The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 90: Bertemu Mama Mertua



Belva masuk ke dalam mobil, tidak ingin terlibat dengan obrolanku dengan Ghaza. Sebenarnya aku juga sudah ingin pergi, tapi aku harus menyelesaikan ini agar Ghaza tidak menggangguku lagi.


"Kamu sudah menikah dengan Ghiffa?" Ghaza menyeringai, "Kamu kira saya akan percaya?"


"Gak apa-apa kalau Tuan gak percaya. Saya juga gak berniat bikin Tuan percaya sama saya. Pokoknya saya sudah berstatus suami-istri dengan adik Tuan. Itu artinya Tuan adalah Kakak ipar saya. Seorang Kakak harusnya bisa bersikap suportif pada adiknya. Jadi saya minta Tuan untuk berhenti melakukan hal-hal yang akan semakin memperburuk hubungan Tuan dengan A Ghiffa."


"Siapa memangnya adik saya? Saya tidak punya adik. Dia hanya orang lain yang tiba-tiba masuk ke dalam hidup saya dan juga Ayah saya dan mengacaukan semuanya." Nada bicaranya menyiratkan sekali bahwa ia sangat membenci adiknya.


"Tuan, saya jadi ingin bertanya pada Tuan. Sebenarnya Tuan melakukan ini, mendekati saya seperti ini, itu karena Tuan ingin merebut apa yang A Ghiffa miliki 'kan? Bukan karena Tuan benar-benar tertarik pada saya? Itu 'kan yang Tuan selalu lakukan pada A Ghiffa selama ini?"


Aku putuskan untuk mengorek informasi lebih dalam dari sudut pandang Ghaza. Selama ini aku juga sangat penasaran mengenai hubungan mereka berdua.


"Dari kata-kata kamu barusan, saya jadi terdengar sangat jahat."


"Memang seperti itu 'kan? Itu juga yang Tuan lakukan pada Olivia. Iya 'kan?"


Ghaza tidak menjawab. Dia malah menatapku lekat.


"Iya 'kan, Tuan?" tanyaku lagi.


"Saya akui Olivia menarik perhatian saya. Saat kami mengobrol juga kami sangat cocok. Kemudian saya dekati dia, dan ternyata Olivia lebih memilih saya. Bahkan kami sampai bertunangan. Namun sayang ternyata kami memiliki banyak perbedaan yang membuat saya memutuskan untuk melepaskannya. Lalu salah saya jika itu terjadi?"


Ghiffa saja sudah sering kali membuatku tercengang dengan sikapnya. Ternyata kali ini aku melihat Ghaza jauh lebih membuatku lebih tak habis pikir lagi dari Ghiffa.


"Saya tertarik pada kamu, maka saya mendekati kamu." Imbuhnya. "Saya selalu mendapatkan apa yang saya mau. Suatu saat kamu akan jatuh cinta pada saya, Ayana. Tidak ada perempuan yang bisa menolak saya. Ghiffa memberikan kamu cincin dengan berlian kecil itu, saya bisa berikan satu set perhiasan dengan bertahta ratusan berlian, tidak hanya satu tapi sebanyak yang kamu minta."


Percaya dirinya benar-benar membuatku merasa mual.


"Terserah deh Tuan mau mengatakan apa. Tapi saya gak akan pernah jatuh pada laki-laki arogan, sombong, dan ambisius seperti Tuan." Aku harus segera pergi dari sini sebelum aku benar-benar muntah, "Semoga berhasil dengan misi Tuan itu."


Aku membuka handel pintu mobil Belva dan berniat masuk ke dalamnya, tapi tangan Ghaza menahan tanganku. Sontak aku menangkisnya.


"Jangan sentuh saya ya, Tuan!" teriakku marah.


"Maaf." Ghaza terlihat terkejut karena aku membentaknya. "Ingat, Ayana. Kamu berhutang budi pada saya. Kamu ingat?" Sepertinya Ghaza sedikit terbawa emosi. Harga dirinya sedikit terluka karena aku berani menolaknya sejelas itu.


Ya Tuhan, jadi dia benar-benar tidak ikhlas memberikan bantuannya padaku saat kecelakaan itu?


Aku menghela nafas panjang, mengontrol emosiku. "Baik, Tuan mau apa? Saya akan bayar hutang itu segera."


Ghaza kembali menyeringai. Ia merogoh sakunya dan memberikanku sebuah kartu undangan, "Datang ke acara ulang tahun saya. Saya akan jadikan kamu perempuan paling spesial di acara itu. Kamu akan mendampingi saya selama acara berlangsung. Saya akan jemput kamu dan mempersiapkan semua gaun dan yang lainnya yang kamu butuhkan. Jadi, bersiaplah."


Kemudian Ghaza pergi setelah itu meninggalkan aku yang masih mematung dengan ekspresi wajah yang mual. Lalu aku pun masuk ke dalam mobil Belva.


