
Sekitar seminggu yang lalu...
Aku berdiri di ruang tamu mewah keluarga Airlangga. Sambil menunggu kehadiran Nyonya Natasha, tanpa sadar pandanganku beredar pada ruang tamu yang dipenuhi barang-barang mahal yang membuatku terperangah.
Aku masih belum bisa mempercayai bahwa ini adalah rumah dari cowok yang baru saja putus denganku.
Setelah ojek online yang aku pesan datang, aku pergi dari danau itu. Sedangkan Ghiffa pergi setelah ojek online membawaku pergi.
Motor Ghiffa memelan saat berpapasan dengan ojek yang aku tumpangi, "Ketemu di rumah, ya." ucapnya, lalu berbicara pada supir ojek online yang membawaku, "Pak, hati-hati bawa pacar sayanya." Tanpa menunggu jawabanku ia melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi.
Tuh 'kan? Belum apa-apa sudah berdebar lagi jantung ini dengan tingkah Ghiffa yang berubah.
Tanpa sadar aku termenung. Apa aku masih bisa tinggal di satu atap yang sama dengan Ghiffa setelah aku mengetahui semuanya? Melihat perubahan sikap Ghiffa seperti tadi, membuatku semakin khawatir.
Akhirnya aku berubah pikiran.
"Pak, gak jadi ke apartemen Melcia. Antar saya ke alamat ini." ujarku pada bapak ojek online yang membawaku.
Dan disinilah aku sekarang, dipersilahkan masuk oleh Bi Susi dan diminta menunggunya disini, di ruang tamu kediaman Keluarga Airlangga.
Aku mendengar derap kaki melangkah dari arah pintu masuk, sontak aku menautkan kedua tanganku, berusaha bersikap sopan.
Seorang Pria tinggi dengan balutan setelan jas berwarna navy berjalan di lorong menuju tangga. Saat melewati ruang tamu ia menoleh. Aku segera menyapa dengan membungkukkan badanku, memberi hormat. Ghaza yang tadinya hanya menoleh lalu melihat ke arah tangga lagi, sontak kembali menoleh ke arah ruang tamu dan tersenyum samar padaku. Iapun berjalan menghampiriku.
"Ayana 'kan?"
Aku sedikit gugup karena Ghaza malah menghampiriku." Iya, Tuan. Apa kabar?" sapaku.
"Saya baik. Kamu temannya Belva? Dia seorang model." tanyanya tiba-tiba.
"Iya, Tuan. Kok Tuan bisa tahu?" Aku cukup terperangah Tuan Ghaza ternyata kenal dengan Belva.
"Beberapa waktu yang lalu saya pernah ketemu sama dia. Teman saya, Jonathan, sedang dekat dengan dia. Kami mengobrol sebentar dan dia bertanya apakah saya mengenal kamu atau tidak."
Belva memang berkata ia bertemu dengan seorang cowok tajir melintir di satu acara. Belva belum ingin mengatakannya padaku karena katanya nanti saat mereka sudah benar-benar jadian, baru akan memberitahuku dan mengenalkannya padaku.
"Wah, saya gak nyangka ternyata dunia sempit sekali ya, Tuan." ujarku.
"Iya, saya pikir juga begitu." nada bicara Ghaza begitu formal. "Ayana, saya ingin bertanya sedikit mengenai Belva. Jo sepertinya sangat menyukai teman kamu itu. Sebagai temannya, saya ingin tahu seperti apa Belva, supaya saya bisa memberikan pandangan saya pada Jo. Boleh kita mengobrol lain waktu? Karena saya tidak bisa mengobrol lebih lama sekarang."
"Oh, iya. Bisa, Tuan." Entah mengapa aku gugup sekali berbicara dengan pria yang nampak dewasa dan kharismatik ini. Belum lagi raut wajahnya memiliki raut wajah Ghiffa. Membuatku berdebar sendiri.
"Kalau begitu berikan nomor kamu." Ia merogoh saku jas yang digunakannya dan menyodorkan ponselnya padaku.
Begitu saja aku mengingat Ghiffa. Waktu itu dia mewanti-wantiku bahwa aku harus menghindar dari kakaknya ini. Namun tidak mungkin juga aku menolak memberikannya nomorku.
"Kenapa?" tanya Ghaza setelah beberapa saat melihatku terdiam.
Aku menggeleng segera, lalu meraih ponselnya dengan kedua tanganku dan mengetik nomorku, "Ini, Tuan." Aku memberikan kembali ponselnya.
Ghaza mengotak-atik ponselnya lalu ponselku bergetar di saku celanaku. Aku merogoh saku celanaku dan melihat sebuah nomor menghubungiku.
"Itu nomor saya. Save ya." ujarnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam jasnya.
"Baik, Tuan." sahutku, segera saja aku menyimpan nomornya.
"Kalau gitu saya pergi dulu." pamitnya, kemudian meninggalkanku.
Aku menghela nafas lega seraya melihat sosoknya hilang di anak tangga paling atas. Begini rasanya berinteraksi dengan seorang wakil presiden direktur? Benar-benar gugup setengah mati. Tangan-tanganku sampai terasa dingin, saking gugupnya.
"Nyonya." Aku membungkuk hormat padanya.
