
Aku tidak mengerti mengapa aku seemosi ini. Hanya karena Ghiffa tidak mengingat kapan hari ulang tahunku aku sampai kesal sekali. Tapi memang sedih rasanya suamiku sendiri tak ingat kapan hari ulang tahunku. Bahkan saking buruknya moodku setelah melihat reaksi Ghiffa, rencana kami hari itu untuk makan malam bersama di sebuah restoran bersama ayah mertuaku, mendadak batal. Kami pun hanya makan di rumah malam itu.
Setelah makan malam selesai, aku masih saja merajuk dan bahkan tidak membiarkan Ghiffa masuk ke dalam kamar.
"Yang," Panggil Ghiffa di luar kamar sambil terus mengetuk pintu kamarnya, dimana aku berada di dalamnya sekarang, "Maaf, Yang. Aku beneran lupa. Lagian ulang tahunnya 'kan masih 2 minggu lagi."
"Ternyata Aa gak bener-bener sayang sama aku!" Sahutku kesal dari dalam kamar.
"Kok gitu, Yang?" Ghiffa terdengar menyesal. "Buka dulu pintunya, biar ngomongnya enak."
"Kalau Aa sayang sama aku, Aa gak akan lupa kapan ulang tahun aku!"
Kesal sekali rasanya. Dulu, Fahri, Kakak kelasku di SMA yang menyukaiku selama bertahun-tahun, sama sekali tak pernah lupa akan ulang tahunku. Bahkan saat memasuki bulan lahirku, jika kami tak sengaja bertemu di sekolah, ia akan mengatakan hal-hal seperti, "Cieeee, yang sebentar lagi ulang tahun." godanya.
Dan Fahri selalu jadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat ulang tahun untukku ketika itu. Dia juga selalu memberikan kado. Ia akan datang ke rumahku pada pagi harinya hanya untuk memberikan kado.
Bahkan setelah dia lulus dan kami tak pernah bertemu lagi di sekolah, ia selalu seperti itu. Walaupun aku tak pernah membalas perasaannya, Fahri selalu melakukan itu.
Ayah mertuaku saja yang baru mengenalku, baru dekat denganku beberapa bulan terakhir, mengetahui hari ulang tahunku. Ayahku dan keluargaku juga selalu mengingat ulang tahunku.
Tapi kini, Ghiffa, suamiku sendiri, yang katanya sangat menyayangiku, tidak ingat sama sekali kapan aku ulang tahun!
Bagaimana aku tidak kesal?!
"Maaf, Yang. Buka dulu dong pintunya." Ghiffa masih terus mengetuk pintu kamar.
"Udah Aa pergi aja! Aku mau disini sama Papa. Aa pulang aja ke rumah kafe!" Ujarku.
"Hah? Kok gitu? Jadi kamu lebih milih buat bareng sama Papa dibanding sama aku? Yang suami kamu itu aku atau Papa?!" Suaranya sedikit meninggi.
Kok jadi seperti itu tanggapannya?
Rasanya amarah semakin menguasaiku. Akupun berjalan menuju pintu dan membukanya. Aku mendapati Ghiffa tersenyum tanpa dosa disana. Membuat aku bertambah kesal.
"Maksud Aa ngomong gitu apa?!" tanyaku galak.
"Nggak apa-apa, Yang." Cicitnya. "Abis kamunya gak mau buka pintu. Terus kamu nyuruh aku pulang ke rumah kafe, terus masa kamu mau berdua disini sama Papa?"
"Emangnya kenapa?! Papa itu ayah aku juga sekarang. Ayah yang perhatian sama menantunya! Gak kayak suami aku! Katanya aja suami tapi gak ada perhatiannya sama sekali! Aa tahu gak sih, Bapak, Mama, Asha, Anis, mereka gak pernah lupa kapan aku ulang tahun! Bahkan ulang tahun Aa kapan juga aku inget! Tapi Aa? Bisa-bisanya gak inget kapan ulang tahun aku!"
"Yang, aku beneran lupa. Lagian ini ulang tahun pertama pas kita udah bareng-bareng. Tahun lalu walaupun kita udah mulai chat-chatan, tapi kamu gak pernah bilang kalau kamu ulang tahun. Jadi aku gak inget." ujarnya membela diri.
"Aa itu udah pernah pegang KTP aku berapa kali?! Disitu terpampang jelas tanggal ulang tahun aku! Masa Aa gak pernah sama sekali kepo kapan cewek yang Aa suka ulang tahun?! Kang Fahri aja dulu yang ngecengin aku selalu inget bahkan dari jauh-jauh hari! Bahkan saat masuk bulan lahir aku dia udah suka nunjukin kalau dia itu inget kapan aku ulang tahun! Tapi Aa? Gak inget sama sekali! Jangan-jangan selama ini Aa gak pernah bener-bener sayang sama aku!"
