The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 57: Badai Belum Usai



"Lo 'kan gak harus banting HPnya!" Belva akhirnya bisa mengumpulkan keberanian lagi setelah bentakan Ghiffa di depan wajahnya. Sedangkan aku, masih belum mampu berkata-kata.


Aku sungguh shock. Bagaimana aku mengganti ponsel seharga motor itu?


"Pergi lo dari sini dan bawa balik HP sialan itu!" bentak Ghiffa lagi.


Belva tak gentar lagi. Ia menatap Ghiffa dengan berani, "Lo bocah paling gak dewasa yang pernah gue liat! Bisa-bisanya gue ngebiarin cowok angkuh, galak, kekanak-kanakan kayak lo buat tinggal sama sahabat gue ini?!"


"Apa lo bilang? Angkuh? Galak? kekanakan?!" ucap Ghiffa, terlihat tak terima dengan ucapan Belva.


"Lo denger ya, gak usah lo ngerasa kesaingin sama abang lo sendiri. Sahabat gue ini bukan kayak lo yang gak bisa jaga hati!"


Dahi Ghiffa mengerut tak paham.


"Bel.. " Aku mencoba menghentikan Belva.


"Lo diem dulu, Na." ucapnya menyela ucapanku. Belva menatap Ghiffa kembali, "Gue harus bikin perhitungan sama lo. Gara-gara lo sahabat gue ngalamin kecelakaan!"


Ekspresi Ghiffa langsung berubah.


"Bel, udah... " ucapku, wajah penuh sesal Ghiffa kembali tergambar.


"Lo udah janjian buat ketemuan sama Ayana, tapi liat mantan lo dateng, langsung lo lupa sama sahabat gue! Lo biarin dia nunggu sedangkan lo dengan santainya malah nostalgia sama mantan lo itu?!"


Aku terus menggoyang-goyangkan tangan Belva dengan panik. Ghiffa mengalihkan pandangannya tak bisa berkutik. Sepertinya memang itulah yang terjadi sebenarnya.


"Terus lo bilang apa? Temen-temen lo nahan lo buat gak pergi? Seorang bad boy sekolah yang guru aja berani lo lawan, yang gak pernah ngebiarin siapapun buat ngatur lo, tiba-tiba jadi gak berani ngebantah temen-temen lo? Temen-temen lo yang ngelarang lo pergi, apa emang diri lo sendiri yang gak mau pergi? Lo itu bukan bad boy, tapi lebih cocok disebut f*ck boy!"


Ghiffa hanya bungkam mendengar ucapan Belva, dan itu membuat hatiku berdenyut nyeri. Akhirnya aku mengerti kenapa ia semarah itu tadi malam. Rupanya hati Ghiffa sedang dalam keadaan bimbang sekarang, antara aku dan juga Olivia.


"Kenapa lo diem? Bener 'kan itu yang terjadi?"


Ghiffa hanya diam seribu bahasa.


"Udah Bel. Cukup, aku mohon." pintaku.


"Sorry ya, Na. Gue bukannya mau sok ikut campur, tapi gue gak mau sahabat gue dimainin sama bocah kayak dia. Ditambah gue gemes liat lo cuma bisa diem aja digituin sama dia. Tapi bukan berarti gue ngedukung lo buat sama Ghaza juga. Gue kesini murni pengen jenguk lo, bukan karena mau jadi 'kurir'nya Ghaza. " sindir Belva.


Ghiffa melirik sekilas pada Belva kemudian duduk di sofa menundukkan kepalanya.


"Gue balik dulu ya, Na. Cepet sembuh. Itu paperbag dari gue, lo makan ya. Nanti gue bilangin lo izin gak masuk buat beberapa hari."


"Makasih ya, Bel. " Aku memeluknya sekilas, lalu Belva pamit pada Ghiffa dan meninggalkan apartemen.


Keheningan yang janggal menyelimuti kami beberapa saat. Ghiffa tidak membuka suaranya. Begitu juga aku.


"Saya mau istirahat, " Aku bangkit dari dudukku dan menggunakan tongkatku untuk berjalan menuju kamar.


Saat melewatinya, Ghiffa menahan tanganku. "Harus ya aku denger semua dari orang lain? Gak bisa kamu bilang sendiri semua yang kamu rasain dengan mulut kamu sendiri?"


Aku hanya bisa terdiam. Aku sama sekali tidak berniat memberitahukannya pada Ghiffa. Karena Belva semua unek-unekku itu kini diketahui oleh Ghiffa. Jujur aku lega, tapi juga menjadi sangat tidak nyaman.


Bukan seperti ini mauku.


Ghiffa mendorong tongkat penyangga ku hingga kedua tongkat itu terjatuh ke belakang, lalu ia membopongku menuju kamarnya. "Tuan mau apa?!"