"Ada apa? Tumben kamu datang kesini? Biasanya kamu telepon atau chat kalau ada sesuatu yang harus dilaporkan tentang Ghiffa?" tanyanya sedikit khawatir.
"Ini bukan tentang Tuan Ghiffa, Nyonya. Saya kesini karena ada yang ingin saya bicarakan." ucapku sedikit ragu.
Wajahnya melemas lega, "Saya kira ada sesuatu yang serius tentang Ghiffa."
"Mau membicarakan tentang apa?" tanyanya.
"Saya..."
"Nyonya, Tuan Musa memanggil Nyonya." Bi susi tiba-tiba ada disana.
"Sebentar." Nyonya Natasha segera pergi saat mengetahui suaminya membutuhkannya.
Tetiba saja ponselku berbunyi, Ibuku menelepon. Aku mengucap salam pada ibuku.
"Teteh lagi apa?" tanya ibuku.
"Teteh lagi di rumah Nyonya Natasha. Mama sama Bapak lagi apa?"
"Oh, gitu. Mama lagi di rumah aja biasa, nonton TV. Kalau Bapak lagi di depan. Lagi ada orang yang ngangkut sayuran buat ke pasar."
"Oh, gitu. Asha sama Anis mana?" Kemudian terdengar suara adik-adikku yang terdengar sedang menangis. "Asha sama Anis kenapa, Mah? Kok pada nangis?"
"Teh, sebenernya ini Asha sama Anis mau ada karyawisata. Mama sama Bapak uangnya kemarin dipinjem sama Bi Dini soalnya Mang Awan harus dioperasi. Udah dicover sama BPJS sebagian tapi masih kurang, makanya Bi Dini *kaditu-kadieu* minjem uang."
"Ya Ampun, kasihan Bi Dini sama Mang Awan." Aku bersimpati.
"Iya padahal masih muda Mang Awan tapi udah sakit kronis gitu. Kasian mama juga." ujar ibuku sedih.
"Terus gimana atuh Asha sama Anis buat bayar karyawisatanya? Mama sama Bapak masih ada uang gak?"
Ibuku terdiam sesaat, "Mama sebenernya gak enak sama teteh. Tapi Mama *teh* gak enak juga kalau mau minjem ke orang. Mama mau minjem uang sama Teteh, siapa tahu teteh ada simpenan. Ini mereka karyawisata waktunya *meni* deketan waktunya, terus ngedadak juga. Barusan Mama bilang Mama belum punya uang buat bayar karwis-nya. Mereka langsung nangis, soalnya temen-temennya udah pada bayar."
Aku menghela nafasku. Tidak tega pada kedua adikku.
Seketika aku menelaah kembali hatiku. Sebenarnya tujuanku menemui Nyonya Natasha adalah untuk mengajukan resign. Bagaimana aku bisa menghadapi Ghiffa setiap hari setelah aku mengetahui bahwa ia adalah Hyuga. Dan obrolanku dengan ibuku barusan kembali menyadarkanku betapa berbedanya dunia kami.
Aku tak mungkin membiarkan Ghiffa melanjutkan perasaannya terhadapku. Aku harus sesegera mungkin pergi darinya.
Aku sempat berpikir, akan mencari pekerjaan lain dan menginap sementara waktu di tempat Belva. Mungkin aku juga bisa meminjam sedikit uang dari orang tuaku jika dalam waktu dekat aku belum bisa mendapatkan pekerjaan.
Tapi kenyataan seakan tidak berpihak kepadaku. Jangankan meminjamkanku uang, orang tuaku justru ingin meminjam uang dariku. Biasanya ibuku tidak pernah sampai hati untuk meminta uang kepadaku. Sering kali ibuku memaksa untuk memberikanku uang. Ibuku sering mentransfer beberapa ratus ribu jika ayahku mendapatkan uang dari hasil penjualan sayur, namun aku selalu mentransfernya kembali. Aku sama sekali tidak ingin menerima uang itu.
Namun kali ini ibuku sampai meminjam uang padaku, itu artinya beliau sudah sangat terpaksa. Beliau pasti dalam keadaan bingung dan tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa.
Hal ini membuatku galau. Berhenti atau jangan? Jika berhenti aku tidak yakin akan mendapat pekerjaan lain dalam waktu dekat.
Di satu sisi akan sangat sulit menghindari Ghiffa ke depannya jika aku tidak berhenti dari pekerjaan ini. Tapi di sisi lain, aku membutuhkan pekerjaan ini. Aku masih ingat betapa bahagianya ibuku saat aku mentransferkan setengah dari gajiku kepada ibuku bulan lalu. Penghasilan orang tuaku yang seorang petani sayuran tidak banyak dan tak menentu, bahkan sering kali ibuku berhutang pada tetangga kami yang memiliki warung untuk membeli keperluan yang habis. Ditambah ada adik-adikku yang masih sekolah yang harus mereka nafkahi.
Sepertinya tidak bisa. Aku tidak bisa kehilangan pekerjaan ini.
"Teteh ada uang, kok. Teteh transfer ya ke mama sekarang. Bilangin sama Anis sama Asha jangan nangis. Mereka bakal ikut karwisnya."