The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 42: I'm So Into You



(masih) Sekitar seminggu yang lalu...


Aku tertegun melihat saldo rekeningku yang hanya tinggal beberapa ratus ribu lagi. Walaupun hanya tinggal sedikit tapi ada rasa lega muncul tatkala aku membayangkan wajah kedua adikku tertawa gembira saat mengikuti karyawisata bersama teman-temannya. Juga wajah lega ibuku yang bisa membayar uang karyawisata beserta membelikan cemilan dan membuat bekal untuk kedua adikku.


Semangat, Ayana. Ayo kita bekerja lebih giat lagi.


"Ayana, kamu ditunggu di ruang kerja Tuan Besar." bi Susi tiba-tiba saja ada di sampingku.


"Tuan Besar, Bi? Pak Musa?" Aku tak bisa menghentikan rasa terkejutku saat mendengarnya.


"Iya, cepetan."


Akupun mengikuti Bi Susi yang berjalan menuju ruang kerja Tuan Musa. Bi Susi mengetuk pintu dan kemudian aku dipersilahkan masuk, sedangkan bi Susi menutup pintu kembali saat aku sudah berada di dalam.


Aku melihat seorang pria paruh baya duduk di sebuah sofa. Nyonya Natasha duduk di sebelahnya. Raut wajah Ghiffa ada pada pria itu. Sekarang aku mengerti mengapa wajah Ghiffa dan Ghaza bisa setampan itu, ternyata gen keturunan faktor utamanya. Untuk ukuran pria paruh baya yang miliki anak tertua berusia 27 tahun, Musa Airlangga benar-benar masih terlihat begitu menawan. Hanya saja sekarang wajahnya terlihat pucat karena sakit yang dideritanya.


Aku mengangguk pelan pada Pria di depanku itu. Aku benar-benar tidak bisa berhenti meremas tanganku yang terasa dingin. Aku sangat gugup! Bagaimana tidak aku kini berhadapan dengan seorang Presiden Direktur sebuah perusahaan besar.


"Kamu pembantu yang bekerja menjaga Ghiffa?" tanyanya.


"Betul, Tuan. Saya Ayana." Aku kaget sendiri mendengar suaraku yang agak bergetar.


"Natasha mengatakan bahwa Ghiffa sedikit lebih terkendali setelah kamu mengurusnya. Kerja bagus."


Apa nada bicara Tuan Musa selalu seperti ini? Membuat lawan bicaranya merasakan aura yang dingin dan mencekam.


"Ter-terima kasih, Tuan." aku semakin kikuk, bahkan kini aku bicara dengan tergagap. Tatapan Tuan Musa begitu menyeramkan dan mengintimidasi, membuat aku ingin segera pergi dari sini.


"Saya punya tugas untuk kamu."


"Tugas apa, Tuan?" tanyaku.


"Saya minta kamu membujuk Ghiffa untuk hadir di acara ulang tahun perusahaan saya sekitar 2 minggu lagi. Dia terus menerus menolak untuk datang. Saya minta kamu bujuk dia sampai dia mau datang. Saya akan beri kamu imbalan jika kamu berhasil membujuknya."


Membujuk Ghiffa untuk datang ke acara ulang tahun perusahaan? Sepertinya tidak terlalu sulit.


"Baik, Tuan. Saya akan mencoba membujuk Tuan Ghiffa agar bisa hadir di acara itu."


"Good." ucapnya. "Saya tunggu kabar baik dari kamu."


Aku hanya mengangguk ragu. Tidak terlalu percaya diri sih jika aku bisa membujuknya. Tapi jika tidak bisapun, tidak akan apa-apa 'kan?


"Kamu harus bisa membujuknya, Ayana." Nyonya Natasha menambahkan. "Acara ini sangat penting bagi Ghiffa. Dia akan diperkenalkan sebagai penerus PT. Melcia Properti."


"Dia baru jadi pemegang saham, Natasha. Belum sebagai penerus, kamu lupa dia baru saja berusia 17 tahun?" tegas Tuan Musa.


"Maksud saya..."


"Hilangkan ambisi kamu itu. Masih untung saya masih menganggapnya anak!" hardiknya, membuat Nyonya Natasha terdiam.


Kemudian Tuan Musa terbatuk-batuk. Nyonya Natasha segera memberikan segelas air untuk suaminya. "Sebaiknya anda kembali ke kamar, Pak."


Natasha menatap ke arahku, "Kamu kembalilah ke apartemen. Ingat Ayana, kamu harus bisa membujuknya." Tatapnya penuh harap.


Kalau Nyonya Natasha sampai berwajah seperti itu, artinya aku harus berhasil membujuk Ghiffa pergi ke acara itu 'kan? Tidak bisa jika tidak.


***


Kini aku berada di lobi apartemen, berdiri menunggu di depan lift yang akan membawaku ke lantai 20. Tanpa sadar aku melamun. Ada hal yang sedikit menggangguku.


Aku bertanya-tanya, apa orang kaya, jika sudah suami-istri, berkata pada suaminya akan menggunakan bahasa yang formal ya? Kata-kata Nyonya Natasha masih aku ingat sekali. Dia memanggil suaminya dengan sebutan 'Pak', seperti karyawan kepada atasannya.


