The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 27: Patah Hati



Aku mematikan sambungan panggilanku dengan Hyuga. Karena terlalu marah aku tidak ingin memberikan kesempatan padanya untuk mengatakan apapun.


Aku masih merutuki diriku sendiri. Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku bisa sebodoh ini?


Aku menatap Zayyan, antara merasa bersalah, malu, dan juga marah. Selama sebulan lebih aku terus memikirkannya. Wajah Zayyan selalu hadir dalam benakku. Setiap saat. Bahkan aku menjadikan fotonya sebagai wallpaper di HPku. Aku juga pernah memegang tangannya dan bersandar di bahunya waktu itu.


Mengingatnya benar-benar membuat tubuhku terasa panas dingin, malu sekali. Ingin rasanya aku menggali lubang, masuk ke dalamnya dan tidak keluar lagi.


"Sekarang kamu jawab dengan jujur," ucapku galak, menyembunyikan rasa malu yang terus muncul. "Kamu tahu siapa Hyuga yang asli? Iya 'kan?"


Zayyan menghela nafasnya kasar, merasa terindimidasi.


"Jawab Zayyan! Kamu hutang penjelasan sama aku!"


"Iya aku tahu, Ayana. Tapi aku gak bisa bilang. Ini masalah kalian berdua. Aku gak mau ikut campur."


Aku menyapukan rambutku ke belakang dengan kedua tanganku, mencoba menahan emosi. Bisa-bisanya dia masih menyembunyikan hal ini sekarang.


"Ayana," Zayyan melanjutkan, "Aku gak bisa bilang. Tapi aku tahu dia sayang banget sama kamu. Dia pasti punya alasan yang kuat kenapa dia nyembunyiin identitas aslinya."


Sayang banget sama aku dia bilang? Kini hatiku terlalu panas untuk bisa tersentuh dengan kata-kata itu.


"Kamu bilang dia shock waktu ngeliat aku ada disini, 'kan? Berarti dia ada di sekolah ini juga? Dia siswa disini juga?" selorohku.


Zayyan terlihat berpikir beberapa saat, "Iya. Dia juga siswa disini. Cuma itu yang bisa aku kasih tahu sama kamu, Ayana. Selebihnya Hyuga sendiri yang harus kasih tahu kamu."


Sudahlah, Zayyan pasti ada di pihaknya. Dari awal aku ada di sekolah ini ia sudah ikut menutupi identitas asli Hyuga. Tanpa pamit aku pergi meninggalkan Zayyan begitu saja di rooftop itu. Aku meminta izin pada Bu Sinta untuk pulang lebih cepat dengan alasan kurang enak badan. Aku harus mendinginkan kepala dan juga hatiku.


Akhirnya aku memilih datang ke sebuah kedai es krim untuk mencoba meredakan gejolak emosi di dalam diriku. Aku memesan seporsi es krim dan memakannya sendirian di salah satu meja yang tersedia disana. Setelah memakan beberapa sendok es krim aku merasa sedikit membaik, hanya sedikit.


"Na?" sebuah tangan memegang pundakku. Akupun mendongak.


Seketika aku menangis melihat siapa yang tiba-tiba saja ada disana, "Bel!" aku menghambur pada pelukan sahabatku ini. Merasa sangat bersyukur tiba-tiba saja kami bertemu disini.


"Na, lo kenapa? Ngapain lo sendirian disini?" Belva kebingungan dengan sikapku. Aku tidak peduli lagi sekarang banyak orang yang melihat ke arahku dengan tatapan heran.


Akupun melepas pelukanku, "Ternyata kamu bener. Yang kamu bilang selama ini tuh bener, Bel."


"Lo tenangin diri lo dulu, deh. Terus lo cerita yang bener biar gue ngerti."


Aku menyeka air mataku dan membersihkan hidungku. "Zayyan, Bel. Ternyata dia bukan Hyuga."


"Ya ampun, Na. Serius?" Belva terlihat kaget dan bersimpati.


Akupun menceritakan semua yang baru terjadi pada sahabatku ini.


"Gue beneran gak tau harus bilang apa, Na. Kita padahal udah rencana waktu itu buat datengin Zayyan di tempat kerjanya. Tapi guenya gak bisa terus karena pemotretan. Akhirnya lo tahu dia siapa dengan cara kayak gini. Sorry banget ya, Na."


"Nggak, Bel, Kamu gak salah, kok. Akunya aja yang bego. Harusnya aku dengerin kamu buat jauhin Zayyan." ucapku penuh sesal.


"Jangan nyalahin diri lo sendiri. Tapi siapa ya, Hyuga sebenernya, Na? Di SMA Centauri, lo ada curiga sama siapa gitu?"


Aku berpikir sejenak. Selama ini tidak ada siswa yang mencurigakan bagiku. Selama ini aku tidak pernah memperhatikan siswa lain selain Zayyan dan Ghiffa.


"Gak ada kayaknya, Bel. Udahlah, aku udah bakal lupain dia aja."


Aku mengangguk ragu, "Harus. Udah gak bisa lagi aku pertahanin hubungan yang aneh ini. Buat apa coba aku masih bertahan sama cowok yang gak jelas siapa."


"Iya sih, lo bener. Ya udah sekarang lo tenangin diri lo. Lupain pelan-pelan. Gak usah terlalu maksain. Apalagi selama ini lo udah sayang banget sama dia. Pasti gak gampang buat lupainnya."


"Iya, Bel. Aku itu udah sayang banget sama dia. Tapi dianya kenapa harus nyembunyiin identitas dia? Kenapa dia gak jujur aja? Kenapa dia harus bohongin aku kayak gini" Aku kembali terisak.


