
"Jangan Tuan! Masa Tuan mau bolos?"
"Gak apa-apa, lagian kalau gue sekolah gue bakal kepikiran sama lo. Liat sekarang kaki lo dua-duanya luka. Ada-ada aja sih. Niatnya lo gak mau ngerepotin gue malah jadi makin ngerepotin."
Baru saja aku akan membuka mulutku, Ghiffa sudah membeo "Maaf Tuan" ujarnya meniru ucapan yang sering aku ucapkan.
Aku memajukan sedikit mulutku.
"Udah sekarang lo harus terima kalau lo itu butuh bantuan gue. Juga tolong, Ay, lo kasih kesempatan buat gue nebus kesalahan gue kemarin."
"Nebus kesalahan apa Tuan?" tanyaku. "Sudah saya bilang Tuan itu gak salah."
"Iya deh, terserah lo." Ghiffa sudah jengah dengan sikapku sepertinya hingga ia mengiyakan yang aku ucapkan tanpa maksud setuju. "Gue pergi dulu bentar. Paling lama 1 jam." Ia berjalan ke kamarnya dan beberapa saat ia sudah melepas seragam putih dan juga mengganti celana abunya dengan ripped jeansnya.
"Tuan mau kemana?"
"Ada deh. Lo tunggu bentar ya." Ia berjongkok di depanku, "Pokoknya hari ini lo cuti dari kuliah lo, dari perpus, dan juga dari ART gue. Lo liat sendiri tadi, lo belum bisa ngapa-ngapain."
Itu memang benar sih. Lebih baik hari ini aku realistis dan tidak terkungkung oleh egoku lagi. "Tapi siapa yang bersih-bersih dan masak?"
"Kita bareng-bareng. Anggap aja lagi pengantin baru." ucapnya dengan senyum menyilaukannya.
Seketika wajahku memerah.
"Tuan!"
Ghiffa tertawa bahagia melihat ekspresi salah tingkahku. Kemudian matanya menatapku sendu, "Hari ini sehari aja biarin gue jadi Hyuga lo, dan lo jadi Ayanya gue."
"Hyuga?" rasanya sudah lama aku tidak mengucapkan ataupun mendengar nama itu.
Ghiffa mengangguk pelan. "Buat hari ini jangan panggil gue Tuan, panggil gue Hyuga." Kedua matanya menatap penuh harap padaku.
"Bisa 'kan, Ay?" tanyanya.
Bolehkah seperti ini? Bolehkah aku berisitirahat dari status kami sebagai majikan dan asisten rumah tangga untuk sehari? Bagaimana jika setelah ini kami malah berharap lebih? Bagaimana jika pertahananku selama ini runtuh?
Tidak, tidak boleh.
Akupun berkata, "Iya."
Loh? Mulutku kenapa tidak sinkron dengan hatiku. "Maksud saya nggak Tuan!" Aku segera meralat ucapanku.
"Gak bisa. Jawaban pertama itu yang berlaku." Ghiffa men-skakmat-ku.
"Tapi..."
"Lo gak cape pura-pura mulu? Pura-pura gak ada rasa sama gue? Pura-pura gak mau jadi cewek gue?" ucapnya meyakinkanku. "Gue kangen Aya yang sayang banget sama gue. Yang manja banget sama gue. Yang minta terus buat ketemu. Gue kangen sama dia. Please bawa dia buat gue buat hari ini aja, Ay." ucap Ghiffa penuh harap.
Aku menundukkan pandanganku, "Tapi Saya sama Hyuga udah putus." cicitku.
"Jangan pikirin status. Yang penting itu perasaan kita, Ay."
Aku tidak tega melihat wajah Ghiffa yang begitu berharap.
Akhirnya aku menghela nafas. Baiklah, apa boleh buat. Untuk hari ini biarkan aku beristirahat dari statusku sebagai ART. Lagipula Ghiffa sekarang sedang tidak memiliki apapun. Anggap saja hari ini Hyuga memang datang untukku. Hyugaku yang berasal dari kalangan biasa, sama sepertiku.
"Iya, aku mau... Ga." diikuti dengan senyuman di bibirku.
Seketika Ghiffa tersenyum lebar sekali. "Udah lama aku gak denger kamu ngomong gitu. Makasih ya, Ay."
"Seseneng itu?" tanyaku.
Ghiffa mengangguk semangat, "Seneng banget. Sekarang kamu tunggu bentar ya. Aku ada perlu. Sebentar aja."
"Mau kemana, sih?" Aku penasaran sekali.
"Ada deh." Ucapnya dengan senyum yang mencurigakan. Kemudian ia meninggalkanku. Sebelum pergi ia memastikan kakiku baik-baik saja dan aku duduk pada posisi yang nyaman dengan TV yang menyala. Kakiku masih sedikit sakit. Ujung kelingking jari kakiku saja yang melepuh sedangkan punggung kakiku hanya kemerahan.
Akupun menonton TV sambil menunggu Ghiffa pulang. Tiba-tiba saja bel berbunyi. Siapa yang datang pada jam segini? Aku menghampiri pintu dengan susah payah, menahan perih dan sakit pada kakiku.
Kemudian saat ku buka pintu itu, "NA!!" Belva langsung menghambur memelukku.
"Bel, kok kamu bisa kesini?" Sungguh aku terkejut mendapati sahabatku mengetahui apartemen Ghiffa.
