The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 39: Nama yang Kembali Terdengar



"Lo yakin mau nungguin gue warnain rambut? Lama loh, Na. Mending lo juga treatment." Belva duduk di sebuah kursi yang menghadap ke sebuah cermin besar di salon langganannya. Aku duduk di sebelahnya sibuk menonton hair stylist Belva mengoles sesuatu ke rambutnya.


"Gak usah, Bel. Aku mending disini liatin kamu diwarnain rambut." ucapku lesu. Ku rebahkan kepalaku di meja di hadapanku.


"Lo bolos lagi? Lama-lama lo dipecat loh." ucap Belva memperingatkanku.


Aku menggeleng pelan, "perpus lagi tutup. Lagi ada renovasi dulu sebentar. Lagian gue gak masalah kalau dipecat, mau banget malahan. "


"Jangan sompral, Na. Beneran dipecat baru tau rasa lo. Eh, gimana jadinya pacar berondong lo itu? Gue masih belum percaya lo pacaran sama Al-ghiffari Airlangga. Gue tahu lo kadang tulalit, tapi gue bener-bener gak habis pikir lo bisa gak nyadar kalau selama ini lo tinggal sama Hyuga yang selalu lo keluhin gak mau ketemu terus sama lo!"


Beberapa hari terakhir Belva selalu membahas ini saat kami bertemu. Dia terlihat menikmati saat bisa menggodaku karena kebodohanku ini.


"Jangan mulai napa sih, Bel! Udah aku bilang aku udah gak jadian lagi sama Hyuga. Aku udah putus!" protesku.


"Tapi lo bilang Ghiffa mutusin lo 'kan karena dia pengen jadian secara langsung sama lo. Yang dilakuin Ghiffa itu udah bener. Dia gak terlalu lama bohongin lo. Malah gue ngerasanya mungkin selama ini dia udah ngasih tanda-tanda sama lo. Cuma karena lonya yang gak mudeng jadi deh dia buka rahasianya segamblang-gamblangnya. Secara sahabat gue ini cuma pinter di pelajaran doang, masalah yang lain lo tulalit abis." Belva kembali 'membully'ku.


Aku hanya bisa mendengus karena yang dikatakannya memang tepat sekali. "Iya kamu bener banget. Aku emang tulalit."


Belva tertawa puas sekali.


"Bahagia banget sih kamu kalau udah ngebully aku." Mataku mendelik padanya. "Eh Bel, Ghiffa ngasih tanda-tanda apa maksudnya? Yang kamu bilang itu apa contohnya?" tanyaku benar-benar tidak mengerti.


"Kayak dia perhatian sama lo, atau pernah gak lo liat tingkah lakunya aneh dan ngebingungin? Pernah gak?"


Tanpa permisi, kilasan saat Ghiffa beberapa kali menciumku muncul begitu saja.


"Lo mikirin apa? Kok mukanya jadi merah gitu sih?" Belva kembali menggodaku, "Jangan-jangan, Ghiffa pernah nyium lo ya?"


Skakmat. Belva kok bisa tahu itu? Wajahku yang mudah berubah warna saat malu atau marah, selalu membuatku merasa dikhianati oleh wajahku sendiri jika ada dalam situasi seperti ini.


"Apaan sih, Bel. Ya nggaklah!" sanggahku.


"Enggak salah lagi, 'kan?"


Sudahlah memang sulit untuk berbohong di depan sahabatku ini. Dia terlalu peka, atau aku yang tidak pandai berbohong.


"Aku mau beli minum. " Aku memutuskan untuk melarikan diri saja daripada terus jadi bulan-bulanan Belva.


Aku beranjak dengan malas, dan berniat menuju coffeeshop yang ada di sebelah salon ini. Namun, langkahku terhenti saat seorang gadis menghampiri kami.


"Kak Belva?" Seorang gadis dengan seragam SMA menyapa Belva.


"Zal? Lo disini juga?" sahut Belva.


"Eh bukannya lo.. " gadis itu menatapku dengan heran.


Aku tercengang saat menyadari cewek SMA itu. "Zalfa?" gumamku.


"Loh, kalian kenal?" tanya Belva yang juga heran.


"Tau doang sih, kak." jawabnya cemberut.


Aku sih merasa biasa saja. Tapi sepertinya Zalfa masih kesal padaku.


'Dasar anak ABG labil,' keluhku dalam hati.


"Apa kabar, Zalfa?" sapaku ramah.


Zalfa malah mendelik padaku.


"Eh kok lo gitu sama sahabat gue, Zal?" melihat sikap Zalfa, Belva menegurnya.


Zalfa membuka mulut bersiap memberikan pembelaan, namun aku mendahului ucapannya.


"Emang Zalfa ini siapa, Bel? Kok kamu kenal?" tanyaku.


"Dia ini sepupu gue. Sepupu jauh sih." terang Belva. Ia menatap Zalfa kembali, "Lo ada masalah apa sama sahabat gue?" tanya Belva sepertinya penasaran dengan sikapnya yang tidak ramah padaku.


"Dia ini pacarnya Zayyan, Bel." ucapku santai.


"Zayyan yang pura-pura jadi.. Mmmhh. " Segera aku membekap mulut Belva.


"Pura-pura jadi apa? " tanya Zalfa penasaran.


