
"Mbak, cepetan bukain itu pintunya yang lebar. Gue udah gak kuat nih, berat banget!"
"Oh, iya..iya.. Mas. Silahkan dibawa masuk." ucapku pada Max yang sudah kepayahan memapah Ghiffa.
Aku segera membimbingnya untuk membawa Ghiffa ke kamarnya. Sesampainya disana, Max mendudukan Ghiffa di tepi tempat tidur.
"Anj*ng lo berat banget sih." Max memijit-mijit lengannya yang pegal setelah memapah Ghiffa menuju lantai 20. "Udah ya, Mbak, saya serahin ini anak satu sama Mbak."
"Mas, tunggu. Saya takut ditinggal berdua aja sama Tuan Ghiffa. Dia keliatan lagi gak sadar gitu." Sungguh aku khawatir Ghiffa akan melakukan hal-hal yang aneh lagi. Dalam keadaan sadar saja, dia berani menyentuhku. Apalagi ini?
"Gue juga gak bisa lama-lama, Mbak. Udah Mbak kunci aja pintu kamarnya. Biar dia gak bisa kemana-mana." ucap Max.
"Pergi...lo...nj*ing. Gue...pengen...Gue..gak mau..putus.." Ghiffa meracau di tengah pengaruh alkohol.
"Haduh ini anak satu nyusahin aja! Gak biasanya lo kobam ampe begininya, Ghif. Mana pembantu lo ini kecil amat lagi badannya. Takut juga gue kalo lo apa-apain dia." Max melihat cemas kearahku.
Syukurlah dia mengerti. Ini pertama kalinya aku berhadapan dengan orang mabuk secara langsung. Aku benar-benar tidak habis pikir, ternyata pergaulan Ghiffa sampai sejauh ini.
"Ya udah, Mbak, lo bawain air minum." ucap Max.
"Baik, Mas." Ucapku. segera aku ke dapur dan membawakan minum air putih dengan sedotan.
"Ini, Mas." ucapku.
"Kasihin ke dia." perintah Max.
Akupun memposisikan sedotan kepada mulut Ghiffa, "Tuan. Silahkan minum dulu."
Ghiffa yang sejak tadi duduk dengan kepala tertunduk mengangkat kepalanya dan matanya menyipit melihatku. "Ay...kamu udah..pulang?" Ghiffa tersenyum dalam mabuknya, "Akhirnya...kamu..pulang."
"Iya, Tuan. Maaf tadi saya gak langsung pulang. Sekarang Tuan minum dulu ya."
Ghiffa mulai meminum air yang aku bawa melalui sedotan. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali lalu tatapannya tertuju pada Max, "Udah lo pulang aja nj*ng. Gue... mau sama Aya....berdua aja." tangan Ghiffa terus ia kibas-kibaskan, ingin Max cepat pergi dari sini.
"Omongan lo bikin gue makin gak bisa ninggalin lo sama dia. Lo 'kan nekat kalau lagi kayak gini."
Ghiffa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya ia masukkan kedalam saku hoodie yang digunakannya, "Gue..gak akan..sentuh dia..gue..janji..sueeeeer!!" Ghiffa mengeluarkan tangannya dan menunjukkan jari tengah dan telunjuknya.
"Beneran?" Max memastikan.
Aku hanya bisa terdiam dengan cemas. Please, jangan pergi Max! Aku benar-benar takut Ghiffa akan melakukan sesuatu padaku.
Ghiffa mengangguk penuh semangat, "Pergi lo...gue mau... sama cewek gue..."
Seketika aku menatap Ghiffa dengan bingung. Otak Ghiffa sepertinya sudah benar-benar error karena pengaruh alkohol.
"Udah tidur sana. Makin ngaco aja omongan lo. Ya udah, Mbak. Gue serahin dia sama lo." ucap Max.
"Tapi, Mas.." aku sangat berharap Max tidak pergi.
"Tenang aja, bentar lagi dia juga bakal tidur. Gak akan apa-apa." ucapnya menenangkanku. "Gue pulang dulu."
Kemudian Max pergi. Tidak mungkin juga aku menahan Max lebih lama. Bahkan aku tidak mengenalnya. Aku menatap ke arah Ghiffa yang masih terduduk di tepi tempat tidurnya. Badannya terus bergerak ke kanan dan ke kiri.
Dengan ragu aku menghampirinya dan berjongkok di depannya, membuka kedua sepatu yang masih dipakainya.
"Aku...gak.mau..putus.." Ghiffa meracau lagi dengan mata terpejam.
Sejak tadi ia mengatakan tentang putus. Apa Ghiffa baru saja putus dengan pacarnya ya? Makanya Ghiffa sampai menjadikan alkohol sebagai pelampiasan?
"Sudah, Tuan. Sekarang sudah malam. Waktunya Tuan tidur." Aku membawa sepatu Ghiffa, berniat menyimpannya di lemari sepatu.
Namun Ghiffa meraih tanganku, sontak aku terkejut. Kejadian waktu itu benar-benar membuatku semakin waspada jika ada di sekitar Ghiffa. "Tuan mau apa?!" teriakku panik.
