
Malam harinya setelah semua anggota keluargaku tidur, aku dan Ghiffa memutuskan untuk mengobrol sebentar di rooftop rumah sambil melihat kemilau lampu malam Kota Bandung dari lantai 3 rumah ayahku itu. Ghiffa sudah berada disana, duduk di sebuah kursi malas. Tak lupa kami menggunakan jaket tebal dan juga topi kupluk untuk menghalau dinginnya angin malam.
"Nih, A." Aku menyodorkan segelas bajigur panas untuk Ghiffa, seraya duduk di kursi malas di samping Ghiffa.
"Yang, badan aku mau patah rasanya. Cape banget. Itu tamunya berapa banyak sih yang diundang? Sampai sore gak abis-abis."
"Kalau nikahan disini emang kayak gitu, A. Beda sama di kota. Lagian Aa ngasih uang ke Mama kebanyakan. Jadi Mama kalap. Ada mungkin satu RW disini diundang semua sama Mama."
"Masa sih banyak? Itu gak banyak kali, Yang."
"Banyak banget, A. Makanan aja masih banyak sisanya. Tapi jadinya bisa dibagiin ke tetangga-tetangga yang bantuin tadi."
"Syukur deh, jadi sekalian berbagi juga. Terus seru banget, Yang. Apalagi pas tadi musiknya udah berubah jadi dangdut. Si Max sama anak2 pada joget, mereka bener-bener udah putus urat malunya."
"Iya tadi juga nyawer abis berapa coba mereka. Oh iya, tanggepan Mama sama Papa gimana ya? Terutama Papa, aku tadinya takut Papa gak biasa ada di acara kayak gini."
"Papa seneng kok, Yang. Pengalaman baru juga buat Papa dateng ke nikahan di pedesaan gini."
"Kayaknya buat semua yang dari Jakarta pada aneh banget ya tadi. Belva aja pas baru dateng banyak kagetnya soalnya beda sama nikahan yang biasa dia datengin. Tapi gak malu-maluin kan, A? "
"Nggak kok, Yang. Orang pelaminannya megah banget gitu. Sama aja kok kayak nikahan yg sering aku datengin di Jakarta. Cuma yang bikin unik makanan dan hiburannya, Yang. Berkesan banget kok. Terus tadi aku perhatiin bapak-bapak yang pake seragam batik juga kayaknya tiap ada yang kotor langsung dibersihin, jadi area nikahan kita tadi bisa tetep bersih. Makasih ya kamu sama semuanya disini udah nyiapin resepsi seheboh tadi."
Akupun mendekat padanya dan masuk kedalam pelukan Ghiffa. "Sama-sama, A. Gara-gara Aa juga kita bisa bikin acara semeriah tadi. Hampir semua tetangga aku itu yang jadi petugasnya. Bagi-bagi, tugas gitu A. Ada yang bagian cuci piring, jagain makanan, beresin piring kotor, sampai ke tukang parkir. Dan aku juga sengaja bilang ke Mama biar semua peralatan gak ada yang pakai plastik sekali pakai gitu, biar gak nyampah, A."
"Keren, Yang. Udah lega sekarang. Berarti sekarang tinggal satu lagi, Yang."
"Apa, A?"
"Resepsi udah, aku lulus juga udah, tinggal nunggu kamu lulus, baru ada satu lagi yang aku pengen kita lakuin."
"Aku masih satu tahun lagi, A. Paling cepet delapan bulan deh, tergantung dosen yang bimbing skripsi aku juga. Emang mau kemana sih pakai nunggu aku lulus segala."
"Kalau kamu udah lulus, kita ke dokter kandungan, lepas alat di mimi kamu."
Sontak aku melepas pelukanku, "Aa masih mau kita punya anak?"
Ghiffa mengangguk semangat, "Iya, dong. Aku pengen kamu versi bayi. Lucu banget dan cantik kayaknya." ucapnya gemas.
Tapi aku justru lebih gemas pada wajah Ghiffa saat mengatakannya. "Kalau yang keluar nanti Aa versi bayi gimana? Aa itu baru lulus SMA, loh. Aa lebih baik mikirin dulu Aa mau kuliah kemana."
"Aku udah diterima di kampus kamu 'kan. Ya gak usah mikirin apa-apa lagi tinggal daftar ulang, terus ikut perkuliahan, selesai deh."
"Tapi Aa yakin sama jurusannya? Kok Aa kayak yang main-main pas milih jurusannya waktu itu."
"Beneran. Aku emang pengen masuk ke teknik sipil."
"Papa padahal pengen Aa masuk manajemen bisnis loh. Papa juga pengen Aa lanjut di luar negeri. Papa pengen suatu hari Aa gantiin posisi Papa, 'kan?"
