The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 38: Membuat Ayana Jatuh Cinta



Mode tak sabar Ghiffa keluar, tanpa dapat ia kendalikan. Sedetik kemudian raut menyesal nampak di wajahnya, "Yang, please. Aku waktu itu putusin kamu karena aku pengen deketin kamu sebagai Ghiffa. Sedikit demi sedikit aku pengen ngeliatin aku yang sebenarnya sama kamu."


Ghiffa meremas kedua pundakku dan menatapku lekat, seakan frustasi akan sikapku yang tak menganggapnya. "Dengerin aku, Yang. Hyuga itu aku yang sebenernya. Selama ini cuma kamu yang tahu sisi aku yang sebenarnya, yang selalu aku tutupin dari orang lain. Ghiffa yang suka bikin onar, Ghiffa yang nyebelin, itu cuma topeng aja."


Topeng?


"Sekitar delapan bulan lalu gak sengaja aku kenal sama kamu. Walaupun aku gak tahu kamu siapa, tapi kamu inget gak, kamu selalu dengerin semua keluh kesah aku. Kamu bener-bener ngertiin aku. Kamu pendengar yang baik. Kamu bisa bikin aku ketawa karena kekonyolan, kepolosan, keceriaan, kamu. Sampai aku jatuh cinta, Ay, sama kamu."


Okay, wajahku pasti memerah sekarang mendengar ucapannya itu. Ku coba mengontrol ekspresi wajahku agar tak terlihat bahwa aku sedang tersipu.


Ku lihat tatapan mata Ghiffa begitu sendu saat mengatakannya. Delapan bulan lalu bukannya sewaktu ia pertama kali tinggal di apartemen ya? Aku sempat mengingatnya. Ketika itu Hyuga berkata dia sedang memiliki masalah keluarga. Ia mengatakan bahwa ia jarang pulang ke rumah dan tinggal di kost-an kecil dan sederhana yang dia sewa per bulan bersama temannya.


Dulu aku mempercayainya begitu saja. Bukannya di kost-an kecil, ternyata Hyuga tinggal di sebuah apartemen mewah yang luas. Kecil darimana? Aku sampai kelelahan hanya untuk membersihkannya setiap hari.


"Maaf, Tuan." Aku menjauhkan tangan Ghiffa yang berada di kedua pundakku. "Saya tidak tahu Tuan tahu darimana mengenai semua hal mengenai Hyuga. Tapi saya tidak akan percaya begitu saja."


Ucapanku ini sukses membuat Ghiffa tercengang. "Segitunya kamu nolak kenyataan kalau Hyuga itu aku, Ay? Sampai segitunya kamu gak mau ngakuin kalau aku ini pacar kamu?!" suaranya terdengar meninggi.


Aku bungkam. Bukannya tidak mau, aku hanya mencoba untuk realistis. Aku dan Ghiffa berada di dunia yang berbeda. Kami tidak mungkin bersatu. Daripada mencoba memulainya lagi, lebih baik mencoba melupakan yang pernah terjadi. Lagipula hubunganku dengan Hyuga memang sudah berakhir.


Saat Hyuga memutuskanku waktu itu, aku sudah menangis dengan puas dan merelakannya. Maka sekarang aku tidak berniat untuk memulainya kembali. Tak akan aku biarkan diriku jatuh ke dalam pesona Ghiffa lebih dalam lagi. Apalagi kini tidak hanya wajah tampannya, pribadi seorang Hyuga yang membuatku jatuh hati, ternyata ada dalam diri Ghiffa.


Kini aku hanya harus fokus menata hatiku kembali dan jangan biarkan Ghiffa ataupun Hyuga masuk kembali ke dalamnya lagi.


Tidak akan aku biarkan semua itu terjadi! Walaupun aku tahu itu tidak akan mudah sekarang.


Selain itu, tidak semudah itu juga bagiku untuk memaafkannya yang selama satu bulan lebih, bahkan kini hampir dua bulan, telah membohongi aku. Dia mengetahui siapa aku, tapi ia tidak mengatakan apapun dan membiarkanku melakukan hal-hal konyol.


Bahkan sekarang aku merasa sangat malu tatkala mengingat ketika aku menangis sesenggukan karena Hyuga memutuskan hubungannya denganku, aku mengatakan masih sangat menyayangi Hyuga, dan tanpa aku ketahui aku telah mengatakan hal itu langsung di depan Hyuga.


