
"Waaaaaaaaaaahhhh akhirnya selesai juga." Teriak Belva seraya menggeliatkan tubuhnya ketika kami sampai di lobi fakultas.
"Iya, Bel! Libur telah tiba!" ujarku sumringah.
"Mau kemana kita sekarang, bestie?" tanyanya sambil merangkulku.
"Maaf, aku ada janji sama A Ghiffa." cicitku menyesal.
Belva memajukan sedikit bibirnya, "Lo sekarang jadi gitu deh dikit-dikit Ghiffa. Gak bisa gitu bentar aja kalian pisah?"
Jujur akupun ingin menghabiskan waktuku dengan Belva seperti dulu. Tapi kali ini benar-benar tidak bisa.
"Kali ini bukan karena emang A Ghiffa pengen cepet jemput, kok. Aku mau ke dokter, Bel. Mau lepas gips." Ujarku.
Belva menghela nafas, "Ya udah kita makan siang aja dulu kayak biasa. Sambil nunggu suami kecil lo itu jemput."
"Keukeuh ih kamu bilang A Ghiffa suami kecil." Aku terbahak. "Ya udah yuk. Mau makan dimana?"
"Kayaknya makan ayam geprek di depan enak deh. Udah lama gak kesana?" Ajak Belva.
"Boleh. Pas banget makan yang pedes-pedes dan ngenyangin abis ngerjain ekonomi makro gini."
"Maka dari itu, Bestie, yuk kita keluarkan sisa-sisa kepuyengan tadi dengan makan yang seuhah." Belva menggandeng tanganku dan kamipun mulai berjalan meninggalkan lobi.
Saat beberapa langkah berjalan HPku bergetar, ada panggilan dari nomor tak dikenal. "Halo?"
"Dengan Mbak Ayana? Ini saya mau nganter barang."
Barang? Dari siapa?
Tak lama seorang seseorang dengan seragam sebuah toko bunga menghampiriku dengan membawa sebuket besar bunga mawar berwarna peach.
"Cieeee. So sweet banget sih suami kecil lo itu." Goda Belva.
Seketika bibirku tak bisa berhenti tersenyum. Dasar Ghiffa kenapa dia sampai mengirimkan bunga seperti ini? Aku terus memandang ke arah buket yang lumayan berat itu. Sesekali aku hirup kelopak bunganya. Wangi sekali.
"Aku mau telepon A Ghiffa dulu ya, Bel. Bentar." Aku membuka ponselku dan membuka aplikasi perpesananku.
"Sampai ada kartu ucapannya, Na. Ayo baca, bilang apa sih bocah suami lo itu?" Mendengar Belva mengatakan itu, aku jadi penasaran.
Aku meraih kartu yang terletak diantara bunga-bunga itu itu, dan membukanya.
Selamat, kamu sudah bekerja keras.
Alghazali Airlangga.
Senyum langsung memudar dari bibirku.
Aku kembali membaca kartu itu dan sepertinya aku tidak salah lihat. Ini bukan dari Ghiffa, tapi dari Ghaza.
"Ngapain dia ngirimin aku bunga gini, Bel?" Tanyaku kesal.
"Kayaknya Ghaza belom nyerah deh."
"Tapi aku 'kan udah bilang dengan sejelas itu kalau aku gak akan nerima apapun dari dia."
"Berarti Ghaza tipe cowok yang makin penasaran kalau ditolak kayak gitu. Lagian bener juga sih, kalau kata gue, cowok model Ghaza yang biasanya selalu bisa bikin cewek-cewek terpikat, tiba-tiba ada cewek yang malah cuek sama dia, dia bakal jadi penasaran banget. Dia pasti bakal terus berusaha ngambil perhatian lo."
Benar-benar membuat frustasi saja.
"Roni!" Spontan aku memanggil Roni saat tak sengaja ia berjalan melewati kami.
"Ayana, ada apae? Wah kamu dapat bunga dari suamimue? Mantap sekali suami SMAmu itu."
"Kamu mau gak bunga ini?" Aku menawarkan.
"Buat apa kamu ngasih saya bungae? Bunga tidak enak tidak bisa dimakan."
"Kamu bisa kasih ke Firly. Kamu lagi deketin dia 'kan sekarang. Ayo dong, dia pasti seneng banget dapet bunga kayak gini." pintaku.
Wajah Roni seketika berubah cerah, "Kamu serius? Ini buket bunganya bagus sekali. Baiklah saya akan terima, akan saya kasih ke Firly biar dia suka sama sayae." Akhirnya buket bunga itu beralih ke tangan Roni, "Belva kamu jangan cemburu ya. Suruh siapa kamu tolak saya terus."
"Gak usah banyak ngomong, Roni. Lo deketin aja si Firly biar lo berhenti ngerecokin gue." ujar Belva.
"Benar ya. Awas kalau kau menyesal. Laki-laki seperti saya ini limited editon."
"Disini limited edition. Tapi kalau gue ke Papua sana modelan lo itu banyak! Udah sana recokin si Firly. Yuk Na."
Satu masalah selesai.
Tak lama kami sudah berada di sebuah warung makan yang menjual nasi ayam geprek. Ghiffa menjemputku disana setelah makanan kami habis.
"Yang? Kok kamu ngelamun gitu sih, ada apa?" Tanya Ghiffa.
Kira-kira aku katakan jangan ya pada Ghiffa? Tapi aku takut dia marah? Tapi aku juga tidak ingin merahasiakan hal ini.
"Aku bakal bilang, tapi janji Aa gak akan marah?" Aku menoleh pada Ghiffa yang sibuk menyetir.
