
Seketika aku mendorong tubuh Ghaza yang menempel di tubuhku.
PLAK!!
"ANDA UDAH KETERLALUAN!!" teriakku.
Ghaza terlihat terkejut sekali karena baru saja aku menampar wajahnya. Namun rasa puas terasa memenuhi hatiku sekarang.
"Yang..." Ghiffa kini berada di belakangku. Aku menatapnya sekilas dan ia juga terlihat begitu terkejut dengan apa yang baru saja aku lakukan. Jujur aku juga cukup tercengang karena rasa cemas yang berlebihan yang biasanya aku rasakan saat bertemu dengan Ghaza kini justru berubah menjadi amarah. Amarah yang begitu besar sampai aku merasa jijik hanya dengan melihat wajahnya.
Aku kembali menatap ke arah Ghaza.
"Saya minta anda pergi dari sini sebelum saya memanggil petugas keamanan!!" teriakku lagi.
"Kamu...udah gak takut pada saya lagi?" Ghaza berkata dengan nada yang hati-hati.
"Nggak!" tegasku, "Buat apa saya takut pada orang seperti anda! Saya justru merasa sangat marah pada anda! Saya benci sekali pada anda!!"
Ghaza malah terlihat tersenyum lega. Lalu ia berkata, "Bawa dia."
Seketika beberapa orang berjas hitam datang dari dua mobil sedan lainnya yang terparkir tak jauh dari depan villa. Aku bahkan tidak menyadari ada dua mobil lainnya di sana.
Seketika aku mendekat pada Ghiffa, begitu juga Ghiffa merangkul tubuhku dengan erat.
Kami sudah dikepung. Orang-orang berjas hitam itu ada di sekeliling kami.
"Mau apa lo, Anj*ng?!" tanya Ghiffa emosi.
Pria-pria berjas itu segera menarik Ghiffa, "AA!!" sontak aku berteriak. Tangan kami mencoba untuk terus tertaut namun tidak bisa, pria-pria itu menarik Ghiffa dengan sangat kuat. Ghiffa berontak, berusaha untuk keluar dari kungkungan para pria berbadan besar itu.
Sedangkan Ghaza terus menarikku untuk masuk ke dalam mobilnya. Aku terus berteriak dan kemudian aku melihat leher Ghiffa dipukul oleh salah satu dari mereka dan seketika tubuhnya ambruk. "AA!!"
Aku terus berontak dari sergapan Ghaza di mobil itu, aku bahkan menggigit tangannya saat mobil itu mulai bergerak menjauh dari Villa, membuat Ghaza melepaskan tangannya karena saking kesakitannya. Seorang pria berjas lainnya yang duduk di kursi penumpang depan, dengan sigap menyergapku dan menutup mulut dan hidungku dengan kain.
Bau menyengat yang terasa familiar itu kembali aku cium. Seketika pandanganku gelap.
Tidak tahu berapa lama aku tidak sadarkan diri. Namun saat aku bangun, matahari sudah bersinar terang menyorot ke arah mataku. Aku berada di sebuah kamar. Aku mengedarkan pandanganku dan menyadari ini bukan kamar yang aku tempati bersama Ghiffa. Sontak aku terbangun dari posisi berbaringku, saking tiba-tibanya kepalaku jadi terasa sangat pening.
Tiba-tiba sebuah pintu terbuka. Tapi bukan sosok Ghiffa yang aku lihat, melainkan Ghaza. Ia keluar dari pintu kamar mandi. Ia mengusak rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil. Tubuh atasnya tidak tertutup apapun, sehingga perut dengan kotak-kotak itu terpampang jelas di depanku. Sedangkan bagian bawah tubuhnya tertutup dengan celana sweat semata kaki yang dikenakannya. Tapi aku sama sekali tidak terpengaruh dengan pemandangan itu.
"Dimana suami aku?!" tanyaku begitu menyadari ia menatap ke arahku.
Ghaza tersenyum, "Kamu beneran udah gak takut sama saya? Syukurlah." Ia berjalan ke arah tempat tidur dan mengambil sebuah kaos yang tergeletak disana.
"AKU TANYA DIMANA SUAMI AKU?!" Teriakku murka. Iya aku memang sudah tidak lagi takut padanya. Tapi kini hanya dengan melihatnya amarahku langsung saja memuncak.
"Ghiffa bukan suami kamu lagi sekarang." Ucapnya, seraya mengenakan kaos itu.
Hatiku seketika mencelos, "Maksud anda...?" lirihku.
Ghaza malah tersenyum padaku. Air mataku menggenang begitu saja.
"Kamu tenang aja." ucapnya sambil tertawa. Dan itu sangat menyebalkan.
"KATAKAN APA MAKSUD ANDA?!"
Ghaza mendekat padaku, dan duduk di sampingku, membuat aku beringsut menjauh darinya dan berlari ke arah pintu. Namun Ghaza dengan gerakan yang jauh lebih cepat berhasil menahanku pergi.
"Saya sudah membatalkan pernikahan kalian. Buku nikah yang kalian miliki tidak sah."
"Apa?!" Sungguh aku benar-benar tidak habis pikir dengan laki-laki di depanku ini. Apa yang sudah dilakukannya sehingga dia bisa berkata seperti itu.
"Tak ada yang tidak bisa saya lakukan, Ayana. Walaupun kalian memiliki buku nikah itu, tapi itu tidak berarti apapun sekarang."