Aku tertegun melihatnya bertingkah seperti itu. Ghiffa terlihat merasa sangat bersalah walaupun masih di bawah pengaruh alkohol.
"Tuan istirahat ya. Saya permisi." ujarku, seraya berjalan kembali menuju pintu.
"Ayaaa...." lirihnya, "temenin gue tidur.. "
Aku sedikit terhenyak. Hanya keluargaku dan Hyuga yang biasanya memanggilku dengan sebutan 'Aya'.
"Ayaaa..." tubuhnya masih terhuyung ke kanan dan ke kiri dengan kepala tertunduk.
Aku menghela nafas, "Iya Tuan. Sebentar, saya simpan dulu sepatu Tuan." Akupun menyimpan sepatu Ghiffa di lemari sepatu dekat pintu masuk lalu kembali ke kamar Ghiffa.
"Tuan, sekarang istirahat ya." Aku membantu Ghiffa untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya, namun ia terus menggelengkan kepalanya.
"Gue...gak mau..tidur..gue mau ngomong.." ucapnya bersikeras.
Kantuk mulai menguasaiku, tapi tuan mudaku ini masih saja menahanku. "Ya udah, Tuan mau ngomong apa?" tanyaku mulai tidak sabar.
Ia menepuk-nepuk tangannya pada kasur di sebelahnya, memintaku untuk duduk di sebelahnya. Aku tidak ingin berdebat hingga akhirnya akupun menuruti kemauannya. "Silahkan Tuan berbicara pada saya."
Ghiffa meraih rambut sebelah kiriku yang menutupi dada dan mengibaskannya ke belakang. Aku mulai waspada. Lalu Ghiffa menyentuh leherku dengan ibu jarinya.
"Gara-gara...ini...ya Ay. Maafin..ya.." ucapnya menatap kedua mataku dengan mata sayunya.
Awalnya aku tidak mengerti tapi sepertinya ia menyentuh bekas hisapannya waktu itu yang sudah memudar, memang masih terlihat sedikit. Jika tidak diperhatikan betul-betul maka bekasnya itu tidak akan terlihat. Aku juga sudah melakukan bermacam-macam hal agar tanda kemerahan itu cepat pudar. Untungnya tanda itu ada di leher bagian bawahku sehingga tidak terlihat jika aku memakai kemeja.
Jujur aku sudah tidak ingin memikirkannya. "Sudahlah, Tuan. Silahkan Tuan tidur." aku akan bangkit dari sebelahnya, tapi Ghiffa malah menyandarkan kepalanya pada bahuku.
"Gue...mau jadi bayi aja..." lirihnya.
"Apa, Tuan?" Aku tidak paham apa maksud ucapannya.
"Gue pengen...Lo panggil gue..bayi..lagi.. atau terserah..lo..mau..manggil gue apa." lirihnya. Entah mengapa suara Ghiffa tedengar sangat sedih. "Tapi jangan..ninggalin gue lagi.."
Apa yang terjadi pada Ghiffa sebenarnya? Apa dia benar-benar menyesal telah menciumku sampai seperti itu waktu itu? Apakah sekarang ia sedang meminta maaf karena kejadian di resort waktu itu?
Aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh. Apalagi sekarang Ghiffa sedang mabuk seperti ini. Ucapannya jadi melantur, "Iya, Tuan. Saya gak akan ninggalin Tuan. Saya juga akan temani Tuan tidur. Sekarang Tuan berbaring ya."
Aku berniat membantu Ghiffa untuk menjauhkan tubuhnya dariku dan membaringkannya, namun Ghiffa malah meletakkan hidungnya di leherku, membuat aku tersentak antara terkejut dan juga geli. Detak jantungku mulai bergemuruh karena tindakannya.
"Kamu..wangi..banget, Yang."
Sontak aku terdiam. Ucapan Ghiffa semakin melentur. Bahkan ia kini memanggilku 'yang'. Dia pasti mengira sedang bersama pacarnya.
Juga aku tidak menyalahkannya karena menyebutku wangi. Setelah melakukan creambath tadi sore aku yakin wanginya masih sangat menempel di rambut dan juga seluruh tubuhku.
Aku harus segera menghentikan Ghiffa yang terus mengendus leherku sebelum jantungku semakin berdebar dengan gila-gilaan karena racau-an dan tindakan-tindakannya ini.
Aku mendorongnya sekuat tenaga, "Tidur, Tuan! "
Ghiffa mengangkat kepalanya dan malah meletakkan kepalanya di pahaku. Kakinya ia angkat ke tempat tidurnya, dan memposisikan tubuhnya agar terasa nyaman.
Ya Tuhan, ini anak benar-benar merepotkan.
Aku memutuskan untuk tidak berkata-kata dan membiarkan Ghiffa tidur di pangkuanku. Sepertinya hari ini ia melalui hari yang berat.
Sama sepertiku.
Beruntungnya aku bisa melepas kekalutanku bersama Belva tadi. Mungkin ini cara Ghiffa untuk melepas kekalutannya. Tidak terlalu mengejutkan sebenarnya jika Ghiffa 'berteman' dengan minuman terlarang itu. Yang mengejutkan justru ucapan-ucapannya ketika mabuk itu.
Sangat wajar bukan jika aku kembali salah paham?