"Itu orang aneh banget." Aku menyerahkan kartu undangan itu pada Belva. Aku yakin Belva sangat penasaran dengan kartu itu, tidak seperti aku yang sudah bulat tidak akan datang ke acara itu.


"Ulang tahun Ghaza pasti mewah banget, deh. Terus apa tadi dia bilang? Bakal bikin lo jadi pendamping dia di acaranya? Fiks, dia beneran ngebet sama lo, Na!" Seperti biasa, Belva akan heboh jika sudah melihat sikap Ghaza terhadapku.


"Belva, udah deh. Ghaza itu kayak gitu cuma mau bikin kesel A Ghiffa aja. Dia gak bener-bener suka sama aku. Dan Aku gak akan dateng ke acara itu." Ujarku kesal.


"Tapi lo berhutang sama dia. Lo harus dateng, Na. Gue juga diundang kok."


"Serius?"


"Serius," Belva mulai melajukan mobilnya, "Gue diundang Jo sih. Ternyata lo juga diundang, nanti kita dateng bareng aja dan kita dandan bareng ya. Gue bakal pinjemin dress gue buat lo."


"Belva, aku gak akan dateng! Ngapain aku dateng kesana. A Ghiffa juga gak akan ngizinin."


"Ih kamu mikirnya. Aku makin gak mau dateng kalau gitu."


"Yah, gak seru ah lo."


"Belva aku bukan lagi main drakor ya. Masa aku ngebiarin A Ghiffa jotos-jotosan sama Ghaza?"


Tepat saat itu aku melihat Ghiffa berdiri di bahu jalan memperhatikan seseorang mengganti ban mobilnya. Aku pun segera meminta Belva untuk menepi.


"Makasih ya, Bel. Dah!" Aku cipika-cipiki sejenak pada Belva.


"Dah! See you, bestie."


Setelah itu aku keluar dari mobil Belva dan Belva pun kembali melajukan mobilnya. Aku menghampiri Ghiffa, dia merangkulku dan mengecup puncak kepalaku sekilas.


"Udah selesai, A?"


"Iya udah tuh bentar lagi. Tadi aku nelpon orang bengkel dan langsung ke sini montirnya. Maaf ya jadi gak jemput kamu ke kampus."


"Gak apa-apa, A."


"Udah ini mau kemana?" tanyanya


"Pulang aja deh kayaknya, A. Keringetan gini aku pengen cepet mandi."


Ghiffa mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, "Ya udah Mandi bareng ya?"


Segera aku mencubit gemas lengannya membuatnya pura-pura meringis. Aku tahu cubitanku tidak sekeras itu, tapi Ghiffa mengaduh keras sekali.


Tak lama montir yang mengganti mobil Ghiffa selesai dengan pekerjaannya. Aku dan Ghiffa segera masuk ke dalam mobil dan mobilpun sudah bergabung di jalanan yang cukup ramai sore itu.


Beberapa saat kemudian kami sampai di kafe. Ponsel Ghiffa berbunyi sesaat kami baru saja keluar dari mobil.


"Yang ke kafe bentar ya. Om Lucas manggil soalnya."


Ghiffa meraih tanganku dan Kami mulai berjalan memasuki kafe, "Manggil kenapa, A?"


"Paling juga ngomongin kerjaan."


Kami sampai di dalam Kafe dan Ghiffa bertanya pada salah satu karyawan, "Om Lucas mana?"


"Di sana, Bos." Karyawan itu menunjuk Om Lucas yang berada di salah satu meja bersama seorang wanita.


Refleks aku terkesiap kaget karena wanita yang sedang bersama Om Lucas itu adalah Nyonya Natasha. Aku dan Ghiffa bersih tatap beberapa saat, tidak menyangka sama sekali ada Nyonya Natasha di sini.


Tanpa sadar aku meremas tangan Ghiffa yang kugenggam dengan keras saking gugupnya. Tatapanku bertemu dengan Nyonya Natasha, membuat aku susah payah menelan salivaku.


"Kamu tenang aja." Ghiffa menangkap kegugupanku, "Jangan lepasin tangan aku. Kita temuin Mama bareng-bareng ya." Ghiffa terlihat sedikit tegang juga, namun ia mencoba menyembunyikannya.


Aku mengangguk ragu. Aku sudah sering mempersiapkan diri jika tiba-tiba kejadian seperti ini terjadi. Tapi tetap saja dalam situasi yang sebenarnya, ternyata cukup sulit untuk bersikap biasa saja.


Ghiffa mulai membawaku melangkah ke arah Nyonya Natasha. Setiap langkahnya membuat jantungku semakin bergemuruh.


"Akhirnya Mama bisa ketemu sama kamu juga." ucap Nyonya Natasha dengan nada yang dingin, saat kami sudah berada di dekatnya. Tatapannya langsung tertuju pada tangan kami yang saling menggenggam.