"Gak apa-apa. Lupain aja. " ucapku, dengan senyum cengengesan, "Zalfa, aku sama Zayyan beneran gak ada apa-apa. Jadi udah ya jangan jutek sama aku. Harusnya kita baikan loh, kamu 'kan sepupunya sahabat aku. Jadi harusnya kita temenan."


Zalfa malah mengerlingkan matanya.


"Kalau lo masih mau gue anggap sepupu, lo harus hormat ya sama temen gue." ucap Belva galak.


"Hah kok gitu sih, kak?" Zalfa mencebikkan bibirnya, "Ya udah deh. Iya. Maaf."


Aku tersenyum gemas pada Zalfa. Dia manis dan menggemaskan, cocok sekali dengan Zayyan.


"Tapi aku penasaran sama lo, lo beneran ada sesuatu sama si Ghiffa ya?" tanyanya, masih dengan nada kurang sopan.


Belva mendeham, membuat Zalfa meralat nada bicaranya. "Maksud gue, Kak Ayana ada hubungan apa sama si Ghiffa?"


"Kenapa si Ghiffa emangnya?" Jiwa kepo Belva muncul.


"Loh, lo tau Ghiffa emang, Kak?" tanya Zalfa sedikit heran.


"Tau dong, adiknya Al-ghazali Airlangga, sahabatnya kecengan gue." Belva menatapku penuh arti.


Belva memang bercerita ia sedang dekat dengan seorang anak konglomerat bernama Jonathan. Ternyata Jonathan ini adalah sahabat dari kakaknya Ghiffa.


Belva memang setia kawan, ia tidak dengan julidnya mengumbar informasi mengenai aku yang memang bisa dikatakan 'dekat' dengan Ghiffa dan menjadikan dekatnya dia dengan Jonathan sebagai alibi. Jika Belva mengatakan bahwa dia tahu Ghiffa dariku, bisa semakin kacau semuanya.


"Itu kak, masa dia sekarang udah tobat jadi badboy legendarisnya SMA Centauri? Dan dia berubah setelah Kak Ayana ada di sekolah buat jadi petugas perpustakaan."


"Serius?" Belva tersenyum penuh arti padaku. Aku hanya diam melihat senyum tengil sahabatku itu.


"Gini ya kak, si Ghiffa ini tuh kasar sama siapapun, Kak. Ngomong kasar, sikapnya ngeselin abis, gak banget pokoknya! Dia gak pernah pilih-pilih cewek apa cowok, guru, karyawan, atau siswa, buat dia ajak adu mulut. Orang-orang udah pada pengen masukin bon cabe level 100 ke mulutnya kalo si Ghiffa mulai komentarin sesuatu! Tapi tau gak akhir-akhir ini dia tiba-tiba jadi ramah sama semua orang, terutama cewek. Sekarang cewek-cewek malah jadi ngidolain dia coba?! Malah banyak yang mulai bucin sama dia. Terus kak, dia jadi mendadak jenius, kayak waktu dia kelas 10. Dia juga masuk ke ekskul futsal lagi. Gimana gak makin menggila cewek-cewek di sekolah gue?! Lama-lama dia malah jadi playboy kalau kayak gini. Dan si Ghiffa berubah setelah ada Kak Ayana." Zalfa menatapku dengan alis beradu, "Lo bukan sekedar ART dia 'kan? Lo pasti ada hubungan spesial sama si Ghiffa!"


Aku merasa terpojok saat Zalfa bertanya padaku dengan pertanyaan itu.


"Lo tau ini, Na?" tanya Belva.


Aku hanya melihat ke sembarang arah, pura-pura tidak mendengar.


Tak mendapat jawaban dariku, Belva kembali bertanya pada Zalfa. "Lo termasuk yg bucin sama dia?"


"Ih ogah banget! Gue udah punya Zayyan ya, maaf! Okay gue akuin Ghiffa emang ganteng. Gak ada yang ngalahin kesempurnaan wajah dia. Bahkan cowok gue, gue akuin ada di bawah dia kadar kegantengannya. Tapi gue bener-bener gak suka sama sikapnya! Berasa sekolah punya dia apa?! Semua hal di sekolah harus gitu selalu dia yang diomongin? Dia goodboy, dia yang diomongin. Udah jadi badboy, masih diomongin. Sekarang udah hampir tobat, masih aja dia yang diomongin. Emang cowok di sekolah itu dia doang apa?! Ngeselin banget! Pengen banget gue sehari aja orang-orang gak ngomongin dia! Kalau bisa pindah, pindah deh gue!" Ucapnya menggebu-gebu.


Sepertinya Zalfa sangat benci pada Ghiffa.


"Lo kenapa segitunya gak sukanya sih, sama si Ghiffa?" Belva keheranan. Jujur, akupun sama herannya.


Zalfa seperti kelabakan, "Ya... Gak suka aja! Masa dengan apa yang gue ceritain barusan lo masih gak ngerti kalau Ghiffa tuh senyebelin itu?!"


"Bentar, gue inget waktu kelas 10, lo pernah bilang nembak temen sekolah lo, terus lo ditolak. Jangan-jangan itu Ghiffa?"


Pertanyaan Belva sukses membuat Zalfa pucat pasi.


"Bukan, kak!" Zalfa mengibas-ngibaskan tangannya dengan panik.


"Ah bohong. Terus lo juga bilang seudah nolak lo, Ghiffa malah jadian sama temen lo yang namanya Olivia. Ya 'kan?"


Olivia?


Seketika aku tertegun karena lagi-lagi mendengar nama itu lagi.