam SMP." Ghiffa semakin kesini semakin konyol saja. Masa mau membelikan seragam SMP untukku?
"Kamu tuh ya! Udah ah jangan liatin terus. Malu tahu!" Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Ghiffa malah terus menatapku dengan senyum di wajahnya.
"Lucu banget. Kamu kayak Anego tapi rambutnya lebih panjang." Ghiffa masih saja menatapku. Sempat-sempatnya mengatakan aku mirip dengan tokoh Anego, perempuan yang disukai oleh Tsubasa di serial Captain Tsubasa.
Kalau sudah membicarakan tokoh serial itu, aku masih antara percaya atau tidak bahwa Ghiffa itu adalah Hyuga.
Dulu aku berpikir Hyuga pastilah bergaya seperti para pecinta anime, menggunakan celana longgar, kaos longgar dengan berbagai gambar dengan tulisan kanji atau hiragana/katakana, dan headphone yang melingkar di lehernya. Tak disangka gayanya justru malah tidak jauh dari ripped jeans, jaket denim motif abstrak, hoodie, dan juga jaket kulit hitamnya.
"Ghiffa?" Sebuah suara tiba-tiba menyapa kami. Sontak aku dan Ghiffa menoleh ke arah sumber suara.
Aku melihat Olivia di sana, berdiri tidak jauh dari kami. Jantungku berdesir aneh melihat mantan pacar Ghiffa sedekat ini.
"Eh Liv? Lo kok disini?" Tanya Ghiffa ramah.
"Ini salon langganan gue, kan lo tahu. Harusnya gue yang nanya. Ngapain lo disini?" Kemudian Olivia menatap ke arahku dan tersenyum penuh arti, "Siapa ini?"
Ghiffa melihat ke arahku sekilas dan tersenyum. Kemudian memegang tanganku dan kembali menatap Olivia yang sekarang duduk di sofa di seberang kami, "Ini cewek gue." ucapnya tersipu.
Kali ini aku benar-benar percaya memang tidak ada apapun antara Olivia dan Ghiffa. Ghiffa memperkenalkanku dengan malu-malu seperti itu kepada Olivia. Ghiffa yang selama ini selalu menunjukkan raut wajah yang jutek dan sangar pada orang lain, kini malah memperkenalkanku sembari tersenyum manis menggemaskan. Aku sendiri terkejut melihatnya.
Olivia juga menanggapinya dengan wajah terkejut diikuti tawa seakan ingin menggoda kami, terlihat tulus ikut merasa bahagia untuk Ghiffa.
Syukurlah. Ghiffa tidak berbohong padaku. Olivia benar-benar hanya teman baginya.
"Gue gak percaya akhirnya ada cewek yang bisa luluhin seorang Alghiffari Airlangga. Ini cewek keren berarti udah bisa naklukin cowok bad boy kayak lo. Kelas berapa? Masih SMP?"
Olivia adalah orang yang ke sekian yang mengatakan aku anak SMP. Model rambut baruku malah semakin memperjelas itu.
Ghiffa malah tertawa seraya berkata, "Kelas 3 SMP."