Belva melepas pelukannya, "Gue dikabarin sama Jo. Katanya lo kecelakaan kemarin? Lo gak apa-apa? Ya ampun kepala lo, kaki lo, terus itu kenapa kaki lo yang sebelah merah banget?" Belva membombardirku dengan banyak pertanyaan.
"Masuk dulu yuk. Aku gak apa-apa, kok." Belva memapahku hingga ke sofa ruang tengah. Kami pun duduk bersama di sofa itu.
"Lo ceritain gimana ceritanya lo bisa kecelakaan kayak gini?" Belva terlihat begitu tidak sabar. Wajahnya cemas bukan main.
Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Belva, termasuk ucapan Ghiffa yang membuatku resah tadi malam.
Belva terlihat sangat marah, "Gue bener-bener gak ngerti kenapa lo bisa percaya gitu aja sama dia. Lama-lama gue gemes sama itu anak. Dia lagi pergi 'kan bentar? Bakal gue tungguin dan bakal gue omongin dia."
"Jangan, Bel. Please! Jangan ngomong apa-apa sama dia!"
"Gak bisa. Pokoknya gue bakal ngomong. Lo gak bisa 'kan ngutarain rasa marah lo ke dia? Biar gue yang wakilin lo, Na. Liat aja, berani banget dia bikin sahabat gue kayak gini."
"Kok malah kamu yang marah sih?"
"Lo itu sahabat gue satu-satunya, Ay! Kalau ada yang berani nyakitin lo, orang itu bakal berhadapan sama gue." Aku terharu dengan ucapan sahabatku itu. Segitunya ia menganggapku sebagai sahabatnya. Manis sekali sih!
Tepat saat itu pintu apartemen diakses, Ghiffa pun muncul. Ia terlihat agak bingung melihat kehadiran Belva.
"Ga, kenalin ini Belva. Sahabat aku. Dia dateng buat nengokin aku. Gak apa-apa 'kan?" Ujarku sedikit canggung karena berbicara aku-kamu padanya. Namun melihat Ghiffa langsung tersenyum begitu mendengar cara bicaraku tanpa sadar membuatku senang sendiri.
Ghiffa menghampiri Belva dan mengulurkan tangannya, "Salam kenal." ujarnya.
Belva terlihat menatap tangan Ghiffa sekilas dan menatap Ghiffa dengan tajam, "Jadi lo yang namanya Alghiffari Airlangga? Adik dari Bos pacar gue?"
"Bos pacar lo?" tanya Ghiffa.
"Kamu udah jadian sama Jo, Bel?" tanyaku berbarengan dengan Ghiffa.
"Udah. Nanti gue cerita di sesi terpisah ya, Bestie. Lo tahan dulu rasa penasaran lo." ucapnya sumringah. Lalu ia memasang kembali wajah juteknya dan menatap ke arah Ghiffa dengan tajam, " Iya. Gue pacarnya Jonathan, sekretarisnya kakak lo, Ghaza."
Seketika wajah ramah Ghiffa berubah dingin pada Belva, "Jadi lo orangnya Ghaza?!"
"Sorry ya, gak ada hubungannya gue sama kakak lo itu. Gue gak akan dukung siapa-siapa antara lo ataupun kakak lo buat dapetin Ayana."
"Bel, maksudnya apa?" tanyaku.
"Udah jelas kali sikapnya Ghaza itu ngeliatin kalau dia itu suka sama lo."
Kenapa kata-kata Belva sama ngaconya dengan kata-kata Ghiffa kemarin? "Bel, kamu jangan ngomong yang nggak-nggak." aku memperingatkan.
"Lo gak percaya?" Belva meraih sebuah paperbag yang tadi dibawanya. Ia mengambil sebuah kotak dari dalam paperbag itu. "Nih lo buka."
Aku menatap Ghiffa dan Belva bergantian, dan meraih kotak itu. Kotak itu berwarna hitam polos dan diikat dengan pita berwarna putih. Aku mulai membuka simpul pita itu. Hingga mulutku tanpa sadar terbuka saat melihat sebuah kotak dengan gambar ponsel yang berlogo apel dengan satu gigitan. Tertulis angka 14 disana diikuti dengan kata 'pro max'.
Aku tertegun seketika. "Ini apa, Bel?"
"Gue dititipin ini sama Jo tadi pagi. Katanya Ghaza minta dia buat nitipin ini ke gue kalau gue mau jenguk lo."
"Ghaza yang ngirim ini?!" Ghiffa terlihat begitu emosi. Diraihnya kotak ponsel yang sedang aku pegang itu dan membukanya dengan kasar. Setelah ia menemukan ponsel di dalamnya, Ghiffa meraih ponsel itu.
PRAAAKK!!
Seketika ia membanting ponsel dengan harga yang bahkan lebih mahal dari motorku itu, hingga retak di bagian layarnya. Aku dan Belva tercengang melihat apa yang Ghiffa lakukan, hingga kami diam mematung tanpa bisa berkata-kata.
Ghiffa melangkah mendekat pada Belva. Tatapan elangnya tertuju pada sahabatku itu. "Lain kali, kalau lo dateng kesini cuma buat jadi kurirnya cowok arogan itu, mending lo gak usah nginjekin kaki lo di apartemen gue!"