Pundakku naik turun, nafasku menderu setelah mengatakannya. Lega sekali karena aku bisa mengungkapkan rasa kesalku itu pada Ghiffa.
Seketika Ghiffa terdiam. Wajahnya yang tadinya penuh sesal kini berubah serius, "Harus kamu bawa-bawa Fahri?" ucapnya dengan dingin.
"Iya! Harus!" Sahutku menantangnya, "Biar Aa tahu kalau Aa udah jahat! Sekarang Aa pulang aja! Atau pake kamar lain! Aku gak mau tidur sama Aa!"
Segera aku menutup pintu itu namun Ghiffa menahannya.
"Lepasin!" ucapku galak.
"Nggak!" ucap Ghiffa. Mata elangnya muncul. Tapi aku sama sekali tidak terintimidasi olehnya.
Pintu kamarpun kembali tertutup dan aku menguncinya.
"Yang! Tangan aku luka gara-gara kamu cubit! Kamu harus tanggung jawab!" ucap Ghiffa sambil meringis.
Aku tidak peduli. Biar saja. Suruh siapa ia menahanku.
Tidak. Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah, tapi aku terlalu gengsi untuk menghampirinya.
Akupun memutuskan untuk membaringkan tubuhku di kasur dan berusaha untuk tidur walaupun jam masih menunjukkan terlalu dini untuk tidur sebenarnya. Tapi aku ingin segera meredam rasa kesalku ini.
Di tengah malam aku terbangun. Rasanya tenggorokanku kering sekali. Akupun beringsut dari tempat tidur dan berniat mengambil segelas air.
Saat aku membuka pintu kamar aku melihat sebuah kain hitam membungkus sesuatu tepat di depan kamarku.
Apa itu... pocong?
Bulu kudukku berdiri. Sontak aku berteriak. Bungkusan hitam besar itu bangkit, membuat sekujur tubuhku meremang hebat.
"Yang! Ini aku!" Ghiffa menarik resleting dari kain hitam itu dan muncullah ia dari bungkusan itu.
"Aa itu pakai apa? Terus kenapa tidur di depan kamar?!" protesku, jengkel sekali. Hampir saja jantungku lepas dari posisinya.
"Aku pakai sleeping bag ini. Lagian kamu gak ngebolehin aku tidur di kamar, ya udah aku tidur disini."
"Kamar lain 'kan banyak! Kenapa malah tidur di depan kamar?! Jantung aku hampir copot tahu!" Aku terus mengelus dadaku yang masih saja berdebar kencang.
"Ya masa aku tidur di kamar lain. Aku maunya tidur sama kamu." Ghiffa merajuk. "Aku minta maaf, Sayang. Janji buat tahun-tahun selanjutnya aku gak akan pernah lupa lagi sama ulang tahun kamu." Ia meraih tanganku, mengecupnya beberapa kali.
Dahiku masih mengkerut, bibirku masih maju sekitar satu sentimeter. Masih belum bisa menerimanya.
Aku menarik tanganku yang digenggamnya dan berjalan menuju tangga.
"Yang mau kemana?" tanya Ghiffa, kemudian mengikutiku. "Kamu pasti mau minum ya? Kamu 'kan sering kebangun gara-gara haus."
Aku tidak menyahutinya dan terus berjalan menuruni tangga.
Tiba-tiba saja Ghiffa membopong tubuhku dan kembali menaiki tangga. "Aa mau ngapain?!" Aku terus meronta-ronta.
"Kamu tunggu di kamar. Aku yang bawain minumnya." ujarnya seraya menurunkanku di depan kamar.
Beberapa saat kemudian tangannya menggenggam segelas air putih. Aku menunggu di pintu kamar.
"Nih, silahkan diminum istriku sayang." ujarnya dengan kata-kata semanis permen.
Aku meraih gelas itu dan meneguk airnya sampai habis, dan menyerahkan gelas itu kembali pada Ghiffa. "Nih."
Segera aku menutup lagi pintu, namun terlambat Ghiffa kembali menahannya. Ia meletakkan gelas itu di depan pintu dan mendorongku masuk ke dalam kamar.
"Aa!!"
"Yang, dingin tidur di luar. Keras lagi di lantai. Badan aku sakit semua nanti gimana? Kamu mau tanggung jawab?!"