Otakku masih terus mencoba mencerna semuanya. Bagaimana caranya ia bisa membatalkan pernikahan kami?
"Maksud anda apa, sih?!"
Aku tertawa getir. "Anda bisa membuat pernikahan saya gak diterima hukum. Tapi di mata agama saya masih istri dari Ghiffa." jawabku tegas.
"Mungkin saja itu benar. Tapi pernikahan tidak berkekuatan hukum, sama saja bohong. Bahkan saya bisa meminta polisi menggerebek rumah lantai dua kalian dengan tuduhan tinggal bersama tanpa adanya ikatan pernikahan, juga pernikahan di bawah umur."
"Anda benar-benar sudah gila!!"
"Iya, Ayana. Saya sudah gila gara-gara kamu," Ia menumpu kedua tangannya diantara kepalaku. Sorot matanya menembus ke jantungku, "Kamu sudah bikin saya tergila-gila. Kamu betul-betul sudah membuat saya tidak konsentrasi dalam bekerja. Kamu benar-benar mengacaukan pikiran dan hati saya. Maka dari itu, saya tidak bisa membiarkan itu berlangsung lebih lama. Untung saja sekarang kamu sudah tidak lagi takut pada saya. Dan sekarang saya akan memiliki kamu seutuhnya."
Seketika aku panik sekali. Ku dorong tubuhnya dengan sekuat tenaga. "Kembalikan saya pada suami saya!"
Ghaza meraup pipiku, dan menatapku lekat. Dan berkata, "Saya suami kamu sekarang."
Apa?!
Apa dia bilang?
Ghaza menjauh dariku. Ia berjalan ke sebuah meja kerja di sudut kamar dan membawa dua buah buku kecil berwarna merah marun dan hijau army. Ia menyerahkannya padaku. "Silahkan kamu buka."
Aku mengerutkan dahiku tidak paham. Aku meraih salah satu dari buku itu dan membukanya. Seketika aku terkesiap, ada fotoku dan Ghaza disana. Tanganku mulai bergetar hebat. Saat aku melihat ke lembar berikutnya, aku lebih tercengang lagi.
Namaku dan nama Ghaza ada disana.
"Ini apa? Kenapa ada nama saya disini?!" suaraku bergetar saking emosinya.
"Saya adalah suami kamu yang sah dimata hukum sekarang."
"Gak mungkin!! Suami saya itu Alghiffari Airlangga!! Anda sendiri mendengar papa anda sudah merestui kami! Gak mungkin...! Ini palsu!" Aku bersiap merobek buku itu namun Ghaza segera mengambilnya.
"Papa itu urusan aku. Yang penting sekarang kamu adalah istri aku."
Aku menggelengkan kepalaku, "Gak mungkin!! Anda benar-benar sudah gila!!"
Ia berjalan kembali ke arah meja kerja itu, dan meraih ponselnya. "Kamu mungkin mengenal surat-surat ini."
Apa lagi yang sudah dia lakukan?!
Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari wajah menyebalkan itu. Hatiku dipenuhi rasa benci, sebenci-bencinya pada laki-laki di hadapanku ini. Senyumnya terasa begitu menyebalkan, membuat aku ingin memukulnya lagi.
"Kamu lihat dulu ini, Ayana." ucapnya tenang.
Aku melihat ke arah layar ponselnya. Aku mengerutkan dahiku, memahami apa itu. Saat menyadarinya tubuhku meremang panas dan dingin, itu adalah sertifikat tanah perkebunan Ayahku. Darimana Ghaza mendapatkannya?!
"Lalu lihat juga ini." Ghaza menggeser layarnya.
Kepalaku kembali seperti dihantam batu besar. Itu adalah izin usaha yang dimiliki Ghiffa atas beberapa kafenya. Ghaza menggeserkan layarnya lagi. Kini ponsel itu menampilkan sertifikat tanah yang dimiliki oleh Om Lucas atas nama Ghiffa. Sertifikat dari tanah dimana kafe pusat berdiri. Kafe dimana ada markas dan rumah kami.
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku terlalu syok. Apa yang sudah Ghaza lakukan atau yang akan dia lakukan dengan surat-surat itu?
Ghaza menyimpan ponselnya di saku celananya, "Kalau kamu tidak ingin Ayah kamu kehilangan sertifikat tanahnya. Atau Ghiffa kehilangan semua kafenya, kamu harus terima pernikahan kita."
"Gak mungkin..." gumamku.
Kenapa Ghaza harus bertindak sejauh ini? Kenapa dia begitu terobsesi padaku?
Kenapa?!
Aku terus menanyakan itu di dalam pikiranku tapi tak kutemukan juga jawabannya. Aku hanya bisa berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk, dan aku ingin sekali segera terbangun dari mimpiku ini.
Ghaza meraup pipiku, "Saya tahu awalnya memang terasa sangat berat untuk kamu. Tapi saya berjanji, saya akan membahagiakan kamu. Kamu hanya perlu membuka hati kamu untuk saya dan melupakan Ghiffa. Kita akan hidup bahagia bersama-sama, Ayana."
Hatiku kembali dipenuhi rasa cemas. Nafasku sesak. Tenagaku hilang entah kemana. Tubuhku kembali gemetar hebat, dan air mataku meleleh begitu saja dari kedua mataku. Seketika pandanganku berputar dan telingaku mendengung.
Lalu lagi, akupun kehilangan kesadaranku.