
Akhirnya hari ulang tahunku pun tiba. Sekitar dua minggu ibu mertuaku mempersiapkan segalanya. Awalnya beliau enggan, karena ia sudah menyatakan dirinya bukanlah lagi seorang Nyonya Besar Musa Airlangga yang harus mengurusi berbagai hal mengenai anggota keluarga Airlangga, tapi karena Ghiffa yang meminta maka beliaupun bersedia.
Pesta itu diadakan di rumah kediaman Airlangga. Aku yang mengatakan bahwa pestaku ini ingin diadakan secara sederhana dan juga mengundang orang-orang terdekat saja.
Tapi sepertinya makna sederhana bagiku, begitu berbeda dengan sederhana bagi ibu mertuaku. Karena tetap saja pesta yang dilangsungkan secara outdoor di halaman belakang kediaman Keluarga Airlangga ini, menurutku jauh sekali dari kata 'sederhana'.
Di pestaku ini memang orang-orang tidak berpakaian mewah. Kami menggunakan dress code putih dan diwajibkan menggunakan sepatu kets. Namun dekorasi dan makanan yang dipesan oleh ibu mertuaku sungguh membelalakkan mata.
Banyak sekali dan juga terlihat menggiurkan.
Sebetulnya tujuan mengadakan pesta ini, tidak hanya untuk merayakan ulang tahunku dan penyambutanku sebagai menantu dari seorang Musa Airlangga, tapi juga ada misi lain yang sedang kami jalankan.
Membawa kembali ibu mertuaku untuk tinggal disini.
Selama dua minggu beliau mempersiapkan segala macam mengenai pesta ini, mau tidak mau beliau jadi sering datang ke rumah ini lagi, bertemu dengan ayah mertuaku lagi.
Interaksi keduanya masih sama, seperti atasan dan bawahan. Lebih tepatnya ibu mertuaku yang seperti itu, sedangkan ayah mertuaku, sudah berusaha mengubah sikap formalnya menjadi lebih luwes dan melakukan semua tips yang aku dan Ghiffa berikan.
Beliau mencoba untuk lebih banyak tersenyum, lebih menunjukkan rasa sayangnya, perhatiannya, tapi sepertinya tidak semudah itu bagi ibu mertuaku untuk luluh.
Hatinya terlanjur membeku.
Bahkan sampai hari ini, pesta diadakan, ibu mertuaku masih bersikap layaknya seorang karyawan menjalankan tugas yang diberikan oleh atasannya. Ia tidak pernah duduk di meja bersama kami, dan justru berjalan kesana kemari memastikan semua berjalan dengan lancar. Sesekali ia menyapa para tamu dengan ramahnya, seakan beliau masih bagian dari keluarga Airlangga.
Dalam keadaan apapun, imej keluarga Airlangga harus tetap dijaga olehnya.
Ayah mertuaku yang memang pandai menyembunyikan perasaannya juga terlihat baik-baik saja. Beliau selalu tersenyum dan menjamu sahabat-sahabat terdekatnya dengan wajah yang ceria seakan tidak terjadi apa-apa.
Padahal akhir-akhir ini setiap kali melihat ibu mertuaku acuh padanya, beliau selalu saja menunjukkan wajah yang sedih. Aku juga terus mencari celah agar mereka berinteraksi lebih banyak, tapi sepertinya Ibu mertuaku mengetahui semuanya dan akhirnya beliau lebih banyak menghindari kami.
Setelah acara inti yaitu tiup lilin dan potong kue selesai, aku dan Ghiffa mengobrol dengan para tamu.
Tiba-tiba saja Olivia yang seperti biasa terlihat fashionable dan cantik, datang dengan sebuah goodie bag menghampiri kami, "Ayana, selamat ulang tahun ya! Maaf gue dateng telat." ia mencium pipi kanan kiriku dan Ghiffa bergantian.
"Gak apa-apa, Liv. Makasih banyak ya, mana bawa kado segala. Padahal udah dibilang loh gak usah bawa kado." Ujarku menerima kado yang Olivia bawakan.
"Gak apa-apa, dong. Masa lo ulang tahun gue gak bawa kado. Eh, gimana kabar kalian?" tanyanya.
"Kita baik-baik, kok. Thanks ya, Liv." sahut Ghiffa.
"Yah, biasa lo tahu 'kan gue sama dia emang gak akur. Tapi semuanya udah clear kok. Ghaza pindah kesana karena bokap gue pengen dia yang langsung nanganin projek Melcia disana. Jadi mau gak mau dia pindah deh kesana." terang Ghiffa, mencoba terlihat biasa saja.
Olivia terdiam sejenak, "Syukur deh, kalau gitu. Sebenernya gue pengen ngomong sesuatu sama kalian, terutama sama lo, Ghif." Olivia menatap kami bergantian.
"Ngomong apa?" tanya Ghiffa.
"Gak tahu kebetulan atau gimana, gue sebenernya juga udah ada rencana buat nyari kampus di Amerika, di California lagi. Minggu depan gue bakal berangkat kesana."
"Lo masih mau ngejar Ghaza, Liv?" Tanya Ghiffa tak percaya.
Olivia terlihat salah tingkah, lalu mengangguk pelan. "Gue bakal nyoba buat bikin dia suka sama gue lagi. Karena sampai hari ini gue masih terus kepikiran sama dia. Gue gak bisa lupain dia. Bego banget gak sih gue?"
Cinta memang aneh. Olivia sudah diperlakukan dengan jahat oleh Ghaza selama mereka bertunangan. Bahkan Olivia tahu bahwa dulu Ghaza memintanya bertunangan karena ingin merebutnya dari Ghiffa, juga untuk melancarkan bisnisnya dengan Ayah Olivia saja. Tapi perasaan yang sudah terlanjur tumbuh di hati Olivia, sepertinya sulit untuk dibendungnya.
Aku sendiri merasa ini kesempatan yang baik. Siapa tahu cinta Olivia terhadap Ghaza bisa membuat Ghaza luluh dan melupakan obsesinya terhadapku. Semoga suatu hari saat kami bertemu, kami sudah akan melupakan semua yang telah terjadi.
"Lo yakin? Ghaza itu gila, Liv. Gue gak pengen lo terluka lagi gara-gara dia." Ghiffa terlihat khawatir.
"Waktu gue masih tunangan sama dia, gue emang banyak menderita. Tapi lo tahu gak, seudah gak ada dia di sisi gue, pertunangan gue sama dia batal, gue jauh lebih menderita." Olivia terlihat begitu sedih.
"Fix, lo emang bego berarti." ujar Ghiffa tanpa difilter.
Olivia tertawa getir, "Iya kali ya. Tapi mau gimana lagi. Gue emang gak bisa lupain dia, Ghif. Gue bakal nyoba ngejar dia sekali lagi. Kalau kali ini dia tetep gak suka juga sama gue, gue bakal nyerah."
Ghiffa menghela nafas, "Terserah lo deh. Gue udah memperingatkan pokoknya."
"Iya gue ngerti, pokoknya gue bakal nyoba buat terakhir kalinya ngewujudin mimpi gue jadi kakak ipar lo."
"Dasar lo nekat banget." Ghiffa sepertinya tak habis pikir.
" 'kan lo yang ngajarin." celetuk Olivia.
"Tolong! " Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari meja depan. Sontak aku dan Ghiffa menoleh ke arah ke gaduhan itu. Aku sedikit celingukan karena banyak orang yang berkerumun disana.
Aku menghampiri kerumunan itu dan betapa terkejutnya aku saat melihat seseorang terduduk pingsan dengan kepala disangga oleh Reno.
"Papa!"