Lalu kejadian-kejadian lain saat aku membicarakan bagaimana aku sangat menyukai pacarku pada Ghiffa. Ternyata aku telah menyanjung pacarku di depan orangnya langsung.


Siapa yang tidak malu jika ada di posisiku?


Ghiffa menghela nafasnya, "Okay kalau gitu. " dengan nada diplomatis. "Aku gak akan maksa kamu buat nerima semuanya sekarang. Aku yakin kamu masih shock banget. Sama kayak waktu pertama kali aku tahu kalau ternyata kamu adalah Ayana, cewek yang aku suka yang secara ajaibnya tiba-tiba tinggal di apartemenku. Kamu gak tahu, Ay, kalau aku seneng banget waktu tahu itu." Senyum tulus terkembang begitu saja di wajah tampannya.


Wajahku terasa memanas kembali mendengar penuturan Ghiffa yang terdengar begitu jujur. Dan aku tidak menyangka Ghiffa kembali menunjukkan sisi yang selama ini tak pernah ditunjukkannya padaku. Ia memberikanku waktu untuk menerima semuanya.


Apakah benar ini Ghiffa? Majikanku yang biasanya selalu tidak sabar dalam hal apapun?


Aku telan kembali rasa penasaran itu.


Ingat, Ayana, jaga jarak aman dengan Ghiffa. Jangan terlalu kepo. Berusahalah untuk menjadi sekedar ART mulai sekarang. Jangan membuat dirimu terlena lebih jauh. Cobaan yang akan kamu hadapi sekarang akan jauh lebih berat! Jangan sampai jatuh dalam pesonanya lebih dalam lagi!


Batinku mewanti-wanti.


"Maaf, Tuan. Ini sudah sore. Saya harus segera kembali untuk menyiapkan makan malam untuk anda." ucapku bersikap jauh lebih formal lagi pada Ghiffa.


Ghiffa hanya menghela nafas jengkel, terlihat sekali ia sangat gemas dengan sikapku. "Ya udah yuk sekarang kita pulang."


"Silahkan Tuan pergi lebih dulu." Aku mengeluarkan ponselku dan segera memesan ojek online. "Saya akan memesan ojek online."


"Ay, ribet banget sih? Udah kamu pulang aja bareng aku. Orang kita pulang ke tempat yang sama 'kan."


Aku tidak menjawabnya dan mulai sibuk dengan ponselku, menentukan titik jemputku. Tiba-tiba saja Ghiffa mengambil ponselku.


"Tuan! Kembalikan!" aku mencoba meraih ponselku yang dipegangnya.


Ghiffa mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membuatku melompat tinggi mencoba meraih ponselku. Aku tetap melakukannya padahal aku tahu sangat mustahil mendapatkannya dengan tinggi Ghiffa yang jauh di atasku.


Ghiffa terlihat mulai jengah dengan tingkahku. Akhirnya ia meraih tanganku dengan sebelah tangannya. "Okay, Ay. Aku akan ikutin permainan kamu. Bagi kamu aku ini bukan Hyuga 'kan? Fine. Aku bakal ikutin."


Kini aku tertegun mendengarnya. Ia menggenggam tanganku lebih erat dengan satu tangan, dan menarik pinggangku mendekat padanya dengan tangan lain yang memegang ponselku.


"Kalau kamu gak bisa nerima aku sebagai Hyuga, kalau bagi kamu sekarang Hyuga udah gak ada. Aku bakal bikin kamu jatuh cinta sama Ghiffa, dan dengan cara Ghiffa." Ia berikan penekanan pada saat ia menyebutkan namanya.


Aku menelan salivaku dengan susah payah. Kucoba untuk mendorongnya menjauh, kemudian tangan Ghiffa terlepas begitu saja dari pinggangku. Aku kira ia akan melakukan hal nekat, ternyata tidak.


Ghiffa mundur dan melepaskan pinggangku, ia menyerahkan ponsel itu kepadaku. "Dan aku yakin, baik sebagai Hyuga, ataupun Ghiffa, aku bakal bikin kamu tetap jatuh cinta sama aku, Ay." kemudian ia mendekatkan wajahnya padaku dan memperingatkanku,


"Siap-siap. Kamu bakal kewalahan."


Seketika ribuan kupu-kupu seperti beterbangan di dalam perutku.


Benar 'kan?


Rintanganku untuk tidak jatuh dalam pesonanya kali ini tidak akan mudah.