"Aku mau nanya dulu sama kamu, kamu emang mau aku gantiin Papa jadi Presdir nanti?" tanya Ghiffa serius.
Aku terdiam sejenak. "Aa gantiin Papa sih gak apa-apa. Tapi itu artinya aku juga harus bisa dampingin Aa. Dan aku gak mau."
"Aku juga gak mau, Yang. Aku gak mau punya tanggung jawab sebesar itu. Aku masih pengen nikmatin hidup aku. Selama ini aku udah lihat gimana hidupnya Papa dan Ghaza selama ngurusin perusahaan, sibuk banget. Dan itu bukan aku banget, Yang. Tapi karena Papa pengen aku tetap megang perusahaan nanti, makanya aku masuk ke teknik sipil sekarang. Jadi walaupun aku ada di perusahaan aku gak akan ngurusin masalah bisnisnya, tapi lebih ke pembangunan gedungnya."
"Makasih istriku. Terus kamu sendiri nanti kalau udah lulus mau ngapain?"
"Bentar." Aku mengambil sebuah proposal dari dalam jaketku dan memberikannya pada Ghiffa. "Ini tolong Aa baca ya."
"Apaan ini?" Ghiffa mulai membaca judul yang ada di cover itu. "Proposal kerjasama?"
"Iya, aku sama Belva punya rencana bikin resto khusus menu makanan sehat, terutama dari sayuran dan buah-buahan. Karena kita gak punya modal, jadi pengen ngajuin proposal kerjasama sama Aa yang udah punya sepuluh cabang kafe." aku melingkarkan tanganku di lengan Ghiffa.
"Jadi kamu mau bikin usaha sendiri? Mau nyaingin aku?"
"Ini udah cita-cita aku sama Belva, A. Dari sebelum kenal sama Aa aku udah pernah ngomongin ini loh. Aku tuh pengen masarin sayurannya Bapak di resto aku nanti, A. Terus enak juga nanti aku gak perlu nyari model buat jadi BA resto akunya, pakai aja Belva."
"Kebanyakan ngobrol sama Om Lucas kamu, Yang. Otak kamu jadi otak bisnis."
"Biarin, dong. Gak apa-apa, ya? Please, bantuin buat modal awalnya." Kutunjukkan wajah seimut mungkin agar Ghiffa luluh dan menyetujui proposal itu.
"Udah gak usah digituin mukanya. Bikin aku pengen aja." Ghiffa mendekatkan bibirnya padaku. Segera aku menahannya dengan jari-jariku.
"Kita lagi negosiasi ini, A." ujarku galak.
Ghiffa menghela nafas, "Iya kamu butuh berapa? Aku bakal kasih sebanyak yang kamu mau. Tapi beresin dulu skripsi kamu. Baru kita omongin ini lagi."
"Siap, Pak Bos." ucapku seraya memposisikan tanganku di pelipis seperti sedang menghormat. Akupun memeluk Ghiffa. "Makasih, Aa Sayang."
"Sama-sama, istriku Sayang."
"Sayang banget sama Aa."
"Sayang banget juga sama Neng."
Aku melepas pelukanku, "Neng?"
"Iya mulai sekarang aku bakal manggil kamu 'Neng' ya."
"Bilang dulu sama Bapak. Itu 'kan panggilan Bapak buat aku."
"Okay, aku bakal bilang. Sekalian bilang kita pengen punya anak."
"Ih, Aa. Dibilangin kuliah dulu yang bener!"
Setelah hari itu, canda itu terus bersama kami. Bahagia itu juga terus bersama kami. Sedih, kesal, marah, juga sesekali hadir diantara kami. Tapi seperti yang pernah dikatakan oleh Ghiffa, semua itu adalah bumbu dari hubungan kami agar hubungan kami lebih berwarna.
Bahagia tidak akan terasa indah tanpa rasa sedih. Canda tak akan terasa menyenangkan tanpa ada tangis. Seperti itulah aku dan juga Ghiffa. Kami mensyukuri semua yang telah terjadi dalam hidup kami. Kami tak pernah lagi membahas mengenai kejadian-kejadian pelik itu.
Kami akan melupakannya. Membuang rasa sakitnya, dan menyiapkan sebuah ruang dalam hati kami jika suatu hari saat sudah sama-sama ikhlas memaafkan, ruang itu bisa diisi oleh sosok itu.
Untuk ke depannya kami hanya akan fokus pada mimpi-mimpi kami dan merealisasikannya. Mengukir banyak kenangan dan terus bersama sampai akhir hayat.
The Bad Boy and His Nanny, selesai.