"Tuan, apa yang Tuan lakukan?!" Aku seketika panik saat Ghiffa kini berada di atas tubuhku. Kakiku berada di antara kakinya.


Ghiffa menahan kedua tanganku di atas kepalaku. Tangannya yang lain meraih pipiku. Seketika bibir Ghiffa melahap bibirku. Dari pergerakannya, aku tahu Ghiffa sedang sangat marah. Ia bahkan menghisap bibir bawahku kuat sekali.


Bibirnya mulai menjelajah di leherku. Di beberapa titik ia tinggalkan tanda-tanda merah, tak menghiraukan aku yang terus meronta dan meminta ia melepaskanku.


"... Lepasin... " suaraku tercekat. Tangisku pecah.


Ghiffa seakan tidak mendengarku. Ia membuka satu per satu kancing mini dress yang aku kenakan. Hingga bukit kembarku yang tertutup bra terpampang di hadapannya.


Sontak aku berteriak, "Tuan, tolong... Jangan!!"


Ghiffa menyentuh salah satu bukit kembarku, membebaskannya dari kurungannya dan muncullah puncak berwarna merah muda kecoklatan yang selama ini belum pernah aku perlihatkan kepada siapapun. Seketika Ghiffa mengulum puncak itu dengan mulutnya.


Tangisku terus lolos dari bibirku. Aku merasa sangat marah pada apa yang sedang Ghiffa lakukan padaku. Seketika aku membencinya. Sangat benci.


Ghiffa beralih ke bukit lainnya dan mengulumnya juga. Tak lupa ia berikan tanda-tanda merah di sekitar bukitku itu.


Aku mencoba menguasai emosiku. Aku terdiam beberapa saat hingga,


"Ghiffa..aku bilang berhenti..." ku sebut namanya dengan lirih. Nyaris tak terdengar namun cukup jelas.


Hal itu membuat Ghiffa tercenung seketika, kedua matanya menatapku dengan nafas yang masih menderu.


Sorot mata Ghiffa kembali terkendali. Tangannya yg mencengkram kedua tanganku dan menahannya di atas kepalaku melonggar begitu saja.


Aku mendorong tubuhnya sekuat yang aku bisa hingga tubuhnya terlempar ke sebelah kiri. Segera kubetulkan letak pakaianku dan beringsut menjauhinya ke sudut tempat tidur.


Aku mencoba menenangkan diriku yang sempat hilang kendali, sambil menekan pelan kedua bukit kembarku yang terasa nyeri dengan sebelah lenganku. Tanganku yang lain meraih pergelangan kakiku yang kembali terasa sakit karena aku meronta-ronta cukup keras saat mencoba melepaskan tubuhku dari kungkungan tubuh Ghiffa.


Sesaat yang lalu tiba-tiba saja aku merasa tersedot ke dimensi yang berbeda. Di saat hati dan pikiranku dikuasai amarah, sensasi aneh aku rasakan di bagian bawahku ketika Ghiffa mengeksplorasi kedua puncak bukit kembarku. Aku tahu tubuhku menyambut sentuhannya, tapi tidak sekarang dan tidak dalam keadaan seperti ini.


Aku menoleh dan melihat Ghiffa di di tepi tempat tidur di seberang tempat aku duduk. Ia duduk sambil mengusak rambutnya dengan kesal.


Mengapa Ghiffa melakukannya padaku? Mengapa ia melakukannya sejauh itu?


Kesadaranku kembali sepenuhnya. Dan amarah masih membuncah di dalam dadaku. "Kamu ngapain sih?! Kamu selalu ngelakuin hal semau kamu! Kamu selalu seenaknya sama aku! Pernah gak kamu mikirin gimana perasaan aku?!"


Ghiffa menoleh ke arahku, segera saja ku berikan tatapan menusukku padanya, "Kalau perasaan kamu aja masih kebagi dua antara aku sama Olivia, ngapain kamu ngelakuin hal barusan?!"


"Ay... " Ghiffa kini berjongkok di depanku, "Maaf... Aku hilang kendali.. "


Kutangkis tangannya yang akan meraih pipiku.


"Jangan sentuh!"


Air mata lolos begitu saja melintasi pipiku.


Ghiffa sepertinya tidak mau menyerah. Ia malah meraih tubuhku dan mencoba untuk memelukku. "Lepasin!" Segera aku mendorong tubuhnya. Hingga ia terduduk ke belakang.


"Saya cape. Saya cape banget sama sikap Tuan! Kenapa sih.." Aku terisak dan menyulitkanku untuk berbicara.


Lalu aku melanjutkan kata-kataku, "...kenapa sih Hyuga itu harus Tuan?"