Masih terlalu basah luka yang ditorehkan Hyuga. Sakit dan perihnya masih begitu terasa. Siapa sebenarnya cowok jahat yang selama ini sudah membohongi aku?


***


Aku kembali ke apartemen pada pukul 10 malam. Hari ini aku bolos dari perpustakaan, dan juga dari tugasku mengurus apartemen ini. Aku membutuhkan ruang untuk bernafas dan menata kembali hatiku yang berantakan.


Untung saja aku bertemu dengan Belva. Dia menemaniku seharian ini dan melakukan banyak hal. Setelah dari kedai es krim kami pergi ke salon dan melakukan perawatan, dan jujur itu membuatku sangat rileks setelah lelah menangis. Setelah itu kami makan di sebuah restoran dan mengobrol lama sekali. Kami memesan banyak makanan dan cemilan sambil menonton episode terbaru drama korea on going yang memang menjadi favoritku dan juga Belva.


Dan semua itu Belva yang membayar. Awalnya aku merasa tidak enak, tapi sahabatku ini bukan sepertiku yang harus membanting tulang bahkan untuk makan. Penghasilan Belva dari profesinya sebagai model sudah lebih dari cukup untuk bisa membayar kuliah sendiri dan juga membeli mobil. Jadi menghabiskan uang untuk sekedar perawatan dan mentraktirku makan, bukan sesuatu yang besar baginya.


Setelah mengganti pakaianku segera aku merebahkan diriku di kasur, aku akan tidur sekarang. Untuk hari ini aku tidak akan memperdulikan apapun juga. Aku hanya ingin beristirahat. Bahkan aku tidak peduli Ghiffa sudah makan malam atau tidak. Aku juga tidak tahu dia ada di apartemen atau tidak, aku tidak peduli. Piring bekas sarapan belum aku cuci sampai sekarang, pakaian untuk disetrika juga masih menumpuk di ruang cuci.


Masa bodo! Untuk hari ini saja biarkan aku seperti ini.


Namun bukannya tertidur, aku malah kembali teringat pada cowok itu. Cowok yang dengan jahatnya meminjam identitas Zayyan dan membuatku terus memikirkan wajah Zayyan selama beberapa minggu terakhir ini. Jika mengingatnya aku sungguh merasa malu. Zayyan pasti merasa aku ini sangat bodoh. Ditambah lagi dia harus sedikit menjaga jarak dengan pacarnya, karena ia tidak ingin aku melihat mereka di sekolah. Aku juga jadi merasa bersalah pada pacarnya Zayyan.


Aku kembali penasaran. Siapa Hyuga sebenarnya? Kenapa dia menyembunyikan identitasnya? Kenapa ia sampai membayar Zayyan untuk menghadirkan 'visual' dari dirinya sendiri agar aku mau menjadi pacarnya? Apa jangan-jangan benar kata Belva, Hyuga tidak cukup percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri di depanku? Atau ada alasan lain?


Aku sungguh tidak mengerti! Berapa kalipun aku memikirkannya aku sungguh tidak mengerti mengapa Hyuga bersembunyi di balik Zayyan. Aku juga tidak ingin mendengar penjelasan Hyuga. Aku terlanjur kecewa dan marah, maka dari itu HPku belum ku nyalakan lagi sejak aku matikan tadi sebelum meninggalkan SMA Centauri.


Tiba-tiba aku mendengar suara. Aku mempertajam pendengaranku dan benar, bel pintu berbunyi. Kira-kira siapa yang datang pada waktu selarut ini? Kini sudah pukul 1 malam. Aku sendiri terkejut ternyata sudah selama berjam-jam aku terdiam diri memikirkan siapa Hyuga sebenarnya.


Akupun keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu keluar dan membukanya.


Seorang cowok yang pernah aku lihat di SMA Centauri kini berdiri di hadapanku. Cowok itu adalah sahabat Ghiffa yang selalu bersama Ghiffa. Namanya kalau tidak salah, Max. Aku mengingatnya karena wajahnya yang blasteran dan rambutnya yang coklat, jadi tidak sulit untuk mengingat cowok itu.


Ia terlihat kepayahan karena di sebelahnya berdiri Ghiffa yang tangannya menyangga pada sekeliling leher Max. Kepala Ghiffa tertunduk dan Max merangkul tubuh Ghiffa yang terlihat sempoyongan. Jika saja tidak disangga, sepertinya Ghiffa sudah akan ambruk ke lantai. Samar-samar aku mencium bau yang tidak pernah aku hirup sebelumnya, entah bau menyengat apa itu.


"Tuan Ghiffa?" ucapku.


"Loh, Mbak bukannya yang ada di perpustakaan itu?" tanya Max.


"Iya, betul." ucapku dengan tawa canggung.


"Kok ada di apartemen si Ghiffa? Bener 'kan ini apartemennya?" Max terlihat kebingungan.


"Iya, saya sebenernya asisten rumah tangganya Tuan Ghiffa."


"Oh gitu." ucapnya sambil terkaget-kaget. "Ya udah nih gue serahin ini anak sama mbak."


"Tuan Ghiffa kenapa seperti ini? Apa dia sakit?" Ghiffa terlihat tidak terlalu sadar. Sampai ia harus dipapah seperti ini untuk pulang.


"Mbak belum pernah liat orang kayak gini? Dia lagi mabok sekarang."


"Mabuk?!" teriakku.


Seketika aku tahu bau yang aku cium adalah bau alkohol yang tercium dari tubuh majikanku itu.