"Iya gak akan. Kenapa sih?" Jawabnya. Namun aku tidak yakin reaksinya akan sama dengan yang dikatakannya.
"Tadi Tuan Ghaza ngirim aku bunga."
Sontak Ghiffa mengambil bahu jalan dan segera menghentikan mobilnya.
"Aa ih bahaya tiba-tiba ngambil lajur kiri gitu!" Aku sangat kaget karena kami sedang berada di lajur kanan dan tiba-tiba saja Ghiffa menyalip mobil di depannya untuk mengambil bahu jalan.
Sorot tajam Ghiffa menatap ke arahku, "Mana bunganya?"
"Udah aku kasihin ke temen aku aja. Tapi kartu ucapannya masih ada." Aku merogoh sling bagku, meraih kartu itu, dan aku berikan pada Ghiffa.
Ghiffa membukanya dan wajahnya memerah karena marah, "Sial. Maunya apa sih?!" Ia segera meremas kartu itu.
"Sebenernya waktu Aa ngirim makanan, Tuan Ghaza juga ngirim."
"Kamu kok baru bilang sekarang?!" teriaknya emosi.
"Maaf, A. Aku udah nolak kok. Aku kira dia gak akan ngasih aku apa-apa lagi. Soalnya aku udah tegasin ke dia. Gak tahunya dia malah ngirim bunga tadi."
"Block nomor dia! Aku gak mau tahu. Kamu gak boleh berhubungan sama dia lagi!" teriaknya.
"Udah, A. Udah aku block dari waktu dia ngirim makanan waktu itu." Ujarku.
Ghiffa melepas sabuk pengamannya dan merengkuh tubuhku. "Kalau Ghaza deketin kamu lagi, kamu harus cepet bilang sama aku, ya?"
"Iya, A. Nanti lagi kalau ada kejadian kayak gini lagi aku bakal langsung bilang sama Aa." Ujarku menenangkan.
Ghiffa melepaskan pelukannya dan mencium bibirku beberapa saat. "Pulang aja yuk?" Seketika setelah ia menjauhkan bibirnya. Kedua manik Ghiffa sudah dipenuhi kabut gair*h.
"Kita 'kan mau ke dokter, A. Katanya pengen aku cepet-cepet gak pake gips lagi." Aku mengingatkan.
Ia menjauhkan tubuhnya dariku dan kembali memasang sabuk pengaman. "Ya udah kita ke dokter dulu, terus pulang."
"Katanya udah dari dokter mau belanja?" Aku mengingatkan.
"Oh iya. Belanja dulu, baru pulang." ucapnya seraya kembali membawa mobilnya bergabung ke jalanan yang lumayan ramai itu.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah Ghiffa. Rumah menjadi tempat favoritnya sekarang.
Beberapa saat kemudian kami tiba di rumah sakit. Karena memang sudah membuat janji, kami tidak menunggu terlalu lama. Aku begitu semangat karena akhirnya setelah hampir 1 bulan kakiku akan kembali bebas. Setelah gips terlepas dokter memintaku untuk mencoba berjalan dan tidak ada masalah. Sepertinya penyembuhan kakiku berjalan dengan baik. Syukurlah.
Setelah itu seperti janji Ghiffa, kami datang ke sebuah mall. Ia ingin membelikanku beberapa baju dan juga aku terus merengek ingin belanja bahan makanan agar aku bisa kembali memasak dan menyiapkannya makanan setiap harinya.
Maka disinilah kami sekarang, di lobi sebuah mall. Ghiffa menggunakan jasa vallet untuk parkir karena tidak ingin aku terlalu banyak berjalan. Pesan dokter juga seperti itu, meskipun penyembuhannya sudah cukup baik, tapi tetap tidak boleh dipaksakan.
"Bilang kalau kakinya udah mulai gak nyaman ya, Yang." Ghiffa mengingatkan.
"Iya, A." ucapku patuh.
Kami mulai memasuki Mall dan Ghiffa langsung membawaku ke salah satu toko pakaian dengan brand terkenal. Aku duduk di sofa yang tersedia di sana, sedangkan Ghiffa yang memilih baju-baju itu untukku. Dia terlihat bersemangat sekali.
Ghiffa memilihkan beberapa blouse, jeans, mini dress, sampai pakaian dalam. Aku malu sekali saat Ghiffa memilihkannya untukku. Dia bahkan tidak malu meminta ukuran yang pas denganku. Aku malah terkaget-kaget karena Ghiffa sampai tahu ukuran bukit kembarku. Untung saja dia tidak menggunakan seragam SMAnya saat memilihkannya untukku.
Kemudian kami ke supermarket yang terdapat di mall itu. Kali ini aku yang bersemangat. Aku langsung menyambar berbagai sayuran, buah, ikan, daging, dan bahan-bahan lainnya dan memasukkannya ke dalam troli yang didorong oleh Ghiffa.
"Kamu kok lebih semangat belanja beginian daripada belanja baju." komentarnya.
"Iya dong, A. Udah lama aku gak masak. Semenjak jadi istri Aa, aku gak pernah masakin buat Aa lagi."
"Ya udah cepet belanjanya. Kamu udah kebanyakan jalan."
Setelah itu kami ke kasir dan pulang. Ghiffa begitu khawatir jika kakiku terlalu lama digunakan akan sakit kembali.
"Yang, bentar. Kita kesana dulu." Saat kami menuju pintu utama, ia mengajakku ke sebuah toko perhiasan.
"Mau ngapain, A?" tanyaku ketika memasuki toko perhiasan mewah itu.
"Waktu nikah kemarin 'kan kita gak pakai mas kawin. Sekarang kita beli cincin."
"Cincin?" senyum merekah di bibirku, wajahku memerah karenanya.