"Ay." Aku melihat sebuah tangan bergerak-gerak di depan wajahku, aku menoleh dan melihat Ghiffa disana. "Kamu kenapa, Yang? Kok ngelamun sih?"


Aku hanya tertegun. Shock. Iya, aku masih shock dan tidak terbiasa dengan gaya berbicara Ghiffa yang berubah.


"Kamu dari mana? Baru aku mau nyariin kamu. Kamu aku telepon juga gak diangkat." tanyanya saat pintu lift tertutup dan mulai bergerak naik.


Aku masih tidak menjawabnya.


Jujur aku bingung, aku takut dia akan marah jika mengetahui bahwa aku baru saja dari rumahnya. Terakhir saja ia marah sekali saat aku ke rumahnya karena Nyonya Natasha memintaku datang. Dia bahkan memperingatkanku jika aku datang ke rumah itu, aku harus mengabarinya.


Daripada Ghiffa marah, lebih baik aku diam saja. Juga, situasi yang serba membuat 'shock' ini membuat diam menjadi pilihan terbaik.


"Yang." Ia meraih tanganku dan menggenggamnya.


Sontak aku melepaskan tangan Ghiffa, melangkah ke sudut lift.


"Kalau tau kamu bakal kayak gini, aku gak akan bilang kalau aku ini Hyuga." ucapnya sedih.


Betul, aku setuju. Seharusnya Ghiffa jangan mengatakan kenyataan ini. Harusnya ia membiarkanku tidak tahu siapa Hyuga sebenarnya sampai kapanpun.


'Sekarang kamu tahu 'kan, kalau yang udah kamu lakuin itu salah banget, Ga!' Aku hanya bisa mengatakan itu di dalam hati saja.


Beberapa saat kamipun tiba di apartemen. Saat aku membuka sepatuku, Ghiffa yang berada di belakangku, tiba-tiba saja melingkarkan tangannya di tubuhku.


"Tuan, lepasin!" aku mencoba memberontak.


Semakin aku mencoba, tangannya semakin erat memelukku. "Im so into you, Aya." lirihnya.


Seketika aku kehilangan tenagaku. Gemuruh jantungku mulai terdengar bahkan hingga ke kepalaku. Ghiffa benar-benar mulai melancarkan misinya untuk membuatku 'kewalahan'.


Aya. Hanya Hyuga yang biasanya memanggilku begitu.


Im so into you, kata-kata itu pula yang sering Hyuga katakan padaku. Biasanya aku akan berbunga-bunga mendengarnya, tapi kali ini aku justru merasa sesak.


Ghiffa membalikkan tubuhku perlahan. Matanya mengunci mataku. Sedetik kemudian sengatan listrik itu kembali aku rasakan, membuatku tidak bisa berkata ataupun menggerakkan tubuhku. Perlahan ia membelai pipiku. Sesaat setelahnya ibu jari Ghiffa sudah menyapu bibirku.


"You so drive me crazy." lirihnya.


Nafasku semakin menderu mendengar ucapannya itu. Jika Hyuga sudah berbicara dengan berbahasa Inggris, aku seperti kehilangan kesadaranku dan segera saja aku begitu terhanyut.


"I wanna kiss you, can I?"


Tolak Ayana! Logikaku berteriak keras sekali.


Namun tubuhku ini sepenuhnya sedang dikendalikan oleh hati. Hati yang memang sangat menginginkan Hyuga dalam sosok yang nyata. Melihatnya akhirnya ia berada didepanku, begitu dekatnya, membuatku enggan untuk mengatakan tidak ataupun menggelengkan kepala.


Hatipun berkompromi pada logika, bagaimana jika jangan katakan tidak, diam saja dan tetaplah bingung. Sisanya, serahkan pada cowok di depanmu ini.


Tak melihat adanya penolakan dariku, perlahan wajah Ghiffa semakin dekat. Kedua kelopak mataku setuju, merekapun menutup. Dan begitu saja aku merasakan bibir itu lagi di bibirku. Hangat, lalu terus menyalur ke seluruh tubuhku.


Kedua kaki dan tanganku memberikan persetujuannya. Kedua kaki ini berjinjit, mengimbangi tinggi tubuh Ghiffa. Tangan-tangan ini meraih tengkuk Ghiffa, sedangkan jari-jarinya, masuk ke sela-sela rambutnya.


Kini, bibirkupun menyetujuinya. Merekapun menyambut ******* demi ******* yang bibir Ghiffa berikan. Perasaan yang begitu luar biasa, aku rasakan dengan sangat nyata.


Kedua tangan Ghiffa merengkuh pinggangku, tak memberi jarak antara tubuhku dan juga tubuhnya.


Suka cita kurasakan. Membludak. Hingga rasanya hatiku tak dapat menampungnya.


Sudah cukup, logikaku tiba-tiba saja berucap.


Seluruh tubuhku patuh.


Mataku mulai terbuka, tanganku mendorong Ghiffa menjauh dariku, membuat bibirku yang tertautpun seketika ikut menjauh.


Tidak tahan melihat wajah bingung dan kecewanya, akupun berlari menuju kamarku dan mengunci pintu.